Cara Berpakaian yang Membuat Saya Merasa Nyaman dan Percaya Diri

Oleh: Mula Harahap

Saya selalu merasa nyaman dan percaya diri kalau memakai kemeja berwarna biru. Oleh karena itu, biar dibayar 1 juta rupiah pun, saya tak akan sanggup memakai kemeja warna merah jambu. Apalagi kalau krah dan ujung lengan kemeja itu berwarna lain–misalnya putih.

Sebagian besar dari kemeja saya adalah lengan panjang. Tapi entah kenapa saya tak pernah bisa membiarkan lengan kemeja itu menutupi seluruh tangan. Lengan itu selalu harus saya gulung sampai sebatas siku. Saya baru menurunkan lengan kemeja itu kalau memang situasinya menuntut saya untuk berpenampilan lebih formal.

Saya memang memiliki juga dua atau tiga kemeja lengan pendek. Tapi kemeja itu dulunya memiliki lengan panjang. Biasanya lengan panjang itu dipotong karena bahan kainnya dibutuhkan untuk mengganti bahan kantong dari kemeja yang sama; yang sudah “lecek” atau “retas” karena terlalu sering dimasuki oleh jari tangan.

Disamping memakai kemeja warna biru muda, maka saya juga selalu memakai baju kaus pakai krah warna biru kehitam-hitaman. Saya selalu merasa tidak “pede” kalau harus memakai baju kaus berwarna lain; apalagi yang bergaris-garis horisontal.

Baju kaus pakai krah paling muda ditemukan di “factory oulet”. Karena itu setiap kali ada kesempatan, terutama kalau bepergian ke Bandung, saya selalu menyempatkan diri untuk mencari kaus tersebut. Walaupun harganya di bawah Rp. 50.00, tapi saya selalu membeli satu. Tidak boleh lebih. Dan di situlah letak kepuasannya. Oleh karena itu ketika beberapa bulan lalu baju kaus yang saya beli ketinggalan di bus carteran, bukan main susahnya hati saya. Selama dua hari saya tak nyenyak tidur memikirkan kaus yang hilang itu.

Celana saya selalu harus berwarna hitam kelam. Saya tidak merasa “pede” kalau harus memakai celana berwarna lain–apalagi yang cerah. Mereknya harus “Woods” dan modelnya “basic”. Saya tak pernah bisa memakai celana model “baggy”, apalagi yang di bagian depannya ada lepitan vertikal kiri-kanan. Celana model “baggy”, kalau dipakai duduk, selalu membuat gelembung besar di bagian depan dan di bawah pinggang. Gelembung itu membuat saya terlihat seperti “ompung-ompung”.

Disamping celana model “basic” yang berwarna hitam kelam, maka “celana kebangsaan” saya yang lainnya adalah jins warna biru. Saya memiliki beberapa potong celana jins. Tapi akhir-akhir ini yang paling sering saya pakai gonta-ganti adalah yang mereknya “Carvil”. Dulu celana tersebut saya beli sekaligus di Carrefour ketika sedang ada “cuci gudang”. Harganya Rp. 60.000 sepotong.

Gesper saya terbuat dari kulit, warnanya hitam dan “buckle”-nya model klasik. Saya tidak ingat sudah berapa lama saya memakai gesper tersebut. Tapi yang jelas kulitnya sudah meliuk. Catnya juga sudah pernah mengelupas. Tapi kemudian saya mengecatnya ulang di tukang sepatu.

Saya selalu terkagum-kagum bila melihat lelaki yang berani memakai gesper berwarna kontras bila dibandingkan dengan warna celananya; misalnya gesper putih dengan celana hijau.

Dulu waktu menantu saya masih pacaran dengan puteri saya, dia pernah memberikan saya oleh-oleh gesper merek “Yves Saint Laurent” yang “buckle”-nya model tertutup. Tentu saja sukar sekali bagi saya untuk memakai gesper yang seperti itu. Sesekali kalau pacar puteri saya itu datang bertamu, saya paksakan juga untuk memakai gesper tersebut. Tapi kini, setelah dia menjadi menantu saya, saya sudah tidak perduli lagi dengan gesper tersebut.

Saya suka memakai kaus kaki yang agak tebal, berbahan “100% cotton” dan warnanya gelap. Kaus kaki yang terbuat dari “nylon” selalu membuat kaki saya bau.

Mencari kaus kaki adalah “ritus” yang selalu saya jalani setiap pagi. Sementara jumlahnya memang sangat terbatas, anak lelaki saya masih pula ikut memakai kaus kaki kepunyaan saya. “Kau kan sudah bekerja? Belilah kaus kakimu sendiri. Jangan pakai punya orang,” kata saya kepada anak saya. Dan dia selalu berkata, “Duile, pelit banget…”

Saya tak pernah bisa memakai sepatu model pantofel; apalagi yang tak bertali. Sepatu saya adalah model “casual”, yang ujungnya tumpul, dan memakai tali. Saya memiliki dua pasang sepatu yang modelnya hampir sama. Tapi saya tak pernah bisa adil dalam menggilir kedua pasang sepatu tersebut. Saya lebih suka memakai yang satu, yaitu yang mereknya “Clark”, dan yang sudah bersama saya kemana-mana sejak tahun 2004. Saya selalu merawat sepatu itu dengan baik. Saya takut membuat sepatu itu sakit hati lalu mulai berceloteh menceritakan berbagai rahasia saya yang diketahuinya.

Minyak wangi saya sejak dulu mereknya adalah yang “itu-itu saja”: “Abdulalie”, “Dua Menjangan”, “Ayam Jago” atau “Konifer”. Saya selalu memakainya di sekujur tubuh sehabis mandi. Dalam penciuman orang lain minyak wangi itu mungkin memberikan kesan bahwa saya sedang masuk angin atau sakit perut. Tapi itu saya tak perduli. Dalam penciuman saya “minyak wangi” itu memberikan kesan kepada orang lain bahwa saya adalah orang yang polos, lembut seperti bayi, dan tak berdosa

About these ads

2 responses to “Cara Berpakaian yang Membuat Saya Merasa Nyaman dan Percaya Diri

  1. Saya sangat kecewa baca tulisan Bapak, sebelumnya saya mengira Bapak itu seperti Sean Conery versi kurusnya.

  2. Huahahahaha…. Lucu kali tulisan Amang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s