Oleh; Mula Harahap
Angan-angan, cita-cita atau dendam kesumat di masa kanak-kanak memang selalu menarik untuk dikenang.
Seorang teman saya berkata, ”Salah satu angan-angan saya dulu adalah, mampu membeli anggur kelas satu berbotol-botol dan tape-recorder Sony untuk memutar lagu Holan Sada Do Na Ringkot–Hanya Satu Yang Berarti Bagiku Dalam Hidup Ini…”
Sampai saya duduk di bangku kelas 4 atau 5 SD saya belum pernah makan kismis. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Boleh jadi perekonomian Indonesia ketika itu memang belum berkembang seperti sekarang. Barang-barang import–termasuk kismis–masih sangat langka dan mahal harganya. Boleh jadi juga karena ekonomi keluarga. Atau boleh jadi juga, seperti kata orang Batak, “Mardomu ma i sude–Semua itu campur-baur…..”
Saya pernah ngiler sekali melihat seorang teman sekelas duduk memakan kismis sekotak kecil. “Bagilah sedikit,” kata saya kepadanya. Teman saya memang baik. Diberinya beberapa butir kepada saya. Dengan penuh takzim butiran itu saya masukkan ke mulut dan saya kunyah perlahan-lahan.
Keep reading →
Categories: Kehidupan Diri Sendiri
Tagged: cita-cita, kismis, pengalaman masa kecil
Oleh: Mula Harahap
Ada 2 acara wisata kuliner TV yang saya senangi. Yang pertama adalah “No Reservation”, dipandu oleh Anthony Bourdain, dan disiarkan di Discovery Chanel. Yang kedua adalah (saya lupa judulnya), dipandu oleh Keith Floyd, dan kalau saya tak salah ingat juga disiarkan di Discovery Channel.
Bagi saya acara itu menjadi menarik karena kita selalu diingatkan bahwa urusan kuliner adalah urusan kebudayaan. Mengenal makanan suatu masyarakat artinya mengenal kebudayaannya.
Dalam acara “No Reservation” kepada kita selalu diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain berinteraksi dengan penduduk setempat, mengobrol tentang berbagai aspek kebudayaan yang menarik hatinya, dan menyantap berbagai makanan yang (biasanya) erat kaitannya dengan aspek kebudayaan yang sedang diperbincangkannya itu.
Keep reading →
Categories: Kebudayaan
Tagged: kuliner, makanan, wisata kuliner
Oleh: Mula Harahap
Saya rasa para pedagang yang selalu berkerumun di depan pagar SD (terutama SD Negeri yang marjinal itu) adalah manusia yang paling kreatif dan inovatif. Mereka selalu tahu bagaimana caranya memberi nilai tambah kepada sebuah barang, yang oleh orang dewasa sebenarnya sudah dianggap tak berguna, sehingga di mata anak-anak kecil yang penuh imajinasi dan fantasi, barang tersebut menjadi sesuatu yang istimewa.
Ketika anak lelaki saya masih duduk di bangku SD saya selalu geleng-geleng kepala melihat oleh-oleh yang dibawanya pulang dari sekolah, dan yang dibelanjakannya dengan uang jajannya yang kecil itu.
Sekali waktu anak saya membawa sebuah “gramafon”. Dan yang dimaksud dengan gramafon adalah sebuah kotak dari karton (corrugated paper) dan di tengahnya ada sebuah pringan hitam yang didudukkan di atas sebuah paku.
Keep reading →
Categories: Kehidupan Diri Sendiri
Tagged: hidup, permenungan, waktu
Oleh: Mula Harahap
Kemarin ketika pulang dari Medan saya dititipi oleh-oleh berupa makanan. Sebenarnya saya adalah orang yang paling malas untuk membawa oleh-oleh dari sebuah perjalanan. Anak-anak saya yang sudah dewasa itu tak terlalu perduli dengan oleh-oleh. (Bagi mereka oleh-oleh itu hanya satu macam: uang). Dan lagipula, saya adalah orang tak suka repot-repot bila masuk ke kabin pesawat terbang.
Karena sanak-saudara sudah berlelah-lelah membelinya, terpaksa jugalah saya bawa oleh-oleh itu. Tapi sepanjang perjalanan menuju Bandara Polonia saya terus berpikir bagaimana membawa oleh-oleh yang “ribet” tersebut ke dalam kabin.
Ketika sedang menunggu giliran check-in, saya melihat orang-orang di sekitar saya ternyata membawa oleh-oleh yang sama dengan saya: bolu gulung “meranti” yang dikemas dalam kotak dan diberi tali untuk memudahkan menentengnya. Ternyata orang-orang itu memasukkan oleh-olehnya sebagai bagasi. Dengan senang hati saya pun melakukan hal yang sama.
Keep reading →
Categories: Kehidupan Diri Sendiri
Tagged: makanan khas daerah, oleh-oleh