Minyak, Urap dan Minyak Urapan

Oleh: Mula Harahap

Praktek keagamaan untuk mengoleskan, memercikkan atau menuangkan sebuah bahan berbasis minyak ke tubuh seseorang, dengan harapan agar orang tersebut mendapat kesembuhan, pensucian diri atau peninggian derajat, rupanya tidak dikenal dalam kebudayan Indonesia. Karena itu bahasa Indonesia tidak memiliki kata yang khusus terhadap praktek keagamaan seperti itu.

Tapi terhadap bahan berbasis minyak itu, walau pun pada awalnya dalam budaya Indonesia tujuannya bukanlah dipakai untuk upacara keagamaan, ada kata yang khusus untuk itu, yaitu “urap”, Karena itu praktek keagamaan untuk mengoleskan urap ke tubuh seseorang, yang pada dasarnya memang tidak dikenal dalam kebudayaan Indonesia, disebut saja sebagai “pengurapan”.

Hal yang sama juga terjadi dalam bahasa Inggeris. Bahasa tersebut juga hanya mengenal bahan berbasis minyak itu, yang mereka sebut sebagai “ointment”. Adapun praktek keagamaan untuk mengoleskan ointment ke tubuh seseorang disebut saja sebagai “anointment”.

Bahasa Batak.pun sama saja. Bahasa tersebut hanya mengenal bahan berbasis minyak
itu, yang mereka sebut sebagai “miak”. Adapun praktek keagamaan untuk mengoleskan miak ke tubuh seseorang disebut saja sebagai “pamiahon”.

Sebenarnya “urap”, “ointment” atau “miak” itu juga adalah minyak. Tapi karena dia adalah minyak yang khusus dipakai untuk sebuah praktek keagamaan yang dikenal sebagai “pengurapan”, “anointment” atau “pamiahon”, maka untuk gampangnya dia disebut sebagai “minyak urapan”, “anointing oil” atau “miak pamiahon”. Dan kata atau istilah ini jugalah yang dipakai di dalam Kitab Keluaran.

Keluaran 30 ayat 22 s/d 33 berbicara tentang “Minyak Urapan Yang Kudus”. Dan menurut firman Tuhan minyak urapan yang kudus itu adalah: mur tetesan sebanyak 500 syikal, dicampur minyak kayu manis 250 syikal, dicampur tebu (atau mungkin, cairan tanaman yang menyerupai tebu) 250 syikal, kayu teja (atau mungkin, cairan kayu teja) 500 syikal, dan akhirnya dicampur minyak zaitun 1 hin.

Dan–masih menurut Kitab Keluaran–bahan-bahan itu haruslah ditakar dengan teliti memakai alat takaran yang kudus (atau mungkin, takaran yang sudah dioleskan dengan minyak urapan) dan dicampur sedemikian rupa dengan “skill” seorang tukang campur rempah-rempah yang profesional.

Minyak urapan yang kudus itu–menurut firman Tuhan kepada Musa–hendaklah dipakai mengurapi kemah pertemuan, tabut hukum, meja dengan segala perkakasnya, kandil dengan segala perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan, mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, dan bejana pembasuhan dengan segala alasnya. Kemudian Tuhan juga meminta agar minyak itu dipakai untuk mengurapi atau menguduskan Harun dan anak-anaknya.

Lebih jauh lagi Tuhan mengatakan bahwa minyak urapan yang kudus, dan yang harus diberlakukan secara turun-temurun di antara orang Israel, haruslah minyak yang dibuat dengan formula seperti tersebut di atas. Dengan kata lain, minyak urapan yang dibuat tidak mengikuti formula tersebut adalah minyak urapan “ecek-ecek” atau bukan minyak urapan yang kudus.

Menurut Kitab Kejadian “hak paten” untuk membuat minyak urapan yang kudus itu hanya diberikan kepada Musa dan ahli-warisnya. Orang biasa tidak diperbolehkan membuat minyak urapan yang sama. Bahkan orang biasa yang ketahuan membuat minyak yang sama, dan yang mengoleskannya kepada benda atau manusia diluar dari yang telah ditetapkan oleh Tuhan, akan diancam dengan hukuman “dilenyapkan dari antara bangsa Israel”.

Ada pun saya, saya belum pernah meraba dan mencium fisik minyak urapan sebagaimana yang sekarang banyak diedarkan di beberapa kalangan orang-orang Kristen. Dan saya juga tidak tahu apa dasar teologi dari minyak urapan tersebut.

Tapi kalau mengikuti pola berpikir orang-orang yang masih mempercayai keabsahan minyak urapan itu (yaitu bahwa segala sesuatu yang dinyatakan secara eksplisit di dalam Alkitab adalah suatu kebenaran) maka timbul beberapa pertanyaan di dalam hati saya: Apakah minyak urapan itu memang telah dibuat benar-benar sesuai dengan formula yang diberikan Tuhan kepada Musa (minyak zaitun dicampur mur, kayu manis, tebu dsb)? Sejauh mana legitimasi orang-orang yang membuat minyak urapan itu (yang notabene adalah orang Indonesia jaman sekarang) dengan Musa (yang notabene adalah orang Israel jaman dahulu)? Mengapa pula minyak urapan yang sedemikian eksklusif itu, dan yang tidak boleh dioleskan ke sembarang benda dan manusia itu, kini disebar-luaskan kemana-mana atau dibagi-bagikan sebagai “door prize” suatu kebaktian? Lalu (kalau memang telah terjadi pelanggaran terhadap Firman Tuhan) bagaimana pula caranya “mengenyahkan” seseorang yang notabene adalah orang Indonesa dari “antara orang Israel”?

Mungkin akan ada orang yang berkata kepada saya: Akh, jangan terlalu mengada-adalah…. Tapi kalau ada orang yang mengatakan demikian, maka saya akan balik berkata: Lha, kalau kita tidak mau konsekwen dengan apa yang dinyatakan secara eksplisit di dalam Alkitab, yah lebih baik jangan memakai istilah minyak urapan. Pakai saja istilah “minyak”, “urap”, “balsem”, “pais”, “lulur” dsb. Dan dalam kapasitas sebagai tukang jual obat silakan juga menambahkan merek dagang atas produk tersebut, dan menambahkan di label botolnya kata-kata “menyembuhkan aneka macam penyakit” atau “solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan anda”. Semua itu sah-sah saja.

Tapi kalau ada orang yang berpikir bahwa mereka sebenarnya sedang bertindak dalam kapasitas Musa sebagaimana yang dinyatakan dalam Kitab Kejadian, eiiits….tunggu dulu. Oleh karena semua yang secara eksplisit dinyatakan di Alkitab adalah Firman Tuhan, maka tidak melaksanakan secara konsekwen apa yang dinyatakan di Alkitab berarti adalah pelanggaran terhadap Firman Tuhan. Dan ini gawat urusannya…. :-)

About these ads

17 responses to “Minyak, Urap dan Minyak Urapan

  1. Mauliate godang di penjelasan ni amang on. Sangat membantu

  2. Mauliate, Amang. Tapi saya masih ada beberapa pertanyaan. Amang “kan bilang: ‘Minyak urapan yang kudus itu–menurut firman Tuhan kepada Musa–hendaklah dipakai mengurapi kemah pertemuan, tabut hukum, meja dengan segala perkakasnya, kandil dengan segala perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan, mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, dan bejana pembasuhan dengan segala alasnya. Kemudian Tuhan juga meminta agar minyak itu dipakai untuk mengurapi atau menguduskan Harun dan anak-anaknya.’

    Saya pernah dengar kalau minyak urapan itu juga bisa digunakan untuk orang sakit. Yah diolesin gitu kepada si sakit. Apakah ini juga sesuai firman Tuhan di Kejadian itu?

    Pertama izinkan saya menjelaskan bahwa saya hanyalah orang awam dan anggota biasa dari sebuah gereja yang oleh segelintir orang acapkali dipelesetkan sebagai Gereja Kurang Iman (GKI) :-) dan yang tidak terlalu meng-”endorse” pemakaian “minyak urapan”. Tapi saya pernah terlibat dalam sebuah diskusi tentang “minyak urapan” dan karenanya menjadi tergelitik ingin mengetahui lebih banyak tentang hal tersebut. Lalu lahirlah tulisan tersebut yang notabene merupakan hasil permenungan dan membaca-baca beberapa buku (dan Alkitab, tentu saja).

    Dari membaca Alkitab saya menemukan bahwa ternyata ayat yang secara eksplisit menerangkan tentang apa dan mengapa “minyak urapan” hanya ada di Kitab Keluaran sebagaimana yang saya kutipkan itu. Kemudian saya juga menemukan bawa ternyata di Alkitab Perjanjian Lama praktek mengurapi (baca: mengoleskan sesuatu dengan urap atau minyak) lebih berkaitan dengan maksud untuk mensucikan atau memuliakan sesuatu (baca: bukan untuk mengobati sesuatu). Kemudian saya juga menemukan bahwa Alkitab Perjanjian Baru ternyata tidak lagi menyebut-nyebut tentang “minyak urapan” sebagaimana yang banyak disebut-sebut di Perjanjian Lama. Bahkan urusan “oles-mengoles” minyak pun (dengan tujuan untuk mensucikan, memuliakan atau mengobati sesuatu) hanya disebutkan di beberapa kitab dan ayat saja (antara lain tentang Maria yang meminyaki kaki Yesus).

    Tapi di Markus 6:13 memang ada ayat yang menceritakan tentang murid-murid Yesus yang “mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka”. Dan di Yakobus 5:14 memang ada nasehat bagi para jemaat agar “kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan”. Tapi saya tidak tahu apakah minyak yang dimaksudkan ini adalah juga “minyak urapan” sebagaimana yang dipahami dalam Alkitab Perjanjian Lama.

    Saya sendiri berpendapat bahwa “minyak urapan” yang fisikal sebagaimana yang dipahami dalam Alkitab Perjanjian Lama itu, kini sudah diganti dan disempurnakan oleh “Roh Kudus” dan yang untuk memperolehnya saya tak membutuhkan lagi bantuan racikan dan doa dari para imam. Saya bisa memintanya langung (baca: meminta Roh Kudus itu) untuk turun dan mengurapi kehidupan saya dan kehidupan siapa pun yang saya kasihi.

    Bahwa ada imam (baca: pendeta) yang memberikan “suatu” minyak kepada saya, tentu saja tidak akan saya tolak. Tapi saya tidak akan menganggap minyak itu sebagai sesuatu yang sakral dan “magic”. Bagi saya nilainya akan sama saja seperti kalau seandainya pendeta itu memberikan “counterpain”, “balsem cap macan”, “minyak kayu putih cap elang” dsb kepada saya :-)

  3. Salam kenal, Amang! Senang berkunjung ke blog ini. Mauliate, Tuhan Memberkati

    http://www.lintongnababan.wordpress.com

  4. Bergman Silitonga

    Horas, Amang….. Itulah bisnis rohani. Ha… ha… ha… Saya jadi bingung apa bedanya Tuhan dengan tabib?

  5. Setuju dengan Amang (sudah jadi Ompung?) Mula. Kalau mau jualan minyak ya jualan minyak aja dan sebaiknya didaftarkan di badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan). Kalau minyak urapan biarkanlah itu menjadi hak patennya Musa dan orang-orang pilihannya.

  6. Ini kebiasaan pengkritik murahan. Kalau mengkritik akan meminta harus konsekuen dengan Alkitab, tetapi jika si pengkritik pun diminta konsekuen dengan Alkitab, maka akan kewalahan. Dan balik akan memberikan kritik model baru, yaitu tidak sesuai dengan kondisi masa kini dan budaya lokal.

    Begitulah, para pengkritik akan selalu demikian. Bagusnya saya tidak melihat kritik ini pergi kemana mana, hanya di blog ini.

    Dalam urusan membaca Alkitab kebetulan saya bukan tergolong kaum fundamentalis dan literalis.

  7. Pendapatku, pendapatku, pendapatku……

    Saya orang kampung kolot, sering tidak berani menyebut nama Tuhan, takuut. apalagi minta tolong agar Tuhan membantu pekerjaanku supaya beres, berat rasanya. (sekali lagi, ini pendapatku lho!).
    Saya hanya minta kepada Tuhan (selalu) agar saya selalu diberi pikiran yang jernih mengarungi dunia ini.
    Mengobati orang sakit? jadi urusan dan membawa-bawa Tuhan melalui dan mengutip ayat dalam Alkitab? ijinkan saya tidak percaya.
    Saya percaya dokter yang diberkati Tuhan dan iman kita.
    Ngomong ngomong, Orang tuaku (almarhum) suka menggunkan minyak dampol buatan sendiri, terdiri dari minyak makan (minyak goreng) dan bawang merah, dipanasi lalu dipakai untuk mandampol..hehehe…kadang pakai air liurnya atau ludahnya mengobati luka terutama ketika di kebun (gadong)…, atau daun ampapaga dikunyah dulu dan ditempelkan ke luka…hahaha…

  8. Tapi aku suka pernyataan Amang yang bilang: “…kini sudah diganti dan disempurnakan oleh ‘Roh Kudus’ dan yang untuk memperolehnya saya tak membutuhkan lagi bantuan racikan dan doa dari para imam. Saya bisa memintanya langung (baca: meminta Roh Kudus itu) untuk turun dan mengurapi kehidupan saya dan kehidupan siapa pun yang saya kasihi.”

    Ompungku dan keluargaku adalah orang “kolot” juga. Dan kalau di gereja ompungku disebut sintua. Kalau ompungku yang sudah almarhum itu berdoa mau makan selalu bilang: “…ale Tuhan pasu-pasu ma sipanganon on asa gabe ubat tu pamatang nami…” Gitulah kira-kira (maklum aku kurang fasih bahasa Batak). Dan kalau makan obat dari dokter atau dari siapa pun itu Ompung tidak lupa mendoakannya…..” Ompung adalah tokoh yang selalu jadi panutan buatku.

    Bicara soal minyak urapan, aku juga heran mengapa sebagian dominasi sangat mengkhususkannya..

    Makasih yah, Amang. Ternyata aku ‘ga salah nanya sama Amang.

  9. Pariadji, ia tidak beda dengan Anda. Ia telah keluar dari lubang fundamental dan literal perjamuan kudus dan minyak urapan. Ia memberi pemahaman baru; sama dengan Anda. Salah satu bedanya adalah ia tak punya blog utk menulis tentang Anda dan gereja Anda :-)

    Saya ‘kan tidak menulis tentang orang atau gereja tertentu. Lalu mengapa pula orang harus menulis tentang saya dan gereja saya? :-)

  10. Murid-murid Yesus pun pada waktu diutus oleh Yesus pada waktu memberitakan Injil, merekapun seringkali menggunakan minyak urapan sebagai sarana mengusir setan dan menyembuhkan orang sakit. Buktinya mari kita lihat Mark 6 :12-13 :” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, Mar 6:13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

    Berdasarkan Mark 6:13, maka Yakobus menulis di Yak 5:14 :” Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.

    Kata mengoles dalam bahasa inggrisnya anoint=oles=urapi. Diurapi dengan minyak. Maka minyaknya itu disebut minyak urapan.

    Jadi kalau Banyak Gereja mempraktekkan kesembuhan dengan sarana minyak urapan,berdasarkan ayat ini masih sangat alkitabiah. Tapi harus diingat yang menyembuhkan tetap Tuhan Yesus. Minyak hanya perantara, seperti halnya Paulus, pada waktu pelayanan, orang-orang sakit disembuhkan lewat sapu tangan dan bahkan lewat bayangan Petrus orang-orang juga disembuhkan, dan yang menyembuhkan bukan bayangan dan sapu tangan itu, tetapi Allah Maha Kuasa itu bekerja lewat sapu tangan dan bayangan. Begitu juga halnya, karena Allah Kita Maha Kuasa , maka Dia juga bisa menyembuhkan orang sakit lewat minyak urapan yang kita pakai.

    Kalau ada beberapa gereja yang menjual minyak urapan, itu wajar karena untuk mendapatkan minyak urapan itu perlu uang untuk membelinya. Kalau jemaatnya hanya 10 orang dia pasti kasih gratis, kalau jemaatnya 10.000 orang, ya tentu saja tidak boleh gratis dong.

  11. Pengamatan Bapak tentang minyak urapan itu tidaklah salah. Saya juga mengamati keadaan rohani Orang Kristen Indonesia sudah banyak melenceng terpengaruh oleh ‘mysticism’.
    Dari kecil saya dibesarkan dengan paham karismatik, jadi sangat familiar dengan “Karunia Roh Kudus”, “Kesembuhan Ilahi”, “Pelepasan Roh Jahat”,”Minyak Urapan” tidak ada yang salah. Namun pada prakteknya banyak orang Kristen yang berfungsi seperti dukun. Mengapa?

    Pengalaman spiritual (kalau bisa didefiniskan seperti ini) tidaklah sepenting ‘spirituality’ seseorang.

    Jika saya seorang dokter, sebelum praktek tentu harus melewati namanya sekolah, kuliah, internship, diwisuda. Tanpa latar belakang tersebut, buka praktek tentu saja namanya dukun bukan dokter, atau istilah modern disebut ‘malpractice’.

    Spirituality dibangun dari hubungan pribadi dengan Tuhan dan melalui proses ‘school of life’ yang tidak pendek. Jadi sangat riskan jika seorang yang baru lahir baru atau yang belum memiliki pemahaman yang tepat dari apa yang dilakukannya tapi kemudian mulai mempraktekkannya.

    Pendek kata, membangun hubungan pribadi dengan Tuhan lewat doa dan membaca Firman, mempraktekkan Firman Tuhan, bertahan dalam ujian dan tempaan hidup, jauuuuh lebih penting daripada pengalaman ‘ngeroh’ di atas.

  12. lebih mudah toh kalo jadi orang percaya pak, karena ketika kita diizinkan Tuhan untuk melihat mujizat demi mujizat terjadi baik itu terjadi kepada kita sendiri ataupun kepada orang lain itu artinya ada sesuatu yang Tuhan mau dalam hidup kita. Saya sangat percaya kepada minyak urapan yang dipercikkan atau diolesi bukan saja hanya untuk menyembuhkan tetapi juga untuk membangkitkan orang yang telah meninggal dan bukan itu saja, minyak urapan ini juga Tuhan janjikan untuk memberkati hidup kita, karena wahyu 6: 6 dengan jelas mengatakan : ” secupak gandum sedinar, dua cupak jelai sedinar, tetapi janganlah rusakkan yang ada minyak dan anggurnya”. Itu berbicara Perjamuan Kudus (anggur) dan Minyak Urapan (Minyak), maka setiap kita yang percaya dengan ini dan dengan tidak ragu- ragu maka kita akan menerima janjiNya bahwa walaupun dunia terguncang, kita tidak akan pernah dirusakkan, akan tetapi yang mendoakan minyak tersebut juga adalah seorang martir yang rela menyerahkan nyawanya untuk sesama yang dilakukan Tuhan Yesus dan itu juga telah dilakukan oleh Pdt. Yesaya Pariadji dan staffnya, juga diantaranya Pdt. Josua Tumakaka dan bapa Pariadji sendiri telah diberikan Tuhan bahwa beliau adalah seorang martir, karena Tuhan juga selalu meng”accept” setiap doa beliau. karena itu untuk menjadi percaya bukanlah sesuatu hal yang mahal akan tetapi menjadi sulit jikalau kita tidak bersedia untuk buka hati kita terhadap orang yang di utusNya, namun dibalik percaya ada hal- hal besar yang menunggu untuk memberkati anda. terimakasih Tuhan Yesus memberkati…… Syalom

  13. alexander simanjuntak

    Udah! Nggak usah ribut. Baca aja Wahyu 6:6, yang ada minyak dan anggur nggak akan dirusakkan. Percaya aja, deh…..

  14. alexander simanjuntak

    Gereja Tiberias dan pak Pariadji itu diperintahkan Tuhan Yesus untuk mengembalikan kuasa perjamuan kudus dan minyak urapan. Jadi kalo ada yang protes atau gak percaya, mmendingan loe semua pada doa dan tanya ma Tuhan Yesus. Gak usah bikin-bikin comment yg aneh-enh. Beres, kan? Tuhan Yesus pasti akan jawab doa loe semua. GBU.

  15. Perdebatan yang nggak perlu didebatkan sesama anak-anak Tuhan. Yang penting koreksi diri sendiri, apakah diri saya sudah benar atau belum di hadapan Tuhan…

    Tanpa minyak maupun dengan minyak, yang pasti hanya dengan iman, dan kehendak Tuhan, apapun pasti bisa, wong burung di udara aja dipelihara apalagi kita anak-anaknya. God bless you….

  16. My heart always told me that people are inherently good. Wah, seru nih, ada yang pro dan ada yang kontra .
    Aku dengan pemahamanku yang setengah-setengah mengenai ‘minyak kurap’–eh, minyak urap–tidak mau terlibat dalam polemik tanpa ujung benar dan salah atau pembenaran sesutu yang salah untuk dibenarkan atau sebaliknya. Ataupun ‘memutar’ isi ayat-ayat Alkitab demi kepentingan sendiri .

    None of us knows whose path will lead us to God. Cuma yang saya sayangkan gereja sekarang sudah menjadi ajang jual beli. Sempat mendengar ada pendeta yang ngomong, “Kalau saudara-saudari berminat dengan minyak urap ini selesai ibadah silahkan ditebus di stand kita di depan gereja ”

    Ibadah sudah kehilangan esensinya .

  17. Memang mudah untuk mencela sembari menganggap diri paling benar. Saya percaya minyak urapan karena telah melihat banyak mukjijat terjadi. (Jjika tidak mengalami, memang susah percaya). Selama saya mengikuti kebaktian di gereja TIBERIAS belum pernah mendapati minyak urapan dijual, semua dibagikan gratis. Dan sebelumnya minyak itu didoakan dan dikuduskan sebelum dibagikan atau dioleskan kepada jemaat yang memerlukan. Tidak ada hal-hal yang aneh karena pak Pariadji pun menyatakan semua mukjijat yang terjadi adalah untuk memuliakan nama Tuhan Yesus semata,bukan untuk memuliakan dirinya pribadi.

    Jangan terlalu mengada-ngada memberikan kritikan, jika belum memahami apa sebetulnya yang dilakukan di suatu gereja. Jangan terpecah atau irihati jika suatu gereja lebih sukses dari gereja lainnya. Kita semua satu. Yang membedakan adalah kita percaya atau tidaK terhadap mukjijat dari Tuhan. Peace….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s