Mula Harahap

Entries categorized as ‘Agama’

Fenomena Psikis Yang Tak Lazim dan Hal-hal yang Supra-Natural dalam Ritus-ritus Keagamaan

April 5, 2008 · 7 Comments

Oleh: Mula Harahap

Ada aliran-aliran agama (agama apa pun itu) yang ritus-ritusnya membuat jemaat masuk ke dalam suasana emosi tertentu, lalu mengalami fenomena-fenomena psikis yang tak lazim, atau bahkan mengalami hal-hal yang tak bisa (atau belum bisa) dijelaskan dengan nalar dan karenanya juga disebut sebagai hal-hal yang supra-natural.

Kalau kita melihat orang melolong atau menggelepar gelepar di lantai dalam kebaktian sebuah kelompok Kristen di dekat bandara Toronto (yang dikemudian dikenal sebagai Toronto Blessing), atau melihat Bhagavan Sri Sathya Sai Baba memetik uang logam dari udara dan membagikannya kepada jemaatnya, maka semua itu adalah contoh dari ritus aliran-aliran agama yang membuat jemaat masuk ke dalam suasana emosi tertentu, lalu mengalami fenomena-fenomena psikis yang
tak lazim atau–bahkan–mengalami hal-hal yang bersifat supra-natural.

(more…)

Categories: Agama
Tagged: , ,

Sajak Talita, Mujizat Yesus dan Jumat Agung

March 21, 2008 · 5 Comments

Oleh: Mula Harahap

Di sebuah milis kristiani saya menemukan sebuah sajak anak-anak yang bercerita tentang kekewaan hatinya karena doanya tidak dijawab oleh Tuhan. Sajak yang membuat saya berpikir-pikir tentang doa, dan tentang mujizat sebagai jawaban doa itu, bunyinya seperti ini:

hate that i love you so much

oleh: talita luna siagian

aku benci karena sangat mencintaimu
saat kudapati minggu lalu
nilai matematikaku cuma tujuh
sebagai imbal dari semalam peluh

(more…)

Categories: Agama
Tagged: , , , , ,

Doa Untuk Seorang Ibu Yang Anaknya Menderita Autis, Asperger Syndrome, dsb

March 13, 2008 · 7 Comments

Oleh: Mula Harahap

Berbahagialah dia karena cepat dipanggil `mama’. Aku dulu menunggu 5 tahun untuk dipanggil `mama’ oleh anakku. Itu juga setelah terapi 1,5 tahun lamanya. (RH–seorang ibu dari anak penderita asperger syndrome)

Pengakuanmu mengingatkan saya terhadap beberapa orang tua yang juga mengalami pergumulan yang sama.

Pertama, saya teringat kepada Ibu T, sahabat isteri saya. Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu ia menceritakan kepada kami bahwa J, cucu pertamanya, dari anaknya yang pertama, menderita autis. Secara sepintas tidak akan ada orang yang tahu bahwa anak lelaki berambut pirang, yang berumur 2 tahun, dan yang menyerupai anak orang barat itu, menderita sebuah kelainan. Tapi kalau dilihat lebih seksama, barulah kita menyadari bahwa J memang tidak sama dengan anak-anak sebayanya. Ia belum bisa berbicara. Ia tidak bisa menatap mata orang. Ia tidak bisa menanggapi hal yang diminta oleh lawan bicaranya. Perhatiannya selalu
terpusat kepada hal lain yang mungkin lebih menarik hatinya.

(more…)

Categories: Agama
Tagged: , ,

Teologi Butir Jagung

December 1, 2007 · No Comments

Oleh: Mula Harahap

Di meja kerja saya–bersebelahan dengan cangkir yang berisi puplen, pensil, cutter dsb- ada dua botol plastik kecil seperti yang biasa dipakai untuk menyimpan obat. Masing-masing botol plastik itu berisi butiran jagung.

Saya memang sengaja meletakkan kedua botol itu di sana karena butiran-butiran jagung itu mengingatkan saya tentang sesuatu:

Bila hanya dilihat dengan mata, maka antara butiran jagung yang berada di dalam botol yang satu, dengan yang berada di dalam botol yang satunya lagi, sebenarnya tidak ada bedanya. Sama warnanya dan sama bentuknya.

Tapi sebagai orang yang meletakkan butiran jagung itu di sana tentu saja saya tahu perbedaannya. Butiran di dalam botol yang pertama sebenarnya adalah jagung mati. Butiran jagung itu sudah pernah mengalami proses panas yang luarbiasa. (Butiran jagung itu pernah dimasukkan di dalam panci untuk dijadikan pop-corn. Hanya saja, ia tidak jadi pop-corn, tapi tetap berupa butiran yang utuh). Kalau ditanam, butiran jagung itu akan membusuk. Ia tidak akan tumbuh menjadi pohon yang baru.

(more…)

Categories: Agama
Tagged: , ,

Mengenali Suara dan Kehendak Tuhan

December 1, 2007 · 1 Comment

Oleh: Mula Harahap

Di jaman modern ini tidak mudah bagi seseorang untuk mengklaim bahwa ia telah mendengar suara Tuhan. Kalau seseorang mengaku bahwa ia telah mendengar suara Tuhan agar menggorok leher anaknya (sama seperti yang dahulu nyaris dilakukan Abaraham kepada Isak) maka hanya ada dua kemungkinan: Dia akan berurusan dengan dokter jiwa atau dengan polisi.

Kalau seseorang mengaku bahwa ia telah mendengar suara Tuhan agar meledakkan bom dan menghabisi nyawa sejumlah orang kafir (baca: orang yang menentang Tuhan) maka ia akan berurusan dengan Detasemen Anti Teror.

Kalau seseorang mengaku bahwa ia telah mendengar suara Tuhan tentang dunia yang akan segera berakhir, lalu mengumpulkan pengikutnya (termasuk sejumlah anak-anak yang masih dalam usia sekolah) selama berhari-hari di sebuah bangunan, lalu hanya sibuk berdoa, bernyanyi-nyanyi dan menangis, maka ia bisa dikenai tindakan melanggar Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional atau Undang-undang Perlindungan Anak. Syukur kalau dia tidak dianggap “pesong”.

(more…)

Categories: Agama
Tagged: , , ,