Oleh: Mula Harahap
Saya tidak tahu sampai dimana batas wilayah dari apa yang akan dinamai Propinsi Tapanuli itu. Mungkin para “tokoh” pengagasnya berangan-angan bahwa batas wilayah tersebut masih sama dengan Keresidenan Tapanuli bentukan Pemerintah Hindia Belanda dahulu. Tapi saya sangsi kalau angan-angan tersebut akan bisa tercapai.
Pada jaman penjajahan Belanda dahulu distrik Mandailing–yang mayoritas penduduknya beragama Islam–sebenarnya sudah enggan untuk bergabung dalam sebuah keresidenan yang bernama Keresidenan Batak, bersama saudara-saudaranya dari sub-etnis dan agama yang berbeda. Bahkan–karena alasan agama–mereka enggan disebut sub-etnis Batak, walau pun secara antropologi “traits”-nya memang demikian. Mereka lebih suka bergabung dalam Keresidenan Padang. Akhirnya, untuk melunakkan hati dan mengajak mereka agar mau bergabung, dipilihlah nama Tapanuli–yang berasal dari kata Tapian Na Uli–yaitu nama sebuah teluk di pantai Sibolga sebagai kompromi.
Pemerintah Belanda memang masih punya “otot” untuk memaksa sebuah distrik bergabung ke dalam sebuah keresidenan seperti yang diuraikan di atas. Tapi di era demokratisasi dan desentralisasi ini, saya tidak tahu siapa lagi yang masih punya “otot”. Karena itu–saya
membayangkan–untuk mewujudkan cita-cita sebuah propinsi yang bernama Tapanuli terpaksa harus dilakukan rembug dan tawar-menawar yang meletihkan. (Syukur-syukur tidak terjadi konflik fisik antar etnis).
Jangan pula kita lupa bahwa saat ini kita hidup di sebuah era yang semakin kental diwarnai oleh sentimen agama dan etnis. Saya pikir Kabupaten Mandailing-Natal tak akan mau bergabung dalam propinsi tersebut. Karena alasan agama atau etnis, besar kemungkinan
kabupaten/kotamadya berikut ini pun tak akan mau bergabung: Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Barat, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kotamadya Padang Sidempuan.
Ada pun Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun dan Kotamadya Pematang Siantar; sejak dahulu memang berada dalam Keresidenan Sumatera Timur. (Dan beberapa waktu yang lalu–kalau saya tak salah–”tokoh- tokoh” dari Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat sudah menyatakan diri pula untuk bergabung dalam gerakan yang mengangan-angankan Propinsi Sumatera Timur).
Jadi akan tersisalah Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kotamadya Sibolga–yang dihuni oleh mayoritas penduduk dari sub-etnis Batak Toba yang beragama Kristen–untuk
bergabung dalam Propinsi Tapanuli.
Lalu akan timbul pertanyaan: Apakah ada gunanya propinsi yang seperti itu? Wilayahnya tidak luas-luas amat, populasinya sangat homogen, dan relatif tidak memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang terlalu besar.
Kalau karena statusnya setelah menjadi sebuah propinsi ia bisa mendapat total anggaran yang jauh lebih besar daripada total anggaran setiap kabupaten/kotmadya yang bergabung ke dalamnya (dan karenanya anggaran yang bisa dipergunakan untuk pembangunan/kesejahteraan rakyat menjadi lebih besar pula), maka saya sangsi kalau anggaran tersebut bisa mencapai tujuannya. Anggaran itu pasti akan habis hanya untuk membiayai aparatur propinsi yang baru tersebut.
Memang, oleh politik dagang sapi dan akal-akalan di tingkat pusat (bukan karena proses demokrasi yang mencerminkan aspirasi rakyat di tingkat akar-rumput) boleh-boleh saja Propinsi Tapanuli itu memiliki batas wilayah yang hampir sama seperti pada masa penjajahan
Belanda dahulu. Tapi peryalah, bahwa pemekaran yang “dipaksakan” akan menimbulkan banyak persoalan di kemudian hari. Propinsi ini hanya akan diwarnai oleh kericuhan agama dan etnis, seperti yang kini terjadi di Propinsi Sulawesi Barat.
Karena itu, kalau saya boleh menganjurkan, lupakan sajalah mimpi tentang Propinsi Tapanuli (dan Propinsi Sumatera Timur) itu. Satu propinsi yang bernama Sumatera Utara, yang dihuni oleh berbagai agama, etnis dan sub-etnis adalah sebuah kekuatan yang dinamis dan
progresif dalam upaya mensejahterakan rakyat. (Tentu saja kalau kita tahu mengelolanya dengan baik).
Kepada para “tokoh” (terutama mereka yang sudah pensiun dan sudah menikmati buah kekuasaan semasa Pemerintahan Rezim Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati), tapi masih saja terus ingin “bermain” dalam isyu pemekaran Propinsi Tapanuli dan Propinsi Sumatera Timur, saya ingin mengatakan: “Sudahlah, Bapak. Istirahatlah. Pergilah bermain-main dengan cucu. Dan lakukanlah hal yang baik-baik saja bagi Sumatera Utara khususnya, dan Tapanuli umumnya….”
Peningkatan kesejahteraan rakyat ditentukan oleh kemauan dan kemampuan para bupati dan anggota DPRD di setiap kabupaten/kotamadya dalam mengelola wilayahnya. Peningkatan kesejahteraan rakyat bukan ditentukan oleh pemekaran propinsi[.]
mulaharahap@gmail.com


6 responses so far ↓
Tapanuli // September 15, 2007 at 4:55 pm
Jenius sekali Pak,
Mohon informasi-informasi seperti ini juga diposting ke pihak-pihak yang bertanggung jawab. Agar mereka yang memutuskan dapat melihat dengan jernih permasalahan yang ada.
Pusat tampaknya lebih tertarik dengan politik akal-akalannya dari pada mensejahterakan rakyat Tapanuli. Tidak ada Tapanuli tanpa keresidenan Tapanuli yang Dulu. Mohon nama Tapanuli tidak dibajak oleh pihak-pihak yang menginginkan kekuasaan saja saat Raykat Tapanuli pada umumnya dikorbankan
Tapanuli Jangan Dieksploitasi « TAPANULI // September 15, 2007 at 5:04 pm
Sebuah komentar paling tulus dari rakyat Tapanuli dapat dilihat di blog Mula Harahap. Tidak semua orang Tapanuli dapat menuliskannya
Bergman Silitonga // December 6, 2007 at 1:49 am
Setuju pak Mula, provinsi tapanuli sepertinya tidak akan membawa dampak apa apa terhadap kemajuan Tapanuli, bahkan cendrung hanya untuk pemuas nafsu dan ambisi beberapa orang…. kalau bisa sih, ya di hold aja….
Tapi, sudah telah amang, ibarat bisul sudah siap pecah, sepertinya semua warga sudah sangat mengharapkan provinsi ini, justru lebih gawat lagi akibatnya bila provinsi ini tidak jadi….. Jadi, biarlah provinsi Tapanuli itu lahir………..
(Maaf, sikap ambivalen, memang)
Pahala Panjaitan // December 7, 2007 at 6:50 am
Maaf saya koreksi. pada rapat akbar awal bulan Januari 2007 di lapangan yang luas di tarutung dalam menyampaikan / membaca sikap/ikrar dari setiap kabupaten untuk bergabung dalam Provinsi Tapanuli termasuk Kabupaten Nias saya saksikan sendiri dan dihadiri kurang lebih 30.000 orang masyarakat. Penyampaian ikrar/sikap untuk bergabung dalam satu wilayah Provinsi tapanuli tersebut ditujukan kepada anggota Komisi II DPR RI yang hadir, kalau saya tidak salah kurang lebih 10 orang anggota DPR RI tersebut dan mereka dalam pidatonya setelah melihat / menyaksikan sikap dari Massa yang hadir (sikap seluruh kabupaten yang hadir) sangat menyambut baik dan mendukung rencana pembentukan Provinsi Tapanuli tersebut. Dalam setiap pembentukan organisasi / wadah apapun apalagi pemekaran wilayah (di tingkat Rt sajapun) selalu ada ekses yang kurang baik tergantung kita me manage nya dan kalau kita lihat pemekaran wilayah diseluruh Indonesia sekarang ini hampir semua bermasalah baik SDM maupun anggaran, tetapi daerah yang di mekarkan tersebut tetap saja berjalan. Jadi kalau berbicara masalah ekses yah…. begitulah.
Masalah intrik / politik / akal-akalan dari segelintir / sekelompok orang itu lumrah, karena memang tidak ada lagi orang mau hidup tanpa pamrih di jaman yang sudah edan ini.
Maaf sikap saya yang kritis ini.
ali nasution // May 17, 2008 at 1:31 pm
Saya setuju dengan Pak Mula. Pemekaran Protap (Propinsi Tapanuli) hanya menguntungkan elite politik, dan bisa jadi konflik SARA yang baru di Sumatera Utara. Kita tahu masyarakat Sumatera Utara yang terdiri dari berbagai suku itu, akan merasa bahwa suku yang satu lebih hebat dari yang lain, serta akan mengutamakan kelompok sukunya masing-masing…..Pemekaran Protap harus dikaji ulang kembali agar tidak terjadi kekeliruan antara satu dengan yang lain….!
Tokke Jengkol // May 19, 2008 at 3:11 pm
Halo Amang Mula,….
Songon on saotik bah,….Nang pe iba sandiri dang setuju alai porlu adong baenon songon shock terapi, molo porlu dibaen Negara Tapanuli, ise urroa??….
Ai anggo dang songon on ( adanya Protap), mungkin hamu (Amang MH) memandang sebelah mata sama orang Tapanuli, mungkin marpikkir akka ‘manuk sioto-oto’ par Tapanuli (karna Amang sudah lama tinggal di Jakarta, dan mungkin sudah jarang pulang ke Tapanuli sono, saya anggap Amang bukan orang yang ngerti apa kemauan Tapanuli…..)
Dengan adanya shock terapy seperti ini, anggota DPR na sering modom di Senayan i, bollang ma matana, marnida ma simalolongna, alani aha par Tapanuli mangido pisah ranjang, jala ikkon talak tolu sian Sumut….?
Sahali-sahali mulak hamu antong tu huta bah, bereng hamu ma kesenjangan pembangunan i atehe…..
Molo Tapsel, umumnya rekan saya yang beragama Islam jelas tidak mau bergabung, alasanya hanya satu, Bahwa mereka tidak akan mau tunduk diperintah oleh seorang non Islam nantinya, tentunya sesuai ajaran agama mereka. (karena persentase, kemungkinan gubernur adalah non ISLAM), dan pemikiran seperti inilah yang membuat NKRI nabalau on boi dijual ke Amerika Sialan itu…..
Inilah kenyataan yang tak bisa dipungkiri…Dangi, kumandan? Mauliate ma!
Leave a Comment