Marguru Malua

Oleh: Mula Harahap

Hampir semua masyarakat memiliki ritus inisiasi, yaitu ritus dimana seseorang diakui menjadi warga yang dewasa dan bertanggung jawab dari masyarakat tersebut.

Di dalam masyarakat atau gereja Kristen–Protestan ritus inisiasi tersebut disebut “sidi” (sempurna atau sah–bahasa Indonesia) atau “malua” (lepas–bahasa Batak), yaitu ketika seseorang berdiri di hadapan jemaat dan melafalkan pengakuannya terhadap doktrin gereja tentang Allah, Kristus Yesus, Roh Kudus, Gereja, Kebangkitan Daging atau Orang Mati dan Hidup Yang Kekal.

Untuk sampai ke tahap inisiasi yang disebut “sidi” atau “malua”, seseorang harus melalui proses belajar yang berlangsung selama setahun, dan yang disebut “katekisasi” (mempelajari katekismus atau buku ikhtisar tentang iman) atau “marguru malua” (berguru
untuk menjadi lepas).

Tentu saja, pada waktu itu, pemahaman saya tentang “marguru malua” tidaklah segamblang apa yang saya uraikan pada bagian terdahulu. Sebagai seorang remaja maka saya memahami “marguru malua” tidak lebih dari sebuah proses untuk mendapat sertifikat atau ijazah, yang akan menjadi syarat penting bila hendak menikah kelak. (Karena itu jugalah, maka ketika setamat SMA saya berangkat untuk melanjutkan sekolah di Jakarta, maka disamping ijazah, “surat malua” adalah isi ransel yang paling berharga).

Tapi, sebagai seorang lelaki yang masih dalam masa puber, pikiran untuk menikah tentu belum terlintas di kepala. Karena itu, “marguru malua” juga lebih sering saya fahami sebagai sebuah hal yang “take for granted” (yang dari “sononya” memang sudah begitu). Karena kawan-kawan sudah “marguru malua”, dan mumpung beban sekolah belum terlalu banyak di kelas satu SMA, maka
“marguru malua” jugalah saya.

Saya menjalani proses katekisasi atau “marguru malua” tahun 1970, di Gereja HKBP Jenderal Sudirman–Medan, ketika saya duduk di kelas satu SMA. Beberapa teman sekolah yang “marguru” bersama-sama saya ialah Marintan Pangaribuan, Evita Napitupulu, Electra Parapat, Rumondang Pasaribu, Marupa Napitupulu, Togap Hutapea, Taronggal Siahaan, Gustaf Sitohang, dan Reinhart Sihombing.

Pelajaran dilakukan setiap hari Senin sore, selama dua atau tiga jam. Ada hampir seratus orang anak yang datang “marguru” setiap minggu. Bisa dibayangkan bagaimana gaduh dan hiruk-pikuknya suasana belajar.

Saya sendiri merasa, tidak terlalu banyak aspek-aspek pemahaman iman yang saya peroleh selama proses belajar itu. Tapi, karena sejak TK sampai SMP saya bersekolah di Immanuel, maka beberapa hal yang diterangkan oleh Pak Pendeta atau Pak Sintua (Penatua)–terutama yang berkaitan dengan Cerita-cerita Alkitab–tentu tidak terlalu asing di telinga saya.

Saya ingat, disamping harus menghafal “Pengakuan Iman Rasuli” di dalam Bahasa Batak Toba, maka secara sukarela saya juga menghafalnya dalam Bahasa Inggeris dan Bahasa Batak Angkola. (Saya menghafal “Pengakuan Iman” dalam Bahasa Inggeris agar kelihatan “hebat” dan dalam Bahasa Batak Angkola karena merasa bunyinya “lucu”–terutama pada bagian dimana kata-kata “Anak Dara Maria” diterjemahkan menjadi “Bujing-bujing Si Maria”…).

Masa “marguru malua” adalah juga masa ketika saya sedang “belajar” merokok. Karena itu hal yang paling saya ingat jelas dari masa “marguru malua” ialah ketika saya boleh duduk berlama-lama di atas besi pagar gereja sambil merokok.

Hari “marguru malua” selalu merupakan kesempatan bagi saya untuk melakukan hal-hal lain yang tak mungkin saya lakukan pada hari-hari biasa. Saya selalu rajin untuk pergi “marguru” dan menantikan kedatangan hari itu dengan gembira.

Saya ingat, ketika duduk di kelas satu SMA, saya memiliki ratusan burung merpati. Setiap hari Senin, sepulang dari sekolah, dengan diam-diam saya akan menangkap dua-tiga dari merpati itu dan membungkusnya di tas.

Sebelum pergi ke Gereja HKBP Jalan Sudirman, maka saya akan mengayuh sepeda ke Jalan Bintang, sebuah kawasan
perdagangan burung dan unggas. Di sana burung merpati itu saya jual. Dan uang dua–tiga ratus rupiah hasil penjualan burung sudah membuat saya cukup kaya untuk membeli sebungkus rokok “Galan” dan sebotol bir, lalu meminumnya bersama konco-konco saya di rumah Guntar Rajagukguk di Jalan Sei Merah. Itulah yang saya lakukan selama setahun. Dan burung itu tak menyusut. Bahkan burung yang telah saya jual, acapkali kembali ke rumah dengan membawa burung-burung lain!

Seminggu sebelum upacara “malua” dilakukan, kami harus menjalani ujian tanya-jawab yang disaksikan oleh para orangtua. Saya masih ingat, ketika ditanya oleh Pak Penatua yang menguji, saya menjawab dengan sekenanya tapi mantap. Dan dalam perjalanan pulang dari gereja, ibu saya memuji saya atas jawaban yang saya berikan. Saya menjadi heran; karena sebenarnya saya tidak mengerti apa makna pertanyaan itu.

Begitulah, setelah belajar selama satu tahun, akhirnya tibalah hari “malua”. (Dan biasanya semua anak yang jumlah hari kemangkirannya tidak terlalu signifikan, terlepas dari apakah ia bisa menjawab atau tidak pada hari ujian, akan lulus juga).

Pada hari itu, kami semua duduk di deretan bangku paling depan. Anak lelaki memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana panjang berwarna putih. Anak perempuan memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan rok berwarna putih. Anak-anak remaja yang selalu rusuh dan ribut itu, kini tiba-tiba kelihatan seperti malaikat.

Dengan mantap, di hadapan seluruh jemaat, kami melafalkan pengakuan iman kami. Setelah itu kami mempersembahkan sebuah nyanyian. Saya masih ingat nyanyian tersebut. Melodinya diambil dari “Pasahat Ma Sudena” (Buku Ende Nomor 279), tapi kata-katanya diubah menjadi, “Sai Ho Ma Ale Tuhan Na Mandongani Au”–Engkaulah Ya, Tuhan, Yang Senantiasa Menemani Daku).

Sambil menyanyi, saya melirik para pendeta dan penatua yang pernah mengajar kami. Ada seorang penatua yang menganguk-angguk terharu menatap kami. Mungkin ia menyangka bahwa ia telah berhasil membimbing kami. Saya tertawa dalam hati. Sebab, dari banyak hal yang diajarkannya, hanya ada satu yang melekat di kepala saya. Kalau ia sedang mengajar dan kami terlalu gaduh
tertawa-tawa, maka ia selalu menghardik dengan ucapannya yang khas, “Unang mengkel ho! Roa! Songon biang na tinutung”–Jangan tertawa, kau. Jelek. Seperti anjing yang dipanggang…

Itulah yang terjadi lebih dari tiga puluh tahun lalu. Karena itu, ketika sebagai penatua, beberapa waktu yang lalu saya mendapat tugas untuk ikut menguji anak-anak peserta katekisasi di gereja, maka rasanya saya seperti melihat cerminan diri sendiri.

Saya rasa, saya tahu apa yang ada di kepala anak-anak remaja yang berpakaian putih-putih dan tiba-tiba mengesankan malaikat ini….Tapi saya juga percaya, oleh kuasa Roh Kudus, pada waktunya kelak anak-anak ini tokh akan menjadi anggota keluarga, anggota masyarakat dan anggota gereja yang dewasa serta bertanggung jawab juga…seperti saya[.]

About these ads

11 responses to “Marguru Malua

  1. Horas! Membaca esai ini, membuat remah-remah kenangan terhadap kawan-kawan masa kecil di Sipirok, bangkit kembali. Saya seorang muslim, tetapi di kampung saya, penganut agama Kristes Protestan dan Islam sering tidur bersama. Anak-anak bermain tanpa mempersoalkan kenapa si A ke gereja dan kenapa si B ke masjid.

  2. Bah… Bagus kali cerita ini amang. Saya tak kuas menahan tawa di depan komputer saya. Terutama sewaktu sampai di bagian tentang hardikan guru maluanya itu…

    Memang begitulah aslinya halak kita ya….Tapi amang tidak mengulangi hardikan itu ke murid amang kan?

  3. Luar biasa Bang Mula. Suatu pengakuan yang jujur. Mungkin beragama memang sudah menjadi sebuah budaya saja. Ibarat teman2 di gereja Anglikan Inggris yang masih tetep ke gereja, karena mereka bilang “It’s a part of English tradition, and of being an Englishmen”

  4. Hotman Silalahi

    Bang Mula, tulisan ini adalah satu dari beberapa tulisan abang yang pernah saya baca. Seperti yang dulu pernah saya utarakan, bang Mula selalu menulis apa adanya bukan ada apanya tetapi gampang untuk dicerna.
    Tulisan ini juga mengingatkan saya saat Malua tanpa Marguru, di Huta Tinggi Pangururan, dimana saya hanya datang pada hari H dan merupakan peserta paling akhir. Saya Malua tanpa ada waktu untuk marguru waktu aku masih duduk di SMA Pematang Siantar. Dengan mengandalkan abang sepupu sebagai salah seorang sintua di HKBP Huta Tinggi ini, jadilah saya peserta Malua walau tanpa marguru.

  5. Geram kali aku sama amang yang satu ini, semua tulisannya selalu membuat saya lima sampai sepuluh menit termenung….. semua tulisannya serasa tahu rahasia pribadi pembaca…. Amang, teruslah menulis, kami yang masih muda ini butuh bacaan bernas seperti ini. Syalom, horas.

  6. Waduh …. begitu dalam arti dari kalimat demi kalimatmu …Saya Andre baru malua semalam …Sebenarnya ompung dan orangtua saya jemaat di Sudirman tapi karena jauh saya malua di HKBP Sei-Agul …

    Saya mendapatkan ayat yang sangat bagus menurut saya … Awalnya saya merasa biasa saja .. tapi roti dan anggur yang saya makan pasti menjadi saksi dari perubahan saya ……..

    Terima Kasih atas ceritanya

    Ricardo Andreas Nadeak–Jln . Sekip Gang .Suropati No.2

  7. Horas dan salam kenal, Tulang. Saya ketemu blog ini sehabis bertamu ke blog teman, dan voila, di sini saya menemukan obat kangen saya ke bona pasogit, apalagi cerita tentang sekolah Immanuel. Saya memang bukan alumni sekolah tersebut, tapi sekolah itu menyisakan banyak kenangan ketika saya bersekolah di SMA Negeri 1 Medan, yang masih ‘satu kompleks’ dengan Immanuel. All your ‘immanuel stories’ drag my memories back …

    Btw, teman marguru yang Marintan Pangaribuan itu, apakah Marintan yang putri pengusaha tinggal di Hang Tuah? If it is so, i will then have a new talk with my nantulang.

    Saya bersekolah sampai SMP di Immanuel, kemudian melanjutkan di SMA Negeri I Medan. (Saya tamat SMA tahun 1972).

    Tentang Marintan yang saya sebut-sebut itu, dia adalah teman saya semasa SMP. Kemudian kami berpisah. Dia tetap tinggal di SMA Immanuel dan saya ke SMA Negeri I. Saya tidak ingat dimana dia tinggal ketika masih berada di Medan.

    Kapan-kapan saya cerita tentang SMA Negeri I Medan. Saya juga punya banyak kenangan semasa bersekolah di sana.

  8. Klu aq sich sekarang lagi proses marguru malua…Tapi ancur banget. Bayangin, setiap marguru semua siswa harus tahu semua isi Alkitab… Gila, khan?

  9. Horas dan salam kenal, Tulang…..Aq Meitisa. sering dipanggil Mei…. Aq skarang masih SMA DI SMAN 2 Balige…
    Tapi aq marguru di HKBP Tampahan…

    Oh ya Tulang. Klu Tulang punya waktu, datanglah tulang ke Tampahan… sekalian mengajar sedikit para parguru malua…Menurut saya ya, Tulang, marguru malua itu penting banget. Kan malu klo misalnya kita numpang-numpang tapi ga belajar apa-apa. Yang paling enaknya lagi di Tampahan, Tulang, Pendeta, Porhanger, and Bibelvow-nya bae-bae.. Jadi marguru asyik dach…Menurut saya, marguru juga merupakan suatu persiapan mental….Datang ya, Tulang, ke Tampahan… Aq tunggu loch.

  10. Tetty Simanjuntak

    Saya (dan ito saya) marguru malua sepanjang tahun 1972 di Union Church, Makati, Manila. Lalu kami dikukuhkan (confirmed) tanggal 24 desember 1972. Diajar 1 minggu 1 x oleh Pendeta saja…waktu itu orang America bernama Rev. Richard Leon. Kami memanggilnya Pastor Dick.

    1 kelompok tidak boleh lebih dari 10, dan setiap akhir bulan kami harus menulis summary tentang apa yang diajarkan selama 1 bulan. Di akhir ‘tahun ajaran’ kami harus membuat sebuah esai “What I believe as a soon-to-be-confirmed Christian”. Semua harus didukung ayat alkitab. Mau nangis rasanya, maklum remaja belum tau apa-apa. :-(

    Btw, ada nama pariban saya tercantum di sini dan rumah keluarga dekat Pringgan… :-)

  11. Togap Hutapea

    Akh, Mula! Kenapa pula namaku ada disitu? Sorry, canda. Gimana kabarnya, Mul? Tinggalnya dimana? Teringat margurunya, aku tak bisalah kayak kau. Habis pendetanya khan abang aku sendiri waktu itu. Salam hangat, ya.

    Ha! Togap! Ya, ya, aku masih ingat sekali akan kau. Kau dulu tinggal di dekat Jalan Sambu, kan? Sudah 40 tahun kita tak jumpa. Nanti kita sambung kongkow-kongkow lewat e-mail.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s