Mula Harahap

Entries categorized as ‘Kehidupan Masyarakat’

Oh, Salon!

December 1, 2007 · 1 Comment

Oleh: Mula Harahap

Pada malam menjelang hari pemberkatan dan pesta pernikahannya, puteri saya menginformasikan kepada saya, bahwa pada jam 02.00 dinihari nanti dia sudah harus berada di salon. Rupanya puteri saya dan calon ibu mertuanya sudah membuat kesepakatan, bahwa puteri saya, isteri saya, calon ibu mertuanya, calon iparnya dan seorang gadis “pandongani” akan didandani di sebuah salon yang sama.

“Apa?” tanya saya, “Jam dua dinihari pergi ke salon? Apakah tidak bisa pergi ke salon jam enam? Tokh acara baru akan dimulai jam sembilan. Kita ini mau berpesta atau cari penyakit?”

“Soalnya yang akan didandani di salon itu bukan hanya kami, Pak,” kata puteri saya. “Banyak orang-orang lain yang akan didandani di sana.”

“Lalu, mengapa pula kalian harus memilih didandani di salon yang ramai seperti itu?”

“Katanya, salon ini terkenal baik di kalangan perempuan-perempuan Batak, Pak,” kata puteri saya lagi.

(more…)

Categories: Kehidupan Masyarakat
Tagged: , , ,

Profesi dan Panggilan

December 1, 2007 · No Comments

Oleh: Mula Harahap

Bila dilihat dari akar katanya “profesi” itu adalah pengakuan kepada publik. Pengakuan seseorang kepada publik tentang keahlian dan kompetensi yang dimilikinya terhadap aspek kehidupan tertentu. (Dan sebaliknya tentu, pengakuan publik terhadap keahlian
dan kompetensi yang dimiliki seseorang itu).

Dalam kehidupan modern ini sewajarnyalah kalau seseorang harus bisa hidup dari keahlian dan kompetensi yang dimilikinya. Sebab hanya dengan demikianlah ia semakin bisa mengembangkan keahlian dan kompetensinya, dan memajukan peradaban.

Profesi (pendeta, arsitek, penulis, dokter, pengacara, guru dsb) bukan sekedar “cari makan” atau “numpang hidup”. Kalau seseorang memiliki suatu keahlian atau kompetensi tertentu, tapi demi untuk “cari makan” atau “numpang hidup” ia terpaksa harus melakukan pekerjaan lain, maka pekerjaan itu tidak bisa disebut sebagai profesinya, dan dia bukan seorang profesional.

(more…)

Categories: Kehidupan Masyarakat
Tagged: , ,

Tentang Memakai “Senjata Yang Satu Itu”

April 16, 2007 · 2 Comments

Oleh: Mula Harahap

Dari sejarah kita belajar bahwa untuk bisa menaklukkan sebuah masyarakat, etnis atau bangsa secara efektif, maka disamping memakai tombak, pedang, pistol atau peluru kendali yang biasa; maka kita juga perlu memakai (tergantung dari bentuknya) tombak, pedang, pistol atau peluru kendali yang “satu itu”.

Orang-orang Spanyol tahu benar akan hal itu. Ketika pada abad ke-15 atau 16 mereka menaklukkan Amerika Tengah dan Selatan, maka “senjata yang satu itu”-lah sebenarnya yang lebih banyak menyalak. Hasilnya kita sama-sama tahu: Sebuah Amerika Tengah dan Selatan yang berbudaya Spanyol, yang selama berabad-abad “pasrah bongkokan” kepada Raja dan Ratu Spanyol, dan yang
lelaki serta perempuannya ganteng-ganteng dan cantik-cantik seperti yang banyak terlihat di telenovella itu

(more…)

Categories: Kehidupan Masyarakat
Tagged: , ,

Patung-patung Gubernur Sutiyoso

April 15, 2007 · 5 Comments

Oleh: Mula Harahap

Gubernur DKI Sutiyoso merencanakan hendak membangun tiga puluh patung pahlawan di Jakarta. Di titik-titik tertentu pada jalan yang memakai nama pahlawan, akan dibangun patung penyandang nama jalan tersebut. (Seukuran patung Pemuda di Bundaran Senayan–Si
Singamangaraja!).

Kata Sutiyoso, patung-patung itu perlu didirikan agar generasi muda tidak melupakan pahlawannya.(Lho, guru-guru kita di SD, SLTP dan SLTA yang rapel gajinya ditunda-tunda itu; apa saja kerja mereka selama ini?)

(more…)

Categories: Kehidupan Masyarakat
Tagged: , ,

Saya dan Lagu Dangdut

April 13, 2007 · 1 Comment

Oleh: Mula Harahap

Saya rasa, ada beberapa faktor yang membuat saya menyenangi sebuah lagu populer seperti dangdut. Faktor yang pertama adalah melodi. Melodinya tentu harus enak terdengar di telinga. Dan karena saya adalah orang kebanyakan, maka melodi itu tak perlu selalu harus berkaitan dengan kaidah seni.

Ukuran “enak” itu memang sukar untuk dirumuskan. Tapi–paling-tidak– melodi itu janganlah rumit-rumit amat, seperti lagu seriosa. Cukuplah ada empat atau lima baris rangkaian nada yang bisa saya nyanyikan sebagai “batang tubuh” lagu tersebut. Lalu empat atau lima
baris rangkaian nada lagi sebagai refrein. Bagaimana pun, saya menyanyi hanya untuk menghibur diri; bukan untuk mendapat nilai tinggi agar lulus ujian, atau mendapat pujian dari kritikus musik.

(more…)

Categories: Kehidupan Masyarakat
Tagged: ,