Pembentukan Provinsi Tapanuli?

Oleh: Mula Harahap

Saya tidak tahu sampai dimana batas wilayah dari apa yang akan dinamai Propinsi Tapanuli itu. Mungkin para “tokoh” pengagasnya berangan-angan bahwa batas wilayah tersebut masih sama dengan Keresidenan Tapanuli bentukan Pemerintah Hindia Belanda dahulu. Tapi saya sangsi kalau angan-angan tersebut akan bisa tercapai.

Pada jaman penjajahan Belanda dahulu distrik Mandailing–yang mayoritas penduduknya beragama Islam–sebenarnya sudah enggan untuk bergabung dalam sebuah keresidenan yang bernama Keresidenan Batak, bersama saudara-saudaranya dari sub-etnis dan agama yang berbeda. Bahkan–karena alasan agama–mereka enggan disebut sub-etnis Batak, walau pun secara antropologi “traits”-nya memang demikian. Mereka lebih suka bergabung dalam Keresidenan Padang. Akhirnya, untuk melunakkan hati dan mengajak mereka agar mau bergabung, dipilihlah nama Tapanuli–yang berasal dari kata Tapian Na Uli–yaitu nama sebuah teluk di pantai Sibolga sebagai kompromi.

Pemerintah Belanda memang masih punya “otot” untuk memaksa sebuah distrik bergabung ke dalam sebuah keresidenan seperti yang diuraikan di atas. Tapi di era demokratisasi dan desentralisasi ini, saya tidak tahu siapa lagi yang masih punya “otot”. Karena itu–saya
membayangkan–untuk mewujudkan cita-cita sebuah propinsi yang bernama Tapanuli terpaksa harus dilakukan rembug dan tawar-menawar yang meletihkan. (Syukur-syukur tidak terjadi konflik fisik antar etnis).

Jangan pula kita lupa bahwa saat ini kita hidup di sebuah era yang semakin kental diwarnai oleh sentimen agama dan etnis. Saya pikir Kabupaten Mandailing-Natal tak akan mau bergabung dalam propinsi tersebut. Karena alasan agama atau etnis, besar kemungkinan
kabupaten/kotamadya berikut ini pun tak akan mau bergabung: Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Barat, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kotamadya Padang Sidempuan.

Ada pun Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun dan Kotamadya Pematang Siantar; sejak dahulu memang berada dalam Keresidenan Sumatera Timur. (Dan beberapa waktu yang lalu–kalau saya tak salah–”tokoh- tokoh” dari Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat sudah menyatakan diri pula untuk bergabung dalam gerakan yang mengangan-angankan Propinsi Sumatera Timur).

Jadi akan tersisalah Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kotamadya Sibolga–yang dihuni oleh mayoritas penduduk dari sub-etnis Batak Toba yang beragama Kristen–untuk
bergabung dalam Propinsi Tapanuli.

Lalu akan timbul pertanyaan: Apakah ada gunanya propinsi yang seperti itu? Wilayahnya tidak luas-luas amat, populasinya sangat homogen, dan relatif tidak memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang terlalu besar.

Kalau karena statusnya setelah menjadi sebuah propinsi ia bisa mendapat total anggaran yang jauh lebih besar daripada total anggaran setiap kabupaten/kotmadya yang bergabung ke dalamnya (dan karenanya anggaran yang bisa dipergunakan untuk pembangunan/kesejahteraan rakyat menjadi lebih besar pula), maka saya sangsi kalau anggaran tersebut bisa mencapai tujuannya. Anggaran itu pasti akan habis hanya untuk membiayai aparatur propinsi yang baru tersebut.

Memang, oleh politik dagang sapi dan akal-akalan di tingkat pusat (bukan karena proses demokrasi yang mencerminkan aspirasi rakyat di tingkat akar-rumput) boleh-boleh saja Propinsi Tapanuli itu memiliki batas wilayah yang hampir sama seperti pada masa penjajahan
Belanda dahulu. Tapi peryalah, bahwa pemekaran yang “dipaksakan” akan menimbulkan banyak persoalan di kemudian hari. Propinsi ini hanya akan diwarnai oleh kericuhan agama dan etnis, seperti yang kini terjadi di Propinsi Sulawesi Barat.

Karena itu, kalau saya boleh menganjurkan, lupakan sajalah mimpi tentang Propinsi Tapanuli (dan Propinsi Sumatera Timur) itu. Satu propinsi yang bernama Sumatera Utara, yang dihuni oleh berbagai agama, etnis dan sub-etnis adalah sebuah kekuatan yang dinamis dan
progresif dalam upaya mensejahterakan rakyat. (Tentu saja kalau kita tahu mengelolanya dengan baik).

Kepada para “tokoh” (terutama mereka yang sudah pensiun dan sudah menikmati buah kekuasaan semasa Pemerintahan Rezim Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati), tapi masih saja terus ingin “bermain” dalam isyu pemekaran Propinsi Tapanuli dan Propinsi Sumatera Timur, saya ingin mengatakan: “Sudahlah, Bapak. Istirahatlah. Pergilah bermain-main dengan cucu. Dan lakukanlah hal yang baik-baik saja bagi Sumatera Utara khususnya, dan Tapanuli umumnya….”

Peningkatan kesejahteraan rakyat ditentukan oleh kemauan dan kemampuan para bupati dan anggota DPRD di setiap kabupaten/kotamadya dalam mengelola wilayahnya. Peningkatan kesejahteraan rakyat bukan ditentukan oleh pemekaran propinsi[.]

About these ads

31 responses to “Pembentukan Provinsi Tapanuli?

  1. Jenius sekali Pak,

    Mohon informasi-informasi seperti ini juga diposting ke pihak-pihak yang bertanggung jawab. Agar mereka yang memutuskan dapat melihat dengan jernih permasalahan yang ada.

    Pusat tampaknya lebih tertarik dengan politik akal-akalannya dari pada mensejahterakan rakyat Tapanuli. Tidak ada Tapanuli tanpa keresidenan Tapanuli yang Dulu. Mohon nama Tapanuli tidak dibajak oleh pihak-pihak yang menginginkan kekuasaan saja saat Raykat Tapanuli pada umumnya dikorbankan

  2. Pingback: Tapanuli Jangan Dieksploitasi « TAPANULI

  3. Setuju pak Mula, provinsi tapanuli sepertinya tidak akan membawa dampak apa apa terhadap kemajuan Tapanuli, bahkan cendrung hanya untuk pemuas nafsu dan ambisi beberapa orang…. kalau bisa sih, ya di hold aja….
    Tapi, sudah telah amang, ibarat bisul sudah siap pecah, sepertinya semua warga sudah sangat mengharapkan provinsi ini, justru lebih gawat lagi akibatnya bila provinsi ini tidak jadi….. Jadi, biarlah provinsi Tapanuli itu lahir………..
    (Maaf, sikap ambivalen, memang)

  4. Pahala Panjaitan

    Maaf saya koreksi. pada rapat akbar awal bulan Januari 2007 di lapangan yang luas di tarutung dalam menyampaikan / membaca sikap/ikrar dari setiap kabupaten untuk bergabung dalam Provinsi Tapanuli termasuk Kabupaten Nias saya saksikan sendiri dan dihadiri kurang lebih 30.000 orang masyarakat. Penyampaian ikrar/sikap untuk bergabung dalam satu wilayah Provinsi tapanuli tersebut ditujukan kepada anggota Komisi II DPR RI yang hadir, kalau saya tidak salah kurang lebih 10 orang anggota DPR RI tersebut dan mereka dalam pidatonya setelah melihat / menyaksikan sikap dari Massa yang hadir (sikap seluruh kabupaten yang hadir) sangat menyambut baik dan mendukung rencana pembentukan Provinsi Tapanuli tersebut. Dalam setiap pembentukan organisasi / wadah apapun apalagi pemekaran wilayah (di tingkat Rt sajapun) selalu ada ekses yang kurang baik tergantung kita me manage nya dan kalau kita lihat pemekaran wilayah diseluruh Indonesia sekarang ini hampir semua bermasalah baik SDM maupun anggaran, tetapi daerah yang di mekarkan tersebut tetap saja berjalan. Jadi kalau berbicara masalah ekses yah…. begitulah.
    Masalah intrik / politik / akal-akalan dari segelintir / sekelompok orang itu lumrah, karena memang tidak ada lagi orang mau hidup tanpa pamrih di jaman yang sudah edan ini.
    Maaf sikap saya yang kritis ini.

  5. Saya setuju dengan Pak Mula. Pemekaran Protap (Propinsi Tapanuli) hanya menguntungkan elite politik, dan bisa jadi konflik SARA yang baru di Sumatera Utara. Kita tahu masyarakat Sumatera Utara yang terdiri dari berbagai suku itu, akan merasa bahwa suku yang satu lebih hebat dari yang lain, serta akan mengutamakan kelompok sukunya masing-masing…..Pemekaran Protap harus dikaji ulang kembali agar tidak terjadi kekeliruan antara satu dengan yang lain….!

  6. Halo Amang Mula,….

    Songon on saotik bah,….Nang pe iba sandiri dang setuju alai porlu adong baenon songon shock terapi, molo porlu dibaen Negara Tapanuli, ise urroa??….

    Ai anggo dang songon on ( adanya Protap), mungkin hamu (Amang MH) memandang sebelah mata sama orang Tapanuli, mungkin marpikkir akka ‘manuk sioto-oto’ par Tapanuli (karna Amang sudah lama tinggal di Jakarta, dan mungkin sudah jarang pulang ke Tapanuli sono, saya anggap Amang bukan orang yang ngerti apa kemauan Tapanuli…..)

    Dengan adanya shock terapy seperti ini, anggota DPR na sering modom di Senayan i, bollang ma matana, marnida ma simalolongna, alani aha par Tapanuli mangido pisah ranjang, jala ikkon talak tolu sian Sumut….?

    Sahali-sahali mulak hamu antong tu huta bah, bereng hamu ma kesenjangan pembangunan i atehe…..

    Molo Tapsel, umumnya rekan saya yang beragama Islam jelas tidak mau bergabung, alasanya hanya satu, Bahwa mereka tidak akan mau tunduk diperintah oleh seorang non Islam nantinya, tentunya sesuai ajaran agama mereka. (karena persentase, kemungkinan gubernur adalah non ISLAM), dan pemikiran seperti inilah yang membuat NKRI nabalau on boi dijual ke Amerika Sialan itu…..

    Inilah kenyataan yang tak bisa dipungkiri…Dangi, kumandan? Mauliate ma!

  7. Tetap maju, Provinsi Tapanuli. Jangan mau mengikuti ngomongan dari luaran yang tidak tahu keadaan Tapanuli. Seperti Mula Harahap. Horas!

  8. Bisa juga di akses : http://protapanuli.wordpress.com/ Sebagai pembanding dan penambah pencerahan.

  9. mulkan tampubolon

    Cara berfikir kita harus jelas. Apa dan kenapa bisa berfikir demikian? Pasti ada landasannya. Siapa penggagasnya? Motif apa yang dia maksud?

  10. Pembentukan Provinsi Tapanuli merupakan aspirasi grass-roots yangg perlu didengar dan ditindaklanjuti. Adalah pemikiran yangg sempit bila kita mengkaitkan keinginan rakyat untuk sejahtera dengan isu keagamaan. Buktinya di Tapanuli tempat ibadah non Kristen bisa dengan mudah di bangun, bandingkan dengan kondisi di tempat lain! Ini bukti minimnya kaitan antara sentimen keagamaan dengan pembentukan Provinsi Tapanuli. Horas.

    Adalah fakta bahwa fenomena pemekaran daerah yang sedang marak di tanah air ini lebih banyak didorong oleh sentimen agama atau etnisitas. (Walau pun tentu saja sentimen itu dibungkus dengan modus “mensejahterakan rakyat”). Dan sekarang sebenarnya sudah timbul pemikiran untuk melakukan penelitian sejauh mana pemekaran itu memang telah berhasil mensejahterakan rakyat, sebelum kita terlanjur menyetujui lebih banyak lagi aspirasi pemekaran daerah.

  11. Bila kita mengamini bahwa demokrasi berarti pemerintahan rakyat, yang dalam penjabarannya berarti rakyat yang menentukan jalannya pemerintahan, maka sudah sepatutnya kita menghargai dan mendukung perjuangan segenap elemen masyarakat Tapanuli dalam memperjuangkan pembentukan Provinsi Tapanuli. Kesatuhatian masyarakat dari 6 Kabupaten dan 1 Kota sudah dibuktikan dengan diadakannya apel akbar di Tapanuli Utara tahun 2007. Saat ini tim dari Depdagri sedang meninjau kesiapan setiap elemen masyarakat Tapanuli (7 Kab/Kota) untuk menggolkan Provinsi Tapanuli. Bulatkan tekad satukan niat dan bergandengan tangan bersama membentuk Provinsi Tapanuli. Mauliate. Dari saudara Jawa di Yogyakarta.

    Ada pun tentang apel akbar kebulatan tekad yang saudara sebut-sebut itu, itu sih boleh-boleh saja. Tapi saya rasa bentuk-bentuk pengerahan massa seperti itu tidaklah bisa dipakai sebagai indikator adanya kehendak rakyat yang absah dan demokratis.

    Menurut hemat saya cara yang paling absah dan demokratis dalam mengetahui kehendak rakyat ialah melalui referendum. Tapi yang menjadi persoalan ialah apakah rakyat di sebuah daerah (baca: bukan di seantero negara) boleh membuat referendum tentang bagaimana nasib daerah mereka dalam konteks negara secara keseluruhan? (Saat ini sedang terjadi polemik apakah Sultan Yogyakarta tetap bisa menjadi Kepala Daerah D.I. Yogyakarta? Ada yang berpendapat bahwa yang paling baik tentu adalah dengan mengadakan referendum di kalangan rakyat di daerah Yogyakarta. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa referendum biasanya diselenggarakan di seantero negara. Adalah hal yang tidak lazim bahwa referendum diadakan hanya di sebuah wilayah. Dan saya adalah orang yang setuju dengan pendapat yang terakhir tersebut. Karena kalau setiap wilayah atau daerah boleh mengadakan referendum tentang nasib daerahnya, maka bubarlah negara kesatuan ini).

    Persoalan pembentukan Provinsi Tapanuli sebenarnya tak perlulah sampai harus mengadakan referendum. Itu hanya tergantung dari keputusan Pemerintah Pusat (atas rekomendasi DPR), yaitu apakah memang dengan dibentuknya sebuah provinsi di Tapanuli maka penyelenggaraan pemerintahan menjadi lebih efisien dan efektif, dan yang pada gilirannya jadi lebih mensejahterakan rakyat? Dan saya rasa itulah yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Pusat pada hari-hari ini.

    Tulisan saya hanyalah mencoba membuka perspekif yang lebih luas (terutama dari segi sosial dan budaya) tentang apa untung-ruginya pembentukan Provinsi Tapunuli bagi rakyat yang berdiam di daerah tersebut. dan lebih jauh lagi tentang apa untung-ruginya nafsu pemekaran daerah yang pada akhir-akhir ini memang sedang menjadi “trend” di negara ini.

    Tapi kalau Pemerintah Pusat dan DPR menyatakan bahwa berdasarkan berbagai pertimbangan (yang mudah-mudahan realistis dan obyektif) memang sudah saatnya dibentuk Provinsi Tapanuli, yah saya mau bilang apa? Saya tokh hanyalah salah seorang dari lebih 200 juta rakyat yang ada di seantero Indonesia, dan yang sudah “pulak” tidak bermukim di daerah Tapanuli.

  12. Pangulu Muda Lumbanbatu

    Pandangan yang Amang sampaikan menunjukkan sejauhmana Amang bisa memahami kondisi yang berkembang, sepintas enak dibaca tulisan Amang, tapi buat orang yang kritis tentu tulisan Amang ini bukanlah sebuah pemikiran yang membangkitkan semangat positif.
    Saya yakin statement Amang bukanlah hasil dari sebuah penelitian yang secara empiris bisa menyajikan data-data kongkrit.

    Biasanya orang yang berfikiran sempit pastilah mendapatkan hasil yang sedikit dalam hidupnya.
    Orang yang mepunyai harapan/tujuan besar pastilah berjuang/kerja keras melakukan hal-hal yang besar.

    Apakah memang tidak ada nilai positifnya pembentukan Protap ini walaupun nilai itu sedikit?
    Kalau memang masih ada nilainya, kenapa kita tidak membangkitkan nilai yang sedikit itu supaya menjadi nilai yang besar?

    Jika kita hanya membicarakan/befikir nilai-nilai yang negatifnya saja maka secara sistematis nilai negatif itu akan menutup semua nilai-nilai positif yang ada untuk berkembang, karena itu supaya nilai positif itu bisa bertumbuh menjadi besar adalah dengan cara mengecilkan/menututp nilai negatif untuk berkembang, caranya dengan menyingkirkan semua hal-hal yang menghambat seperti ego,kelompok,dll, dan sebaliknya membangkitkan semangat kebersamaan.

    Masalah agama menjadi penghambat? Saya pikir tidak manakala kita bisa memahami hakekat agama itu dengan benar, saya tidak yakin ada suatu agama yang mengajarkan untuk hidup eklusif dan menutup diri dari lingkungan. Karena itu biarlah Agama hidup dan berjalan dengan alurnya tanpa diganggu dengan sentimen-sentimen yang menodai agama pihak lain. Hidup rukun dengan semua makhluk adalah salah satu tujuan beragama.

    Jadi kalau kita bisa befikir dari sisi negatif kenapa kita tidak mencoba untuk berfikir dari sisi positifnya? Maju terus pantang menyerah…

  13. Pongkinangolngolan Harahap

    Sepertinya, ada satu calon provinsi lagi yangg luput dari perhatian amattua Mula Harahap ini.. Yaitu, provinsi Tapanuli bagian selatan..

    Pembentukan provinsi ini adalah respon dari elit Tapsel di Jakarta terhadap Provinsi Tapanuli.. Secara kultural Tapsel memang tak mungkin bergabung dengan Tapanuli.. Dan kalo tetap dipaksakan ikut Sumut, maka jadi aneh karena wilayahnya seperti terpotong dengan Provinsi Tapanuli (kalau memang jadi)..

    Sekarang, RUU Provinsi Tabagsel itu juga sedang running di DPR. So, siap-siap aja melihat Sumut nanti akan benar-benar terpecah.

    -pargarutan-

  14. Partahi Habonaran

    Sejak topik ini ditampilkan 10 April 2007 sampai sekarang respon yang datang ada 13 comment. Sepertinya perhatian masyarakat ex keresidenan Tapanuli yg di perantauan rendah. Hal ini terlihat juga dari dukungan pada panitia / team persiapan PROTAP yg dipimpin G.M Panggabean, sepertinya beliau itu bertindak tanpa dukungan cenderung menjadi one man show.

    Setelah UUD 45 di amandemen, salah satu adalah tentang otonomi daerah disebutkan bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas dalam kedudukannya sebagai wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Jadi masing – masing kabupatan mengendalikan APBDnya berdasarkan perimbangan Pusat / Daerah. Disamping itu Bupati bukan lagi bawahan langsung dari Gubernur, fungsi Gubernur adalah koordinator wilayah propinsi sebagai wakil pemerintah khususnya pembangunan lintas wilayah kabupaten. Maka jadilah para Bupati menjadi ” Raja Kecil “.

    Jadi sebenarnya tidak ada untungnya untuk membentuk PROTAP toh juga sudah ada pemekaran kabupaten, yang secara tidak langsung telah menambah alokasi anggaran di Tapanuli.
    Menanggapi comment dari sdr. Tokke Jengkol (alasan beda agama) dan comment sdr. Pongkinangolngolan Harahap ( alasan beda kultural ) maka Tapanuli Selatan tidak mau bergabung dgn PROTAP, padahal kalau PROTAP terbentuk praktis Tapanuli Selatan menjadi daerah kantong, lebih dekat dengan daerah SUMBAR ( sepertinya kulturnya sama ). Saya jadi teringat perjuangan PRRI thn 1957 – 1959, ( perjuangan untuk meningkatkan otonomi daerah ); pada saat itu umumnya yang ikut mendukung dan masuk ke PRRI adalah masyarakat Batak Toba.; dari Mandailing / Tap. Selatan sepertinya jarang. Saya tidak tahu faktor apa pula ini ( alasan kultural bukan, apalagi alasan agama juga bukan ) . Tapi faktanya selesai PRRI banyak menjadi pejabat publik di PROPSU berasal dari daerah Mandailing, sampai jaman Orde Baru, pada saat itu memang kab. Tapanuli Selatan banyak menikmati kue pembangunan. Menurut saya itu wajar, orang akan selalu ingat koumnya.

    Jadi menurut saya, agar sejarah lama ( beda agama, beda kultural dll ) tidak terulang lagi, kita ingatlah gagasan dari alm. Radja Inal Siregar “ Masipature huta na be “ melalui masing masing kabupaten yg sudah dimekarkan, tidak perlu mencari masalah baru dengan membentuk PROTAP, karena itu akan melahirkan dikotomi kultural, agama dan adat diantara masyarakat Tapanuli . Horas ma

  15. Ferdinand de Lessep

    Kenapa kalau Provinsi Tapanuli yang terbentuk selalu dikaitkan dengan permainan orang atas, tetapi dengan provinsi lain tidak ada komentar tersebut. Saya jamin 100 % murni niat ini luhur untuk memajukan Tapanuli, hampir semua panitianya sudah orang berada (Kaya), karena kalau bergabung dengan Provinsi Sumut akan semakin hancurlah orang batak.Proyek Jawanisasi di Sumut sudah berhasil, hampr 50 % orang Jawa di Sumut, apakah orang Batak mau bisa berbicara lagi, hampir semua calon Gubernur Sumut kemarin mengusung orang jawa yang wagub dan cagub. Kalau Kualitas yang dicari memang orang Batak masih bisa, tetapi kalau kuantitas, perlu dikaji ulang, apalagi sekarang sudah pemilihan lagsung. Dan hanya satu harga mati, Provinsi Tapanuli harus jadi, demi kemajuan Tanah Batak

  16. Ferdinand de Lessep

    Sebenarnya kalau orang Tapanuli Selatan mau, diadakan saja gubernur secara bergilir, gubernur dari Tapsel dan wakil dari Taput, dan sebaliknya untuk periode sebelumnya. Kita orang Batak (Tapsel dan Taput) kadang kadang aneh, kalau ketemu langsung selalu berkata kita semua bersaudara dan sama saompung, tetapi kalau sudah berbalik arah lain di mulut, memang saya tidak pungkiri perbedaan agama yang menjadikan seperti itu, tetapi saya yakin oarng Batak itu masih saling menyayangi, dan mau bersatu, dengan bergiliran sebagai gubernur Provinsi Tapanuli. Ayo Ompung Mula, tolong aspirasi ini dimajukan, agar Bangso Batak (Tapsel dan Taput) tetap bersatu.

  17. Jangan kita buat perbedaan demi kelancaran Propinsi Sumatera Tengah. Kalau memang Tapsel tidak mau bergabung dengan Protap tidak perlu mengurusi masalah Protap.

    Unang mabiar hita maju parjolo dongan molo lao maju hita. molo taberang propinsi nanaeng terbentuk, holan propinsi tapanuli do na ummaol. Nang songonipe DPRSU nunga martaon-taon Propinsi Tapanuli naeng dibaen dohot Pansus hape ikkon Propinsi Sumatera Tengah do naeng diparipurnahon. Bila dilihat dari syarat pembentukan Propinsi Sumteng masih kurang 1 kabupaten karena untuk pembentukan 1 propinsi minimal 5 kabupaten dan 1 kota. Padahal Sumteng hanya memimiliki 4 kab dan 1 kota.

    Jadi Lae, tidak usah kami warga Sibolga dan Tapanuli Tengah tahu bahwa Tapanuli membawa kajayaan, kemakmuran dan pemerataan demi kesejahteraan.

  18. Pontas Na_P0905

    Tapi, Pak…tokoh yang menganggap sebagai tokoh politik.., pengen jadi gubernur dan pengen dapat penghasilan dari jatah propinsi..(Nggak Batak banget, sih) tapi kan yang penting dapat hepeng….Kalo ditanya kenapa ingin mekar.., pasti jawaban-nya selalu sama kayak di buku.

  19. Ternyata apa yang diutarakan oleh Anda terbukti oleh demo anarkis Protap.Tetap maju dan tetap semangat. God bless you……

  20. Nggak ada alasan menolak Propinsi Tapanuli. Jalan terus apapun risikonya….

  21. syariffuddin hutabarat

    Horas! Persatukan orang Batak dengan budaya Batak, baik batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Dairi dan lainnya. Jangan dengan budaya orang lain atau agama !

    Orang Batak bisa mendirikan sebuah negara karena simbol-simbol negara seperti bendera, tatanan hukum, wilayah sudah ada sejak Raja Sisingamangaraja, dan orang jaman dulu sudah menyebutnya dengan bangso (bangsa ) Batak dan itu merupakan fakta sejarah. Karena satu nasib selama penjajahan Belanda dengan wilayah yang lain di nusantara sekarang indonesia, para pejuang bangsa khususnya orang Batak mau bergabung dengan proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.

    Dalam perjalanannya masa Sukarno adanya ketimpangan pembangunan timbullah pemberontakan PRRI /Permesta, dalam masa Orde Baru pemberontakan tidak ada, tapi pembangunan tidak sehebat di Pulau Jawa. Masa reformasi sudah ada perobahan sedikit dengan pemekaran kabupaten. Yang banyak disangsikan orang-orang yang bermukim di luar Sumut, khususnya di Tapanuli, mampukah atau sanggupkah orang Batak secara sumber daya manusia?

    Dari hasil penelitian banyak orang Batak yang pintar tinggal, bagaimana mengatur dan memberdayakan (umumnya orang Batak sulit diatur). Dari sumber daya alam sanggupkah menghidupi ? Sawah -sawah yang menghampar, Danau Toba, tambang batubara di Siborong-borong dan Doloksanggul, tinggal bagaimana mengelola dan mengembangkan.

    Dari segi pengalaman aparatur itu tinggal bagaimana belajar dari propinsi yang sudah ada. Letak permasalahannya di mana? Kerusuhan demo di DRPD Sumut adalah efek negatif dari demonstrasi,pertanyaanya kenapa orang sampai beringas di luar batas kewajaran? Apakah ada yang salah dengan polisi dan intelijen polisi sehingga tidak bisa mengantisifasi demonstrasi anarkis.

    Hukum orang yang berbuat anarkis tapi jangan melupakan subtansi pembentukan Propinsi Tapanuli. Buat rekan -rekan yang tinggal di bonapasogit (kampung halaman) buatlah berupa dokumen foto atau film fakta-fakta ketertinggalan pembangunan di Tapanuli untuk dimuat di website Lae Mula Harahab untuk sebagai bahan pembanding dengan daerah lain, karena banyak orang yang di perantauan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di bonapasogit, setelah itu orang akan melihat kebenaran atau kebohongan, karena alasan utama pemekaran propinsi Tapanuli adalah ketertinggalan pembangunan.

    Salah satu contoh untuk ngurus pensiun guru di Tarutung harus ke Pematang Siantar, coba bayangkan waktu yang di tempuh 4 – 5 jam sekali jalan, berapa ongkos yang dibutuhkan sementara uang pensiun tidak seberapa, anda bisa membayangkan!

    Dengan luas wilayah Propinsi Sumatra Utara apakah merata dalam anggaran pembangunan yang jumlahnya sedikit,tidak lebih efektifkah dengan luas wialayah yang sempit dengan anggaran yang sedikit untuk biaya pembangunan sarana dan prasarana dengan catatan tidak ada korupsi?

    Untuk orang-orang Tapanuli yang pintar dan kaya di perantauan pedulilah akan kampung halaman. Semboyan mantan Gubernur Sumut: “masi pature hutanabe”. Horas Tano Batak!

  22. BATAK WORLD COMMUNITY

    Horas ma di hita sudena. Pertama-tama saya sangat mendukung Propinsi Tapanuli karena mungkin bila dilihat dari skala nasional Propinsi Tapanuli itu kecil, tapi tolong jangan dilihat seperti itu. Penyebaran bangso Batak ada di seluruh dunia bahkan memegang kunci-kunci di dunia, lihat saja beberapa yang kita ketahui DR. Mukhtar Pakpahan (beliau adalah Wakil Presiden dari International Labour Oranization), atau kalau tidak salah Ephorus HKBP DR SAE Nababan sempat menjadi Ketua Dewan Gereja-Gereja Dunia.

    Ini belum lagi orang orang Batak yang memegang kunci di perusahaan internasional (Darwin Silalahi : President Director of Shell Mobil Oil of Indonesian Country, Elisa Lumbantoruan : President Director Hewlett Packart Indonesia, Hotasi Nababan President Director General Electric Asia Pacific Region dan Predient Director dari Merpati Nusantara, Frederick Siahaan Vice Presiden Pertamina Oil Company. Prof Tambunan salah seorang guru besar ekonomi di Belanda dan salah satu wakil utusan Indonesia untuk World Trade Organization dan orang Batak itu menyebar ke seluruh dunia terutama di Eropa, Amerika serta Australia. Jadi, Lae Mula, orang Batak adalah bangso na bosar . Ala sada do hita. So support Tapanuli Province, all batak people in all of the world.

    Kalau memang sudah menyebar dan berkiprah ke seluruh dunia, mengapa masih berpikir dalam level lokal (propinsi) ?

  23. Pandapotan Simanullang

    Propinsi Tapanuli adalah untuk kesejahteraan orang orang Batak. Di akka dongan Batak asa hehe hita sude mamparjuangkon on. Molo halak do taharaphon dan mungkin terjadi on. Jadi sude halak Batak (yang merasa diri Orang Bata) jongjong sude……..

    Apakah kita tidak sedih… melihat pembangunan yang tidak berimbang ini. Jangan dengar komentar-komentar yang tidak jelas itu, entah apa tujuan mereka. Hidup Batak! Jayalah Propinsi Tapanuli. God bless Indonesia!

  24. Saya sepakat aksi anarkis tidak diperbolehkan dalam berdemokrasi…termasuk di Sumut. Silahkan dihukum yang bersalah sesuai hukum yang berlaku.

    Tapi, cara “negara” menangkap para demonstran juga tidak kalah “sadis”-nya. Seperti menangkap teroris atau tersangka pemberontak saja, dan saya melihat kesan sedang terjadi “pembunuhan karakter” terhadap orang Batak, yang dilakukan oleh negara Indonesia. Saya sangat kecewa, marah, ingin berontak melihat hal tersebut. Apa tidak ada cara yang lebih elegan?

    Kalau kita sejenak berkenan mengulas, mengikuti kembali sejarah pembentukan Provinsi Tapanuli ini, maka akan kita temukan bagaimana suara mayoritas masyarakat Tapanuli yang tersumbat sedemikian lama, terombang-ambing dalam ketidak-jelasan dengan nuansa penjegalan yang terasa sekali, sentimen ke-agama-an begitu kental.

    Masyarakat Sumut yang selama ini dikenal mampu meredam gejolak sosial akibat benturan-benturan negatif religi, etnis, teritory, dll, akhirnya meledak juga, dan bukan tidak mungkin akan berdampak lama dan luas jika tidak disikapi dengan arif dan bijak oleh negara.

    Pelajaran di daerah-daerah lain sudah cukup bagi kita untuk mengerti bahwa wacana Pembentukan Provinsi Tapanuli bukan hal sepele dan dapat disederhanakan dengan menghentikan prosesnya kemudian menangkapi sebegitu banyaknya orang-orang yang terlibat dalam demo yang mengakibatkan kematian almarhum Ketua DPRD, yang sama-sama tidak diinginkan tersebut.

    Bagaimana pun, Tapanuli berhak untuk menjadi provinsi sendiri, terlebih jika kita bandingkan dengan provinsi-provinsi hasil pemekaran saat ini, yang jelas-jelas kemampuan dan kesiapannya dibawah calon Provinsi Tapanuli tersebut.

    Apa sesungguhnya yang terjadi di balik tersumbatnya rencana pembentukan provinsi Tapanuli? Mudah-mudahan ini tidak mengakibatkan revolusi sosial di Sumut, siapa tahu!?

  25. Ada beberapa faktor majunya satu wilayah:

    1. Pemekaran yang terarah
    2. Niat baik dari Pemerintah Pusat, Daerah, Kecamatan dan Desa
    3. Dukungan dari masyarakatnya

    Pemekaran tidak boleh dikaitkan dengan agama dan suku. Setelah aparaturnya terbentuk maka semua aturan main pemerintahan akan disusun yang melibatkan semua unsur yang terkait dengan daerah yang dimekarkan itu.

    Poisitif Pemekaran : Masyarakat Tapanuli pasti lebih getol memajukan daerahnya jika sudah merupakan propinsinya. Keluasan wilayah Sumut akan mempengaruhi besar kecilnya perimbangan DAU.

    Mudah-mudahan penyampaian saya ini bermanfaat bagi yang akan memberikan opininya. Jauhkan unsur SARA dalam memberikan opini sehingga apa yang dituliskan benar-benar demokratis.

  26. Numpang, nih. Saya hanya mengatakan: Tapanuli layak menjadi provinsi sendiri. dengan segala keberadaan dan akibat. Maju terus dan berjuang terus!

  27. Kalau diperhatikan dalam pembentukan Protap dikaitkan ke agama. itu sangat tidak masuk akal, saya tanya dulu pada natua-tuanami di Tapsel orang Batak (Muslim), kenapa anda tidak mendukung? Karena tidak bisa gubernur nantinya di Protap Muslim atau tidak mayoritas DPR-nya Muslim? Saya rasa kalau dia marga Batak pikiran seperti itu tidak dibawakan. Tidak usah takut, Amang, yang mengatur negara ini semuanya orang Islam, kok. Jadi, Amang, jangan dikaitkan ke agama.Perlu diingat kalau jumpa kita sama-sama Batak pasti yang ditanya duluan, marga dia do hamu Amang? (Bukan. agama apa, Anda?). Bukan berarti agamanya di-nomordua-kan…Tapi itulah sifat orang Batak. Kalau suku di luar Batak yang tinggak di Tapanuli saya rasa pasti menerima itu semua. Horas! Ahu mendukung Protap.

  28. Sebenarnya kalau saya pikir bukan masalah agamanya apa, suku apa, dan yang lain-lainnya. Tapi bagaimana dengan daerah lain yang wilayahnya lebih kecil dari wilayah Protap, kenapa musti dimekarkan? Kenapa kita tidak? Emang kita bukan wilayah Indonesia, Pak?

    Menurut saya pembentukan Protap tidak ada sangkut pautnya dengan agama, ras. Akan tetapi bagaimana daerah kita, daerah kita dibesarkan, akan lebih maju, jadi APBN tetap merata, karena pembangunan di daerah Tapanuli tidak ada sementara yang lain dibangun, dengan kata lain kita dianak-tirikan.

    Saya tidak menyalahkan pendapat Bapak, tapi saya salut dengan pendapat Bapak, karena dari sini kita dapat berbagi.

    Saya ikut membela pembentukan Protap, Pak, dan saya seorang Muslim. Saya marga Lubis dari Sibolga, akan tetapi saya sangat setuju kalau Protap terbentuk, jangan karena Politik yang membuat rakyat Tapanuli menderita.

  29. Horas! Saya hanya melihat adanya segelintir orang yang takut akan hal siapa nantinya pemimpin Propinsi Tapanuli benar orang Batak nomor satu marga. Dilihat dari luasnya, Protap sangat cukup wilayahnya dibanding dengan propinsi lain. Banyak sekali propinsi yang sangat sedikit wilayahnya dan masyarakatnya sangat homogen, kenapa bisa jadi propinsi? Protap homogen tetap bisa jadi propinsi?

    Para pejuang Protap kenapa tidak menyurati minta perlindungan hukum ke negara-negara pendukung Protap? Karena payung hukum kita kemungkinan masih bisa tawar-menawar, makanya para pengunjuk rasa dihukum tanpa mempertimbangkan keadilan hukum. Sampai mereka rata-rata 7 tahun. Ada-ada saja hukumannya. Itulah hukum kita negara tercinta ini.

  30. Saya sepakat dengan Pak Lineker Lubis. Sebenarnya bukan masalah agama, suku dan lainnya. Pendapat saya sekarang ini yang real saja: bagaimana Propinsi Sumatera Utara mengatur dan membagi kue (anggaran) kepada 33 kabupaten/kota dalam Bantuan Daerah Bawahan (BDB), baik perbaikan jalan yang kewenangan nasional, propinsi dan kabupaten/kota lebih kurang 33.396,13 Km yang akan dirawat, sedangkan Propinsi Sumatera Utara mempunyai prioritas pengembangan perkotaan Medan-Deli Serdang-Binjai-dan-Sergai, baik infrastruktur udara, laut dan darat ?

    Kalau propinsi dibagi 2 atau 3 mungkin kita bisa seperti Padang, Pekan Baru, Sulawesi Selatan, Bengkulu. Mempunyai infrastruktur masing-masing untuk dibangun. Kapan lagi elabuhan Sibolga yang katergorinya pelabuhan Internasional tetapi difungsikan sebagai pelabuhan antar pulau/penumpang. Kapan lagi hasil SDA dari Kawasan Barat Provinsi Sumatera dapat mensejahterakan masyarakatnya kalau hasilnya semua diangkat ke Medan dan Belawan? Semencara, orang kerja semua ke Medan? Kapan Provinsi Sumatera Utara untuk mendatangkan investor pemodal asing? Provinsi Sumatera Utara tidak mempunyai grand strategy untuk membuka infrastruktur di wilayah barat Propinsi Sumatera Utara yang jelas? Mana? Apa setiap tahun berganti tahun hanya menungu seperti biasa; sampai anak cucu? Terimakasih,

  31. JEFRI DS SIANTURI

    Horas! Saya asli anak Tapanuli. Pada dasarnya saya senang dengan pembentukan Protap, sejauh itu masih dalam koridor untuk perkembangan Tapanuli. Sangat memprihatinkan memang jika saya melihat kehidupan Bangso Batak akhir-akhir ini. Sangat miskin. Jika kita bandingkan dengan kabupaten-kabupaten yang ada di Pulau Jawa, sungguh sangat ketinggalan. Kenapa?

    Mungkin inilah yang menjadi masalahnya? Yang menjadi pertanyaan apakah dengan pembentukan Protap akan mengurangi kemiskinan di Tapanuli? Saya kira belum itu tujuan daripada saudara-saudara yang sedang mengurus Protap ini. Saya melihat banyak orang-orang diktator di Tapanuli. Dan saya tidak mendukung itu. Saya lebih senang jika memang ingin memajukan masyarakat Tapanuli, kenapa tidak membangun Tapanuli dulu? Bangun sekolah, misalnya. Banyak orang kaya di Jakarta sana, tapi tidak perduli, kan? Mana? Gimana mau ngurus Protap? Kita pakai logika kita, dunk? Kita lihat juga orang-orang yang sedang memperjuangkannya. Benar nggak memiliki loyalitas dan kontribusi yang besar di Tapanuli? Kalau tidak? Nah, kita berangkat dari sini dulu. Kemudian kita perlahan-lahan untuk mewujudkannya. Yakinlah jika niat baik itu selalu akan terwujud, Kawan, dan Tuhan akan membantunya. Tapi jika ada motivasi lain, yakinlah nggak akan mudah itu, bahkan bisa jadi bumerang.

    Saranku, wahai orang Batak semua, yang kaya, kalau bisa tolong bangun kampungmu. Pedulilah! Lihat generasi dari Batak ‘dah mulai kacau. Semangat…. semangat…. Tetap saya dukung Protap jika memang niat baik dan orang yang baik…. rendah hati….

    Horas-horas! Syalom! (Ketua Ikatan Mahasiswa Batak Se-Kota Semarang–Jefri D.S. Sianturi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s