Ulang Tahun Ibu

Oleh: Mula Harahap

Ketika di akhir tahun 1972 saya tamat SMA, kehidupan ekonomi keluarga kami sedang berada di titik nadir. Oleh karena itu saya tidak pernah berani membicarakan kepada ayah dan ibu tentang rencana melanjutkan sekolah. Padahal, di dalam hati, sebenarnya saya juga ingin seperti kawan-kawan melanjutkan sekolah di perguruan tinggi di Jakarta, Bandung, Jogja dsb.

Tapi pada akhir tahun itu, secara kebetulan, ulang tahun ompung saya dirayakan secara besar-besaran di Medan oleh anak-anaknya. Seorang namboru saya, yang bermukim di Jakarta, juga pulang ke Medan bersama suami dan anak-anaknya.

Rupanya kelanjutan sekolah saya menjadi pembicaraan antara namboru, amangboru, ayah dan ibu. Namboru menawarkan apakah saya mau ikut ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah dan tinggal bersamanya. Tentu saja tawaran itu saya sambut dengan gembira, karena memang itulah keinginan saya, dan saya tak melihat jalan lain untuk bisa melanjutkan sekolah kecuali ikut dengan keluarga namboru.

Ketika kami hendak berangkat ke pelabuhan Belawan, saya masih ingat bagaimana ibu memeluk saya diam-diam di dapur sambil menangis dan berbisik, “Baik-baiklah kau, Amang. Ikutilah namborumu itu….”

Pada waktu itu tahun ajaran baru dimulai bulan Januari. Oleh karena itu setibanya di Jakarta saya langsung mencari sekolah yang sesuai. Waktu itu ada 2 pilihan saya. Saya ingin kuliah di FISIP UI–karena saya sudah lama bercita-cita ingin menjadi wartawan. Dan saya juga ingin kuliah di IKJ (dahulu LPKJ) karena saya pikir menjadi sutradara filem juga adalah sesuatu yang menarik.

Tapi namboru dan amangboru lebih menginginkan saya kuliah di FISIP UI. Saya mengerti bahwa kata “sinematografi” tentu adalah sesuatu yang di luar jangkauan pemikiran mereka. Dan sebagai seorang anak yang baik dan tak suka macam-macam, saya pun mengikuti test di UI, diterima, dan Januari 1973 mulai kuliah.

Pada bulan-bulan pertama tentu saja saya mengandalkan seluruh kebutuhan biaya saya dari namboru. Sebenarnya namboru tak pernah pelit memberikan apa pun yang saya minta. Setiap kali saya berkata, “Bagilah uang untuk membeli buku, namboru…,” atau “Bagilah ongkosku namboru…” dengan tak banyak cincong dia selalu membuka tasnya. Amangboru pun demikian. Saya memang tak pernah berani meminta uang kepadanya. Dan dia pun–saya pikir karena segan melihat saya–tak pernah memberikan uang secara langsung kepada saya. Tapi setiap hari dia selalu berkata, “Tolong dulu belikan rokok saya, Tulang…” Rokoknya adalah “Triple Five” dan “Gudang Garam Merah”. Anehnya, setiap kali menghisap 2 atau 3 batang dari rokok tersebut dia selalu berkata, “Akh, sudah masuk angin rokok ini…” Lalu dibiarkannya rokok itu tergeletak di meja. Tentu saja dengan senang hati saya “menyikat” rokok yang sudah tidak dihisapnya itu. Begitulah selalu yang terjadi.

Sebagai orang yang menumpang, tentu saja saya sangat tahu diri. Saya selalu terlibat dalam semua “house chores”–terutama dalam mengawasi 5 anak namboru yang sedang di masa remaja.

Beberapa bulan kemudian saya mulai pandai mencari uang. Saya mulai rajin menulis ke majalah anak-anak Si Kuncung dan Kawanku, dan ruang anak-anak harian SinarHarapan dan Kompas. Ketika itu saya tak memiliki mesin ketik. Karena itu saya selalu menumpang meminjam mesin ketik di rumah seorang kawan kuliah di bilangan Cawang Kapling. Amangboru rupanya jatuh hati melihat saya. Dia membawa mesinketik tua dari kantor. Mesin ketik itu sudah patah pegasnya. Karena itu, agar pegasnya bisa berfungsi, saya harus mengikatkan ujung sepotong karet ban dalam mobil di rol mesin ketik tersebut, dan mengikatkan ujung yang satunya lagi di terali jendela.

Karena saya menumpang secara cuma-cuma di rumah namboru, maka saat itu saya selalu memiliki uang yang berlebih di kantong. Sebagai anak yang baru datang dari Medan, saya tidak terlalu mengerti dunia hiburan Jakarta. Saya hanya tahu membeli buku di Gunung Agung, atau buku bekas di sepanjang Jalan Kramat Raya. Sesekali saya pergi menonton secara murah meriah di bioskop Penas yang letaknya tak jauh dari rumah namboru.

Karena Medan baru saja saya tinggalkan, maka tentu saja setiap hari saya selalu teringat akan keadaan ayah, ibu dan adik-adik di Medan yang hidup dengan sangat prihatin.

Suatu hari di awal Agustus saya teringat akan ibu yang sebentar lagi berulang tahun. Di kantong saya ada uang sebesar Rp. 15.000 (waktu itu tarif bus adalah Rp. 20). Sepulang dari kuliah, saya mampir di kantor pos yang ada di Kompleks
IKIP Rawamangun (waktu itu sebagian dari fakultas yang ada di UI juga ada di sana). Saya mengirimkan pos wesel dengan kata-kata, “Selamat ulang tahun, Mak….”

Bukan main senangnya hati saya ketika beberapa minggu kemudian salah seorang adik saya mengirim surat kepada saya yang mengatakan bagaimana besar artinya uang tersebut bagi mereka di Medan. “Dengan uang yang Bang Mula kirim itu bisalah kami makan enak merayakan ulang tahun Mamak….”

Rupanya resi pengiriman pos wesel itu tercecer di rumah dan secara kebetulan terlihat oleh namboru. Dalam suatu percakapan dengan salah seorang namboru saya lainnya yang kebetulan sedang datang dari Medan, secara tak sengaja saya mendengar namboru bercerita tentang pos wesel tersebut, dan betapa bangganya dia melihat saya anak yang tahu diri itu. Dan semakin banggalah saya.

Ungkapan kegembiraan yang dinyatakan oleh adik saya, dan kebanggaan yang dirasakan oleh namboru, tentu saja menjadi motivasi bagi saya untuk selalu prihatin dan ingat akan ibu, ayah dan adik-adik di Medan.

Begitulah, pada tahun berikutnya, menjelang ulang tahun ibu, saya sudah siap-siap untuk kembali mengirimkan hadiah ulang tahun kepadanya. Kebetulan waktu itu saya menerima uang muka sebesar Rp. 20.000 untuk penerbitan sebuah buku kumpulan cerpen saya. Dan saya pun sudah berencana untuk pergi ke kantor pos.

Tapi iblis memang tak pernah tidur. Suatu hari saya diajak oleh kawan-kawan saya keluyuran di bilangan Jalan Blora. Waktu itu daerah tersebut terkenal dengan hiburan malam. Uang yang sudah saya siapkan untuk dikirim sebagai hadiah ulang tahun ibu menjadi terpakai. Memang uang itu tidak sampai terpakai seluruhnya. Waktu itu saya berkata dalam hati, “Akh, besok-lusa akan saya genapi lagi jumlahnya, dan barulah dikirim….”

Tapi kebocoran uang sama saja halnya dengan kebocoran gula atau tepung dalam kantongan. Mula-mula dia akan mengalir sedikit demi sedikit, tapi kemudian makin lama akan semakin deras. Alih-alih bisa digenapi, uang itu menjadi amblas. Sampai bulan Agustus berakhir, dan ulang tahun ibu berlalu, uang tersebut tak kunjung bisa saya kirim. Waktu itu saya diliputi oleh berbagai perasaan: sedih, menyesal, takut, tolol dsb.

Sampai sekarang, kalau saya bermobil melintasi Jembatan Dukuh Atas di Jalan Jenderal Sudirman, saya selalu membuang pandangan dari deretan gedung yang ada di sepanjang Jalan Blora itu. Terutama sebuah gedung yang dulu di atasnya ada tulisan: Lone Star [.]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s