Mula Harahap

Selamat Pagi Tuhan dan Budaya Verbalisme

April 18, 2007 · 20 Comments

Oleh: Mula Harahap

I.
“Selamat” atau “salam” berasal dari kata bahasa Arab yang artinya “damai sejahtera”. Ia mirip dengan kata bahasa Ibrani “syaloom”.
Kalau kita memakai kata “selamat” sebagai awal dalam menyapa seseorang, maka di dalamnya terkandung pengertian “semoga kau berada dalam keadaan damai sejahtera”. Dan di dalam “selamat pagi” terkandung pengertian “semoga kau berada dalam keadaan damai sejahtera pagi ini”.

Saya memang sering mendengar orang mengatakan “Selamat pagi, Tuhan Yesus”. Dalam beberapa peristiwa bahkan saya pernah ikut berdoa bersama sekelompok orang, dimana si pembawa doa memulai doanya dengan mengatakan, “Selamat pagi, Tuhan Yesus.”

Berdasarkan pemahaman saya tentang arti kata “selamat”, maka saya jadi garuk-garuk kepala kalau mendengar sapaan seperti tersebut di atas. “Lho, nggak salah nih?!” kata saya dalam hati. “Koq kita mengharapkan damai sejahtera turun atas diri Sang Empunya Damai Sejahtera itu?”

Menurut hemat saya, kalau memang mau “berakrab-akrab” dengan Tuhan Yesus, lebih baik memulainya dengan sapaan, “Hai…” Tapi saya sendiri pun tak akan menggunakan sapaan ini.

Memang Ia adalah sahabat yang paling setia dan paling memahami saya. Tapi kenyataan ini justeru membuat saya jadi memandangNya dengan penuh kagum, hormat dan cinta. Dan terhadap seseorang yang saya kagumi, hormati sekaligus cintai (dan yang saya tahu juga sangat mencintai saya), maka saya rasa tidak diperlukan lagi verbalisme, “basa-basi” atau “kata-kata aksesoris”. Apalagi kalau verbalisme itu salah-kaprah. (”Bah yang punya damai sejahtera itu kan Dia. Kenapa pulak jadi kita yang mengharapkanNya berada dalam keadaan damai sejahtera?!”).

II
Orang Barat senang dengan verbalisme. Semua perasaan hatinya dinyatakan dengan kata kata. (”I love you”, “I miss you”, “Oh great”, “Incredible, amazing and marvellous”, “Isn’t that wonderful?”). Verbalisme adalah budaya orang Barat. Untuk menanggapi kawan yang sedang bersin pun, orang Barat memiliki kata-kata: “God bless, you!” (”Tuhan memberkati!).

Kita orang Indonesia (orang Timur) tidak terbiasa untuk menyatakan perasaan hati dengan kata-kata. Verbalisme bukanlah budaya kita. Kita lebih senang menyatakan perasaan hati melalui mata, raut wajah atau senyum. (Dan orang Barat sering bingung dan tidak mengerti akan makna senyum kita). Tapi itulah budaya kita. Itulah kekayaan kita.

Kalau saya memberikan sesuatu kepada anda (orang Indonesia), dan anda hanya tersenyum dan mata berbinar-binar, maka ungkapan terimakaksih yang tak diucapkan itu sudah cukup bagi saya. Tapi bagi orang Barat ungkapan seperti itu sangat tidak sopan. Anda harus mengucapkan, “T-e-r-i-m-a-k-a-s-i-h!”

Perusahaan yang menerbitkan greeting-cards seperti “Hallmark” menjadi besar karena mereka memang tumbuh di sebuah budaya (Amerika) yang sarat dengan verbalisme.

Bagi saya–orang Timur, Indonesia dan Batak “pulak” lagi–kirim- mengirim greeting-cards adalah suatu hal yang “nonsense”. Saya dibesarkan dalam budaya Batak yang kaku, tak kenal basa-basi dan hemat dengan verbalisme.

Ketika saya masih kecil, kalau berulang tahun, ibu saya hanya mengatakan, “Heh, hari ini kau berulang tahun, ya? Baik-baiklah kau, ya…” Lalu diberinya saya sekedar uang untuk mentraktir kawan-kawan jajan di sekolah. Hanya itu. Tak ada kue tart, tak ada kado dan tak
ada lagu “Happy Birthday”. Tapi saya tak merasa berkecil hati atau sedih. (”Itulah adat kami. Apa mau dibilang?!”).

Isteri saya bukan orang Batak. Dia dari suku bangsa yang “agak kebelanda-belandaan”. Sedikit-banyak, dia dibesarkan dalam budaya verbalisme sopan-santun seperti saya uraikan di atas.

Bagi isteri saya hari ulang tahun adalah sebuah peristiwa yang penting. Sementara, bagi saya, hari ulang tahun tak ada bedanya dengan hari-hari yang lain.

Ketika baru menikah, kami sering bertengkar karena soal-soal yang “sepele” ini. Saya masih ingat, pada hari ulang tahunnya dia pernah ngambek, karena–setelah ditunggu-tunggunya sampai jauh malam–ternyata saya tak melakukan sesuatu. Tak ada bunga, tak ada kartu “happy birthday” dan tak ada tawaran makan di luar. (”Maaflah, aku tak tahu. Aku tak dibesarkan dengan cara-cara seperti itu”).

Bagi dia ucapan “I love you” atau “I miss you” sangat berarti. Tapi bagi saya ucapan seperti itu “tak masuk di akal”. (”Bahwa setiap bulan saya pulang membawa gaji dan saya tak pernah ‘macam-macam’; bukankah itu lebih dari ‘I love you’?” kata saya membela diri). Tapi ternyata bagi isteri saya hal itu belum cukup.

Sulit bagi saya mengucapkan kata-kata seperti “I love you” atau “I miss you”. Itu bukan budaya saya. Tapi untunglah sekarang ada teknologi HP. Dan di dalamnya sudah ada “pre written messages” yang tinggal dipencet. Sesekali, kalau sedang berada di luar kota, dengan sedikit pergumulan, terpaksa juga saya pencet kata-kata itu, “I miss you…”. Isteri saya senang menerimanya[.]

III

Globalisiiasi dan perkembangan teknologi informasi, tentu saja membuat kita tidak bisa tetap tinggal dalam budaya seperti yang dimiliki oleh ibu-bapak kita dahulu.

Verbalisme seperti yang dimiliki oleh orang-orang Amerika itu juga mulai menular ke masyarakat kita. Kita (dan terutama anak-anak kita) mulai terbiasa dengan ungkapan-ungkapan, “I love you”, “I miss you”, “Oh, great” dan sebagainya.

Rak-rak kartu ucapan di toko-toko buku atau cendera mata mulai ramai dikerubungi orang. Dan ada banyak situs di internet yang menyediakan gambar dan ucapan untuk dirangkai (customized) menjadi greeting-cards untuk dikirim kepada seseorang. Klik!

Pada hari Natal dan Tahun Baru, HP saya akan penuh dengan “sms” ucapan selamat dan e-mail saya akan penuh dengan kartu yang “lucu- lucu”. Tapi, bagi saya–orang Batak yang kaku dan tak bisa berbasa- basi ini–tak ada ucapan selamat yang lebih membahagiakan daripada ketika seorang handai taulan (dengan serombongan anak-anaknya) datang ke rumah untuk mengucapkan selamat, menghabiskan kacang tojin (termasuk memecahkan stoples) dan ngobrol ngalor-ngidul sampai malam.

IV

Kalau ada kawan-kawan yang getol mengucapkan “Selamat pagi, Tuhan Yesus”, “Tuhan memberkati”, “Syaloom” dan sebagainya, maka bagi saya itu adalah hal yang wajar-wajar saja.

Ini adalah alkulturasi budaya verbalisme. Kita tak perlu mencari makna teologis yang terlalu jauh atas fenomena ini.

Bagi saya–orang Timur, Indonesia dan Batak pulak–maka mengucapkan “Selamat pagi, Tuhan Yesus” atau “Tuhan memberkati”, sama saja nilainya seperti mengucapkan “I love you” atau “I miss you” melalui “pre written messages” yang ada di program “SMS”.

Tapi, kalau isteri saya senang menerimanya. Maka Tuhan, menurut pemahaman saya, akan menerimanya dengan perasaan hati yang biasa-biasa saja. Atau, boleh jadi, Tuhan akan geleng-geleng kepala, karena menerima “pesan siap saji” yang mengharapkanNya selamat….[]

Categories: Agama
Tagged: , ,

20 responses so far ↓

  • Anonim // April 24, 2007 at 2:50 am | Reply

    Kalau salam sejahtera artinya apa dong, Pak Mula? Damai sejahtera bagi kamu yang sejahterakah? He.he.

  • Khun // April 24, 2007 at 3:34 pm | Reply

    Waks! Pak Mula goBlog juga, toh? Selamat, selamat…

  • dz. // April 24, 2007 at 7:29 pm | Reply

    “Selamat Pagi”, Pak Mula (saya pastikan ini bukan pre written messages). senang menjumpai anda ‘ngeblog. Saya sudah berniat mematikan komputer setelah menjenguk “pasarbuku”, tapi begitu mendapati alamat ini, saya segera kemari. Selamat pagi, Pak Mula :-)

  • dz. // April 24, 2007 at 7:32 pm | Reply

    Nampaknya penunjuk waktu Anda salah. Sekarang pukul 2.34 dinihari (am) pada rabu 25 april 2007 :-)

  • Indahjuli Sibarani // April 25, 2007 at 2:04 am | Reply

    Tulisan yang mencerahkan di pagi hari, salam kenal Amang :)

  • Faisal Simanjuntak // April 25, 2007 at 2:38 am | Reply

    To the point aja. Bila saya melihat wajah Bapak Mula Harahap, saya teringat akan seorang hamba Tuhan bernama DTA Harahap, beliau adalah seorang pendeta di Gereja HKBP dan wajahnya persis mirip dengan anda (99%). Mungkin anda mengenalnya, atau mungkin anda memang pendeta yang saya maksud tersebut. Sayang foto yang anda tampilkan berlatar gelap sehingga saya tidak bisa memastikannya. Terima kasih.

  • Nuryana Aditya // April 25, 2007 at 7:24 am | Reply

    Mudah-mudahan Tuhan suka dengan kata-kata verbalisme….

  • Tristan // April 25, 2007 at 9:45 am | Reply

    Hmmm … Kalo saya membaca I – IV di atas maka interpretasi saya adalah: kemalasan (sloth) atau kecuekan yang keterlaluan, sehingga akhirnya sibuk mencari justifikasi untuk tidak melakukannya. Bukan demikian? Apa yang salah dengan keinginan untuk menyenangkan hati orang lain? Apalagi hati istri sendiri … Sloth/Malas, ingat 7 deadly sins …

  • Roy Soala // April 26, 2007 at 8:01 am | Reply

    Saya cuma mau bilang sama Faisal Simanjuntak, bahwa Mula Harahap adalah abang kandung Daniel Harahap…

  • Esbede // April 27, 2007 at 3:17 pm | Reply

    Rasanya budaya verbalisme itu harus mulai kita terima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat kita. Saya dari kecil saya juga tidak dibiasakan untuk mengekspresikan sesuatu dengan kata-kata. Namun seiring dengan perkembangan budaya kita yang terpengaruh oleh budaya global, maka verbalisme menjadi suatu kebutuhan.

    Gara-gara tidak mampu untuk berekspresi verbal itulah saya diputus oleh kekasih saya dulu, karena dianggap tidak peduli, cuek, dan tidak romantis :)
    Dunia pekerjaan saya juga menuntut saya untuk mengadaptasi budaya verbalisme itu. Kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi di dunia pekerjaan saat ini membutuhkan kelenturan kita dalam berbicara. Saya tahu betul itu, karena dalam training perusahaan, proses berinteraksi dengan orang lain itu harus dipelajari supaya mencapai hasil yang optimal.

    Jadi memang budaya verbal sudah menjadi budaya global.

  • You Know Me Well Than Myself // May 11, 2007 at 6:33 am | Reply

    Hahahahehehehihihihohohohohuhuhuhu……..God bless us.

  • sjamsu dj // July 13, 2007 at 5:51 am | Reply

    tulisannya begitu mengalir dan cair. asyiiik sekali membacanya

  • Hotman Silalahi // August 15, 2007 at 3:39 am | Reply

    Apa yang diutarakan oleh amang MH, kekakuan verbal halak hita, adalah benar. Lihat saja halak hita itu kurang romantis dari sisi verbal dan cenderung kontraversial. Contoh, untuk mengungkapkan kegembiraan ketemu teman yang sudah lama tidak ketemu cenderung dimulai dengan kata yang kontraversial. Misalnya “Ai ho do i begu…nunga leleng ndang pajumpang hita, ai lam roa do ho hu ida”. Tapi kebanyakan hal yang saya terangkan barusan adalah untuk produk halak hita yang lahir di hitaan seperti saya. Tapi untuk yang sudah lahir di kota besar, ungkapan verbalitas sudah berubah dari yang lahir di hitaan.

  • Freddy E Pinotoan // August 28, 2007 at 6:16 am | Reply

    Dear Bang Mula,

    Wuahhhh, setuju Bang. Rasa-rasanya memang kita bangsa yang suka niru-niru, apalagi tentang verbalitas.Tapi, apakah tak bisa mengucapkan selamat untuk DIA yang kita puja dan puji atau …………..

    Tapi Abang teruslah berkarya, sebab dari karya mu itu aku semakin mengenalmu walaupun aku baru mengenalmu.

  • Bino Harahap // August 29, 2007 at 12:19 am | Reply

    Cuman mo bilang “keren!” Tapi klo soal tanggapan …NTAR!

  • agus silaban // September 11, 2007 at 10:38 am | Reply

    terus terang…aku sangat mengagumi tulisan bang mula.di update lagi, bang

  • gloria // October 21, 2007 at 3:34 am | Reply

    saya sering dpt fwd-an email berisi tulisan2 amang.. dan lebih sering lagi berharap dan menunggu fwdan selanjutnya.. sekarang ga perlu nunggu2 lagi.. thank God for the invention of internet, email, blog, dll. thank Mula for the passion of filling those with worth reading materials… thanks amang! God Bless You (and I really really mean it!!)

  • Kris // November 6, 2007 at 3:41 pm | Reply

    Di awal pernikahan kami, sering terjadi konflik yang justru disebabkan karena kurangnya budaya verbalisme. Kami sedang belajar mengungkapkan perasaan dan pikiran kami dengan kata-kata.

    Oh ya Pak, saya menganggap konten blog Anda ini asik untuk di baca, dan memberkati, karena itu ijinkan saya tambahkan link situs ini ke website melesat!com lumayan kan itung-itung buat promosi blog Anda. Trimz

  • nancy // November 21, 2007 at 1:11 pm | Reply

    I am looking for this kind of writings : thoughtful anf full of insight. Bang Mula, accept me to learn from you.

  • Efa // June 5, 2008 at 3:53 pm | Reply

    Dengan membaca cerita di atas, saya semakin tahu bahwa untuk memahami seseorang atau orang lain kita harus perlu mengungkapkan isi hati kita. Termasuk mengungkapkan isi hati kita sama Tuhan. Seperti ketika kita bangun di pagi hari, kita masih bisa membuka mata dan itu rasanya indah sekali. Lalu saya megucapkan selamat pagi sama Tuhan Yesus karena saya masih diberi kesempatan untuk dapat berkarya baginya. Dari hal yang simple seperti itu saya mengungkapkan isi hati saya kepada Tuhan dengan berkata “selamat pagi Tuhan Yesus.”

Leave a Comment