Permainan di Masa Kanak-kanak

Oleh: Mula Harahap

Permainan adalah hal lain yang mendominasi kehidupan anak-anak. Tapi kalau saya melihat beban belajar anak-anak masa sekarang, maka saya merasa sedih. Sejak TK, anak-anak sekarang telah dijejali dengan berbagai “PR”. Tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk bermain; tidak saja di sekolah, tapi juga di rumah. Padahal masa sekolah adalah juga masa bermain. Dan saya percaya bahwa permainan, yang diciptakan sendiri oleh anak-anak, merupakan bagian dari proses belajar, yang membantu mereka mengembangkan kemampuan motorik, intelijen dan emosinya.

Saya masih ingat, ketika masih di SD, kecuali mengerjakan “PR” berhitung; maka saya nyaris tidak pernah membuka buku di rumah. Saya tidak mengenal tradisi menghafal pelajaran untuk menghadapi ulangan besok. Semua berjalan biasa, dan nilai ulangan saya tidak pula mengecewakan. Bahkan, sepanjang yang bisa saya ingat, saya tidak pernah merapihkan tas dan menyortir buku yang akan dibawa besok, sebagaimana yang dilakukan oleh anak-anak sekarang. Dari awal hingga akhir tahun pelajaran, isi tas saya nyaris tak pernah saya periksa. Kalau saja ada sepasang tikus di dalam tas itu, maka pada akhir tahun tentu mereka telah beranak-bercucu.

Belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Ya, itulah motto hidup saya, dari dahulu hingga sekarang. Karena itu “jam keluar main” selalu merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh kami semua; anak-anak yang “waras”.

Aneka Permainan dengan Kelereng

Salah satu alat permainan yang menonjol di masa kecil saya ialah kelereng atau “guli”. Bermacam-macam permainan bisa dilakukan dengan guli.

Sekelompok anak bersama-sama meletakkan sejumlah guli di bawah sebuah garis. Lalu satu-persatu mereka melempar kerumunan guli itu dengan sebuah guli lain, atau “gaco”, sehingga keluar dari garis. Dan guli yang keluar dari garis akan menjadi milik si pelempar. Selama seorang anak berhasil “menembak” tepat guli yang menjadi sasarannya maka ia berhak untuk terus melempar. Dan lemparannya baru berhenti, jika tembakannya meleset.

Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak perempuan. Dan pernah ada masa, ketika guli-guli ini menjadi sasaran pencurian oleh anak-anak lelaki yang memakai sepatu “Spartacus”.

Sepatu “Spartacus” adalah sejenis sepatu-sandal yang terbuat dari plastik. Ia dinamakan demikian, karena mirip dengan sepatu yang dipakai oleh tokoh dalam filem yang sangat terkenal pada masa itu, yaitu Spartacus. Sepatu “Spartacus” memiliki sol yang berlubang-
lubang.

Biasanya, dengan berpura-pura bodoh, anak lelaki akan berlari melintasi arena permainan guli anak perempuan. Dan sementara berlari, terseliplah satu atau dua guli di sol sepatu Sang Spartacus. Tapi tidak selamanya anak-anak lelaki berhasil dengan tipu-daya yang mereka yang bodoh dan sedikit berbau kekerasan itu. Pada masa saya di SD pun, semangat kesadaran perempuan akan hak-haknya sudah tinggi. Akan ada saja seorang anak perempuan yang berani mengejar anak lelaki yang mencuri guli itu, menjambak rambutnya, menarik bajunya hingga satu-dua kancing terlepas dan memaksa si anak agar mengembalikan guli hasil curiannya.

Guli juga bisa diletakkan setengah tertanam di dalam sebuah lubang yang sempit. Lalu beberapa anak–biasanya anak-anak lelaki– berjongkok dalam urutan dari yang paling dekat hingga yang paling jauh ke lubang. Inilah yang disebut “main caper”. Anak yang paling dekat ke lubang di sebut kolonel, lalu mayor, lalu kapten, lalu letnan dan terakhir “caper”–calon perajurit.

Dengan “gaco”, masing-masing anak–dimulai dari sang “caper”– berusaha mengeluarkan guli yang berada di lubang. Anak yang berhasil mengeluarkan guli dari lubang akan mendapat promosi kenaikan pangkat satu jenjang dan anak yang berada pada posisi yang digantikannya itu akan turun pangkat satu jenjang. Kolonel adalah pengkat yang tertinggi. Karena itu, walau pun berhasil mengeluarkan guli dari lubang, kolonel tidak akan mendapat promosi kenaikan pangkat lagi.

Semakin dekat seorang anak ke lubang, semakin banyak “gaco” yang dimilikinya dan semakin besar pula keunggulannya. Karena itu “caper”, yang paling jauh dari lubang, nyaris tak akan pernah mendapat kenaikan pangkat. Dan ia selalu menjadi pecundang, untuk mengambil “gaco” para atasannya yang bertebaran ke mana-mana. Melalui permainan ini, secara tidak langsung, kami anak-anak belajar akan sebuah kenyataan hidup. Bahwa manusia memang terbagi dalam “kelas”. Dan posisi di kelas yang paling rendah adalah posisi yang tidak menyenangkan.

Alib Batalion

Permainan yang melibatkan ketrampilan berlari, tak kurang pula banyaknya. Ada “alip rondok”, “alip lari”, “alip benteng” dan “alip batalion”. Permainan yang disebut terakhir ini–sama halnya seperti “main caper”–juga mengajarkan anak untuk tabah dalam penderitaan.

Perminan “alip batalion” adalah kombinasi antara “alip rondok” dan “alip lari”. Sekelompok anak “berhom-pim-pa” untuk menentukan siapa pecundang atau yang kalah di antara mereka.

Mereka mendirikan sebuah tumpukan bata. Salah seorang anak yang menjadi pemenang akan membubarkan tumpukan bata itu dengan tendangan kakinya. Lalu semua anak, kecuali si pecundang, akan bersembunyi. Si pecundang wajib menyusun kembali susunan bata itu. Lalu ia harus mencari salah seorang dari temannya yang bersembunyi. Jika ia sudah menemukannya, maka ia dan anak yang tertangkap dalam persembunyian itu akan beradu lari untuk lebih dahulu menyentuh bata dengan ujung telunjuk. Jika si pecundang berhasil menyentuh bata lebih dahulu, maka giliran temannyalah yang menjadi pecundang. Tapi, sementara ia sibuk mencari seorang anak yang sedang bersembunyi, maka ada saja kemungkinan seorang anak lain keluar dari persembunyiannya dan menendang tumpukan bata itu. Si pecundang kembali harus memulai dari “square one”; menyusun tumpukan bata dan mencari anak yang bersembunyi. Permainan “alip batalion” biasanya berakhir dengan tangis si pecundang.

Kertas Bungkus Rokok

Kertas bungkus rokok adalah sarana mendidik seorang anak untuk menjadi seorang bankir atau ahli moneter. Kertas bungkus rokok memiliki kurs tersendiri. Saya tidak pernah mengerti siapa “bank sentral” atau “otoritas moneter” yang menentukan kurs tersebut. Tapi, yang jelas, di sini kami juga belajar memahami hukum permintaan dan penawaran.

Kertas bungkus rokok yang langka akan memiliki kurs paling tinggi. Karena itu, kertas bungkus rokok “Syoor”, “Union” atau “Hero” tidak akan setinggi kertas bungkus rokok “Escort, “Triple Five” atau “Lucky Strike”. Dan kertas bungkus “Triple Five” atau “Lucky Strike” tidak akan setinggi “John Players” atau “Camel”.

Lilin empuk atau “clay” juga bisa menjadi permainan yang mengasyikkan. Dua orang anak akan meletakkan sejumput lilin di atas kuku ibu jarinya masing-masing. Lalu mereka akan saling merapatkan ibu jari tersebut . Anak yang menjadi pemenang adalah anak yang berhasil menarik “clay” lawannya.

Lilin empuk atau clay sebenarnya relatif murah harganya dan bisa dibeli di sebarang pedagang mainan di depan sekolah. Tapi anak-anak akan merasa lebih terhormat kalau “clay” yang dimilikinya adalah hasil pertarungan. Biasanya “clay” hasil pertarungan ini warnanya sudah tidak karu-karuan lagi. Untuk bisa lebih mengungguli lawannya, maka anak-anak akan mencampurkan “clay” itu dengan benda apa saja yang memiliki daya rekat tinggi. Dan bisa pula dibayangkan bagaimana bau “clay” yang berasal dari mana-mana itu. Permainan “clay” mengajar kami untuk menerapkan prinsip “sedikit-sedikit; lama-lama menjadi bukit”.

Kadang-kadang, pada saat jam pelajaran, ada saja anak yang–ketika hendak mengambil buku atau alat tulisnya –secara tidak sengaja menjatuhkan “guli”, “kwaci” atau alat permainan lainnya dari laci. Inilah skandal paling memalukan yang terjadi di kelas untuk hari itu.

“Guli siapa itu?” tanya guru. Lalu dengan tersipu-sipu si pemilik guli akan mengangkat tangannya, mengaku. Guru akan meminta si anak membawa gulinya ke depan. Guli itu menjadi barang sitaan. Pada akhir jam pelajaran nanti, guli itu biasanya akan disimpan di lemari kelas. Karena itu, disamping berisi kapur, tinta dan buku pelajaran; lemari kelas juga penuh dengan mainan yang disita dari anak-anak; sama halnya seperti halaman Direktorat Jenderal Bea dan Cukai penuh dengan mobil eks selundupan, atau halaman Polda penuh dengan sepeda motor eks curian.

Kadang-kadang ada guru yang penuh pengertian. Pada akhir tahun ajaran, ia akan mengembalikan mainan yang disita itu ke pemilikinya masing-masing. Tapi ada juga guru yang tidak perduli dan membiarkan saja mainan itu berada di dalam lemari kelas sampai selama-lamanya[.]

About these ads

11 responses to “Permainan di Masa Kanak-kanak

  1. kertas bungkus rokok itu, saya masih sempat mengalaminya. di jawa timur, kami mengumpulkan bandrol (label rokok), bukan bungkusnya. itulah “harta” kami selain neker (gundu, kelereng).

    seingat saya, tak lama kemudian popularitas bandrol-bandrol itu digantikan dengan kartu-kartu kecil bergambar keluaran GK (gunung kelud).

  2. Permainan “caper” itu, termasuk permainan masa kecil saya. Di tempat saya, posisi yang paling dekat dengan “field” disebut Kapten, kemudian lebih jauh sedikit disebut “Panglima” (entah kenapa pula disebut “Panglima”), lalu yang paling jauh adalah “caper” (calon perajurit).

    Biasanya posisi “caper” adalah posisi “dikerjain” oleh si “Kapten” dan “Panglima”, dengan membuat jarak garis “caper” ke “field” cukup jauh, sementara antara “Kapten” dan “Panglima” berdekatan. Alhasil, “Kapten” dan “Panglima” sering saling bergantian posisi, sementara “caper” susah naik pangkat.

    Dalam obrolan sehari-hari, sering juga istilah “caper” digunakan untuk mengolok-olok orang lain yang dalam hidupnya selalu “kalah” atau “the loser”. Sungguh malang memang nasib “caper”. :-)

  3. Sonny B. Wicaksono Kaliyan

    Banyak lagi jenis permainan anak-anak, ada main cendong atau petak umpet, ada kasti, ada pula yang kayak perang-perangan yang saling serbu wilayah lawan ntah apa namanya. Tapi prinsipnya permainan anak-anak jadul (jaman dulu) ada keterlibatan sosial, rame-rame, seru. Nggak kayak anak jaman modern ini, Bang, serba game komputer, individual. Jadi nggak salah-salah kalo hasilnya jadi orang-orang egosi nantinya. Wasslam.

  4. Hotman Silalahi

    Waktu aku SD, jadwal isterahat kami dua kali, istilahnya “dua kali keluar main-main” dimana “setiap keluar main-main” berdurasi 1 jam. Asyik, bisa main bola sepuasnya dan aku perhatikan sudah banyak produknya yang sukses. Tapi kini, aku tertekan bathin melihat anakku kelas 1 SD yang sudah harus belajar Bahasa Sunda, Indonesia, Inggris, Mandarin….ah pusinglah jadinya.

  5. Aku mungkin satu generasi di bawah Pak Mula. Masih ketemu dengan gundu (kelereng dalam bahasa Melayu), anak perempuan masih bermain karet (karet gelang yang diuntai panjang sebagai tali skipping). Gambar2 kecil yang dikeluarkan Gunung Kelud menjadi alat yang dipertaruhkan dalam berbagai jenis permainan. Begitu pula dengan buah karet (buah dari pohon karet) yang jatuh pada musimnya.

    Aku tumbuh tepat di saat permainan elektronik mulai ada. ATARI yang pada saat itu sudah terlihat canggih betul, untuk anak2 jaman sekarang yang besar dengan PS, mungkin akan terlihat seperti videogame jaman purba.

    Memang jam bermain adalah yang paling ditunggu. Kadang kupikir kami bersekolah bukan untuk belajar, melainkan rindu mengadu keahlian bermain gundu, kejar2an dengan teman sebaya di sekolah. Pe er? Makhluk apa itu?

    Buktinya kami juga tidak bodoh2 amat. Dan yang pasti Pak Mula juga tidak bodoh2 amat, ha…ha…

  6. Saya jadiingat waktu kecil sering bermain paksepong (sepak bolanya lalu sembunyi) yah mirip petak umpet dengan bola sebagai pusatnya.

    Pernah gara-gara sudah jam 1 biasanya saya harus tidur siang, akhirnya saya tidak sembunyi malah nloyor pulang. Kasihan teman saya yang jadi tukang cari waktu itu, bahkan yang sudah ketahuan tempat sembunyinya ikut mencari saya.

    Sorenya waktu saya kembali bermain bersama mereka selepas bangun tidur, menjelang mandi. Mereka cerita, dan saya cuma bilang maaf, lalu kami kembali bermain bersama, ceria ketawa ketiwi, tanpa ada rasa marah yang mendendam, atau adu otot gontok-gontokan. Ah, nikmatnya jadi anak kecil.

  7. Horas amang harahap….. Luar biasa bisa “ketemu” amang lewat tulisan tulisan di blog ini….. pokoknya salut. Saya cerita permainan kecil saya sewaktu di kampung, kami main sepak bola, bolanya terbuat dari gulungan kertas dibulatkan hingga seukuran bola sebenarnya, kemudian diikat dengan karet gelang atau dengan tali…. mulailah permainan bola sesungguhnya… tendang sana, tendang sini, tiba tiba tali pengikatnya lepas pas ditendang hingga bolanya yang masuk hanya setengah…. he… he…. maka score nya adalah 1/2 – 0. Ha… ha… sepakbola dengan score pecahan. Terimakasih amang, sudah numpang komen….

  8. ommm…klo ntar aq punya anak….aq gak akan menghukum dia dg PR…bermain sambil belajar lebih demokratis buatnyah….hihihhihi….kalimat pemikiran yg hebat om…aq suka…!!!

  9. Nelson Sidauruk

    Kalau tidak salah, bungkus rokok gudang garam (gudang garam datu ) – rokok tanpa filter. yang paling tinggi.
    sedangkan permainan “main caper ” kami sebutkan main budak, system permainannya sama, dan si budak hanya dikasih 1 guli, dan setiap jenjang pangkat beda 1 guli,

  10. Saya juga menjadi prihatin, Tk-Tk yang ada sekarang ini sudah keterlaluan karena sudah menekankan akademis. Anak-anak harus sudah bisa membaca dan berhitung. Bahkan anak Tk sudah dikasih PR banyak. Kasihan mereka. Mereka kehilangan masa kanak-kanak yang indah. Seharusnya mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan emosi, intelektual, sosial, dengan cara bermain.

  11. Permaianan masa kecilku semuanya kulakukan.. dan semuanya menjadi pengetahuan berharga. Sementara anak-anak sekarang terkekang dalam rutinitas rumah atau dalam ruangan untuk menghabis main game bentuk apa saja. Dan permaiana saya, saya alami tidak saya temukan. Disinilah hubungan relasi antar teman dan pluralisme dalam bermain tidak ada. Jadi sekarang anak lebih egois dan invidual. karena mereka asyik dengan diri sendiri. Sedang zaman masih ada permainan.. selalu berbaur anak-anak dalam komunitas besar, seperti main bola bersama di panatai main klereng ramai-ramai. main sembunyian. dan tumbuh sebagai anak yang banyak teman dan tidak bodoh karena pengetahuan berjalan dalam bentuk main hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s