Mula Harahap

Entries from March 2008

Pelajaran Membuat Klipping

March 29, 2008 · 6 Comments

Oleh: Mula Harahap

Ketika anak-anak saya masih duduk di bangku SD maka ada satu kegiatan kurikuler mereka yang selalu membuat saya naik pitam: Kegiatan membuat klipping. Saya tidak tahu apakah kegiatan itu termasuk dalam bidang studi bahasa Indonesia atau bidang studi prakarya. (Tapi tampaknya dia termasuk dalam bidang studi bahasa Indonesia).

Saya naik pitam bukan karena koran atau majalah itu digunting-gunting, ditempeli dengan rapih di atas kertas, difotokopi lalu dijilid rapih dengan “spiral binding”. Saya naik pitam karena kegiatan itu terkesan seperti kegiatan yang tak memakai otak.

“Pak, kata guru besok kami harus membuat klipping tentang Pekan Olahraga Nasional,” begitulah biasanya kata anak-anak kepada saya.

“Ya, buatlah. Disitu ada setumpuk koran dan majalah.”

“Yah, bapak dong yang cariin…..”

(more…)

Categories: Pendidikan
Tagged: , ,

Pengadilan “Mikul Dhuwur Mendhem Jero”

March 28, 2008 · 3 Comments

Oleh: Mula Harahap

Jakarta, Kamis, 27 Maret 2008–Majelis hakim memutuskan untuk mengabulkan sebagian tuntutan dalam perkara Yayasan Supersemar. Isi putusan itu menyebutkan Yayasan Supersemar sebagai tergugat II agar membayar ganti rugi materiil sebesar 25 persen dari total tuntutan yakni 105 juta dollar AS dan Rp 46,4 miliar. Sementara H.M Soeharto sebagai tergugat I dinyatakan bebas dari tuntutan karena tidak terbukti melakukan perbuatan hukum.

Gugatan perdata kepada Suharto sebenarnya adalah “obat penenang” yang diberikan oleh Pemerintah kepada masyarakat yang terus gencar menuntut agar Suharto mengembalikan kekayaan negara (yang ditengarai telah disalah-gunakannya) setelah pengadilan pidana gagal melakukan hal yang sama.

Sebenarnya semua orang yang mengerti hukum tahu bahwa pengadilan perdata bukanlah jalan untuk melakukan hal seperti tersebut di atas (menuntut ganti rugi dari seseorang yang telah menyalahgunakan kekayaan negara). Dan kalau kita menyimak baik-baik dasar gugatan yang dilakukan Negara dalam kasus perdata itu maka dasarnya memang bukan karena Suharto telah melakukan penyalah-gunaan terhadap kekayaan negara (Itu memang adalah wilayah hukum pidana; bukan perdata).

(more…)

Categories: Hukum
Tagged: , ,

Sajak Talita, Mujizat Yesus dan Jumat Agung

March 21, 2008 · 5 Comments

Oleh: Mula Harahap

Di sebuah milis kristiani saya menemukan sebuah sajak anak-anak yang bercerita tentang kekewaan hatinya karena doanya tidak dijawab oleh Tuhan. Sajak yang membuat saya berpikir-pikir tentang doa, dan tentang mujizat sebagai jawaban doa itu, bunyinya seperti ini:

hate that i love you so much

oleh: talita luna siagian

aku benci karena sangat mencintaimu
saat kudapati minggu lalu
nilai matematikaku cuma tujuh
sebagai imbal dari semalam peluh

(more…)

Categories: Agama
Tagged: , , , , ,

Doa Untuk Seorang Ibu Yang Anaknya Menderita Autis, Asperger Syndrome, dsb

March 13, 2008 · 7 Comments

Oleh: Mula Harahap

Berbahagialah dia karena cepat dipanggil `mama’. Aku dulu menunggu 5 tahun untuk dipanggil `mama’ oleh anakku. Itu juga setelah terapi 1,5 tahun lamanya. (RH–seorang ibu dari anak penderita asperger syndrome)

Pengakuanmu mengingatkan saya terhadap beberapa orang tua yang juga mengalami pergumulan yang sama.

Pertama, saya teringat kepada Ibu T, sahabat isteri saya. Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu ia menceritakan kepada kami bahwa J, cucu pertamanya, dari anaknya yang pertama, menderita autis. Secara sepintas tidak akan ada orang yang tahu bahwa anak lelaki berambut pirang, yang berumur 2 tahun, dan yang menyerupai anak orang barat itu, menderita sebuah kelainan. Tapi kalau dilihat lebih seksama, barulah kita menyadari bahwa J memang tidak sama dengan anak-anak sebayanya. Ia belum bisa berbicara. Ia tidak bisa menatap mata orang. Ia tidak bisa menanggapi hal yang diminta oleh lawan bicaranya. Perhatiannya selalu
terpusat kepada hal lain yang mungkin lebih menarik hatinya.

(more…)

Categories: Agama
Tagged: , ,

Nama Bapak Saya

March 12, 2008 · 7 Comments

Oleh: Mula Harahap

Di dalam budaya Batak–terutama pada masa saya kecil–menyebut nama orangtua adalah sesuatu yang tabu. Para orangtua hanya dipanggil seturut dengan gelar atau julukannya: Si Kombes, Par Serpong, Amani Kika dsb. Atau, mereka hanya dipanggil seturut dengan inisial namanya: M. Harahap, S. Siagian, M. Hutahaean dsb.

Salah satu alasan yang memotivasi saya untuk bisa membaca sebelum duduk di bangku TK adalah karena ingin mengetahui nama kakek saya. Saya ingat, dalam sebuah acara keluarga seorang saudara sepupu saya, yang sudah duduk di bangku sekolah, bercanda dengan kakek saya. Tiba-tiba KTP kakek terjatuh dari kantong dan direbutnya. Lalu dengan cepat ia membacanya dan tertawa-tawa, “Ha-ha-ha! Aku tahu nama Ompung….” Sejak itu saya bertekad harus tahu membaca, dan tahu banyak rahasia.

(more…)

Categories: Kehidupan Diri Sendiri
Tagged: , ,