Tentang Teologi

Oleh: Mula Harahap

Menurut hemat saya, teologi itu adalah refleksi seseorang, yang bisa terterima akal orang lain, tentang Tuhan yang diimaninya dan yang membuatnya “bergetar”.

Saya tidak menafikan, bahwa ada cara lain untuk membuat saya bisa memahami dan mengimani Tuhan, serta menjadi “bergetar” karena pemahaman tersebut. Proses itu namanya “mistik”. Ada agama-agama (atau aliran-aliran agama) tertentu yang memandang proses berteologi itu bukan sebagai sesuatu yang penting. Dengan melakukan gerak fisik tertentu (memejamkan mata, mengatur nafas, mengulang-ulang mantera dsb) mereka merasa sudah bisa memahami dan merasakan Tuhan. Untuk apa
lagi berteologi?

Tapi, saya rasa, perkembangan agama Kristen tidak bisa dilepaskan dari peranan teologi. Ketika Paulus–entah karena apa–menjadi
tergetar oleh fenomena Kristus Yesus itu, maka ia mencoba merefleksikan Kristus Yesus yang dipahaminya dan yang membuatnya
bergetar itu secara masuk akal. Lalu Paulus pun menulis secara panjang-lebar (dan merujuk ke berbagai kitab yang dibaca oleh orang-orang pada jamannya) tentang siapa Kristus Yesus itu. Paulus berteologi (dan tentu saja juga berdoa dengan tak putus-putusnya agar Tuhan membukakan pikiran lawan bicaranya).

Paulus–misalnya–bukan memilih cara untuk menari-nari telanjang bulat bersama teman-temannya di sekeliling sebuah api unggun sambil melafalkan “yesus, yesus” berulang-ulang. Bahkan kepada kawan- kawannya yang mengklaim telah menemukan dan memahami Tuhan hanya karena bisa komat-kamit melafalkan bunyi-bunyi yang tak jelas, Paulus berkata, “Itu mah namanya orang mabuk anggur…”

Pada fihak lain, menurut hemat saya, refleksi seseorang (yang bisa terterima oleh akal itu), baru bisa dinamakan teologi yang baik kalau ia berhasil membuat orang lain memahami dan mengimani Tuhan, serta membuatnya bergetar.

Santo Agustinus membaca teologi Paulus. Ia pun jadi bisa memahami dan mengimani Tuhan (yang ada dalam Kristus Yesus) itu. Pada gilirannya, Santo Agustinus kembali mencoba merefleksikan Tuhan yang dipahaminya dan diimaninya itu kepada orang lain. Santo Agustinus berteologi.

Begitulah, sepanjang sejarah, para pemikir dan pemimpin gereja terinspirasi oleh teologi yang sebelumnya dan membuat teologinya
sendiri. Johannes Calvin berteologi. Martin Luther berteologi. Karl Barth berteologi. Kita semua berteologi. Dengan kata lain, kita semua berupaya untuk merefleksikan Kristus Yesus yang kita pahami dan imani itu agar terterima oleh akal (dan karenanya menjadi diimani) oleh orang lain sesuai dengan konteks ruang dan waktu dimana kita berada.

Memang–acapkali–saking asyiknya para pemimpin gereja berteologi umat menjadi bingung dan hati mereka samasekali tak “tergetar” oleh Tuhan yang sedang “dijual” para pemimpin/teolog itu. Keadaan ekstrim seperti ini juga–saya rasa–tidak baik. Sama tidak baiknya seperti para pemimpin gereja yang melulu menceracau dengan bahasa yang tak dimengerti oleh manusia, dan yang mereka namakan sebagai bahasa lidah atau bahasa roh.

Menurut hemat saya, kita perlu berteologi. Tapi pada saat yang sama, kita juga perlu melakukan meditasi dan proses-proses “hening” lainnya itu. Kita perlu memberi pencerahan kepada inteligensi. Tapi pada saat yang sama, kita juga perlu memperkaya emosi dan spiritualitas.

Kekristenan bukanlah agama orang-orang “mabuk” yang selalu menatap ke langit. Ia adalah agama orang-orang cerdas, yang dengan penuh kesadaran memahami bahwa hidup di dunia ini adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang tak akan berkesudahan di sebuah “bumi baru dan langit baru”[.]

About these ads

4 responses to “Tentang Teologi

  1. Bang Mula, kita mau tak mau berteologi. Hidup yang tak terjelaskan memang tak tertanggungkan. Dan penjelasan yang paling mudah adalah dengan berkeyakinan, katakanlah iman.

    Aku mungkin lebih melihat teologi sebagai sebagai “believe” ketimbang “refleksi”. Refleksi adalah sesuatu yang subjektif dan personal. Teologi cenderung tidak personal dan ingin ditularkan. Teologi mencoba menjelaskan sesuatu, refleksi tidak memaksakan diri. Refleksi hanya mencoba mengambil sesuatu dari suatu kejadian, dan itu tidak harus universal.

    Aku mencoba mengeksplor ini lebih jauh di dalam tulisan kecilku “Why do We Need Religion?” di http://onisur.blogspot.com

  2. Daniel Simanjuntak

    Senang bisa bertemu lagi (walau hanya di dunia maya). Dahulu kita pernah bertemu di restoran marinara dalam rangka kopdar milis hkbp. waktu itu saya salah kira, saya pikir amang adalah B’Daniel Harahap (yg akhirnya saya ketahui adalah adik abang). Wah senangnya bisa membaca pemikiran-pemikiran abang yang selalu orisinil dan membangun. Thx, saya akan sering-sering mampir untuk sekedar “minum kopi deh”

  3. jebbie simatupang

    Salam kenal, Bang (kalau boleh saya panggil begitu}, tanpa bermaksud berbasabasi. Hehehehe…senang bisa membaca tulisan Abang yang terasa menyejukkan buat orang yang merasa “terpinggirkan” begitu mendengar kata teologi seperti saya. Sekali lagi, salam kenal, Bang

  4. Bagus kalibah tulisan-tulisan pak ketua…
    ajak lah kita-kita masuk komunitasnya…horas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s