Sajak Talita, Mujizat Yesus dan Jumat Agung

Oleh: Mula Harahap

Di sebuah milis kristiani saya menemukan sebuah sajak anak-anak yang bercerita tentang kekewaan hatinya karena doanya tidak dijawab oleh Tuhan. Sajak yang membuat saya berpikir-pikir tentang doa, dan tentang mujizat sebagai jawaban doa itu, bunyinya seperti ini:

hate that i love you so much

oleh: talita luna siagian

aku benci karena sangat mencintaimu
saat kudapati minggu lalu
nilai matematikaku cuma tujuh
sebagai imbal dari semalam peluh

aku benci karena sangat mencintaimu
ketika permintaanku bulan lalu
untuk sebuah laptop baru
cuma berwujud harapan semu

(padahal semua langkah kuawali dengan doa,
semua pinta kunaikkan sepenuh damba,
semua harap kulandaskan pada iman,
dalam terang matahari dan rembulan)

tuhan, kamu adalah pecinta yang sangat buruk:
kamu tak pernah memanjakan aku
sebagaimana pangeran memuja sang putri;
kamu lebih sering mengecewakan aku
seperti umumnya lelaki pendusta negeri ini;

Ketika saya masih duduk di bangku kelas dua atau tiga SD pemahaman saya tentang Yesus juga sama seperti pemahaman Talita. Yesus adalah jawaban bagi pergumulan-pergumulan praktis saya: Yesus-lah yang bisa menaikkan nilai ujian, Yesus-lah yang bisa menyembuhkan ibu kalau dia terbaring karena flu, Yesus-lah kurir yang menyampaikan rasa senang saya kepada anak perempuan yang rambutnya dikepang dua itu, dsb.

Tentang bagaimana cara Yesus melakukan semua hal-hal tersebut, maka itu adalah urusan-Nya. Bukankah kata guru sekolah minggu, Dia bisa mengubah air jadi anggur, menghidupkan orang mati, dan berjalan di atas air?

Karena itulah, kalau malam menjelang pembagian rapor, saya selalu berdoa meminta Yesus campur tangan agar nilai-nilai saya tidak anjlok.

Sebenarnya, ketika masih duduk di bangku kelas dua atau tiga SD itu pun, saya sudah tahu bahwa seminggu sebelumnya guru-guru sudah mengadakan rapat, dan disitulah nilai ditetapkan. Kemudian satu atau dua hari sebelumnya, rapor itu sudah disimpan di lemari kelas. Tapi sebagai seorang anak kecil saya tetap saja “ngotot” minta Yesus campur tangan dan membuat mujizat-Nya. (Di kemudian hari, setelah saya makin besar, barulah saya sadar betapa kacaunya dunia ini kalau Yesus masih bisa menyelinap ke dalam lemari kelas dan mengubah-ubah nilai rapor dari beberapa anak yang berdoa kepadanya).

Tapi sejalan dengan pertambahan usia, maka pemahaman saya tentang Yesus dan bagaimana mujizat-Nya itu, juga mulai berubah. Dan salah satu peristiwa yang membuat pemahaman itu mulai berubah ialah ketika saya duduk di kelas lima SD:

Suatu hari, ketika sedang bermain bola pada jam istirahat, saya salah melakukan tendangan. Bola itu keluar dari halaman sekolah dan menggelinding di jalan. Pada saat yang bersamaan melintaslah sebuah truk. Bola itu terlindas dan pecah.

Bola itu adalah milik seorang anak yang duduk satu kelas di atas saya. Anak itu dan kawan-kawannya datang menyerahkan bola yang sudah hancur itu ke tangan saya, dan menuntut pertanggung-jawaban saya.

“Pokoknya, aku mau bolaku kembali utuh,” katanya.

“Ya, ya, ya,” kata saya nyaris tak bersuara. Dan dalam hati saya sebenarnya menangis, “Bagaimana saya harus membuat bola ini menjadi utuh kembali?”

Pada masa saya kanak-kanak, bola sepak yang biasa dimainkan ialah bola kulit yang memiliki balon karet di dalamnya. Bola itu seperti ban mobil yang memiliki ban luar dan ban dalam. Balon karet itulah yang dipompa. Lalu, setelah dipompa, barulah pentilnya ditutup dan diselipan ke bawah bola kulit dan diikat dengan tali–seperti mengikat tali sepatu. Kemudian, kalau kulitnya (ban luar) rusak, kita tinggal mengeluarkan balon karet (ban dalamnya), dan membawa kulit yang rusak itu ke tukang sepatu untuk dijahit. Demikian juga, kalau balon karetnya bocor, kita tinggal menambalnya di tukang ban, atau membeli balon yang baru dan yang harganya relatif murah.

Tapi bola sepak yang terlindas oleh truk itu adalah bola modern seperti yang ada sekarang. Kulit dan lapisan karet di dalamnya telah menyatu. Kalau kulit itu robek atau jahitannya retas maka tukang sepatu tidak akan bisa memperbaikinya. Bola itu harus diganti dengan yang baru.

Saya tak punya uang untuk membeli bola sepak modern seperti itu. Dan saya juga tak berani melaporkan peristiwa ini kepada ibu-bapak saya. Dalam pemahaman kanak-kanak saya, bola sepak seperti ini pasti mahal sekali. Bapak saya yang miskin, dan yang kalau pergi-pulang kantor hanya mengendarai sepeda itu, pasti tak akan mampu membelinya. Saya kasihan melihat ibu-bapak saya.

Bola sepak yang sudah hancur itu saya masukkan ke dalam tas. Sepanjang hari itu saya tidak punya semangat lagi untuk melakukan apa pun di sekolah. Saya hanya duduk berdoa dalam hati, meminta campur tangan Yesus agar bola itu utuh kembali dan saya tidak dipermalukan. Ketika tiba di rumah saya pun makan dengan tidak berkata-kata. Selesai makan saya naik ke tempat tidur, dan tertidur.

Rupanya perubahan sikap saya itu menarik perhatian ibu, dan ia mencoba mencari tahu sendiri apa penyebabnya. Jam tujuh malam ibu datang membangunkan saya.

“Sst,” kata ibu. “Aku melihat ada bola yang hancur di dalam tasmu. Bola siapa itu? Apa yang terjadi?” tanyanya.

Mendengar sapaan ibu yang begitu lembut, saya langung menangis tersedu-sedu. Lalu saya menceritakan apa yang terjadi.

“Mengapa hal itu tidak kau ceritakan tadi siang?”

“Aku tidak mau membuat ibu dan bapak susah. Bola itu mahal sekali…”

Ibu tertawa. “Hidup kita memang pas-pasan Tapi kurasa kalau hanya untuk membeli bola sepak, bapakmu masih mampu…”

Sementara masih berada di tempat tidur, saya mendengar ibu bercakap-cakap dengan ayah di luar. Kemudian saya mendengar suara sepeda dikeluarkan dari rumah.

Setengah jam kemudian, ayah telah kembali lagi. Dia membawa dua bola sepak yang baru dan modern. “Berikan yang satu kepada kawanmu, dan yang satu lagi untukmu…..” kata ayah dengan tersenyum. Setelah itu saya disuruh mandi dan makan. Tiba-tiba saya merasa bahwa sebuah beban berat yang menghimpit tubuh saya telah terangkat

Peristiwa bola yang terlindas truk itu mulai membuat saya belajar satu hal: Bahwa ternyata mujizat, keajaiban atau sulap paling hebat yang dilakukan oleh Yesus itu adalah kasih. Dia menanamkan kasih-Nya di hati saya dan di hati orang-orang di sekeliling saya, sehingga semua bisa saling memahami dan bekerjasama, dan hal-hal yang kelihatannya musykil menjadi terpecahkan.

Yesus tidak menyelinap ke dalam tas saya, dan secara diam-diam menjahit bola itu agar utuh kembali. Tapi Dia menggerakkan hati ibu agar mencari tahu sendiri apa yang sedang terjadi atas diri saya. Dia membuat hati bapak terharu dan malam itu juga langsung membeli dua bola kulit (yang ternyata harganya tidaklah semahal yang saya duga, dan yang tidak juga membuatnya jadi jatuh miskin).

Dalam perjalanan hidup saya selanjutnya mujizat-mujizat yang terwujud dalam kasih antar sesama manusia itu jugalah yang sering saya alami, dan yang karenanya sering saya minta dari Yesus agar diberlakukan-Nya dalam diri saya, dan dalam diri orang-orang di sekitar saya:

Ketika pada suatu tengah malam yang sepi anak saya jatuh dari sepeda motornya di underpass Senen dan tak sadarkan diri, lalu ada sepasang suami-isteri yang mengangkutnya ke Ruang Gawat Darurat RS Islam, maka itulah mujizat Yesus. (Tak banyak orang di metropolitan ini yang mau repot dengan penderitaan orang lain).

Ketika pada suatu siang (seminggu setelah kecelakaan di underpass Senen) puteri saya yang sedang menunggui abangnya di ICU Rumah Sakit Cikini menelepon saya dan berkata, “Bapak, tadi ada dua ibu-ibu berjilbab datang dan menitipkan sebuah amplop yang sangat tebal ke tangan saya…” sehingga kepusingan saya untuk membayar biaya perawatan yang besar itu menjadi terselesaikan, maka itulah mujizat Yesus. (Kedua ibu itu memang kolega saya. Tapi saya tak punya urusan bisnis dan tak pernah mengeluhkan kesulitan keuangan saya dengan mereka).

Ketika pada suatu hari saya mendadak harus pergi keluar negeri, dan buku paspor saya ternyata hilang, dan setelah melakukan prosedur pelaporan di kepolisian, ada seorang pejabat kantor imigrasi yang tak saya kenal secara pribadi yang mengeluarkan memo kepada bawahannya agar paspor baru saya diselesaikan hari itu juga, dan dia justeru memarahi saya ketika saya hendak memberikan uang terimakasih, maka itulah mujizat Yesus. (Tak banyak birokrat di negeri ini yang mau bekerja baik tanpa diiming-iming dengan suap. gratifikasi dsb).

Tadi malam (Kamis, 20 Maret) ketika sedang menyetel radio di mobil, saya menemukan sebuah frekwensi yang sedang menyiarkan kebaktian revivalisme dari sebuah gereja. Saya tidak tahu nama pemancar radio itu, dan juga tidak tahu nama gereja yang menyelenggarakan acara itu. Tapi acara itu sangat heboh sehingga membuat saya bertahan di frekwensi tersebut. Si pendeta atau si evangelis rupanya sedang menyelenggarakan acara penyembuhan.

“Demi nama Yesus, sembuhlah engkau!” teriak si pendeta dengan menggelegar. Dan di radio itu diberitakan, orang tersebut langsung sembuh. Lalu sesekali mulut si pendeta menguarkan bunyi-bunyi yang tak saya mengerti.

Setiap kali ada pengakuan bahwa seseorang–yang menderita berbagai penyakit dan didoakan di atas panggung itu–telah sembuh, maka si pendeta berkata, “Mari kita beri tepuk tangan kepada Yesus,” Lalu terdengarlah suara tepuk tangan yang riuh-rendah.

Selama menguping siaran radio itu–dalam waktu kurang dari satu jam–saya mendengar kesaksian dari 20 orang yang merasa telah disembuhkan: ada yang polio, ada yang lever, ada yang encok, ada yang kanker, ada yang hipertensi dsb.

“Kalau memang begitu gampang menyembuhkan segala penyakit dengan nama Yesus, mengapa rumah sakit masih penuh juga?” tanya anak lelaki saya yang duduk di sebelah saya.

Saya hanya terdiam., Saya belum pernah melihat mujizat penyembuhan seperti yang dilaporkan di radio itu. Saya juga belum pernah bertemu dengan seseorang yang mengalami deformasi alat-alat tubuh atau infeksi yang akut, yang mengaku sembuh dengan serta-merta dalam kebaktian revivalsime seperti itu. Karena itu saya tak menjawab pertanyaan anak saya.

Saya sedang sibuk berpikir-pikir tentang hal lain: Mula-mula saya berpikir tentang humor yang pernah saya dengar diceritakan oleh Pdt. Calvin Pindo:

Dua orang sedang bermobil di Jalan Tol Cikampek-Jakarta. Tiba-tiba mobil mereka batuk-batuk. Si pemilik mobil turun, membuka kap mesin dan mengkutak-katik sesuatu. Sebelum menutup kembali kap mesin, si pemilik mobil berkata dengan suara keras, “Dalam nama Yesus, sembuhlah engkau dan berjalanlah kembali…..” Mobil memang berjalan denga lancar. Tapi hanya untuk beberapa saat. Setelah itu mobil kembali batuk-batuk dan kedua orang itu terpaksa harus menepi. Lalu kawan si pemilik mobil berkata, “Bagaimana mobil tak ngadat? Yang kau panggil itu tukang kayu. Mana dia tahu soal mesin? Kalau mau benar maka yang musti kau panggil adalah montir….”

Kemudian saya berpikir tentang nuansa kebaktian itu dengan perayaan Jumat Agung: Malam ini–di sini–saya mendengar tentang Yesus yang mirip tukang sihir atau David Copperfield, yang bisa melakukan segala-galanya dan yang ditepuk-tangani oleh orang ramai. Tapi besok saya akan mendengar tentang Yesus yang mirip anak domba kelu yang dibantai di Golgota, dan yang bahkan murid-murid-Nya paling dekat sekali pun jadi ketakutan dan menjauh dari-Nya.

Sementara berpikir-pikir itu timbullah pertanyaan di hati saya, “Siapakah Yesus itu sebenarnya? Dan hal-hal mana saja yang bisa saya anggap sebagai mujizat-Nya?”

Kemudian saya teringat lagi akan pertanyaan anak perempuan saya kepada gurunya dulu–di sebuah SD Kristen–dan yang membuat dia jadi seorang anak yang lancang dan murtad di mata guru itu: “Lha, saya nggak mengerti. Kalau memang Dia adalah Tuhan, mengapa Dia biarkan saja diri-Nya disalib? Mengapa Dia tidak lompat saja dari salib itu?”

Akhirnya saya berkata kepada anak lelaki saya, “Boleh-boleh saja kita meminta mujizat apa pun dari Yesus. Tapi saya rasa mujizat paling melimpah yang diberikan-Nya, dan yang membuat kita tak akan pernah menganggap-Nya sebagai ingkar janji adalah kasih. Kalau pun Yesus terkadang tidak menjawab doa saya untuk menumbuhkan kasih di hati orang-orang di sekitar saya, tapi saya yakin sekali bahwa Dia akan menumbuhkannya di hati saya. Lalu dengan modal kasih yang ada di hati itulah saya dimampukan untuk melihat dan mengalami, betapa banyaknya sebenarnya mujizat yang terjadi dalam hidup ini.”

Dan misteri kasih yang terjadi di Bukit Golgota dua ribu tahun yang lalu itu jugalah, yang pada hari Jumat Agung ini akan saya peringati dalam kebaktian dan sakramen perjamuan kudus di gereja, dan yang akan saya tumbuhkan di dalam hati, agar menjadi mujizat bagi diri saya, dan bagi dunia di sekitar saya. [.]

About these ads

8 responses to “Sajak Talita, Mujizat Yesus dan Jumat Agung

  1. Ketika saya menemukan tulisan ini secara tak sengaja, ini mujizat! karena memperkaya iman saya tepat di Jumat Agung ini GBU

  2. Nice one….GBU ^^

  3. Itu pula yang bikin saya suka heran dan bingung, Lae. Mujizat sering disalah-artikan sebagai perwujudan langsung dari permintaan kita. Maka semakin heran dan bingunglah saya ketika ada orang-orang dengan gampangnya “berteriak”: “Dalam nama Yesus…bla…bla…bla…” Keheranan dan kebingungan saya: “Emangnya Yesus itu pembantu rumah tangga, yang setiap saat dan seenak jidat disuruh-suruh”. Memang betul Dia berkata; bagi yang percaya kepada-Nya, apapun yang kita minta akan diberikan. Tapi, menurut saya harus tetap ada etika. Yesus bukanlah seperti pembantu rumah tangga yang saban waktu bisa diperintah-perintah. Seharusnya kita menyadari: “Bukan kehendak kita yang terjadi, tapi kehendak Tuhan”. GBU.

    Note: Gimana, Lae, follow up dari yang kita bicarakan waktu itu?

    Untuk mewujudkan apa yang kita bicarakan itu ternyata tak cukup hanya dengan doa, Lae. Jadi saya sedang kerjakan. Tunggulah. Dalam 1 @ 2 minggu ini akan ada undangan dari saya–MH

  4. Syallom…jawaban.com will be held 1st Christian Indonesian Blogger Festival on 8 August 2008 (8-8-8)…Cek ‘Pengumuman Event’ forum JC tuk join CIBfest 2008 disini : http://www.jawaban.com/forum/viewtopic.php?p=161332#161332. Atau langsung join aja disini : http://www.jawaban.com/news/entertain/show.menu.php?cat_id=175. Dan ikuti instruksi di sidebar sebelah kanan. We’re waiting for you all of Christian bloggers to join !

  5. Bukankah Yesus sudah mengingatkan kita untuk mencari dahulu kerajaan Allah. Kalau kerajaan Allah sudah tercapai rasanya urusan kecil lain yang tetek bengek tidak menjadi prioritas lagi…

  6. Thanx banget buat inspirasinya, Amang.

  7. Hihihi……..

  8. Pengalaman luarbiasa, akan pemaknaan kasih, Amang. Bagi setiap orang sangat sulit membedakan kasih yang universal dan kasih bersyarat, sehingga kadangkala pengharapan akan doa yang tidak terpenuhi menjadikan dasar syarat seberapa besarnya ketebalan keimanannya akan Tuhan-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s