Diceritakan Kembali Oleh: Mula Harahap
Anjing dan Taik
Konon kabarnya, T.D. Pardede–konglomerat Sumatera Utara di tahun 60-an itu–pernah marah besar kepada seorang pemain bolanya karena membuat blunder dan menyebabkan Pardedetex–kesebelasan kebanggaannya itu–kalah.
“Anjing kau,” katanya, lalu mengumbar berbagai kekesalan hatinya kepada si pemain.
Seorang pembantu “Pak Ketua” terkejut mendengar ucapan itu dan berkata, “Pak, janganlah sekasar itu. Janganlah sebut dia anjing..”
T.D. Pardede balik melotot kepada pembantunya dan berkata, “Sudah bagus dia kubilang anjing. Kalau kubilang taik? Dimakan anjinglah dia…”
Dunhil
Seorang pemuda Batak, dengan penuh percaya diri, mendongakkan kepala dari jendela mobilnya, hendak membeli sebungkus rokok “Dunhill” dari pedagang di pinggir jalan.
“Hei, tolong dulu kasi sebungkus ‘dunhil’…” katanya dengan mantapnya.
“Mas,” kata si pedagang rokok mengoreksi. “Bilangnya bukan ‘dunhil’, tapi ‘danhil’…”
Si pemuda Batak melotot lalu berkata, “Hah, sudah bagus kubilang ‘dunhil’. Kalau kubilang ‘hildun’; mau apa kau?!”
Orang Medan yang Edan
Seorang supir truk berpelat nomor BB berhenti di depan gerobak penjaja minuman, di sebuah pasar di Solo.
“Kasih dulu cendolnya, Embak..”
“Mboten enten, Mas,” jawab si pedagang perempuan dengan lembutnya. Cendol sudah tidak ada.
“Hah, nggak pakek santen pun tak ‘papalah…” kata si supir Batak lagi dengan sedikit memaksa.
“Sampun telas, Maaas,” jawab si pedagang perempuan lagi dengan sabarnya. Cendol sudah habis.
“Hah, nggak pakek gelas pun tak ‘papalah…”
“Dasar wong edan,” gerutu si pedagang sambil kebingungan.
“Heh?! Koq tau pulak kau kalau aku orang Medan?!”
Kesusu
Tersebutlah cerita, si supir truk berpelat nomor BB itu berkenalan dengan seorang gadis Solo, tetangga si pedagang cendol. Hari pertama berkenalan, si supir sudah memberanikan diri mengajak si gadis kencan mengunjungi pasar malam.
Sementara berjalan berdekatan, si supir–yang sudah mabuk kepayang– langsung saja menaruh tangannya di pinggang si gadis.
“Ojo kesusu lho, Mas?!” kata si gadis dengan tersipu-sipu malu dan wajah merah padam.
“Akh,” kata si supir, “Pinggangnya yang kupegang….susu kata kau…”
Tak Enak Badan
Walau pun pengetahuan Bahasa Inggerisnya sangat pas-pasan, tapi Purnama gadis Batak yang hitam manis itu nekad juga menjalin
hubungan dengan George Wallace, turis “backpacker” asal Australia yang ramai datang ke Parapat itu.
Dari sekedar pandang-pandangan dari jauh, hubungan mereka berlanjut ke taraf jalan-jalan berduaan.
Suatu hari si turis Australia mengajak Purnama untuk menonton filem di bioskop. Tapi sayang, kebetulan hari itu gadis tersebut
sedang “tak enak badan” karena flu. Ia tidak tahu apa kata Bahasa Inggeris yang paling tepat untuk “tak enak badan”. Tapi dasar nekad, ia beranikan juga menolak ajakan itu dalam Bahasa Inggeris yang “mantap’: “Oh, not today, dear. Today my body is not so
delicious….”
Come to You…Come to Me
Tersebutlah cerita, akhirnya Purnama jadi juga dipersunting oleh George Wallace dan diboyong ke Melbourne.
Sebagai perempuan Batak yang tegar dan penuh semangat, ada-ada saja hal di rumah yang dikerjakannya. Suatu hari, ada pagar yang rusak dan ia membutuhkan gergaji untuk memperbaikinya. Ia tidak tahu apa kata Bahasa Inggeris untuk gergaji. Namun diberanikannya juga dirinya pergi ke “hardware store” dan berkata kepada si penjaga toko: “Mister, do you have….come to you…come to me….come to you….come to me….” sambil memperagakan kedua tangannya dalam gerakan menggergaji[']
![OMG ! [ Explore #1 ] OMG ! [ Explore #1 ]](http://static.flickr.com/2631/4150305338_5dd4270c04_t.jpg)


11 responses so far ↓
You Know Me Well Than Myself // May 11, 2007 at 6:53 am |
Bukannya, come in come out sehingga si penjual …..?! Hehehehe….
heno // January 4, 2008 at 8:41 pm |
Bung, sering-seringlah bikin humor. Senang aku kau buat. Bagus X humor kau itu, apalagi soal TD Pardede itulah. Jadi ketawak lebar aku dan temanku yang ikut membaca humor kau ini. Horas ya, sukses selalu.
NAgHa // January 18, 2008 at 7:20 pm |
Wah…Lucu-lucu juga, Amang.. Aku pinjem satu untuk kukirimkan by email ke teman-temanku, ya? Tenang, Amang, narasumber tetap aku sebutkan…:D
pahala // February 22, 2008 at 5:30 pm |
Kalau yang sejenis ‘kesusu’ itu, waktu mereka sudah pada ‘on’ berdua, Bang. Kebetulan rumah kosong kata sahibul hikayatlah, ‘kan. Jadi waktu Si Gadis Solo bilang, ‘Ojo kesusu, Mas’ itu, Si Batak lah itu ‘kan ? Bilang begini, ‘Ke susu lagi kau bilang, sudah dari tadi kumasukkan, yang nggak kau rasanya ?’ Tapi Si Batak itu bukan Hutabarat, Bang. Tak disebut marganya.
Adhipati mangun // November 29, 2008 at 11:44 pm |
Ipar, tolong ceritain tentang orang Toba sama orang Tapsel yang bertetangga, dong.
Nanda // February 2, 2009 at 1:47 pm |
Humor’a kocak abiez… Kl bsa bikin lagi donk yg bru dan lbh lucu
Nanda // February 2, 2009 at 1:52 pm |
Dapat inspirasi dari mana, sich, biar bisa bikin humor begituan? Horas! (Nggak ada beras, ya makan gabah).
cendrawasih // March 22, 2009 at 12:42 pm |
Walau kesusu, tak apalah, lajukan saja dia. Banyak membuat orang ketawa makin banyak pahalanya.
eva // October 10, 2009 at 4:16 pm |
Hahaha…! Lucu bangat humornya. Yang paling lucu, itu cewek yang nikah sama bule itu, apa tuh, come to you….come to me…..!
Novi Onna Harahap // October 26, 2009 at 7:58 pm |
Lucu abiez, dech, pokoknya.
reinir // November 12, 2009 at 3:59 pm |
Horas…! Lucu..lucu..lucu..! Ini namanya humor segar dan emang gaya humor Orang Medan. So, go on, Humor Batak….Horas…!