Oleh: Mula Harahap
Saya rasa, buku “Bahasaku” yang kami pergunakan ketika belajar di SD dahulu, adalah buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang paling hebat di dunia.
Saya berani mengatakan demikian, karena setelah empat puluh tahun berlalu, masih banyak hal dari buku tersebut yang melekat di kepala saya.
Saya masih ingat nama-nama tokoh yang terdapat dalam bacaan buku tersebut. Tokoh yang pertama tentu adalah Amir. (”Ayah Amir orang tani. Pagi-pagi benar ia telah pergi ke sawah….”–Di atas teks tersebut ada sketsa seorang lelaki tanpa baju yang mencangkul di sawah).
Tokoh yang kedua adalah Tuti. Disamping sekelas, maka saya rasa ia juga adalah “demenannya” Amir. Dan Tuti memiliki seorang adik yang bernama Sidin.
Kalau ayah Amir adalah petani, maka ayah Tuti adalah pegawai. (”Ayah Tuti bekerja di kantor….”–Di atas teks tersebut ada sketsa seorang lelaki berkopiah, mengayuh sepeda dan tasnya tergantung di palang sepeda).
Tokoh lainnya lagi, yang juga sekelas dengan Amir dan Tuti, adalah Hasan. Saya tidak tahu hubungan kekerabatan antara Hasan dengan kedua temannya itu; tapi yang jelas ia adalah anak seorang pedagang kelontong. (”Hasan membantu ayah menjaga warung…”– Ada sketsa seorang anak lelaki berpeci di belakang tumpukan karung dan timbangan).
Tokoh lainnya lagi adalah Muntu. Anak yang satu ini selalu digambarkan memakai peci yang melintang di kepala. Ia tidak cerdas seperti Amir, Tuti dan Hasan. Ia selalu mndapat teguran dari Bapak Guru, karena selalu tertidur di kelas serta kukunya panjang dan kotor. (”Muntu temanku malas belajar…”).
Kemudian tokoh lainnya lagi, yang kadang-kadang muncul dalam buku yang terdiri dari 12 jilid, (Kelas 1 sampai 6 SD; masing-masing 2 jilid) adalah Togap, Jakum dan Darma.
Saya tidak tahu, apakah Togap ini orang Batak atau bukan, karena di buku “Bahasaku” ia tidak memakai marga. Tapi yang saya ingat jelas, Togap selalu tangkas bermain kasti.
Jakum saya persepsikan sebagai “idiot” dan mulutnya kecil. Di dalam sebuah bacaan, diceritakan bahwa ia hampir tercekik karena tak bisa mengeluarkan biji durian yang telah dikulumnya. (”Mari kutuil,” kata Amir). Dan lewat cerita itu bertambah pula perbendaharaan kata saya dengan “tuil”.
Ada pun Darma adalah anak Pak Lurah. Suatu ketika ia menjadi dinamisator dari anak-anak yang lain untuk membuat perahu dan mengapungkannya di sungai. Ilustrasi sekelompok anak lelaki yang menaiki perahu buatan sendiri tentu adalah sesuatu yang sangat luarbiasa, bagi seorang anak SD seperti saya.
Saya tidak tahu, dimana lokasi dari semua cerita di dalam buku itu. Tapi pernah diceritakan bahwa Hasan dibonceng oleh ayahnya ke Jatinegara. Disana mereka membeli sepeda. Dan pulangnya, Hasan mengayuh sepedanya sendiri. Di dalam bacaan, bunyi sepeda baru
tersebut digambarkan sebagai: “Srr..tik-tik…srr…tik-tik…srr…tik-tik.”
Ketika pertama kali datang ke Jakarta, maka tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah Jatinegara. Saya ingin mengetahui dimana toko yang menjual sepeda yang berbunyi “srr..tik-tik” itu. Tapi saya kecewa karena suasana Jatinegara jauh dari apa yang saya khayalkan ketika membaca buku tersebut di SD. (Jalanan macet. Memang, ada satu toko Cina yang menjual sepeda. Tapi saya ragu, apakah itu toko yang dikunjungi Hasan. Dan, lagipula, bagaimana mungkin kita mendengar suara sepeda yang “srr..tik-tik”, di tengah hiruk-pikuk lalulintas Jakarta?).
Kalau saya melihat buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh anak-anak SD masakini, saya jadi jatuh iba dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Saya tidak tahu, anak-anak seperti apa yang hendak dibentuk oleh buku pelajaran seperti ini. Isinya penuh dengan teori berbahasa dan istilah linguistik yang membuat kepala sakit. Anak-anak SD dijejali dengan istilah sufix, prefix, intransitif, ajektif dan sebagainya. Dan tidak heran, kalau latihannya lebih banyak diberikan dalam bentuk soal pilihan berganda, ketimbang praktek bercakap-cakap atau mengarang.
Saya rasa Harimurti Kridalaksana, Anton Mulyono atau Jus Badudu pun tidaklah dibesarkan oleh buku-buku semacam ini.
Saya bukan seorang pakar pendidikan. Tapi menurut hemat saya, buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang baik tentu adalah buku yang memampukan anak untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya, secara lisan maupun tertulis, dalam Bahasa Indonesia yang baik dan
benar.
Itulah yang saya alami dengan buku teks “Bahasaku” karangan B.M. Nur dan W.J.S Poerwadarminta dahulu.
Setiap bab dari buku teks tersebut hanya diisi dengan pelajaran membaca, menceritakan kembali apa yang baru dibaca dengan kata-kata sendiri, membenarkan kalimat, bersajak dan menulis cerita berdasarkan sebuah rangkaian gambar.
Saya masih ingat, di dalam sebuah buku ada ilustrasi seseorang yang memakai tangga untuk menaiki kudanya. (”Hei, apa pula yang sedang dilakukan oleh si bodoh ini? Ceritakanlah dengan kata-katamu sendiri…”). Sepotong gambar bisa saya “rentangkan” di dalam dua
atau tiga lembar kata-kata di atas buku tulis.
Gambar lainnya yang tak mudah saya lupakan ialah tentang seekor katak yang dikejar-kejar oleh sekelompok tikus bersenjatakan tombak dari batangan lidi. Katak tersebut melompat ke sebuah kaleng bekas kemasan ikan sardencis dan berlayar menyusuri sungai, meninggalkan tikus-tikus terkesima di pinggir sungai. Ilustrasi tersebut juga sangat merentang imajinasi.
Pelajaran menghapal sajak dan mendeklamasikannya di depan kelas juga adalah bagian dari latihan berbahasa.
Sajak yang tak bisa saya lupakan ialah “Tukang Pos”. (”Aku tukang pos rajin sekali/Siapa saja aku datangi/Tidak kupilih miskin dan kaya/Surat Sutini harus kuantar/Untuk Komara musti kubawa/Kesana-sini roda berputar/Kabar gembira orang tertawa/Ring-ring pos.” Lalu di atas sajak itu ada sketsa seorang anak kecil memakai “celana monyet” sedang mengayuh sepeda
beroda tiga).
Sajak lain yang juga tak mudah dilupakan ialah “sajak jenaka”. (”Rawamangun jalan berliku/Penuh onak makanan badak/Gelak tersenyum rupa kakekku/Melihat nenek duduk
berbedak…”). Ketika membaca sajak itu di masa kanak-kanak, maka tentu saja saya lebih tertarik dengan gagasan “Rawamangun yang masih dihuni badak” ketimbang “Nenek yang duduk berbedak”. Karena itu pulalah, ketika mula-mula datang di Jakarta, sengaja saya pergi ke Rawamangun untuk mencari semak-belukar yang menjadi santapan badak. Tentu saja saya tak menemukannya. Yang ada hanyalah lapangan golf, terminal, pasar dan sebuah kampus perguruan tinggi.
Oh ya, ada sebuah sajak lagi yang tak bisa saya lupakan, karena dahulu sajak itu selalu membuat air liur menetes. Sajak itu tentang himbauan agar anak-anak tidak mengudap di pinggir jalan. (Muntu yang kopiahnya melintang dan kuku jarinyanya panjang-panjang itu senang mengudap dan pernah sakit perut).
Sajak itu bunyinya demikian: “Terbit liurku melihat kolak/Dijual orang di tepi jalan/Untung teringat nasihat emak/Disitu aku dilarang makan….Terus kupergi menoleh tidak/Ubi kubeli serta cempedak/Kubawa pulang untuk emakku…Kolak sekarang dimasak emak/Kami
menanti tidaklah lama/Hidangan murah makan bersama…”
Kini hampir setiap sore, isteri saya menyiapkan kolak di rumah. Satu panci besar! Saya tidak tahu, apakah isteri saya juga terkesan dengan sajak “kolak” di buku “Bahasaku”. Tapi yang jelas, kolak itu tak pernah disambut dengan gembira, karena anak-anak dan ayahnya
sudah terbiasa “mengudap” di mana-mana, sebelum pulang ke rumah.
Buku teks “Bahasaku” memang hebat. Kami tak pernah mempelajarinya. Kami hanya “mengalir” begitu saja dan menikmatinya. Kami tak pernah menghapalnya. Ia hanya mengajak kami bermain-main. Tapi, saya rasa, memang demikianlah seharusnya sebuah buku teks yang baik.
Dan kalau sekarang saya bisa menulis sesuatu tentang Amir, Tuti, Hasan dan sepeda yang berbunyi “srr…tik-tik”; maka saya rasa hal itu juga tak lepas dari jasa buku teks “Bahasaku” karangan B.M. Nur dan W.J.S. Poerwadarminta, serta ilustrasi M. Kamil, yang dulu membuat saya tertawa-tawa[.]
mulaharahap@gmail.com


11 responses so far ↓
Oni Suryaman // April 25, 2007 at 3:03 am
Generasiku generasi Budi. Ini ibu Budi, Iwan adik budi, dst. Cerita seperti yang Pak Mula gambarkan dalam buku “Bahasaku” sudah hilang dari generasi saya, generasi Daud Yusuf dengan kurikulum 1975.
Masih ada cerita, tapi tentu tidak semembekas generasi Pak Mula, buktinya tidak satu pun yang saya ingat.
Mungkin inilah yang dimaksud dengan pendidikan. Pendidikan bukan untuk mendapatkan hafalan, melainkan kesan. Kesan yang kita peroleh itulah yang akan berguna dalam hidup kita. Hafalah bisa lenyap ditelan waktu (tanya saja pada anak sehabis ujian, pasti hafalannya sudah ia lupakan), namun kesan abadi adanya.
Dian Matias Saragih // April 27, 2007 at 1:48 pm
Sama seperti pak Oni Suryaman, generasiku juga generasi Ini ibu Budi. Tetapi apa yang dipaparkan amang Mula pernah juga saya baca di rumah kakek (ompung), ex buku-buku ibu, dan paman (tulang). Tetapi yang berkesan memang tokoh Darma, anak pak Lurah, yang bisa bikin perahu. Wah, melihat perahu dari kertas saja imajinasi sudah ke lautan luas, apalagi perahu beneran buatan Darma.
Ika Mulya // May 1, 2007 at 8:52 am
Saya berpendapat bahwa pelajaran Bahasa Indonesia di HAPUS saja . Diganti saja dengan pelajaran “kesuSASTRAan”
Dasarnya adalah kalau kita hidup di Indonesia, tanpa belajar bahasa Indonesia kita pasti bisa bahasa Indonesia karena pengantar disekolah kita bahasa Indonesia. Seperti halnya yang pernah saya katakan pada guru sekolah anak saya, bahwa tidak perlu ada pelajaran bahasa daerah (yang sama), kalau sekolah di Jawa Tengan diajar pelajaran bahasa jawa dan sekolah di tanah Sunda belajar bahasa Sunda …. ya mubazir.
Kita tidak perlu belajar bahasa Jawa atau Sunda kalau kita punya kesempatan tinggal di daerah tersebut, ya pasti bisa.
Kenapa pelajaran bahasa Inggris perlu, karena kita tidak (belum) punya kesempatan tinggal di sana. Jadi kita perlu belajar agar bisa. Sedangkan Bahasa Indonesia, …. cukup pelajaran sastra, kecuali mau jadi ahli bahasa.
Sonezza // July 1, 2007 at 7:04 am
Saya sangat setuju dengan pendapatBapak Mula Harahap. saya generasi ini budi,,,, dan saya pikir, saya cukup bekesan dengan pelajaran bahasa Indonesia, mungkin karena saya sangat beruntung mendapatkan guru dari generasi baheulak, yang masih ok buanget mendidik kami… Saya sangat tidak setuju apabila bahasa Indnesia sebagai pelajaran dihapus. Wah, bisa gawat…. bisa-bisa terciptlah generasi yang tidak mampu berbahasa dengsan baik dan tidak profesional dalam menulis!! menurut saya, yang harus diperbaiki adalah sistem pendidikan dan pengajaran Bahasa Indonesia di bnagku sekolah…
Sanzinsoo // July 13, 2007 at 8:57 am
Saya orang Jepang, tapi belajar Bahasaku di Tokyo, Jepang tiga puluh tahun yang lalu. Saya masih ingat kalimat yang pertama, yaitu “Ayah Amir petani. Pagi-pagi ia sudah ke sawah.”
Antara tokoh-tokoh di dalam Bahasaku yang paling saya senang adalah Sudin. Dia selalu lucu.
Etha // October 4, 2007 at 9:54 am
Siapa bilang pelajaran Bahasa Indonesia tidak perlu?Dan hanya keSusastraan saja yang diperlukan?Memang kita hidup di Indonesia dan pengantar pendidikan di Sekolah juga tentunya sudah menggunakan Bahasa Indonesia tapi itu tidak cukup. Belajar Bahasa Indonesia itu kompleks kalau kita sebagai Warga Negara Indonesia tidak mau lagi mempelajari Indonesia, lantas siapa lagi? Rela generasi muda kita tidak kehilangan Bahasa Nasional sedangkan Bangsa lain justru semakin pintar dan menguasai Bahasa Indonesia? Apa tidak malu? atau malah jangan-jangan lama-lama hilang pula Bahasa kita karena dicuri Bangsa lain.
Etha // October 4, 2007 at 9:56 am
Siapa bilang pelajaran Bahasa Indonesia tidak perlu?Dan hanya keSusastraan saja yang diperlukan?Memang kita hidup di Indonesia dan pengantar pendidikan di Sekolah juga tentunya sudah menggunakan Bahasa Indonesia tapi itu tidak cukup. Belajar Bahasa Indonesia itu kompleks kalau kita sebagai Warga Negara Indonesia tidak mau lagi mempelajari Indonesia, lantas siapa lagi? Rela generasi muda kita kehilangan Bahasa Nasional sedangkan Bangsa lain justru semakin pintar dan menguasai Bahasa Indonesia? Apa tidak malu? atau malah jangan-jangan lama-lama hilang pula Bahasa kita karena dicuri Bangsa lain.
william diondi parasian harahap // October 6, 2007 at 2:55 am
amangtua baca email dari willy untuk amangtua di gmail
Pahala Hutabarat // January 24, 2008 at 11:46 am
Ya.., jadi ternyata ‘Bahasaku’ dipakai di sebagian besar (?) nusantara pada waktu itu. Murid SD di Pekanbaru juga menggunakan buku ini. Jadi bisa dicapai suatu acuan manakala ada ujian nasional. Bukan seperti sekarang, masing-masing sekolah menggunakan buku seturut komisi dari penerbit. Kacau balau memang moral bangsa ini. Apa boleh buat terutama dunia pendidikan diobrak-abrik oleh Daud Yusuf itu.Jadi teoritikus ilmu (pendidikan atau apa sekalipun) tidak identik dengan pembuat kebijakan yang bermoral. Lihat aja menteri-menteri kabinet sekarang. Kacau balau!!
Pelajaran bahasa Indonesia - menurut penilaian saya - tetap diperlukan di negara multi-etnik Indonesia ini. Justru pelajaran bahasa daerah yang boleh jadi mata pelajaran pilhan, karena cenderung sudah digunakan dalam komunitas keluarga.
Kehadiran pelajaran bahasa daerah sekarang mendulang menipisnya kepedulian nasional. Orang Jawa geger karena pemakai bahasa Jawa menyusut, orang Minang, orang Batak, dll, sama juga ‘tariannya’. Hal yang nyata-nyata melanggar cita-cita Sumpah Pemuda. Yang lebih parah lagi, para figur publik di Indonesia, sibuk menikmati kemampuan bertutur dengan istilah bahasa asing, di media massa. Lihat Marie Eka Pangestu. Seolah dia menteri Indonesia yang di- import. Seperti tahu-tempe, makanan tradisional yang berbahan baku import !.
Beberapa tokoh publik sampai birokrat, dengan berseri-seri mengucapkan - award, crucial, nothing-to-loose, why not, it’s okay, grass root - dan banyak kata lagi dengan mulut sampai monyong-menyong. Dia pikir itu lah martabatnya. Sampah !
Banyak kita lebih bangga menjadi bangsa ‘asing’ daripada menjadi bangsa Indonesia. Untuk itu, mari kita persiapkan negara Non-NKRI ?. Bagaimana ?
Masindi // February 25, 2008 at 7:58 pm
Setuju! Saya sendiri belajar membaca dengan “Bahasaku”. Saya kangen Muntu
pardamean pakpahan // March 28, 2008 at 8:29 pm
Betul sekali, Pak Mula, pelajaran bahasa Indonesia dan buku bacaan “Bahasaku” paling saya gemari waktu SD tahun 1962-1965. Sampe sekarang masih membekas tokohnya Amir, Tuti, Hasan dan Sudin adik Tuti. Waktu itu kita diajari berimajinasi sendiri tentang suasana dalam cerita dan memang terhanyut sambil menerima strap dari ibu Guru yang cuantik keasikan mbaca gak menyimak.
Leave a Comment