Mula Harahap

Entries categorized as ‘Kebudayaan’

Wisata Kuliner

April 21, 2008 · 6 Comments

Oleh: Mula Harahap

Ada 2 acara wisata kuliner TV yang saya senangi. Yang pertama adalah “No Reservation”, dipandu oleh Anthony Bourdain, dan disiarkan di Discovery Chanel. Yang kedua adalah (saya lupa judulnya), dipandu oleh Keith Floyd, dan kalau saya tak salah ingat juga disiarkan di Discovery Channel.

Bagi saya acara itu menjadi menarik karena kita selalu diingatkan bahwa urusan kuliner adalah urusan kebudayaan. Mengenal makanan suatu masyarakat artinya mengenal kebudayaannya.

Dalam acara “No Reservation” kepada kita selalu diperlihatkan bagaimana Anthony Bourdain berinteraksi dengan penduduk setempat, mengobrol tentang berbagai aspek kebudayaan yang menarik hatinya, dan menyantap berbagai makanan yang (biasanya) erat kaitannya dengan aspek kebudayaan yang sedang diperbincangkannya itu.

(more…)

Categories: Kebudayaan
Tagged: , ,

Minat Mahasiswa Terhadap Pancasila Semakin Menurun

March 6, 2008 · 3 Comments

Oleh: Mula Harahap

Jakarta, Kompas - Melemahnya kekuatan Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa juga terjadi kepada kelompok mahasiswa. Kaum muda yang diharapkan menjadi penerus kepemimpinan bangsa ternyata abai dengan Pancasila.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia M Danial Nafis pada penutupan Kongres I GMPI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (3/3).

Mengutip survei yang dilakukan aktivis gerakan nasionalis pada 2006, sebanyak 80 persen mahasiswa memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara. Sebanyak 15,5 persen responden memilih aliran sosialisme dengan berbagai varian sebagai acuan hidup.

”Hanya 4,5 persen responden yang masih memandang Pancasila tetap layak sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara,” katanya.

(more…)

Categories: Kebudayaan
Tagged: , , ,

Kreativitas Humor dan Daya Kenyal Orang Indonesia

January 31, 2008 · 6 Comments

Oleh: Mula Harahap

Humor adalah “katup pengaman” bagi tekanan psikologi yang sedang dialami oleh suatu masyarakat. Karena itulah, pada masyarakat yanghidup di bawah pemerintahan rezim totaliter, humor berkembang dengan subur. Kalau masyarakat itu tidak ditolong oleh humor, maka mereka sudah lama meledak atau gila.

Humor juga adalah “perekat” masyarakat. Dengan saling menertawakan secara spontan, kita sekaligus memperhalus atau membuang tonjolan yang tajam-tajam dalam perbedaan yang terjadi di antara kita, sehingga kita bisa lebih saling mendekat.

Banyak pengamat sosial yang terkagum-kagum melihat “kekenyalan” orang Indonesia. Walau pun kita sudah dihantam oleh berbagai krisis dan bencana, kita tokh tetap saja utuh, waras dan optimis. Prof. Dr.Emil Salim pernah mengatakan, “Dengan krisis seperti yang terjadi di Indonesia ini, Uni Soviet langsung bubar sebagai bangsa dan negara. Tapi kita sungguh luarbiasa. Kita masih tetap utuh…”.

(more…)

Categories: Kebudayaan
Tagged: , ,

Penghormatan Terhadap Simbol-simbol Kenegaraan dan Kebangsaan

January 25, 2008 · 3 Comments

Oleh: Mula Harahap

Saya menghabiskan banyak waktu di depan televisi menyaksikan liputan CNN tentang peristiwa kematian Ronald Reagan di tahun 2004. Saya terkagum-kagum dan bulu roma saya berdiri melihat berbagai simbol dan upacara yang diberikan oleh bangsa dan negara AS terhadap jenazah dan kematian mantan presidennya tersebut.

Begitu Ronald Reagan meninggal dunia, maka bendera di kapal induk yang memakai namanya yaitu USS Ronald Reagan diturunkan dan diterbangkan ke Los Angeles. Bendera tersebut dipakai untuk menutup peti jenazahnya yang disemayamkan di gedung perpustakaan pribadinya. Ribuan penduduk di sekitar Los Angeles datang melayat jenazahnya.

(more…)

Categories: Kebudayaan
Tagged: , ,

Ketika Si Batak Duduk Bersama Orang Lain

December 21, 2007 · 5 Comments

Oleh: Mula Harahap

Ketika nenek moyang saya masih hidup terisolasi di punggung pegunungan Bukit Barisan di pedalam Sumatera Utara sana, maka wajar saja kalau ia hanya mengenal manusia yang memiliki bahasa, sistem kekerabatan, ritus dan hukum-hukum yang sama dengan dirinya. Tapi dengan terbukanya isolasi maka ia pun mulai mengenal unsur-unsur kebudayaan orang lain. Bahkan disebabkan oleh berbagai alasan acapkali pula ia harus keluar dari lingkungan yang selama berabad-abad telah dihuninya bersama nenek moyangnya itu, untuk kemudian hidup di tengah-tengah suatu masyarakat dan budaya yang baru.

Si Manusia Batak tidak harus meninggalkan jati-dirinya yang lama. Tapi kini ia belajar untuk mengenal, menerima dan hidup harmonis dengan orang lain. Sikap yang sama–tentu saja–juga diharapkan datang dari manusia-manusia yang berjumpa dengan Si Manusia Batak tersebut. Dengan demikian terjadilah sintesa baru dalam interaksi antar manusia dan yang pada gilirannya akan semakin menambah harmoni dari masyarakat yang plural itu.

(more…)

Categories: Kebudayaan
Tagged: , , ,