Lagu Rohani Populer Masakini dan Pemahaman Tentang Kekristenan

Surat Seorang Ayah Kepada Puterinya

Oleh: Mula Harahap

Boruku yang manis,

Tadi pagi–secara tak sengaja–saya menonton acara musik di sebuah stasiun televisi. Di panggung yang gemerlapan itu ada sebuah kelompok band, serombongan penyanyi latar dan seorang vokalis pria yang bernyanyi-berteriak-teriak seraya berjalan
kesana-kemari.

Mula-mula saya menyangka pertunjukan musik itu adalah pertunjukan musik sebagaimana yang biasa kau tonton di MTV, dan yang selalu membuat kita bertengkar memperebutkan “remote control”, karena saya lebih memilih untuk menonton filem tentang ular anakonda di Amerika Selatan atau “killer whale” di Laut Artik.

Tapi ketika saya sedikit lebih menyimak, maka saya mendengar kata-kata seperti, “Kaulah Yang Mahakuasa”, “Kaulah Yang Mahakasih”, “Kumenyembah Engkau” dan “Terpujilah Engkau”. Ternyata yang mereka nyanyikan adalah “lagu-lagu rohani”. (Sengaja lagu-lagu rohani saya beri tanda petik, karena kalau bukan dari ungkapan-ungkapan seperti tersebut di atas, maka sikap
dan ekspresi para penyanyi itu tidak ada bedanya dengan yang lainnya, yang menyanyikan “I need your kiss”, “Hug me, baby” atau “I want to sleep with you”). Dan saya lama tercenung, ketika pada akhir acara, dari telop di layar teve saya diberitahu bahwa
yang baru saya tonton itu adalah mimbar agama Kristen!

Kemudian saya teringat akan peristiwa beberapa waktu yang lalu, ketika kau dan ibumu bertengkar mengenai persoalan lagu-lagu rohani. Kau protes, karena dalam sebuah acara persekutuan remaja yang kalian selenggarakan, ibumu hanya mengatupkan bibirnya dan tidak ikut melambai-lambaikan tangan sebagaimana semua yang hadir dalam persekutuan tersebut. (“Mama ini malu-maluin saja,” katamu memberondong ibumu. “Sorry, mama tidak mengerti lagu-lagu kalian,” kata ibumu. “Ya, tapi mama ‘kan bisa belajar,” katamu lagi. “Akh, saya dibesarkan dalam tradisi lagu-lagu ‘Dua Sahabat Lama’, ‘Mazmur & Nyanyian Rohani’ dan ‘Kidung
Jemaat’,” kata ibumu. “Syair dan melodi lagu-lagu kalian tak bisa meresap ke dalam hati mama.”).

Boruku,

Pada dasarnya saya adalah seorang yang progresif dan liberal. Kau tentu menyadari hal itu. Dan sikap itu misalnya tercermin dari cara saya membiarkan kalian anak-anak memprotes kami orangtua. Dan sikap itu juga tercermin dari toleransi yang saya berikan kepada kalian untuk mengekspresikan diri. (Kadang-kadang, kalau ompung kalian–ibu saya–ada di rumah, saya jadi malu. Ia acapkali mengkritik saya. “Na beha do dibahen ho mangajari angka dakdanakmu?” katanya). Tapi dalam urusan lagu-lagu ibadah, maaf, kalau saya juga berada dalam barisan orang-orang “konservatif”.

Sebulan yang lalu, dalam persidangan majelis jemaat di gereja, secara panjang-lebar kami juga membahas tentang tuntutan agar kebaktian–paling-tidak kebaktian orang-orang muda–diizinkan untuk memakai lagu-lagu rohani kontemporer yang diiringi oleh group band. Ada sinyalemen bahwa kebaktian-kebaktian kita yang “konvensional” itu, yang memakai “Kidung Jemaat” dan “NKB” serta yang diiringi oleh piano dan orgel itu, oleh orang-orang muda dirasakan kurang hangat dan kurang menarik.

Sebagian kawan-kawan “sintua” berpendapat sebaiknya kita tidak terlalu kaku dan mengizinkan saja tuntutan orang-orang muda tersebut. “Yang mereka nyanyikan tokh sesuatu tentang Yesus…,” kata sebagian kawan. “Daripada mereka ‘lari’ ke persekutuan lain, apa salahnya kita mengakomodasikan saja tuntutan tersebut,” kata sebagian kawan lagi.

Boruku,

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pada dasarnya saya adalah orang yang progresif dan liberal. Kalau saja urusan lagu-lagu itu hanya sekedar urusan “kulit”, “bungkus” atau “gaya”; dengan serta-merta saya akan termasuk dalam barisan orang yang setuju.
(Sebagaimana saya setuju para wanita memakai celana panjang atau orang-orang muda memakai jeans ke gereja. Atau sebagaimana saya setuju “sintua” berambut gondrong seperti saya ini. Ha-ha-ha!).

Tapi–sayangnya–dalam urusan lagu-lagu ini saya melihat ada aspek “isi”, “substansi”, “pemahaman” atau “teologia”. Ini bukan persoalan yang gampang untuk ditolerir.

Boruku,

Kau tentu masih ingat, beberapa tahun yang lalu, ketika kau masih duduk di bangku sekolah dasar, kau pernah berkata kepada inangudamu–Tante Poppy, “Kalau Bapak sudah nyanyi lagu-lagu bahasa Batak seperti ‘Sai Patogu Rohangki’, ‘Sai Tiop Ma Tanganku’ atau ‘Ise Do Ale-alenta’; itu tandanya Bapak lagi susah, lagi nggak punya uang atau lagi marah sama orang…” Kau benar!

Menurut pemahaman saya, hidup mengikut Yesus bukanlah hidup yang bebas dari kesakitan dan penderitaan dunia ini. Tapi dengan mengikut Yesus saya mendapat jaminan penghiburan dan kekuatan untuk menghadapi kesakitan dan penderitaan tersebut. Menurut pemahaman saya, jalan salib adalah jalan yang penuh kesukaran, tapi yang saya tahu pasti akan berujung pada kemenangan.

Bagi saya, kekristenan bukanlah “ecstasy” dan bukan pula “masochism”. (Dan untuk memahami arti kedua kata itu, sebaiknya kau buka kamus Webster yang ada di lemari buku ibumu). Bagi saya kekristenan adalah suka-duka yang dirasakan dengan penuh kesadaran dalam perjuangan menuju ke kemenangan. (Iman, Kasih dan Pengharapan–begitulah bahasa “kerennya”).

Lagu-lagu seperti “Sai Patogu Rohangki”, “Tersembunyi Ujung Jalan” atau “Nun Di Bukit Yang Jauh” saya butuhkan untuk menghibur dan memberi saya kekuatan atas penderitaan hidup di dunia yang kadang-kadang tak bisa saya fahami ini. Seperti lagu mars pada tentara; begitulah fungsi lagu-lagu tersebut bagi saya. Ia membuat saya sadar dan kuat untuk masuk ke pertempuran. Ia tidak membuat saya “mabuk”, “fly”, “lupa diri” atau “syur”. (Maaf, saya tidak bisa membedakan, apakah kawanmu yang memegang melodi itu, yang meneriakkan “Terpujilah Engkau” berulang-ulang, seraya kepalanya naik-turun seperti ayam yang sedang minum itu, sedang bernyanyi, berzikir atau membaca mantera?).

Boruku,

Akhir-akhir ini banyak sekali “guru” yang menawarkan metode dan latihan bagi manusia untuk bisa merasakan “asketik”, kenikmatan “spiritual” atau kenikmatan “bersatu dengan Tuhan” lepas dari konteks dunia. Buku-buku, kursus-kursus atau persekutuan-persekutuan yang berkaitan dengan hal tersebut pun bermunculan seperti jamur di musim hujan. Banyak dari teman-teman saya yang tertarik dan mengajak saya untuk mencoba bergabung ke sana. Tapi saya tidak tertarik dan tidak merasa perlu untuk mencari kehangatan persekutuan dengan Tuhan lewat cara-cara seperti tersebut di atas.

Kehangatan persekutuan dengan Tuhan saya rasakan dalam perjalanan memikul salib di dunia ini. Kehangatan persekutuan dengan Tuhan saya rasakan dalam kesadaran bahwa saya adalah bagian dari dunia tapi tidak untuk menjadi serupa dengan dunia. Inilah pemahaman yang diwarisi secara turun-temurun dari ompungnya ompung saya, bapaknya ompung saya, ompung saya, bapak saya
(ompungmu), saya dan (saya berharap) kau.

Boruku,

Mungkin apa yang saya jelaskan di atas terlalu abstrak bagimu. Karena itu biarlah saya jelaskan dengan peristiwa yang baru-baru ini terjadi di tengah keluarga kita:

Empat bulan lalu kita mendapat kabar bahwa Ompung Maruli–amanguda saya–oleh dokter dinyatakan positif menderita kanker paru-paru. Kita bingung dan sedih. Kita bingung karena kita tidak tahu darimana uang harus diperoleh untuk biaya perawatan. Seperti kau tahu, ompungmu hanya seorang pegawai biasa yang hidup pas-pasan. Karena itu, kita berdoa. Sanak keluarga di
Medan berdoa. Sanak keluarga di Jakarta berdoa. Kita berdoa memohon kesembuhan seraya saling bahu-membahu mengumpulkan uang–yang jumlahnya juga tidak terlalu banyak, karena sebagian besar dari kita sedang mengalami kesulitan ekonomi–untuk biaya perawatan rumah sakit.

Tidak ada “mujizat” seperti yang difahami oleh kebanyakan orang. (Duit yang beberapa kali kita kumpulkan tetap saja pas-pasan dan ompungmu pun semakin parah saja). Tapi kita tidak merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Bahkan kita merasa Tuhan hadir di tengah pergumulan kita.

Dua minggu lalu, setelah tubuhnya habis digerogoti oleh sel-sel kanker, ompungmu menyatakan diri siap untuk meninggalkan dunia ini. Dengan tenang dan penuh kesadaran ia minta agar diberi pelayanan perjamuan kudus yang terakhir. Dan malamnya ia pun pergi untuk menghadap Sang Bapa–Pencipta dan Pemilik Hidupnya. Tidak ada mujizat penyembuhan dan tidak ada solusi bagi tagihan rumahsakit yang menggunung. Tapi semua kita–terutama yang hadir di sekeliling ranjangnya malam itu–bisa merasakan genggaman tangan Yesus. Indah sekali!

Itulah spiritualitas yang kita pahami. Kehadiran dan penyertaan Tuhan kita rasakan dalam pergumulan hidup sesehari dan biasa-biasa saja, di dunia nyata ini.

Boruku,

(Kini kita kembali ke topik pembicaraan kita). Yang menjadi keberatan saya ialah, bahwa sebagian besar syair lagu-lagu yang disebut sebagai “lagu-lagu rohani” masakini itu, kurang pas dengan pemahaman saya tentang hidup bertuhan. (Satu-dua memang ada yang pas).

Saya merasa kurang “sreg” kalau sebuah lagu berulang-ulang hanya mengatakan, “Hebat sekali Kau, Tuhan! Hebat sekali Kau, Tuhan!” atau “Mahabesar Kau, Tuhan! Mahabesar Kau, Tuhan!”. Tuhan yang saya fahami adalah Tuhan yang tidak membutuhkan pujian seperti itu. Tuhan yang saya fahami bukanlah Tuhan yang “sipanggaron”.

Tuhan yang saya fahami justeru adalah Tuhan yang merasa terpuji, kalau dalam nyanyian yang saya panjatkan saya bisa merasakan operasionalisasi dari kehebatan dan kebesaranNya. Sama halnya, saya tidak akan merasa terpuji kalau kau hanya mengatakan, “Bapak hebat, deh! Bapak baik, deh!” Tapi saya akan merasa terpuji kalau kau mengatakan, “Bapak baik, karena
memampukan saya membayar uang sekolah tepat waktu dan mendapat cukup uang jajan sehingga bisa membeli
satu-dua buku bacaan setiap bulan..”. (Cobalah kau simak baik-baik syair beberapa lagu kegemaran saya di Buku Ende, Kidung Jemaat atau NKB. Kau pasti bisa lebih memahami apa yang saya maksudkan).

Saya juga merasa kurang “sreg” kalau orang bernyanyi sampai “lupa diri”.

Boruku,

Sama halnya dengan dirimu, saya juga pernah mengalami masa muda. Saya adalah generasi The Rolling Stone, Led Zeppelin, CCR, Bee Gees atau The Cats. Sampai sekarang saya masih hafal luar-kepala sebagian dari lagu-lagu itu. Pada masanya dahulu, saya juga berpotongan rambut, berpakaian dan bertingkah-laku seperti musisi-musisi idola saya itu. Tapi pada waktu itu pun saya sadar, bahwa ekspresi “pop” hanya pas untuk urusan-urusan di luar gereja.

Kalau kami “marminggu” di HKBP Sudirman–Medan, maka dengan senang hati budaya atau ekspresi pop itu kami tinggalkan di luar pintu gereja. Kami melangkah masuk dengan menenteng Buku Ende yang bersampul hitam, kami menyanyikan lagu-lagu yang ada di sana dengan gembira dan kami mendapatkan “sesuatu”. Dan “sesuatu” itulah yang kini–kalau saya sedang gelisah, sedih atau
takut–suka saya lantunkan di dalam hati.

(Dua tahun lalu, bersama seorang teman, saya terpaksa bermobil di malam hari, melintasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kecuali kami, tidak ada orang lain di tempat itu. Mobil mendaki dengan tersendat-sendat dan setiap saat bisa saja muncul
orang dari balik hutan yang lebat untuk menyergap dan menghabisi kita. Saya takut. Tak ada hal lain yang saya lakukan kecuali menyetel kaset Trio Lasidos yang menyanyikan lagu-lagu Buku Ende tersebut. Rasa takut saya memang tidak hilang mutlak, tapi saya menjadi lebih tenang, pasrah dan kembali meyakini bahwa ada Dia di “atas” sana yang berkuasa atas saya dan yang
memiliki hidup saya).

Boruku,

Saya tidak melarangmu untuk mengeksplorasi “lagu-lagu rohani” kontemporer itu. Tapi sebagai pengimbang, saya juga ingin agar kau mengeksplorasi lagu-lagu Buku Ende, Kidung Jemaat atau Mazmur dan Nyanyian Rohani.

Mungkin saja, pada saat-saat awal, lagu-lagu tersebut terasa kurang sreg di telingamu. Tapi cobalah terus. Saya rindu, bahwa suatu ketika kelak, kita sama-sama melantunkan lagu “Sai Tiop Ma Tanganku” (Ayat 1 sampai 5), dan merasakan “getaran” yang sama. Memang, lagu-lagu tersebut tidak membuat kita bergoyang atau menjadi “fly” untuk merasakan kehadiran Tuhan. Ia
justeru membuat kita merasakan kehadiran Tuhan dalam penuh kesadaran.

(Kau tentu belum pernah mengalami peristiwa, dimana–bersama-sama dengan beberapa teman–kau menyanyikan lagu “Sai Tiop Ma Tanganku” di sekeliling seorang kekasih yang “terminally ill” dan sedang bersiap menghadap Yesus-nya. Tapi saya sudah pernah
mengalami hal tersebut. Saya menangis, tapi tidak merasa sepenuhnya ditinggalkan. Saya kecewa, tapi tidak merasa sepenuhnya dikhianati. Saya takut, tapi tidak merasa sepenuhnya dilucuti. Dan semua itu saya rasakan karena kekayaan syair lagu).

Boruku,

Itulah beberapa pikiran dan gagasan saya di seputar lagu-lagu “rohani” populer masakini. Kalau kau mempunyai pemikiran lain dan tidak bisa menerima apa yang saya sampaikan, silakan utarakan. Melalui diskusi yang diterangi oleh Roh Kudus saya berharap, kita bisa membangun suatu pemahaman yang lebih benar tentang kekristenan kita dan bagaimana bentuk pengekspresiannya yang paling pas.

Horas,

Bapakmu

(Manusia Biasa–Yang Baru Ingat Akan Tuhan Kalau
Hatinya Sedang Susah)

About these ads

13 responses to “Lagu Rohani Populer Masakini dan Pemahaman Tentang Kekristenan

  1. Tulisan ini sangat menyentuh hati saya banget.. karena banyak kisah disekitar saya persis seperti yang bapak ungkapakan diatas dan saya sependapat dengan bapak mula. sebisa mungkin tulisan ini akan saya teruskan ke teman2 pemuda/i gereja saya. terima kasih pak..

  2. Menarik sekali membaca blog bapak. Saya dikenalkan blog ini oleh Pak Anton, dan ternyata isinya memang ‘dalam’.

    Mengomentari konteks dan konten lagu rohani memang selalu menarik. Menarik karena adanya suatu ‘perUBAHan’ didalamnya. Padahal setiap perubahan pastilah ada pro dan kontra walau ada juga yang bersikap netral.

    Lagu rohani model MTV mungkin lebih pas dengan jaman sekarang dengan mode kebaiktian yang bukan lagi digereja tapi di hotel-hotel atau mal. Bahkan …. ruko. Dengan seperangkat alat band mirip Rolling Stones yang jaya dimasa kita.

    Menurut saya, … biarkanlah lagu rohani juga berubah sesuai jamannya bila ini yang memang disukai oleh generasi muda. Kita sebagai generasi terdahulu juga pernah merasakan bagaimana orang tua saya dengan Everly Brothersnya sangat tidak suka dengan lagu-lagunya Mick Jagger yang saya putar.

    Saya malah lebih prihatin dengan munculnya rumah Allah (gereja) yang dulu sakral, indah, megah kini hanya berupa gedung pertemuan di mal, hotel atau ruko. Apakah ini karena semakin sulitnya mendapatkan ijin mendirikan gereja … atau sekedar lebih mudah .. eh…. murah.

  3. Saya masih (sok) muda walaupun sudah berkepala tiga. Kebetulan dalam berpikir saya juga ngakunya “liberal”, namun dalam lifestyle saya juga konservatif. Secara pribadi saya memang kurang suka rumah Tuhan dipakai untuk konser pop atau rock. Sebutlah saya seorang eurosentris yang lebih menikmati sebuah misa latin dengan lantunan unison gregorian yang khidmat.

    Di lain pihak aku mencoba memahami gejolak muda yang lebih pas dengan lagu-lagu seperti itu. Akhir ini membawaku pada sebuah permenungan, dimanakah kita bisa menemukan Tuhan, dalam keheningan, atau kesukacitaan? Mungkin jawabannya adalah dua-duanya. Hanya saja mungkin saya memilih jalan seperti yang dipilih Yesus jika Ia ingin berbicara dengan BapaNya.

    Ia menyepi ke gunung…

  4. Soltan Sihombing

    Terimakasih untuk bacaan ini, Tuhan Memberkati. Senang sekali saya membacanya dan sangat tertarik untuk merespons sedikit . Tetapi sebelumnya saya tekankan bahwa ini adalah opini pribadi saya, tidak begitu paham ayat mana dalam alkitab yang menjelaskannya.

    Tetapi sebagai seorang organis di Gereja dan sedikit aktif dalam mengamati perkembangan musik gereja, saya kurang setuju untuk menjadikan musik gereja sebagai musik yang terlalu konservatif. (saya sendiri jemaat GPIB/non karismatik). Tetapi harus kita akui juga bahwa banyak juga aliran musik itu yang sangat mengena di hati, terlepas dari gaya orang menyanyikannya. Mungkin saya hanya mengambil skop yang kecil, saya hanya sedikit teringat film “Sister Act-1 dan Sister Act-2″.Wah, saya kira pasti hampir semua setuju dengan saya bahwa ternyata musik gereja itu kalau divariasi sedikit akan berpengaruh sangat besar terhadap antusias orang untuk menyanyikannya. Wooow, what a joke. Berlebihankah pendapat saya ini, kalau saya mengatakan bahwa, musik itu sifatnya universal artinya tidak perlu terlalu di marjinalisasi bahwa ini musik rock, itu dangdut, ini musik gospel, itu namanya blues.
    Saya sendiri kadang membawakan lagu gereja versi blues (versi dengan aneka variasi yang menyimpang dari versi asli, dengan sedikit sentuhan gaya musik kontemporer).
    Saya kadang khawatir dengan pembatasan yang kita buat tadi itu mengekang naluri pelaku seni anak muda sekarang, yang jadinya mengurangi kreatifitas mereka khususnya musik gereja.
    Padahal bagi saya itu sangat penting. Artinya, bagi orang yang masih butuh penggembalaan seperti saya, mungkin dengan sedikit hempasan angin bisa tersapu.
    Nah, akibatnya masalah yang baru akan muncul. Seorang Ibu akan kesulitan menyuruh anak remajanya (borunya) untuk pergi ke gereja.
    Kenapa? Karena tersapu oleh derasnya godaan kemajuan teknologi misalnya. Jadinya , yah mereka lebih tertarik nonton di rumah saja, atau main game saja , atau chatting berlama-lama di internet atau yang lagi trend sekarang “internet live show”, atau nonton konsertnya britney spears, dll.
    Solusinya menurut saya adalah kalau sebatas musik, mungkin perlu kita pilah-pilah. Seperti komentar saudara kita diatas, kalau acara KKR, ya tentu beda lagunya pada saat musik gereja pemakaman, atau Paskah. Masing masing tentu punya maksud tersendiri. Saya Sendiri memainkan musik juga lihat-lihat konteksnya lagunya apa. Apakah lagu gembira, lagu sedih, lagu pemujaan, lagu penghiburan, lagu syukuran, dan lain-lain.
    Jadi pesan saya, jangan larang boru anda pergi kebaktian yang musiknya tidak sesuai selera anda (asal jangan ikuti aliran sesat aja). Sepanjang itu bisa membuat imannya bertumbuh.
    Konservatif silahkan saja , tetapi itu kan hanya pilihan warna.
    Jangan hentikan si boru berbicara saat dia mengungkapkan pendapatnya tentang betapa enaknya “kebaktian di gereja ini”.

    Dan akhir kata saya ucapkan , Immanuel / Tuhan memberkati
    (Mohon maaf kalau ada kata yang salah, sekali lagi ini hanya opini pribadi). Anda setuju Kan. Kalau marah berarti bukan orang Kristen. Kalau senyum berarti terlalu konservatif juga anda.
    God Bless YOU (Soltan SIhombing)

  5. Gandamora P. D. SIREGAR

    Saya membaca bloq nya bapak Harahap dan sangat tertarik akan semua yang Bapak sampaikan kepada borunya bapak. Saya tidak gampang menangis , tetapi saya hampir menangis.

    Saya kira kita seangkatan kalau saya baca semua apa yang bapak tulis kepada borunya.

    Saya Siregar dari Bunga Bondar–Sipirok tetapi ibu saya Harahap dari kalau tidak salah dari kampung Lancat. Ompung saya St Elisa Harahap Alm. dan tulang saya Ds. F.K.N Harahap ahli catur di Indonesia. Mungkin bapak pernah dengar atau mungkin juga kita masih bersaudara dari pihak Harahap.

    Saya tinggal di Negeri Belanda dan kalau anak-anak saya selesai sekolahnya 2 @ 3 tahun lagi, saya pulang ke Jakarta. Saya tulen anak Jakarta dan semua famili saya tinggal di Jakarta. Dari pihak papa saya, anak amanguda saya adalah Dr Arifin Siregar. Saya ceritera ini agar Bapak Harahap tahu dari kampung mana saya aslinya. Karena ibu saya Kristen jadi saya juga Kristen. Dan sangat masuk ke dalam hati saya apa-apa yang Bapak Harahap sampaikan kepada borunya. Betul semua, untuk hidup sebagai Kristen kita tidak bebas, tetapi kita ada jaminan akan pertolongan-Nya akan keselamatan-Nya dan hari depan yang indah bersama Bapa kita dalam Tuhan Jesus. Muliate. Tuhan Jesus menyertai dan memberkati Bapak Harahap. Horas,

    Sama seperti Bapak saya juga besar di Medan. Tapi sesekali, kalau liburan, saya suka berlibur ke kampung. Dan sejak kecil saya selalu berminat mengetahui adat-istiadat dan budaya dari mana saya berasal.

    Nenek moyang saya berasal dari Pargarutan dekat Padang Sidempuan. Tapi ompung dari ompung saya sudah menetap di Sipirok–di daerah yang sekarang disebut sebagai Banjar Toba. Sampai sekarang rumah persatuan atau “rumah nenek moyang” kami masih berdiri di dekat Gereja HKBP Sipirok. Sipirok bukanlah kampung asal dari marga Harahap; itu kampung marga Siregar. Tapi nenek moyang kami itu (Mangaraja Pangalitan Harahap) sudah mendapat sawah dan boru dari Raja Siregar yang berkuasa di Sipirok. Konon kabarnya nenek-moyang kami itu adalah pengawal raja yang setia. Ha-ha-ha! Terimakasih untuk Raja Siregar.

    Kalau mengikuti garis nenek-moyang, maka umumnya kami memanggil Siregar dari Sipirok sebagai tulang. Tapi karena ibunya Lae adalah boru Harahap, maka giliran Lae memanggil saya tulang. Ha-ha-ha! Inilah demokratisnya orang Batak.

    Saya tidak mengenal St. Elisa Harahap secara pribadi. Tapi saya mengenalnya sebagai pengarang buku yang produktif; yang pada jaman penjajahan sudah menulis buku sejarah, kamus dan sastra Indonesia. Kalau Ds. FKN Harahap saya masih sempat kenal. Kalau dulu dia datang ke kantor saya di BPK Gunung Mulia, maka sayalah (sebagai orang yang paling muda dan dianggapnya anak) yang disuruhnya mengangkat tasnya yang besar dan yang penuh berisi buku-buku tentang catur itu ke mobil kalau dia hendak pulang ke Bandung–MH

  6. soltan sihombing

    Syaloom! Mana komentar yang lainnya, kasih dong biar seru. Sampai sampai dari saudara kita dari Belanda saja sudah pada ikutan. he he he.

    Nampaknya tanggapan Pak Gandamora cukup menarik juga ya, Mari kita doakan semoga Bapak ini sukses di negeri yang jauh di sana dan …(saya kira sudah sukses ya, ooo, kita doakan sehat-sehat sajalah kalau begitu). Sayangnya Bapak Ganda jadi martarombo larinya. Boha do. Topiknya jadi kurang nyambung. Mungkin ada saran mengenai aliran aliran ke-Kristenan yang lagi berkembang yang mungkin boleh dibilang mengalami suatu pergeseran ke arah kedunia-duniaan. (sori kalau istilahnya salah).

    Tetapi kalau pendapat saya, tidak perlulah terlalu mengenai kebaktian yang Pak Mula maksud tersebut. Saya juga semasa kuliah beberapa tahun mengikuti kebaktian model itu, bahkan ribuan mahasiswa yang mengikutinya. Sekarang saya merasakan banyak manfaatnya, dan pada saat itulah saya paling banyak mendapatkan sentuhan rohani. Terutama pada saat menghadapi masa masa sulit sekarang ini, Firman Tuhan yang saya dapatkan pada masa itulah yang selalu menguatkan saya menghadapi tantangan dalam pekerjaan.

    Mungkin kawan kawan yang lain boleh menambahkan…. Terimakasih. Syaloom

  7. Membaca blog Amang terutama membahas tentang lagu rohani.Saya jadi teringat akan almarhum ayah saya.
    Apa yang menjadi pola pikir Amang sangat sama dengan almarhumayah saya.

    Jika boleh sedikit flash back, saya dulu seorang leadership di salah satu GBI yang sangat ternama hingga saat ini. Ayah dengan karakternya yang lembut tetapi tegas, memperbolehkan saya tetap beribadah dan melayani di GBI tapi tetap harus beribadah dan terdaftar di satu gereja yang mungkin buat orang Batak muda sangat kolot, dengan pola ibadah liturgi.

    Boleh dikatakan ayahku mungkin sama dengan Amang, pada intinya tidak melarang lagu pujian untuk Tuhan jaman sekarang untuk dinyanyikan, semua baik untuk dinyanyikan selama dalam konteks pujian buat Tuhan.
    Disini saya tidak bermaksud membandingkan. Saya tidak melawan atau membantah ortu pada saat itu sebab buat saya ada hak orang tua untuk menasehati seorang anak dan si anak bertugas untuk menelaah lebih jauh maksud dan tujuan orangtua.

    Sampai satu ketika saya mengerti apa maksud dari orang tua saya. Setiap Paskah, Natal, Tahun Baru saya ikut ke gereja bersama ayah saya. Pada saat hari hamamate ni Yesus Kristus, saya mendengarkan pujian dari buku ende “Yesus Ngoluni Tondiku” dengan musik yang sederhana tiba-tiba saya menangis. Saat itu barulah saya mengerti arti pujian yang sangat dalam. Makin lama saya mempelajari dan memainkan lagu-lagu buku ende.
    Boleh dibilang sesungguhnya pujian di buku Ende sangat luar biasa dengan kata-kata yang sangat sederhana, simple dengan makna yang dalam.

    Dari situlah saya mengerti inti dari pujian tersebut. Sampai kini lagu pujian itu tetap terngiang di setiap saat.
    Puji Tuhan sekarang HKBP sangat terbuka dan mengalami kemajuan dalam pembukaan diri, baik dari Pendalaman Firman dan Lagu-lagu Pujian.

    Amang yang baik, saya harap boru hasian Amang dapat juga mengerti apa yang menjadi inti dari surat Amang. Tuhan memberkati!

  8. Morris Suroso Simatupang

    sudah sangat banyak masukan yang telah kita dengar dari saudara/i sekalian yang memberikan perhatian positif, namun semua itu kita bisa hanya pasrah dan berdoa kepada Tuhan semoga dalam diskusi ini diberikan Tuhan seorang yang bijaksana dapat merangkum pendapat kita semua dan bisa kita terima. Saya sangat setuju dengan pendapat Tulang Mula (karena mama saya boru Lubis, jadi saya panggil Tulang saja) bahwa lagu di BE “sai tiop ma tangan hu” memang benar-benar membawa kita bersama dengan Tuhan dan bisa merasuk ke hati kita yang sangat dalam. tanpa harus berakting seperti org kerasukan “roh” tetapi dengan pemahaman yang lemah lembut kita bisa merasakannya. Saya dulu sering ikut kebaktian “karismatik” tanpa menyudutkan aliran tersebut, yang membuatnya saya menjadi terhanyut karena dentuman musik, teriakan song leader dan gembalanya (musik sangat berpengaruh) . Nah persoalannya versi anak muda mengakomodir selera orang muda, sebenarnya bukan gereja yang menyesuaikan dgn selera anak muda tetapi anak muda yang harus kita didik dan bimbing supaya lebih memahami apa arti yang tersirat di setiap lagu rohani yang ada sebelumnya. dan hal yg membuat mereka susah menerima adalah kondisi dan jaman, jadi sangat diharapkan peran serta orang tua. Apabila ada kata2 yang salah mohon maaf Terimakasih semoga Tuhan memberkati dan memberikan yg terbaik buat Bangso Batak.

  9. Ini pertama kalinya saya membaca blog Abang. Sangat menarik. Saya sangat tertarik dengan topik ini karena saya juga melihat fenomena yang sama yang terjadi sekarang ini bahwa gereja mulai dimasuki (baca”dipengaruhi”) oleh berbagai macam paham (termasuk puji-pujiannya) yang semakin tidak terkendali. Sangat sedih melihat gereja yang seharusnya menjadi terang (membawa pengaruh) kepada dunia tetapi malah terbawa arus dunia ini….

    Saya sekarang berusia 21 tahun.. Saya kira saya masih muda.. Saya dibesarkan di gereja tradisional (gereja suku) tapi saya sangat menikmati ibadah dengan pujian dari Kidung Jemaat, NKB, dll. Setiap syairnya bila dihayati sungguh memiliki pemahaman teologis yang benar (saya bukan berasal dari background teologia), sangat mendalam, dan indah….

    Bila membandingkan pujian kontemporer dan pujian KJ, NKB, dll, bisa dilihat bahwa “kebanyakan” pujian jaman sekarang kurang mengandung pemahaman tentang Alkitab yang benar bahkan beberapa sebenarnya bertentangan dengan ajaran Alkitab. Sedangkan pujian dalam KJ, NKB, dll bila dilihat dari sejarahnya, lagu ini lahir dari sebuah pengalama yang dirasakan dan dialami sendiri oleh pengarangnya. Dan tentu bukan itu saja, juga dari pemahaman yang benar akan Firman Tuhan Sebut saja lagu-lagu karya Fanny Crosby seperti “Blessed Assurance” yang sungguh sangat dalam maknanya, “Amazing Grace” oleh John Newton, dan masih banyak yang lain….

  10. Meskipun terlambat baca (saya baru tahu blog ini kemarin), saya ingin berterimakasih atas tulisan Abang. Sungguh luar biasa bahwa saya juga mengalami hal yang sama. Nyanyian gerejawi adalah ungkapan perenungan yang sangat dalam dan tidak mungkin dapat dibuat tanpa meditasi, penghayatan, dan pengalaman spiritual serta iman. Sama seperti Mazmur Daud, yang ditulisnya waktu dalam kesusahan, dikejar Saul, dan hidupnya di ujung tanduk; atau saat dia menyesal sesudah berdosa dengan Betsheba.

    Kemudahan teknologi, fasilitas dan akses rekaman dan iming-iming sukses instan dan penggelembungan ego menghasilkan “Tuhanku Hebat” atau “Kita Adalah Pemenang” dsb. dst. yang bagus hanya dinyanyikan dengan metoda angguk-angguk ayam minum. Sesudah itu kita kosong lagi.

    Ekstensi dari iman model begini adalah kekosongan akibat minimnya refleksi, penghayatan, merinding di kulit dan tetesan airmata. Tak ada ingatan kebelakang saat Tuhan beserta kita dalam kepahitan, kelaparan, kesakitan, atau dalam kesendirian menantikan ajal. Lagu gerejawi adalah model pergumulan dan meditasi Elia orang Tizbe, yang tinggal sendirian ditepi kali Kerit, yang setiap saat makan dari burung gagak utusan Tuhan dan minum dari air sungai — sampi saat dia harus berjalan sesuai dengan titahNya.

    Maaf, saya tidak melihat jenis meditasi “angguk-angguk ayam” ini di Alkitab.

  11. Tetty Simanjuntak

    I love this!

  12. hero dupa sihombing

    Mauliate ma, Amang, nunga boi manjaha surat muna di pustaha on. Mansai las roha mandapothon saotik “pencerahan” di pandangan muna tu ende gareja kontemporer saonari. Tangkas binoto, sai godang dibahen halak lagu-lagu rohani kontemporer, alai godang na ndang “mardai” ndang “lokkot tu tondi”. Alai adong do sada-dua na denggan, songon “Semua Baik”, “Allah Perduli”.

    Amang, molo hamu konservatif, ai ahu Puritan do. Hahaha! Atik pe nunga leleng ahu ndang tu HKBP, alai molo lagu “Loas Ahu Asa Lao” pintor manetek ilu molo marningot ende i.

    Mauliate ma dihamu, sai dipasu-pasu Tuhanta ma diulaon muna. Horas ma!

  13. Saya ingin sekali tau mengenai Gandamora Siregar, karena yang disebut dengan FKN Harahap adalah amangtua saya, kalau ‘gak salah sih, Siregar yang di Jalan Banyuwangi, ya.?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s