Perayaan Natal di Sekolah

Oleh: Mula Harahap

Ketika saya masih bersekolah di TK, SD dan SMP Immanuel dahulu, maka hari-hari menjelang Natal selalu memberi arti dan warna yang khusus di hati saya. Kini, lebih dari empat puluh tahun kemudian, banyak dari peristiwa menjelang Natal yang saya alami semasa bersekolah di Immanuel itu, masih tergambar jelas di mata saya:

Membuat lampion adalah “ritus” yang harus dijalani oleh semua anak semasa di SD. Dan sesuai dengan jenjang kelas yang ada di SD, maka ritus tersebut harus kami jalani pula selama 6 (enam) tahun berturut-turut. Kepada kami dibagian karton ukuran 15 x 45 sentimeter. Kemudian ibu atau bapak guru akan memberikan tiga pola berbentuk “cut out” yang menggambarkan suasana Natal. Ada pola dua batang lilin dengan api yang menyala, ada pola lonceng dengan pita dan dedaunan, ada pola tiga orang majus beriring, ada pola Yusuf dan Maria di depan palungan dan lain sebagainya. Masing-masing anak meniru pola “cut out” itu di atas kartonnya. Kemudian ibu atau bapak guru akan meminta kami untuk mencungkil pola yang ada itu.

Ketika kami duduk di kelas satu dan dua SD maka pekerjaan mencungkil itu dilakukan dengan lebih dahulu membuat “perforasi” di sepanjang pola atau gambar yang hendak dicungkil. Pekerjaan membuat perforasi itu dilakukan dengan jarum kecil dan di atas sebuah bantalan. Bagi anak-anak kelas yang lebih tinggi maka pekerjaan mencungkil itu dilakukan dengan pisau lipat atau silet.

Walaupun pola yang harus dicungkil sama, tapi karena ketrampilan setiap anak tidak sama, maka hasil yang terjadi akan berbeda-beda pula. Ada lonceng yang bentuknya segitiga. Ada orang majus yang dagunya lancip sekali. (Seharusnya dagu dan janggut itu
dipisahkan oleh karton. Tapi, apa mau dikata, kartonnya ikut terpotong!).

Pola-pola natal yang sudah dicungkil itu kini harus ditutup oleh kertas minyak. Dan warna kertas minyak hanya ada empat; merah, kuning, hijau dan putih. Warna lonceng tentu saja kuning. Tapi jubah orang majus; bisa warna apa saja.

Lem yang dipakai untuk menempel kertas minyak dimasak dari kanji, secara kolektif, untuk seantero sekolah. Biasanya lem itu sudah dimasak beberapa hari yang lalu, karena itu ketika tiba di tangan anak-anak ia sudah sangat berbau basi. (Ketika saya SD, pekerjaan memasak lem itu tentu saja menjadi tanggung jawab Si Mamang yang matanya juling).

Karton yang telah bergambar kertas minyak itu dilipat tiga dan kedua ujungnya dipersatukan. Kemudian ia diberi dasar dan tempat untuk menegakkan lilin. Terakhir, di bagian atas lampion, di tiga pertemuan sisi-sisinya, dimasukkan benang. Ujung ketiga utas
benang itu disimpulkan dan diikatkan ke sebuah bambu kecil. Jadilah lampion.

Ketika sudah duduk di kelas enam, maka oleh Ibu Timor (Guru Kelas 6A) dan Bapak Bentul (Guru Kelas 6B) maka kami diminta membuat lampion yang lebih “sophisticated”, yaitu yang seluruhnya terbuat dari kertas minyak dan bisa dilipat, seperti lampion yang terdapat di kelenteng-kelenteng Cina. Tentu saja pekerjaan membuat lipatan-lipatan kecil agar lampion menjadi seperti akordion, bukanlah hal yang mudah. Karena itu, sebagian besar lampion yang kami buat sebenarnya lebih mirip dengan sarung bantal guling.

Semua lampion yang telah selesai dibuat, disimpan di lemari kelas. Pada peryaan Natal sekolah nanti (di Gedung Bala Keselamatan atau di GOR), barulah lampion itu dibagikan kepada kami. Pada saat menyanyikan
“Malam Kudus”, lampion pun dinyalakan dan digoyang-goyangkan. Suasana memang akan terasa syahdu. Seluruh tribun yang gelap-gulita itu hanya dipenuhi oleh nyala lampion warna-warni. Tapi suasana itu biasanya tidak berjalan lama. Disana-sini akan terjadi kegaduhan karena lampion yang terbakar.

Ritus lain yang tak kalah penting dalam perayaan Natal di sekolah ialah “liturgi”. Yang dimaksud dengan liturgi adalah acara dimana beberapa anak berdiri di panggung dan secara bergiliran melafalkan ayat-ayat Alkitab. Orang Batak menyebut acara ini sebagai
“pajojorhon”. Saya rasa ini adalah istilah yang sangat tepat. Anak-anak memang “membeberkan” beberapa ayat penting di seputar kejatuhan manusia ke dalam dosa dan kedatangan Sang Juruselamat.

Karena perayaan Natal meliputi seluruh sekolah yang jumlah muridnya ratusan, maka tentu saja tidak mungkin semua anak mendapat kesempatan liturgi. Biasanya setiap kelas diwakili oleh satu-dua anak. Tentu saja Ibu dan Bapak Guru memilih anak-anak yang memiliki bakat berdeklamasi.

Anak-anak akan berimprovisasi dalam mendeklamasikan ayat yang menjadi tanggungjawabnya. Biasanya, dimana saja dan kapan saja, pola deklamasi anak-anak tidak berubah. Anak-anak akan mengacung-acungkan telunjuk kanannya kalau melafalkan ayat “maka aku akan mengadakan perseteruan…”, “maka keluarlah titah kaisar agustus…”, atau “inilah pengitungan yang pertama kali dilakukan tatkala kirenius menjadi wali di benua siam…”.

“Maka berangkatlah yusuf dengan tunangannya maria yang sedang hamil itu” biasanya diperagakan dengan kedua tangan yang menggambarkan perut buncit.

Di mata penonton, acara liturgi selalu tergelincir menjadi guyonan, karena selalu saja ada anak yang melakukan kesalahan. Saya rasa, hanya ibu dan bapak anak yang bersangkutan saja yang mendengarkan liturgi dengan sungguh-sungguh….

Perayaan natal juga tentu harus diisi dengan paduan suara. Ketika Perguruan Immanuel masih terdiri dari TK dan SD, maka ada paduan suara dari setiap kelas. Tapi ketika Perguruan Immanuel telah terdiri dari satu TK, dua SD dan satu SMP maka yang ada ialah paduan suara gabungan dari setiap sekolah.

Ketika masih SD, kami tidak mengenal lagu “Muliakanlah”. Yang kami kenal adalah lagu “Hormat Dib’ri”. Melodinya sama tapi syairnya berbeda. Dalam paduan suara gabungan yang menyanyikan “Muliakanlah” atau “Hormat Dib’ri” saya biasanya berada dalam barisan bas. Sampai sekarang saya masih hapal cara menyanyikannya, “Glooo..ooo…ooo…ooo…ria. Muliakan Tuuuhan…” Pada bagian lagu yang terakhir, suara biasanya sudah nyaris tak terdengar karena rendahnya nada.

Lagu Natal yang saya senangi ialah “Tetap Kuharap Dengan Suka”. Kini judul lagu itu telah berubah menjadi “Ya Yesus, Dikau Kurindukan”. Sejak kecil, bulu kuduk saya selalu meremang kalau menyanyikan lagu tersebut.

Dalam suasana Natal dan Tahun Baru, kadang-kadang kami anak-anak, melafalkan juga lagu “antah-berantah” yang
tidak memiliki makna teologis. Lagu-lagu itu bahkan mengesankan jorok. Salah satu lagu yang saya hafal sampai sekarang ialah, “Selamat tahun baru, mi re mi re do. Holehon sada kado, taik lombu do….”

Selama bertahun-tahun, perayaan natal Perguruan Immanuel selalu dilaksanakan secara terpusat di Gedung Olahraga (GOR). Gedung Olahraga Medan berada di daerah pusat pasar. Jalanan di depan gedung tersebut selalu tertutup oleh tenda-tenda pedagang sayur, buah dan pakaian bekas.

Sisa-sisa sayur yang membusuk di jalanan becek di sekitar gedung tersebut akan menyebarkan aroma yang khas–aroma yang biasa kita rasakan di pasar-pasar tradisionil. Karena itu, sampai sekarang, bau pasar selalu saya asosiasikan dengan natal. Dahulu, saya pikir, begitu jugalah bau di kandang domba Betlehem. Karena itu, kalau kini saya menghadiri perayaan natal di hotel-hotel yang megah, saya selalu merasa ada yang kurang “pas”. Perayaan natal Perguruan Immanuel di GOR Medan adalah peryaan natal yang paling hebat bagi saya.

Beberapa hari sebelum perayaan natal, biasanya seluruh sekolah melakukan gladi resik. Ini adalah hari yang penting bagi anak-anak. Pada hari itu kita tidak perlu membawa tas ke sekolah. Bersama-sama dengan guru kita pergi ke GOR. Di sanalah diatur posisi duduk. Paduan suara, liturgi, drama dan acara lainnya dilatih untuk terakhir kalinya. Selesai gladi resik biasanya ibu dan bapak guru sudah terlalu lelah untuk mengawasi anak-anaknya dengan ketat. Hari itu adalah hari bebas bagi sebagian dari kami untuk meneruskan pelajaran “ekstra kurikuler” di Titi Gantung atau Lapangan Merdeka…

Pada acara perayaan natal, semua anak-anak diwajibkan memakai baju dan celana putih. Tidak ada kekecualian. Saya rasa hal itu adalah gagasan yang baik. Dengan demikian perbedaan status ekonomi keluarga setiap anak tidak mencolok. Anak panglima, guru, kerani, tauke, dokter dan administratur perkebunan; sama-sama berseragam putih.

Anak-anak akan duduk dengan tenang. Para orangtua, yang biasanya diundang hadir, mungkin akan merasa kagum melihat disiplin anak-anak. Mereka tidak tahu, biasanya di bagian bawah tribun ada Bapak A.T. Sibuea dan Ibu Timor yang berdiri dengan mata yang terus membelalak dan mengawasi anak-anak yang duduk di atasnya.

Jam sembilan malam, perayaan natal berakhir. Masing-masing guru akan berdiri di depan pintu keluar. Anak-anak yang tadinya datang seorang diri, tidak akan diperkenankan pula pulang seorang diri. Ibu dan bapak guru sibuk mengatur agar anak-anak yang datang sendiri boleh menumpang kendaraan dengan anak-anak lain yang ditemani oleh keluarganya. Dan disitulah terlihat
kentalnya “paguyuban” Immanuel itu. Para orangtua selalu saja bersedia membawa kendaraannya memutar lebih jauh, untuk mengantarkan satu-dua anak lain agar selamat tiba di rumah [.]

About these ads

4 responses to “Perayaan Natal di Sekolah

  1. Selamat Natal amang Mula, mohon izin lewat blog ini saya mau mengucapkan selamat Natal buat anak anakku tercinta yang masih SD dan TK: Natasya Naomi Silitonga, Brian Abednego Silitonga….

  2. Selamat natal Amang Mula saya suka sekali membaca artikel yg Bapak tulis entah berapa kali saya membacanya.Tentang perayaan natal membuat lampion,saya juga waktu Sekolah SD disekolah katolik sama dengan artikel yg bapak muat,saya tersenyum membacanya,Horas bapak

  3. Singal Sihombing

    Selamat Natal dan Tahun Baru Amang Mula, tulisan amang membangunkan saya sebagai orang kampung, yang belum punya listrik ketika itu. Gereja kami di kaki bukit, ada kebun dibelakangnya. Jalan ke sana, sawah di kiri kanan dan SD tempat saya sekolah kira-kira 1 km dari gereja itu, bertetangga dengan rumah guru huria kami. Suasana natal menjadi sangat luar biasa, karena kelipan lampu senter, pelita, lilin di tengah gelap gulita diiringgi bunyi jangkrik kodok dan binatang sawah lain, bebaris menuju gereja dan meninggalkannya ketika pulang. Nyanyian “Nunga jumpang muse ari pesta i …” & “Sonang ni borngin na i…” pada suasana tersebut, terdengar dan terngiang kembali dan teman teman saya muncul dimukaku satu per satu dengan sifat dan karakternya masing-masing, aku tersenyum terharu. Tidak terhitung kasih Kristus…,Terimakasih Amang. (Gereja kami disalah satu tempat di Hutabarat Tarutung)

  4. Bravo Bang Mula, terharu gt saya ngebacanya, apa yang abang sampaikan tersebut, memang benar2 berhasil menyegarkan memori kenangan perayaan natal semasa masih bersekolah di immanuel, bagi saya ; yang benar2 mengingatkan ya memang situasi gedung ditambah dengan kondisi pengawalan Pak AT dan Bu Timor itu (selain membelalak juga ga’ pake senyum Bang, he…he…he…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s