Panggilan atau Julukan di Antara Kakak-beradik

Oleh: Mula Harahap

Asal-usul nama panggilan atau julukan di antara kakak-beradik yang tinggal di satu rumah juga menarik untuk dibahas:

Biasanya julukan itu ditetapkan oleh saudara (atau saudara-saudara) yang lebih tua, dan si adik–sebagaimana halnya semua adik di muka bumi ini–tak bisa melawan.

Julukan itu bisa berasal dari kekhasan fisik atau karakter si anak.

Julukan juga bisa berasal dari nama anak lelaki atau perempuan di sekolah yang membuat si anak selalu marah kalau dipanggil demikian.

Julukan juga bisa berasal karena “kecelakaan”. Si anak menyebut suatu kata yang dianggap aneh, tolol atau lucu, lalu oleh saudara-saudaranya diresmikan menjadi capnya. Atau secara tak sengaja saudara-saudaranya “menemukan” kata yang aneh, tolol atau lucu, lalu meresmikannya menjadi cap adiknya.

Pada awalnya julukan itu adalah kata yang membuat penyandangnya marah (dan karena marah, ia semakin dipanggil dengan kata itu oleh saudara-saudaranya). Tapi di kemudian hari si anak akan capek sendiri, berdamai dengan dirinya, dan bisa menerima panggilan atau julukan tersebut; bahkan sampai ia dewasa dan berkeluarga.

Dan sepanjang gelar atau julukan itu tidak “kebangetan”, biasanya ibu dan bapak, yang dengan susah-payah sudah pergi ke gereja untuk membaptiskan anak-anak itu, biasanya akan ikut-ikutan juga memanggil anaknya dengan gelarnya yang baru tersebut

Anak pertama di keluarga kami adalah lelaki. Karena tampangnya yang “culun” dan fisiknya yang mirip anak lelaki Tionghoa maka oleh kawan-kawannya di sekolah ia dipanggil “Aseng”. Lambat-laun panggilan itu merembes ke tengah keluarga. Kadang-kadang anak itu dipanggil juga dengan “Lince”.

Anak kedua adalah perempuan. Namanya Lisbeth. Ketika masih kecil, abangnya selalu mengalami kesulitan melafalkan “lisbeth”. (Coba bilang Lis…./Lis…../Coba bilang Bet…./Bet…./Coba bilang Lisbeth…./Lisbet….Bekbok!). Jadilah anak itu “Bekbok”. Kadang-kadang anak itu dipanggil juga dengan “Lian”, yaitu singkatan dari “Parulian”, nama paribannya yang sebaya dengan dia.

Anak ketiga adalah lelaki. Namanya Ronitua, dan biasa dipanggil Roni. Kulitnya sebenarnya putih. Tapi oleh saudara-saudaranya ia dibaptis sebagai “Bronie”, seperti nama anjing tetangga. Kadang-kadang anak itu dipanggil juga dengan “Osa”, seorang perempuan kawan sebangkunya di kelas.

Anak keempat adalah lelaki. Nama aslinya sangat indah yaitu “Pujiari”. Tapi karena cara berpakaiannya norak (kobol, kata orang Medan) dan menyerupai “Mamang”–orang Jawa yang bekerja sebagai tukang kebun kompleks–maka dipanggillah ia “Si Mamang”. Kini dibutuhkan banyak waktu untuk menjelaskan kepada anak-anaknya, mengapa bapak mereka yang gagah itu dipanggil oleh amangtua dan amangudanya sebagai “Si Mamang”.

Anak kelima adalah lelaki. Ketika masih kanak-kanak rambutnya sangat kaku dan semburat kemana-mana. “Awas! Jangan dekatkan balon itu ke kepalanya. Nanti pecah….,” kata saudara-saudaranya. Jadilah ia dipanggil sebagai “Si Landak”. Kadang-kadang anak itu dipanggil juga dengan “Telly”; nama seorang anak perempuan tetangga yang sebaya dengannya, yang kurus-kerempeng, hidungnya tak pernah kering dan matanya besar.

Anak keenam adalah lelaki. Namanya Jonatan–sebuah nama sahabat dari Raja Daud dan pahlawan Israel yang gagah-perkasa itu. Ia anak buntut. Mungkin karena itulah ia dipanggil sebagai “Si Jontut”.

Tapi yang lebih cilaka lagi ialah kalau anak-anak yang bersaudara dan tinggal serumah itu memberi julukan kepada orang luar. Karena susah menghafalkan nama, maka anak-anak lebih suka menggambarkan ciri fisik seseorang.

Karena itulah kami juga mengenal “namboru yang matanya kayak kucing”, “tulang yang mukanya kayak kuda”, “oom nunjuk-nunjuk” atau seorang sepupu yang dipanggil dengan “ito berce”–singkatan dari “berak celana”.

Tinggallah ibu dan ayah yang setengah mati harus menjaga agar julukan itu hanya beredar di seantero rumah dan tidak merembes kemana-mana [.]

About these ads

4 responses to “Panggilan atau Julukan di Antara Kakak-beradik

  1. Sepertinya julukan Tulang Mula waktu kecil belum ada di sini. Apa aku salah tengok?

    Menurut bere anak yang bernama “mula” itu kira-kira anak nomor berapa, ya?–MH

  2. Julukan Amang Mula yah yang nama aslinya ga disebutkan. Kan ada 2 tuh.. Salah satunyalah….. :)

  3. Wah, mana yang Panggabean dan Nasution itu? Koq tidak diceritakan?

    Kapan-kapan akan saya ceritakan dalam “Orang-orang Gila yang Berkeliaran di Seantero Kota”-MH

  4. Ha..ha..ha.! Lucu kali Si Berce itu, Tulang, Dulu q dicap Si “Rangkat” singkatan dari orang kate, karena badanku pendek, trus temanku dicap Si “Angin” hanya karena dia bilang dalam perutnya yang besar itu banyak angin. Dan tau yang paling lucu ,Tulang? Ada Si “BU” singkatan dari Balga Ulu. Semoga makin mantap, Tulang, panjang umur murah rezeki….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s