Damai Itu Indah: Kita dan Slogan-slogan Kita

Oleh: Mula Harahap

Akhir-akhir ini, di berbagai bagian ibukota, saya banyak melihat spanduk berwarna hijau dengan tulisan kuning besar-besar yang berbunyi, “Damai Itu Indah”, “Damai Itu Nyata”, “Damai Itu Sejahtera” dan slogan-slogan damai lain yang sejenis. Tapi saya belum
pernah melihat slogan yang berbunyi “Adil Itu Damai”. Padahal–menurut hemat saya–itulah kunci dari damai!

Sudah 25 tahun saya bekerja sebagai editor naskah. Dan salah satu kebiasaan yang terbangun dari karir yang panjang ini ialah, bahwa saya tidak bisa lagi menikmati sebuah kata, kalimat atau alinea sebagaimana adanya. Saya selalu mempersoalkan fungsi dan makna
dari setiap kata, kalimat atau alinea. Saya tidak tahu, apakah kebiasaan tersebut adalah sesuatu yang baik atau tidak.

Tapi yang jelas, perjalanan bersama isteri dan anak-anak selalu akan diakhiri dengan pertengkaran, bilamana saya mulai mengomentari berbagai spanduk, papan nama atau tulisan lain yang saya lihat di sepanjang perjalanan. Contohnya seperti ketika saya mempersoalkan spanduk-spanduk di atas.

“Kamu itu sakit,” kata isteri saya. “Semua kau komentari!”

“Yang membuat spanduk itulah yang sakit,” kata saya membela diri. “Mereka tidak tahu atau berlagak tidak tahu tentang apa hakekat damai yang sebenarnya…”.

“Ya, Bapak lebih baik diam saja duduk di belakang. Biar saya yang membawa mobil,” kata anak lelaki saya pula. Dan sebagai orang yang cinta damai tentu saja permintaan mereka saya turuti. Tapi bagaimana saya bisa diam, sementara ada ribuan kalimat di luar sana yang mengganggu estetika, tidak bermakna dan tidak logis?

“Dengan tidak membuang sampah di kali berarti anda sudah menjadi warga kota yang baik,” kata sebuah spanduk lagi. (Astaga! Saya bisa menunjukkan jutaan orang yang tidak membuang sampah di kali; tapi yang seenaknya menutup jalan di depan rumahnya selepas jam
tujuh malam, yang menutup semua halaman rumahnya dengan batu dan tidak menyisakan sepetak tanah pun untuk rembesan air hujan, yang membangun rumahnya melebihi garis sempadan jalan, yang mencuci mobilnya dengan air ledeng di pinggir jalan, yang mengangkangi trotoar dengan mobilnya. Apakah mereka sudah menjadi warga kota yang baik?).

Setelah sekian tahun berkarir sebagai “pengamat slogan” maka saya bisa mengatakan bahwa birokrasi sipil dan tentara adalah pembuat slogan yang paling buruk. Slogan-slogan mereka berpretensi intelek tapi sebenarnya tidak membumi, tidak logis dan tidak mengena ke sasaran.

Slogan kota-kota kita, misalnya, samasekali tidak bermakna apa-apa. “Palembang Kota Bari”, “Bandung Berhiber”, “Bekasi Patriot”, “Semarang Kota Atlas” atau “Bogor Lestari”.

Saya pernah melakukan perjalanan darat dari Surabaya ke Yogyakarta, dan di beberapa
kota yang saya lalui slogan-slogan itu bahkan dicat besar-besar di genteng rumah penduduk! Saya tidak tahu apakah slogan itu sebuah gambaran kenyataan, cita-cita atau kombinasi keduanya. Bagaimana kita bisa menerima sebuah slogan kota yang “bersih, hijau dan berbudaya” kalau di sana ada gunungan sampah yang penuh dengan gelandangan yang
sedang mengais-ngais? Dalam hal hijau, mungkin slogan itu masih ada benarnya, karena sesekali–ketika ada yang melintas–beterbanganlah ribuan lalat hijau dari tumpukan tersebut…

Bagaimana kita bisa menerima sebuah slogan kota yang “bersih, aman, rapi dan indah” kalau angka kriminalitas di sana begitu tinggi dan lalulintas bukan main semrawutnya? Saya curiga, jangan-jangan kita ini sudah dihinggapi perasaan “sama seperti Tuhan”. Kita pikir, cukup
dengan bertitah dan membuat slogan, maka kata-kata itu langsung bisa mewujud menjadi kenyataan. Padahal, hanya Tuhan-lah yang punya kelebihan seperti itu. Ada pun halnya kita, kalau kata-kata kita ingin mewujud, maka ia harus dibarengi dengan kerja keras; tidak cukup hanya ditulis di atas spanduk, ditempel di tugu atau dicat di genteng rumah penduduk.

Atau, jangan-jangan kita sudah dihinggapi oleh penyakit yang menganggap kata-kata adalah kenyataan. Kita menyangka bahwa dengan menuliskan kata-kata damai, aman, bersih dan lain sebagainya; maka kota pun sudah terasa damai, aman dan bersih. Dan penyakit yang
terakhir ini paling kelihatan dalam kegiatan-kegiatan kongres, muktamar, sarasehan atau raker yang kita adakan.

Seringkali, setelah kita melakukan persiapan cukup jauh, barulah kita mempersoalkan tema dan sub-tema kongres, muktamar atau sarasehan itu. Tema dan sub-tema kita butuhkan bukan untuk menjadi jiwa, warna, penekanan atau arah dari kegiatan; tapi hanya “pemantas” karena semua kongres, muktamar atau sarasehan selayaknyalah memiliki tema.

Kita memerlukan tema dan sub-tema hanya untuk dipasang di spanduk. Dan kepala ruangan tempat menyelenggarakan kongres, mukatamar atau sarasehan; bukankah sepatutnya diberi
rentangan spanduk? (“Kongres Nasional Pasar Buku. Dengan Buku Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Jakarta 24-25 September 2001″). Lha, bukankah dari undangan, map, kertas tulis dan sambutan yang kita dengar di ruangan itu kita sudah tahu kegiatan apa yang sedang
kita ikuti ini?).

Ada orang-orang pragmatis yang berargumen, bahwa spanduk di kepala ruangan itu kita
butuhkan, agar kalau beberapa tahun mendatang kita melihat kembali foto-fotonya maka kita tidak lupa kegiatan apa yang di dalamnya ada potret diri kita itu. (Lha, bukankah nama dan tanggal kegiatan bisa dengan mudah diimposisikan oleh studio cuci-cetak filem?).

Salah satu indikasi bahwa slogan atau tema sebenarnya hanyalah cantelan–bukan urat-nadi dari kegiatan kita; itu bisa terlihat dari latahnya kita memakai slogan atau tema yang sedang “trend”.

Kita pernah dilanda musim “tinggal landas”. Maka ramai-ramailah kongres, muktamar, pameran, konkurs perkutut dan balap kuda kita diberi label “tinggal landas”. (“Kongres Nasional Para Pilot. Dengan Boeing 747 Menuju Tinggal Landas”!). Lalu, ketika pada suatu kurun waktu tertentu kita menyadari bahwa negara dan bangsa ini ternyata tidak
berhasil mencapai tahapan tinggal landas dalam pembangunannya, sebagaimana yang diangan-angankan satu dekade sebelumnya, maka buru-burulah kita memodifikasinya menjadi “membangun kerangka landasan”. Dan ramai-ramailah kongres, muktamar dan simposium kita ber-“membangun kerangka landasan”-ria. (Musyawarah Nasional Para Kontraktor Bandara. Dengan Mesin Giling Kita Menyiapkan Kerangka Landasan”!}.

Bosan dengan kerangka landasan kita masuk dalam musim “sumber daya manusia”. (“Rapat Kerja Nasional Aosiasi Penyalur TKW. Dengan eksport pembantu rumah tangga kita tingkatkan sumber daya manusia Indonesia”).

Ternyata musim sumber daya manusia tidak bertahan lama. Seperti halnya salju di siang bolong, angan-angan yang indah itu lenyap diterpa krisis ekonomi dan akhlak. Masuklah kita dalam musim “Reformasi dan Indonesia Baru”. Tapi “musim reformasi dan indonesia baru”–entah mengapa–tidak juga berjalan lama. Tiba-tiba kita sudah berada di “musim rekonsiliasi, islah dan perdamaian”. Lalu kita pun mulai sibuk ber-“rekonsiliasi”-ria. Spanduk-spanduk kita–pun spanduk upacara keagamaan kita–dipenuhi kata rekonsiliasi, islah dan perdamaian. (Lha, kalau bukan melakukan rekonsiliasi dan pendamaian; agama-agama itu urusannya apa lagi? Koq tiba-tiba mereka baru sadar akan kata-kata tersebut?)

Seperti yang telah saya uraikan di atas, slogan-slogan yang meletihkan biasanya datang dari
birokrasi dan tentara. Slogan yang menyegarkan justeru datang dari supir truk, supir bajaj dan anak-anak muda kita yang menganggur itu. Slogan-slogan mereka selalu merupakan gambaran yang pas dari realitas atau pun merupakan rentangan antara realitas dengan harapan yang bisa teraba jelas.

“Papah jarang pulang” kata sebuah slogan di belakang bak truk. Lalu ada gambar perempuan dengan baju tidur merah jambu di atasnya. “Kutunggu jandamu”, kata sebuah slogan di belakang bus metro mini, dengan huruf-huruf dari guntingan plastik warna-warni. Atau seperti kata sebuah mikrolet yang supirnya ngebut tanpa memperhitungkan lagi nyawa penumpangnya: “Boru aha pe taho..”. (Perempuan mana saja pun jadilah!).

Dan slogan paling dingin yang pernah saya lihat adalah apa yang dituliskan dengan cat, pada sebuah drum di tengah sebuah jalan di bilangan Kwitang, “Nabrak dibakar!”.

Tapi dalam karir saya yang panjang sebagai “pengamat slogan” , belum pernah saya melihat slogan yang begitu penuh makna, penuh rasa humor dan berselera tinggi seperti yang saya lihat di sebuah panti pijat tradisionil di dekat kantor saya, di bilangan Sumur Batu–Jakarta Pusat, pada suatu hari di bulan Desember. “Mari Mas” kata sebuah papan nama yang merentang di atas teras bangunan itu. Dan itulah memang nama panti pijat tradisional tersebut. Lalu di bawahnya, sejajar dengan nama itu, ada sebuah hiasan Natal dari kertas
timah yang berumbai-rumbai, yang biasa dibeli di toko, yang bertuliskan “Merry X–Mas”!

Slogan kadang-kadang menjemukan; tapi sesekali ia bisa sangat mengasyikkan.[]

About these ads

4 responses to “Damai Itu Indah: Kita dan Slogan-slogan Kita

  1. Setuju, Pak Mula! Bahasa di spanduk memang suka aneh-aneh dan terkesan dibuat-buat…

  2. Hi. hi.hi…Saya juga pencinta slogan pak, saking cintanya, pernah dalam suatu acara National Sales Meeting yang kami adakan kami tidak menuliskan thema dan atau sub thema. Saat itu saya katakan bahwa thema cuma slogan seperti di spanduk.

    Tapi kalau ada satuan polisi lalu lintas memasang spanduk “Damai Itu Indah” di depan kantornya, …. …Slogan itulah yang paling berkesan bagi saya.

  3. Asyik sekali jadi pengamat slogan, bravo buat Bang Mula!

  4. Slogan kadang memang bikin pemandangan kota jadi tak beraturan. Ntah ada aturan yang dibuat dalam pemasangan slogan, ntah bebas memasangnya semaunya saja. Tapi seperti apa slogan yang baik dan benar itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s