<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mula Harahap</title>
	<atom:link href="http://mulaharahap.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulaharahap.wordpress.com</link>
	<description>Kumpulan Esai dan Tulisan Kreatif Lainnya</description>
	<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 05:37:32 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Cinta Pertama</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/07/03/cinta-pertama/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/07/03/cinta-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 05:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kehidupan Diri Sendiri]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[cinta pertama]]></category>

		<category><![CDATA[memoar]]></category>

		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap
Saya rasa, cinta pertama saya, atau rasa tertarik dan senang yang luar biasa terhadap perempuan, saya alami ketika saya berumur antara 4 atau 5 tahun. Usia ini saya ingat benar karena waktu itu adik saya yang nomor 2 (anak nomor 3 dalam keluarga) belum lahir.
Cinta pertama saya adalah kepada seorang ibu, tetangga sebelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Saya rasa, cinta pertama saya, atau rasa tertarik dan senang yang luar biasa terhadap perempuan, saya alami ketika saya berumur antara 4 atau 5 tahun. Usia ini saya ingat benar karena waktu itu adik saya yang nomor 2 (anak nomor 3 dalam keluarga) belum lahir.</p>
<p>Cinta pertama saya adalah kepada seorang ibu, tetangga sebelah rumah, ketika kami tinggal di sebuah rumah kontrakan di Lorong Roma, Kampung Sidorame, Medan.</p>
<p>Ibu itu memiliki 2 anak yang sebaya dengan saya dan adik saya. Suaminya seorang tukang kayu. Dan hal ini saya ingat benar, karena suatu hari, ketika anaknya bermain-main di rumah kami, anak itu memecahkan tombol (knob) laci mesin jahit Ibu, lalu oleh bapaknya tombol itu dilem sehingga utuh kembali dan tak meninggalkan bekas pernah pecah samasekali.</p>
<p><span id="more-248"></span></p>
<p>Dari hubungan marga, Ibu memanggil bapak tukang itu sebagai tulang dan memanggil isterinya sebagai nantulang. Karena itu saya memanggil mereka sebagai ompung.</p>
<p>Saya tidak tahu bagaimana persisnya saya jatuh cinta kepada ibu itu. Tapi ada suatu moment dimana&#8211;ketika saya masih kecil&#8211;ibu itu kelihatan begitu indah di mata saya. Dan potret dari moment itu tak pernah bisa hilang dari kepala saya, sampai saya berumur lebih dari 50 tahun seperti sekarang ini:</p>
<p>Suatu pagi subuh, ketika saya terbangun dan duduk di amben pintu dapur menunggui Ibu yang sedang bekerja, saya melihat ibu tetangga itu berjalan meninggalkan rumahnya, menjunjung sebuah keranjang besar dan hilang di kelokan jalan.</p>
<p>Ibu itu sehari-harinya berjualan sayur di Pasar Sentral Medan. Karena pekerjaannya itu, dan juga karena harus mengurusi anak-anaknya setelah pulang dari berjualan, maka tidak setiap hari saya bisa melihat ibu itu. Karena itu setiap kali saya bisa melihatnya, hati saya selalu diliputi rasa senang, dan saya berusaha untuk menatapnya berlama-lama. Saya ingat bahwa ibu itu memiliki sebuah tahi lalat di atas bibirnya.</p>
<p>Suatu hari, entah disebabkan oleh apa, saya mendapat pukulan sapu lidi di kaki dari ayah saya. Hukuman itu saya terima di halaman rumah. Saya ingat, ketika saya sedang menerima hukuman tersebut, ibu itu juga sedang ada di halaman rumahnya. Saya merasa malu sekali kepada diri saya dan tidak suka kepada ayah saya.</p>
<p>Di kemudian hari kami pindah dari rumah kontrakan di Lorong Roma itu ke sebuah rumah kontrakan lain di Jalan Madio, Kampung Sidodadi, Medan. Dengan perpindahan itu tentu saja &#8220;kisah cinta&#8221; saya kepada ibu tetangga itu pun mulai pudar.</p>
<p>Tapi suatu siang ketika sedang bermain-main di pojok jalan di dekat rumah yang baru itu (jalan itu merupakan pelintasan menuju Kampung Sidorame) secara tak sengaja saya bertemu kembali dengan ibu tetangga yang selalu membuat hati saya berbunga-bunga itu. Rupanya ibu itu telah selesai berjualan di pasar dan kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya.</p>
<p>Ibu itu menegur saya, &#8220;Hei, dimana rumah kalian sekarang? Apa kabar mamak?&#8221; Dengan serta-merta saya langsung menunjuk ke satu arah. Seingat saya hanya itulah yang saya lakukan. Saya tidak bisa berkata-kata. Tapi sementara menunjuk ke arah rumah, saya berharap ibu itu<br />
akan mengikuti saya untuk mampir dan bertemu dengan ibu saya. Tapi ibu itu tidak berhenti. Dia terus berjalan. Tentu saja saya merasa kecewa.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, untuk waktu yang cukup lama dan hampir setiap hari, kalau sudah sekitar jam sebelas siang saya sengaja bermain-main di pojok jalan dekat rumah dengan harapan bisa kembali bertemu dengan ibu itu. (Waktu itu saya masih juga belum bersekolah di TK). Tapi saya tidak pernah lagi bertemu dengan ibu yang di atas bibirnya ada tahi lalat itu.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya bercerita-cerita dengan ibu saya (dia berusia 79 tahun dan tinggal di Cibinong) tentang kehidupan di masa lalu. Entah mengapa perasaan di masa kanak-kanak yang pernah saya miliki terhadap ibu tetanggga yang saya panggil dengan ompung itu,<br />
saya ceritakan juga untuk pertama kalinya kepda ibu saya.</p>
<p>Ibu tertawa terkikik-kikik. Lalu katanya, &#8220;Penilaianmu tidak salah. Nantulang itu memang manis dan lembut. Dan di atas bibirnya memang ada sebuah tahi lalat&#8230;.&#8221; Tapi pada ujung pembicaraannya, masih dengan tertawa, Ibu berkata, &#8220;Ee&#8217;he&#8230;.! Tak kusangka sebegitu<br />
geteknya kau. Umur empat tahun sudah tahu melihat mana perempuan yang manis&#8230;.&#8221;</p>
<p>Ketika saya becerita dengan Ibu, kami sama-sama tidak tahu apakah ibu tetangga yang saya panggil ompung dan yang pernah membuat hati saya berdebar-debar itu, masih hidup atau tidak. Tapi bulan Januari yang lalu, ketika saya pulang ke Medan, saya bercerita-cerita dengan seorang namboru saya.</p>
<p>Seperti biasanya kalau bercerita dengan sanak-saudara, pembicaraan akan ngalor-ngidul kesana-kemari. Tiba-tiba&#8211;entah dalam kaitan apa&#8211; Namboru berkata, &#8220;Kalian masih ingat Nantulang tetangga kalian di Lorong Roma dulu? Aku berjumpa dengan dia di sebuah pesta. Dia masih<br />
hidup dan dia bertanya dimana mamak-mu sekarang&#8230;.&#8221;</p>
<p>Kepada Namboru saya tidak menceritakan perasaan yang pernah saya miliki kepada perempuan yang dipanggilnya nantulang itu. Saya hanya diam-diam saja. Tapi di dalam hati saya tentu saja masih ada juga sebersit keinginan, kalaulah saya boleh melihat ibu itu kembali.</p>
<p>Tentu saja keinginan itu bukan lagi didasari oleh rasa senang seperti dulu (dan itu saya tahu pasti), tapi hanya oleh rasa ingin tahu. Saya ingin tahu bagaimana rasanya bertemu dengan seorang ompung-ompung yang kini mungkin sudah berusia menjelang 80 tahun, tapi yang 50<br />
tahun lalu pernah membuat saya&#8211;seorang anak lelaki kecil yang masih ingusan&#8211;selalu merasa &#8220;excited&#8221; setiap kali melihat sosoknynya, dan yang juga membuat saya jatuh cinta dengan &#8220;bertepuk sebelah tangan&#8221; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulaharahap.wordpress.com/248/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulaharahap.wordpress.com/248/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&blog=962871&post=248&subd=mulaharahap&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/07/03/cinta-pertama/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mulaharahap-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menakar Rasionalitas Bangsa dan Skandal Tanjung Kodok</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/07/menakar-rasionalitas-bangsa-dan-skandal-tanjung-kodok/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/07/menakar-rasionalitas-bangsa-dan-skandal-tanjung-kodok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 05:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Media dan Komunikasi]]></category>

		<category><![CDATA[gerhana matahari total]]></category>

		<category><![CDATA[harmoko]]></category>

		<category><![CDATA[iptek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap
Tahun 1983 terjadi gerhana matahari total  di Indonesia. Mungkin disebabkan oleh panjangnya durasi waktu dan luasnya wilayah yang akan mengalami gerhana, maka sejak  jauh hari peristiwa tersebut telah menjadi perhatian dunia internasional. Di Indonesia pun telah disusun berbagai rencana untuk menghadapi peristiwa alam yang jarang terjadi tersebut.
Rupanya peristiwa itu juga dibicarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Tahun 1983 terjadi gerhana matahari total  di Indonesia. Mungkin disebabkan oleh panjangnya durasi waktu dan luasnya wilayah yang akan mengalami gerhana, maka sejak  jauh hari peristiwa tersebut telah menjadi perhatian dunia internasional. Di Indonesia pun telah disusun berbagai rencana untuk menghadapi peristiwa alam yang jarang terjadi tersebut.</p>
<p>Rupanya peristiwa itu juga dibicarakan oleh Menteri Penerangan Harmoko (waktu itu dia baru beberapa bulan menjadi   menteri) dengan Presiden Suharto. Seperti biasa, sehabis pertemuan, Menpen Harmoko menteri keterangan kepada wartawan dan dimulai dengan kalimatnya yang khas itu, &#8220;Bapak Presiden memberi petunjuk&#8230;.&#8221;</p>
<p>Menpen Harmoko mengatakan bahwa Presiden meminta rakyat Indonesia  agar pada saat gerhana nanti tinggal saja di dalam rumah. Pada waktu itu Indonesia berada dalam pemerintahan rezim totaliter, karena itu tentu saja tidak ada yang berani mempertanyakan apa alasan, atau apa  yang ada di benak Presiden Suharto ketika ia mengeluarkan petunjuk yang seperti itu.  Ada yang mengatakan bahwa Presiden Suharto kurang mendapat informasi tentang apa sebenarnya gerhana matahari tersebut, karena itu ia menyikapinya dengan ketakutan yang berlebihan. </p>
<p>(Di kemudian hari Harmoko mengatakan bahwa Presiden menyuruh rakyat untuk mengurung diri sebenarnya demi untuk melindungi kesehatan mata rakyat, yaitu agar jangan terlalu lama memandang proses gerhana tersebut dengan mata telanjang.  Tapi kalau memang demikian duduk perkaranya, mengapa pula pada saat konferensi pers itu Harmoko&#8211;sebagai Menteri Penerangan&#8211;tidak memberi penjelasan yang lebih jauh tentang perintah “boss”-nya itu? Berarti dia juga tidak tahu apa sebenarnya gerhana matahari itu).</p>
<p><span id="more-246"></span></p>
<p>Karena kita hidup di bawah pemerintahan  rezim otoriter, maka tentu saja &#8220;petunjuk presiden&#8221; itu dilaksanakan tanpa tedengn aling-aling. Dan sebagaimana biasanya, maka pada level pemerintahan yang lebih rendah perintah itu ditafsirkan secara lebih “overacting”. Para camat, kapolres dan danramil dimana-mana mulai sibuk mengamankan rakyat agar tidak keluar pada saat terjadinya gerhana total nanti. Dan sebagaimana biasanya juga, maka di kalangan rakyat mulailah berkembang  sikap, &#8220;Pokoknya, apa pun alasannya,  ikuti sajalah perintah itu.  Daripada nanti dituduh sebagai PKI?&#8221;</p>
<p>Jadi begitulah, pada hari terjadinya gerhana matahari total tersebut, kota-kota dan desa-desa Indonesia tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Semua penduduk mengurung dirinya di rumah.</p>
<p>Saya masih ingat, atas fenomena rakyat yang &#8220;ngumpet&#8221;  itu,  maka ada sebuah ulasan di majalah internasional  ilmu pengetahuan &#8220;Discover&#8221; yang mengatakan kira-kira begini: &#8220;Adalah sebuah ironi dan sungguh merupakan sebuah hal yang menyedihkan. Di saat komunitas ilmuwan internasional berbondong-bondong datang ke Indonesia&#8211;terutama ke Tanjung Kodok, Tuban&#8211;dan membawa berbagai peralatan untuk menyaksikan proses gerhana tersebut, maka Pemerintah Indonesia menyuruh rakyatnya untuk menjauh dan bersembunyi di kolong tempat tidur&#8230;.&#8221; [.]</p>
<p>Harian KOMPAS, Sabtu 7 Juni 2008:</p>
<p><strong>Menakar Rasionalitas Bangsa</strong></p>
<p>Oleh Mulyanto</p>
<p>Pro-kontra soal blue energy berlanjut. Ketidakyakinan pakar energi pada umumnya adalah soal ”air” yang diklaim sebagai ”bahan dasar” energi ramah lingkungan tersebut. Belum lagi soal kesetimbangan energi (energy balance) serta ”biaya” karena diklaim membutuhkan energi listrik (PLN) yang cukup besar saat proses produksinya.</p>
<p>Namun, yang lebih menarik menurut penulis adalah fakta bahwa ada orang dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang aktif mempromosikan sumber energi kontroversial ini. Bahkan, ada rencana untuk mengambil tempat produksi di dekat Cikeas, kediaman pribadi presiden. Karena itu, tak dapat dihindarkan kesan bahwa SBY mendukung konsep blue energy ini.<br />
Masalahnya adalah di mana rasionalitas bangsa ini kalau presiden mempromosikan hasil iptek yang belum teruji kesahihannya, sementara lembaga riset iptek pemerintah banyak yang menganggur tak berdaya?</p>
<p><em>Bukan hal baru</em></p>
<p>Kejadian seperti itu sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebelumnya dalam sidang kabinet pernah dipromosikan pupuk jenis baru yang disebut Nutrisi Saputra. Sejak itu pupuk yang katanya dapat menyuburkan tanaman dengan cepat dan meningkatkan produktivitas padi secara spektakuler itu telah menyebar di Lampung, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Padahal, produk tersebut belum mendapat izin dari lembaga yang berwenang.</p>
<p>Setelah diteliti Balitbang Departemen Pertanian, ternyata tidak ditemui keunggulan apa pun dari nutrisi tanaman tersebut, bahkan dalam jangka panjang pupuk kontroversial ini dapat mengeraskan dan merusak tanah. Bisa dibayangkan bagaimana kecewa dan menderitanya para petani kita kalau harus tertipu oleh kepalsuan teknologi ini. Namun, beruntung pemerintah sigap menangani.</p>
<p>Pertanyaannya, mengapa kita begitu antusias dengan penemuan iptek yang kontroversial, yang belum diuji melalui prosedur baku verifikasi dan validasi ilmiah? Bahkan, sampai melibatkan lembaga kepresidenan?</p>
<p>Mungkin ini soal histeria. Ketika impitan impor beras dan rendahnya produktivitas pertanian kita menjadi hantu yang membayangi setiap hari atau melonjaknya harga BBM yang terus menjulang ke langit yang nyaris membuat kita kehilangan harapan, datangnya Sang Ratu Adil berupa teknologi Nutrisi Saputra atau blue energy adalah histeria yang didamba. Penemuan yang fantastis dan sensasional yang memicu histeria itu telah melumpuhkan rasionalitas kita sebagai bangsa. Kalau lembaga kepresidenan terciprat citra buruk, itu bisa dimaknai sebagai risiko politik dalam rangka mencari solusi tuntas persoalan bangsa. Ini pun bukan khas gaya kepemimpinan SBY saja.</p>
<p>Saat Megawati menjadi presiden, bahkan Menteri Agama yang dikenal sangat alim pernah terjerembap lumpur irasionalitas dan mau-maunya menggali cagar budaya Istana Batu Tulis, Bogor, agar menemukan harta karun untuk membayar utang-utang negara. Jelas itu bukan cuma di luar tugas pokok Departemen Agama, tetapi juga di luar kompetensi dan rasionalitas sang menteri. Akan tetapi, toh tindakan yang didasarkan mimpi, yang menggemparkan jagat nasional, itu dilakoni meski hasilnya nihil dan menuai rasa malu.</p>
<p>AS Hikam, yang menjadi Menneg Ristek di bawah pemerintahan Gus Dur, sebelumnya dengan berani mempromosikan teknologi jin untuk membangkitkan energi dan bahkan berminat mengembangkan penelitian ilmu suwuk. Praktis para ilmuwan dan teknolog yang masih rasional memprotes Menneg Ristek yang ahli sastra itu. Bayangkan, level kementerian ristek, sebagai benteng ilmu pengetahuan dan rasionalitas bangsa, saja sudah bingung membedakan antara alam gaib dan alam empiris.</p>
<p><em>Apa yang salah</em></p>
<p>Dulu, tahun 1970-an, Buya Hamka mati-matian menentang untuk memercayai, ada bayi dalam kandungan yang dapat bicara. Beliau rela berhadap-hadapan dengan para ulama yang pada waktu itu bersikeras percaya, bahkan menganggap itu sebagai karomah atau mukjizat. Apa lacur, ketika dibuktikan dan digeledah, ternyata ibu yang mengandung itu menyembunyikan tape recorder. Yang bicara bukan bayi dalam kandungan si calon ibu, tetapi tape recorder itu. Terpaksa para ulama menanggung malu. Padahal, mereka paling tahu adanya takdir kauniyyah (hukum alam) di samping takdir ghaibiyyah (hukum gaib).</p>
<p>Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, tingginya tingkat kemiskinan, atau secara umum rendahnya PDB per kapita, yang merupakan ciri negara berkembang, adalah biang keladi irasionalitas masyarakat. Meski reformasi sudah menginjak 10 tahun, nyatanya eforia politik belum menghasilkan kesejahteraan. Kebebasan tidak serta-merta menyejahterakan. Histeria, mimpi, Sang Ratu Adil adalah energi sekaligus hiburan yang membuat masyarakat miskin mampu bertahan untuk hidup dan menunggu. Sementara rasionalitas adalah barang mewah para elite yang duduk dalam singgasana modernitas.</p>
<p>Karena itu, kalau kita bangga akan Borobudur yang megah menjulang atau si Gatot Kaca N-250 buatan 100 persen putra-putri pertiwi yang terbang gagah memutari angkasa, rasa kagum itu bukanlah sekadar pada wujud fisik karya itu, tetapi karena di dalamnya tegak rasionalitas bangsa. Itulah sebabnya kita merana menyaksikan PT Dirgantara Indonesia limbung kehilangan kendali, Indosat dijual kepada pihak asing, atau PT Krakatau Steel yang akan diprivatisasi melalui mitra asing strategis, sebagaimana kita mengelus dada meratapi ratusan doktor di Puspiptek, Serpong, yang terpaksa ”ngamen” karena lab mereka beringsut tua dan dana riset yang tidak memadai.</p>
<p>Padahal, Mbah Roso, Ki Djoko Bodo, atau Mama Lauren yang menjual ramalan nasib melalui teknologi canggih SMS dan mengiklankan irasionalitas melalui TV makin berkibar bersama sinetron alam gaib dan misteri. Lalu, masyarakat menolak secara paranoid PLTN di Muria karena takut lahan mereka ditenggelamkan lumpur panas seperti di Sidoarjo.</p>
<p>Tampaknya alam bawah sadar bangsa ini yang menjelma dalam histeria publik adalah irasionalitas itu. Fenomena blue energy, Nutrisi Saputra, dan Batu Tulis adalah alat sederhana kita untuk menakar rasionalitas bangsa menghadapi milenium III globalisasi yang ketat persaingan dan ledakan kreativitas ide rasional.</p>
<p>Sejatinya, seratus tahun Kebangkitan Nasional tampaknya belum cukup bagi kita untuk bebas dari belenggu irasionalitas ini. Kita butuh energi yang lebih besar lagi dari sekadar ”reformasi” untuk bangkit menjadi bangsa yang rasional dan bermartabat. Merdeka!</p>
<p><em>Mulyanto Peneliti di Institute for Science and Technology Studies (Istecs); Penulis Buku IPTEK Nasional Pasca Habibie</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulaharahap.wordpress.com/246/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulaharahap.wordpress.com/246/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&blog=962871&post=246&subd=mulaharahap&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/07/menakar-rasionalitas-bangsa-dan-skandal-tanjung-kodok/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mulaharahap-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ode Untuk Ibu dan Bapak Guru di SD dan SMP</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/ode-untuk-ibu-dan-bapak-guru-di-sd-dan-smp/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/ode-untuk-ibu-dan-bapak-guru-di-sd-dan-smp/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 04:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kehidupan Diri Sendiri]]></category>

		<category><![CDATA[kenangan masa kecil]]></category>

		<category><![CDATA[kisah keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[memoar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap
Tiga ratus sampai empat ratus anak lelaki dan perempuan berbaris di halaman sekolah yang ditaburi cangkang kelapa sawit. Kepala sekolah atau guru olahraga berdiri di depan&#8211;di atas sebuah bangku&#8211;memberi aba-aba seperti dirigen. Lalu anak lelaki yang kumisnya mulai tumbuh dan suaranya serak dan anak perempuan yang mulai mendapatkan haidnya yang pertama itu pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Tiga ratus sampai empat ratus anak lelaki dan perempuan berbaris di halaman sekolah yang ditaburi cangkang kelapa sawit. Kepala sekolah atau guru olahraga berdiri di depan&#8211;di atas sebuah bangku&#8211;memberi aba-aba seperti dirigen. Lalu anak lelaki yang kumisnya mulai tumbuh dan suaranya serak dan anak perempuan yang mulai mendapatkan haidnya yang pertama itu pun menyanyilah,dengan terpaksa.</p>
<p>&#8220;Immanuel, Immanuel nama sekolah kita. Immanuel, Immanuel Tuhan beserta kita. Rajin belajar sungguh bekerja. Tujuan kita paling utama&#8230;.&#8221; Itulah lagu mars kami ketika masih di SLTP&#8211;empat puluh tahun yang lalu.</p>
<p>Tidak terasa waktu berlalu. Kini putera-puteri saya pun telah tamapt perguruan tinggi. Tapi berbagai peristiwa, guru dan teman-teman selama di SLTP dahulu, masih terbayang jelas di mata saya.</p>
<p><span id="more-245"></span></p>
<p>Saya masih ingat bagaimana rupa bapak kepala sekolah di masa itu. Namanya Pak Simanjuntak. Tapi kami menyebutnya Pak Napoleon. Sebutan itu sebenarnya bukan ciptaan kami sendiri, tapi kami warisi dari orangtua kami. Pada zaman penjajahan dahulu, ia sudah mengajar di HIS. Dan karena posturnya yang pendek, dan kegemarannya memakai celana ketat, maka oleh murid-muridnya di masa itu ia dipanggil Pak Napoleon. Saya rasa ia juga menyenangi sebutan itu. Beberapa tahun yang lalu, ia meninggal dunia di Jakarta dalam usia yang sangat uzur. Saya membaca iklan kematiannya di harian Kompas. Dan di bawah namanya, anak-cucunya menerakan sebutan &#8220;Guru Napoleon&#8221;.</p>
<p>Pak Napoleon bukan guru seni suara. Ia adalah kepala sekolah dan bidangnya adalah ilmu pasti. Tapi disamping mengajar lagu mars sekolah, saya ingat, ia juga mengajar kami menyanyi bersahut-sahutan, seolah-olah kami&#8211;semua anak SLTP Immanuel&#8211;adalah instrumen musik dari sebuah orkestra. Kami dibagi dalam beberapa kelompok dan disuruh berdiri di siang bolong di halaman sekolah. Lalu mulailah anak-anak perempuan, yang suaranya tinggi, bernyanyi, &#8220;The<br />
violin is singing&#8230;like lovely ringing&#8230;&#8221;. Kemudian kelompok yang lain akan menimpali, &#8220;The clarinet, the clarinet, make doodle-doodle-doodle dumb&#8230;&#8221;. Lalu anak-anak lelaki yang sudah mulai belajar merokok dan suaranya berat menimpali lagi, &#8220;The horn, the horn&#8230;awake you at mor&#8230;ning.&#8221;</p>
<p>Anak-anak pada masa kami memang senang memberikan sebutan kepada guru-guru tertentu&#8211;terutama guru-guru yang &#8220;extraordinary&#8221;.</p>
<p>Kami memiliki Bapak Simanungkalit, guru aljabar dan ilmu pasti. Pada masa itu, ia sudah relatif tua. Dan sebagaimana biasanya guru-guru bekas jaman penjajahan Belanda; Bapak Simanungkalit juga terkenal tegas dalam menegakkan disiplin. Tangannya gampang melayang,<br />
terutama terhadap anak laki-laki yang selalu lupa akan rumus atau dalil aljabar atau ilmu ukur. Saya rasa, anak lelaki yang tak pernah merasakan tangannya hanyalah teman saya Allan Pattikawa. Allan Pattikawa memang selalu menguasai mata pelajaran yang diajarkan<br />
oleh Pak Simanungkalit. Tapi, waktu itu, saya rasa alasannya untuk tidak memukul Allan lebih karena orangtua teman saya tersebut adalah koleganya dalam regu bridge Sumatera Utara.</p>
<p>Karena suatu penyakit, kulit Pak Simanungkalit menderita bercak-bercak putih yang lebar. Oleh<br />
anak-anak pada masa itu ia dijuluki &#8220;Si Belang&#8221; atau &#8220;Si Macan&#8221;. Tentu saja sebutan ini tak pernah didengar oleh Pak Simanungkalit. Teman saya Johny Siregar, atau Si Ompung, pernah memanggil, &#8220;Manungkalit&#8230;&#8221; Dan gara-gara itu saja, Si Johny sudah mendapat hantaman<br />
babak-belur. Tapi bagaimana pun, Pak Simanungkalit memang guru yang baik. Sampai sekarang saya tidak lupa ajarannya tentang persamaan kwadrat. &#8220;A tambah be kali a kurang be, sama dengan a kwadrat kurang dua abe tambah be kwadrat. Hapal anak, hapal anak&#8230;.&#8221; Dan, kalau ada anak yang tidak hafal, terutama anak perempuan, maka ia akan berkata marah, &#8220;Entok kau,<br />
entok kau&#8230;.&#8221;</p>
<p>Ada lagi guru kami bernama Bapak A.T. Sibuea. Ia mengajar ilmu bumi. Suaranya sengau dan postur tubuhnya luarbiasa kecil. Anak-anak di masa itu menjulukinya &#8220;Pak Semekot&#8221;; singkatan dari &#8220;semeter kotor&#8221;. Ketika saya baru tiba di Jakarta, tahun tujuh puluh tiga, saya mendapat kabar bahwa Bapak A.T Sibuea meninggal dunia. Saya merasa sedih, karena belakangan,<br />
setelah berkenalan dengan ibu saya dan ternyata sama-sama dibesarkan di Laguboti, ia menjadi baik kepada saya.</p>
<p>Guru lain yang juga tak mudah untuk saya lupakan ialah Bapak Nadapdap. Oleh anak-anak ia disebut &#8220;En De&#8221;, sesuai dengan singkatan namanya pada daftar pelajaran. Bapak En De mengajar administrasi. Wajahnya selalu &#8220;sumringah&#8221; dan tak pernah marah. Dan seperti biasanya<br />
tabiat anak-anak, guru yang sukar marah cenderung menjadi bahan guyonan. Tapi saya tidak pernah ikut-ikutan untuk mengganggu Bapak En De. Saya selalu mendapat nilai baik dalam mata pelajarannya. Saya tidak tahu mengapa saya diberi nilai baik; padahal acapkali saya tidak pernah menghapal apa yang diajarkannya. Belakangan baru saya tahu, bahwa saya mendapat nilai baik, karena satu pertanyaannya pada kertas ulangan sering saya jawab sampai satu atau dua<br />
halaman. Ternyata Bapak En De senang dengan &#8220;bualan&#8221; saya.</p>
<p>Sampai usia seperti sekarang ini saya masih suka melafalkan lagu &#8220;Mr. Johnson&#8221;, &#8220;Old MacDonald Has A Farm&#8221; atau &#8220;Twinkle-twinkle Little Star&#8221; dalam bahasa Inggeris dengan aksen Batak. Inilah yang saya pelajari dari Bapak Silitonga. Ia mengajar agama dan bahasa Inggeris. Seperti halnya Bapak Nadapdap, Bapak Silitonga juga tidak pernah marah. Ia terus saja mengajar walau pun kelas sudah di ambang anarki. Pada masa itu, di dalam hati, saya sering menilai sebenarnya bapak yang satu ini lebih tepat menjadi pendeta ketimbang menjadi guru. Anak-anak memberi<br />
sebutan &#8220;Si Lutung&#8221; kepada guru yang satu ini. Saya tidak tahu, mengapa ia mendapat sebutan itu. Wajahnya memang tidak tampan; tapi tidak juga terlalu jelek. Bahkan, di mata saya waktu itu, ia mengesankan Abraham Lincoln. Saya rasa, sebutan itu hanya derivatif dari kata Silitonga. Hal lain yang tidak saya lupakan dari guru yang satu ini ialah, bahwa ia selalu menaruh<br />
perhatian yang lebih terhadap teman sekelas saya Endang Sujarti. Apapun yang ditanyakannya kepada seisi kelas, selalu lebih dahulu dialamatkan kepada Endang.</p>
<p>Guru-guru perempuan tentu saja mempunyai tempat tersendiri di hati kami&#8211;para lelaki remaja yang sedang di masa puber.</p>
<p>Ada seorang guru&#8211;saya lupa namanya&#8211;yang mengajar Kesejahteraan Keluarga. Tubuhnya mungil dan wajahnya lumayan cantik. Kehadirannya di kelas selalu membuat &#8220;chemical&#8221; kami mendidih. Ia selalu diganggu oleh anak-anak lelaki yang sudah tidak lucu karena bulu kakinya yang mulai lebat itu. Pernah di suatu kelas, ibu yang cantik ini sampai menangis tersedu-sedu<br />
karena tidak tahan mendapat &#8220;goyangan&#8221;.</p>
<p>Guru perempuan lainnya yang juga masih saya ingat ialah Ibu Dimen Tampubolon. (Sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan prosen guru kami memang orang Batak!). Ibu Dimen mengajar Civic atau Kewarganegaraan. Pengajarannya tidak terlalu mengesankan saya, karena ia hanya menguraikan apa yang sudah ada di buku. Kadang-kadang, kalau bioritmenya lagi menurun, ia hanya menyalin ulang apa yang ada di buku ke papan tulis dan kami diminta untuk menyalinnya lagi. Saya ingat, suatu kali, pada jam istirahat, kami sedang duduk-duduk pada tembok jembatan sekolah yang mengarah ke jalan dekat Hotel Polonia. (Saya lupa nama jalan itu). Ibu Dimen membentak dan menyuruh kami pergi dari situ. Tentu saja kami bersikeras untuk<br />
tetap di sana, karena saat itu adalah jam istirahat dan tidak pernah ada larangan untuk berada di sana. Sambil bersungut-sungut Ibu Dimen menawar becak. Lalu ia mencoba naik ke atas becak sambil menutupi bagian belakang roknya dengan tasnya. Dan ketika itu barulah kami mengerti, mengapa &#8220;out of the blue sky&#8221;, Ibu Dimen menyuruh kami bubar dari sana&#8230;&#8230;.</p>
<p>Semasa di SLTP saya juga terkesan dengan seorang guru olahraga. Saya masih ingat, hari pertama ia mengajar di kelas kami, ia memperkenalkan dirinya demikian: &#8220;Nama saya Uli Godang Sihombing. Saya adalah juara ketiga dalam lari sekian ribu meter pada Pekan Olahraga Wilayah se-Sumatera yang baru lalu&#8230;&#8221;</p>
<p>Sebagaimana halnya olahragawan, Bapak Uli Godang Sihombing memiliki kulit yang rada merah, pori-pori yang besar dan otot-otot yang besar. Suatu hari, guru baru itu datang mengajar di kelas kami&#8211;Kelas IIA. Entah &#8220;setan&#8221; apa yang membisiki, tiba-tiba teman saya Abraham Lumy mencoba mengganggu Uli Godang.</p>
<p>&#8220;Besar kali, akh! Merah kali, akh! Tegap kali, akh!&#8221; kata Abraham berulang-ulang dan dengan suara yang sengaja dikeraskan. Bapak Uli Godang hanya diam saja dan berjalan mengitari bangku-bangku kami dengan kedua tangan bersilang di belakang. Abraham Lumy semakin menjadi- jadi, &#8220;Besar kali, akh! Merah kali, akh! Tegap kali, akh!&#8221;</p>
<p>Mungkin ia hanya ingin melucu. Tapi tiba-tiba Uli Godang berbalik dan memberinya pukulan-pukulan &#8220;hook&#8221; dan &#8220;upper-cut&#8221;. Abraham hanya bisa merunduk dan kami hanya bisa melongo. &#8220;Jangan mencoba-coba saya lagi, ya?&#8221; ujarnya tegas. Dan dengan peristiwa itu ia<br />
sekaligus mereposisi dirinya sebagai guru yang perlu diperhitungkan di seantero Immanuel. Di kemudian hari, Abraham Lumy yang atletis itu ternyata menjadi salah seorang murid yang selalu mendapat nilai baik dalam mata pelajaran Uli Godang.</p>
<p>Kami mempunyai guru ilmu alam bernama &#8220;Bapak Bolang&#8221;. Tentu saja guru yang satu ini bukan orang Manado dan tidak ada hubungan keluarga dengan Boy Bolang. Nama guru yang satu ini adalah B. Simangunsong. Mula-mula, sesuai dengan inisial namanya di daftar guru, ia dipanggil Bapak &#8220;Be&#8221;. Tapi, entah bagaimana, di kemudian hari ia dipanggil &#8220;Bapak Bolang&#8221;. Matanya<br />
memang selalu melotot. Dan terjemahan &#8220;melotot&#8221; dalam bahasa Batak adalah &#8220;bollang&#8221;.</p>
<p>Guru lain yang berkesan kepada saya semasa di SLTP adalah Bapak &#8220;EnGe&#8221;. Marganya Nainggolan. Dan didaftar guru ia diberi inisial &#8220;NG&#8221;.</p>
<p>Bapak &#8220;EnGe&#8221; mengajar sejarah. Saya rasa, kalau mengikuti kriteria ideal, ia adalah guru sejarah yang baik. Baginya, sejarah adalah cerita atau &#8220;reason&#8221; di balik sebuah peristiwa yang memberi dampak kepada kehidupan masakini. Sejarah bukanlah melulu deretan tanggal atau tahun untuk dihafal!</p>
<p>Dari menit pertama hingga menit keempatpuluh, mata pelajaran Bapak &#8220;EnGe&#8221; selalu diisi dengan bercerita. Ia bercerita tentang apa saja. Tentang Budi Utomo, Serikat Islam, Hammurabi atau Mohenjo Daro. Saya rasa, kalau sekarang saya menggandrungi sejarah, maka hal itu tidak lepas dari peranan Bapak &#8220;EnGe&#8221;.</p>
<p>Seperti halnya Bapak Nadapdap dan Bapak Silitonga, Bapak &#8220;EnGe&#8221; juga tidak pernah marah. Ia hanya menyeringai saja; walau pun kelas sudah diambang &#8220;chaos&#8221;. Tapi suatu ketika, entah mengapa, Bapak &#8220;EnGe&#8221; lepas kendali. Di sebuah kelas, ia menghajar seorang anak hingga anak itu menderita kerusakan di ginjal atau lever. Tentu saja orangtua si anak mengajukan protes, dan Bapak &#8220;EnGe&#8221; harus mengalami hukuman skorsing selama tiga bulan! Saya kasihan melihat Bapak &#8220;EnGe&#8221;.</p>
<p>Itulah beberapa kenangan mengenai ibu dan bapak guru semasa di SLTP. Walau pun mungkin ada hal-hal yang kurang mengenakkan dalam catatan yang saya utarakan; tapi secara keseluruhan saya menilai mereka semua sebagai guru-guru yang jujur dan penuh dedikasi.</p>
<p>Pada waktu itu, guru-guru datang dan pergi mengajar hanya dengan mengendarai sepeda. Dan sepeda-sepeda mereka, yang umumnya sudah tua dan penuh karat itu, diparkir berderet-deret di belakang kantor sekolah, di sebuah pojok yang di dekatnya kini telah berdiri Hotel Polonia. Pemandangan tersebut sangat kontras bila kita melihat mobil Mercedes, Impala dan Landrover yang mengantar-jemput anak-anak. Tapi, walau pun kehidupan mereka sangat bersahaja, mereka tidak pernah kehilangan kewibawaannya di mata kami para anak didik. Semasa di SLTP, saya tidak pernah mendengar ada guru yang menjual buku atau menyelenggarakan &#8220;private<br />
lesson&#8221; kepada anak didiknya sendiri.</p>
<p>Guru-guru semasa saya di SD dan SLTP adalah guru-guru yang penuh integritas dan sangat menghargai profesinya. Dan dalam kaitan dengan integritas dan profesionalisme ini, saya teringat pula akan kisah guru kepala sekolah kami semasa di SD, yaitu Bapak &#8220;Meneer&#8221; Sibuea. Guru kawakan yang rambutnya sudah memutih ini selalu memakai kemeja lengan pendek dan berdasi.</p>
<p>Biasanya, beberapa hari menjelang pembagian rapor, sekolah menyelenggarakan pertemuan antara orangtua murid dengan masing-masing guru kelas. Waktu itu ada seorang teman sekolah kami yang orangtuanya menjabat kedudukan panglima sebuah angkatan. Pada hari pertemuan orangtua murid dengan guru, mungkin karena kesibukan, Bapak dan Ibu Panglima hanya mengutus ajudannya untuk mewakili mereka ke sekolah.</p>
<p>Dan Bapak &#8220;Meneer&#8221; Sibuea, yang mengetahui bahwa yang datang bukanlah orang yang berkompeten untuk pendidikan si anak, langsung mengusir perwira pertama tersebut. &#8220;Saya mau bicara dengan orangtua si anak; bukan dengan supirnya!&#8221; katanya dengan lantang. Sang<br />
ajudan pulang dengan tersipu-sipu. Tapi keesokan harinya datanglah ibu panglima meminta maaf kepada Bapak &#8220;Meneer Sibuea dan mengambil sendiri raport anaknya [.]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulaharahap.wordpress.com/245/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulaharahap.wordpress.com/245/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&blog=962871&post=245&subd=mulaharahap&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/ode-untuk-ibu-dan-bapak-guru-di-sd-dan-smp/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mulaharahap-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sambar Gledek, Aceh Pungo dan Panggabean Gila Agama</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/sambar-gledek-aceh-pungo-dan-panggabean-gila-agama/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/sambar-gledek-aceh-pungo-dan-panggabean-gila-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 04:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kehidupan Diri Sendiri]]></category>

		<category><![CDATA[kenangan masa kecil]]></category>

		<category><![CDATA[kisah keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[memoar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap
Bagi anak-anak, orang gila yang bergelandangan di sekitar sekolah tentu merupakan salah satu aspek yang paling sensasional dan menguasai kehidupannya. Orang-orang gila yang bergelandangan di sekitar sekolah selalu membuat hidup tercekam ketakutan dan hati berdebar-debar.
Ketika saya masih duduk di bangku SD, suasana kota Medan belumlah seramai sekarang. Orang-orang miskin dan orang-orang tidak waras, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Bagi anak-anak, orang gila yang bergelandangan di sekitar sekolah tentu merupakan salah satu aspek yang paling sensasional dan menguasai kehidupannya. Orang-orang gila yang bergelandangan di sekitar sekolah selalu membuat hidup tercekam ketakutan dan hati berdebar-debar.</p>
<p>Ketika saya masih duduk di bangku SD, suasana kota Medan belumlah seramai sekarang. Orang-orang miskin dan orang-orang tidak waras, yang bergelandangan di jalan, masih bisa dihitung dengan jari dan dikenal oleh seantero kota.</p>
<p>Saya masih ingat, ketika saya masih di SD , ada seorang wanita kurang waras yang selalu melintas di Jalan Diponegoro. Ia selalu ditemani oleh seekor kera yang bertengger di tengkuknya, seekor kucing dalam kepitan tangan yang satu dan sebuah sapu lidi dalam kepitan tangan yang lain.</p>
<p><span id="more-244"></span></p>
<p>Kalau wanita itu melintas di depan sekolah pada saat &#8220;jam keluar main&#8221;, maka anak-anak yang lebih besar dan &#8220;pemberani&#8221; biasanya akan berteriak, &#8220;Sambaaar Geledeeek!&#8221; Tentu saja perempuan itu menjadi marah dan berusaha mengejar anak yang mengganggunya. Lalu<br />
anak-anak yang lain akan memekik-mekik dan berlari tunggang-langgang ke berbagai penjuru. Tapi drama tersebut hanya berlangsung selama beberapa menit, karena akan ada saja pejalan kaki yang sedang melintas, yang menegur, mendamprat dan membubarkan kerumunan anak-anak itu.</p>
<p>Orang gila lainnya yang selalu menjadi sasaran keisengan anak-anak ialah seorang perempuan setengah baya, berbaju daster dan selalu berjalan cepat dengan mulut komat-kamit.</p>
<p>Oleh anak-anak pada masa itu ia dipanggil dengan nama &#8220;Aceh Pungo&#8221;. Dan kalau ia mendengar panggilan tersebut, maka ia akan marah sekali, mengeluarkan segala sumpah-serapah serta melempar siapa saja yang ada di depannya dengan batu.</p>
<p>Orang gila lainnya yang terkenal di sekolah kami dan di seantero Medan pada waktu itu ialah seorang lelaki yang berambut panjang sebahu, memakai jubah putih dan membawa tongkat panjang. Ia selalu berkhotbah dan meminta orang agar bertobat karena tiga hari lagi dunia akan kiamat. Lelaki ini senang mengidentifikasikan dirinya dengan figur Kristus Yesus.</p>
<p>Kami menjuluki lelaki ini sebagai &#8220;Panggabean Gila Agama&#8221;. Saya tidak tahu, apakah lelaki yang beraksen Batak ini memang benar bermarga Panggabean.</p>
<p>Panggabean tidak menyeramkan. Walau pun diganggu dengan cara bagaimana, ia tidak pernah marah dan terus saja berceloteh mengutip ayat-ayat Alkitab. Kadang-kadang, kalau pagar sekolah terbuka dan banyak anak di halaman, maka dengan serta-merta ia akan masuk<br />
dam berkhotbah. Peristiwa ini selalu menjadi atraksi yang paling menggemparkan pada hari itu. Tapi biasanya peristiwa ini juga tidak akan berlangsung lama; karena salah seorang guru akan datang dan meminta dengan baik-baik agar Panggabean menjauh. Dan ia selalu menuruti permintaan tersebut dengan patuh.</p>
<p>Setelah hijrah ke Jakarta, maka dengan alasan agar kelihatan lebih gagah dan berwibawa, saya memelihara kumis, janggut dan rambut panjang. Dan sampai sekarang pun saya masih mempertahankan penampilan tersebut. Adik saya, Elisabeth, selalu mengganggu saya di depan<br />
anak-anak saya. Katanya, &#8220;Bapamu ini mirip sekali dengan Panggabean Gila Agama yang selalu datang ke sekolah namboru dahulu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Orang gila lainnya yang terkenal di seantero Medan pada waktu itu ialah &#8220;Kapten Nasution&#8221;. Ia selalu bergelandangan dengan ditemani oleh isterinya yang keturunan Eropa dan putera-puterinya yang berambut pirang dan berkulit putih. Ada yang mengatakan bahwa dahulu Nasution memang seorang kapten kapal. Tapi tidak ada yang tahu, mengapa ia dan anak-isterinya memilih cara hidup yang demikian. Kapten Nasution juga memelihara kumis, janggut dan rambut yang panjang.</p>
<p>Adik saya, Daniel, yang sekarang berprofesi sebagai pendeta juga memelihara kumis, janggut dan rambut yang relatif panjang. Kemudian, putera-puterinya juga berambut pirang dan berkulit putih. Kalau kami kakak-beradik bertemu, kami selalu menggodanya dan mengatakan, &#8220;Kapten Nasution dan anak-anaknya sudah datang&#8230;&#8221; [.]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulaharahap.wordpress.com/244/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulaharahap.wordpress.com/244/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&blog=962871&post=244&subd=mulaharahap&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/sambar-gledek-aceh-pungo-dan-panggabean-gila-agama/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mulaharahap-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Forrest Gump dan Teman-teman Lain Sejak Masa TK</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/forrest-gump-dan-teman-teman-lain-sejak-masa-tk/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/forrest-gump-dan-teman-teman-lain-sejak-masa-tk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 04:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kehidupan Diri Sendiri]]></category>

		<category><![CDATA[kenangan masa kecil]]></category>

		<category><![CDATA[kisah keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[memoar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap
Saya memiliki beberapa teman semasa TK. Saya masih ingat beberapa dari teman tersebut karena pada umumnya kami bersama-sama melanjutkan ke SD, SMP dan SMA. Walau pun saya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri I, tapi di sana saya memiliki banyak teman dari Immanuel.
Ketika kami tamat SMP, SMA Immanuel masih relatif baru dibuka dan hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Saya memiliki beberapa teman semasa TK. Saya masih ingat beberapa dari teman tersebut karena pada umumnya kami bersama-sama melanjutkan ke SD, SMP dan SMA. Walau pun saya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri I, tapi di sana saya memiliki banyak teman dari Immanuel.<br />
Ketika kami tamat SMP, SMA Immanuel masih relatif baru dibuka dan hanya terdiri dari beberapa kelas. Ada perasaan &#8220;aneh&#8221; untuk bergabung di sebuah sekolah yang muridnya sedikit. Karena itu pergilah kami berbondong-bondong ke SMA Negeri I. Tentu saja suasana di sini sangat hiruk pikuk. Kelas satunya memiliki sepuluh kelas, kelas duanya delapan kelas dan kelas tiganya delapan kelas!</p>
<p><span id="more-243"></span></p>
<p>Salah seorang teman yang tidak bisa saya lupakan ialah Marupa Napitupulu. Bersama adiknya Tohap Napitupulu, mereka adalah jago menyanyi. Dalam mata pelajaran seni suara adakalanya kami diminta menyanyi sendiri-sendiri di depan kelas. Biasanya anak lelaki hanya bisa menyanyi &#8220;Bendera Merah Putih&#8221;, &#8220;Dari Barat Sampai ke Timur&#8221; atau &#8220;Satu Nusa Satu Bangsa&#8221;. Tapi teman saya Marupa akan menyanyikan &#8220;Burung Tantina&#8221; yang dipopulerkan oleh Patty Bersaudara atau &#8220;Minah Gadis Dusun&#8221; yang dipopulerkan Titik Puspa. Untuk kebolehannya ini tentu saja ia mendapat nilai paling tinggi di seantero kelas.</p>
<p>Kami selalu bersama-sama di SD, SMP dan SMA. Kemudian setelah tamat perguruan tinggi Marupa hijrah ke Jakarta dan kami kembali sering bertemu. Suatu kali, saya mendengar kabar bahwa ia mendapat serangan kanker otak dan terbaring di RS Cikini. Ketika saya datang<br />
membesuknya, ia sudah tidak bisa berbicara. Tapi ia masih bisa melafalkan nama saya. Saya menangis dan memeluknya. Beberapa waktu kemudian kembali saya mendengar kabar bahwa Marupa sudah tiada. Oleh keluarga diputuskan bahwa ia akan dimakamkan di Balige. Pada hari pemberangkatan jenazahnya, saya datang ke rumah duka dan ikut mengangkat petinya ke<br />
mobil jenazah yang akan membawanya ke Bandara Sukarno-Hatta.</p>
<p>Teman saya yang lain lagi semasa di TK ialah Sylvanna Hutabarat. Entah mengapa, ketika di SD, guru selalu mendudukkan saya sebangku dengan Sylvanna. &#8220;Sana, kau duduk dekat paribanmu biar tertib sedikit&#8230;&#8221; kata Ibu Timor Siahaan ketika hendak menyuruh saya duduk dekat Sylvanna. Ibu saya memang bermarga Hutabarat.</p>
<p>Walau pun pernah sebangku di kelas dua, lima dan enam SD, tapi sebagaimana lazimnya anak-anak pada masa itu, kami tidak pernah berbicara satu sama lain. Tapi saya rasa kami saling memahami. Kalau dia melihat saya mulai mengoreksi tulisan pensil dengan memakai karet gelang, maka ia akan menyodorkan karet penghapusnya yang indah dan berbau harum itu kepada saya. Atau kalau dia melihat saya mulai menarik garis hanya dengan ujung buku tulis, maka tanpa berkata-kata dia akan menyodorkan penggarisnya kepada saya. Sebaliknya, kalau ada PR berhitung yang belum dibuatnya, maka saya akan menghadapkan buku tulis saya ke arah Sylvanna dan menunggu dengan sabar sampai dia selesai menyalin.</p>
<p>Ketika di SMA kami masih bersama-sama; tapi sudah tidak saling kontak lagi karena berlainan jurusan. Dan sejak itu saya tidak pernah lagi mendengar kabarnya.</p>
<p>Teman saya lainnya ialah Binsar Sihombing. Ia pandai bermain bola. Sebagaimana layaknya pemain bola, Binsar berjalan agak mengangkang. Karena gaya jalannya itu maka semasa di SD ia mendapat julukan &#8220;Si BeTe&#8221;&#8211;singkatan dari &#8220;Berat Telor&#8221;. Kami berpisah di SMP. Ia melanjutkan ke SMA Immanuel; sementara saya melanjutkan ke SMA Negeri I. Enam tahun yang lalu, setelah sekian puluh tahun, kami bertemu secara tidak sengaja di sebuah hotel di Singapura. Penampilannya ternyata belum berubah banyak.</p>
<p>Teman lainnya semasa TK ialah Harris Hutajulu. Perawakannya tinggi dan besar. Ketika di SD ia<br />
mendapat julukan &#8220;Si Kingkong&#8221;. Ia mempunyai abang bernama Johnson. Kalau sekolah, mereka diantar dengan mobil pick-up yang di pintunya ada tulisan &#8220;CV. Johnson Julu&#8221;. Setamat SMP, Harris melanjutkan ke SMA Prayatna, dan dari sana ke ITB Bandung. Ketika di TK saya selalu menghindar dari Harris, karena ia selalu memiting saya sampai saya tidak bisa bernafas.</p>
<p>Teman lainnya lagi semasa TK ialah Pantas Hasibuan. Ia adalah anak bungsu dari beberapa saudara yang semuanya perempuan. Pantas adalah teman yang baik. Tutur katanya lembut dan ia selalu menghindari konflik. Ia selalu mnjadi sasaran tembak dalam permainan &#8220;bola bengek&#8221; dan kasti.</p>
<p>Ketika masih di kelas dua atau tiga SD, ibunya meninggal dunia. Seperti kebiasaan di masa itu, bila ada orangtua teman yang meningggal dunia, maka seisi kelas akan datang melayat. Sepasang anak perempuan, biasanya yang paling manis, akan berada pada bagian paling depan dari barisan, menjinjing karangan bunga. Bagi anak-anak seperti kami, peristiwa seperti itu<br />
tentu merupakan saat yang menyenangkan, karena selama beberapa jam terbebas dari pelajaran sekolah. Tapi, saya ingat, peristiwa kematian ibu teman saya tersebut memberi kesan yang tersendiri bagi saya. Saya dihantui oleh ketakutan kalau-kalau peristiwa yang sama terjadi atas diri saya. Karena itu perjalanan melayat ke rumah Pantas bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi saya.</p>
<p>Teman semasa TK yang juga tidak mudah saya lupakan ialah Charles Manu. Saya tidak tahu apakah ia orang Ambon atau Timor.Ketika masih di SD, pemahaman geografis kita memang sangat terbatas. Semua orang yang berasal dari wilayah Indonesia Timur akan kita pukul-ratakan sebagai orang Ambon.</p>
<p>Yang saya tahu ialah bahwa sejak kecil Charles sudah ditinggal mati oleh ayahnya. Ibunya adalah seorang perawat senior di RS PTP II. Charles tinggal di perumahan rumah sakit tersebut, yaitu di Jl. Yos Sudarso No. 1D. Alamat dan nomor rumahnya tidak mudah saya lupakan, karena selama di SD&#8211;akibat kesalahan guru&#8211;alamat dan nomor itulah yang tercantum di buku rapor sebagai alamat dan nomor rumah saya.</p>
<p>Charles senang berlari. Semasa di TK dan di awal SD kami selalu beradu lari. Dan tentu saja, saya selalu kalah. Kemana-mana kami selalu berlari. Disuruh mengambil kapur di kantor guru; berlari. Pergi ke kamar mandi; berlari. Keluar dari kelas; berlari. Karena itu, ketika menonton filem &#8220;The Forrest Gump&#8221;, saya teringat akan teman saya Charles.</p>
<p>Kami masih bersama-sama di SMA. Kemudian ia melanjutkan ke ITB. Setelah itu saya mendengar kabar bahwa Chrales mundur dari ITB dan masuk ke Akademi Minyak dan Gas. Saya tidak tahu dimana Charles sekarang. Kalau saja kami bisa bertemu kembali, mungkin hal pertama yang akan kami lakukan ialah kembali beradu lari.</p>
<p>Teman lainnya lagi semasa TK ialah Johnny Pardede. Sejak kecil Johnny senang bermain bola. Karena itu, saya tidak merasa heran, ketika mendengar kabar bahwa ia menjadi pemilik sekaligus manajer sebuah kesebelasan terkemuka di Sumatera Utara.</p>
<p>Ketika duduk di kelas empat kami memiliki sebuah kesebelasan yang paling mentereng di seantero SD. Kamilah satu-satunya kesebelasan yang memakai kaus seragam. Kami patungan mengumpulkan uang. Lalu Johnny melengkapi uang yang terkumpul itu dan membelikan kaus<br />
seragam di perusahaan tekstil milik orangtuanya. Tentu saja hanya seragam itulah yang membedakan kami dari kesebelasan lainnya. Kami tokh masih bermain bola dengan kaki telanjang. Hanya Johnny-lah yang memakai sepatu bola dan sarung tangan. Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi kami; karena Johnny selalu memilih posisi penjaga gawang. Jadi, kemungkinan kaki<br />
beradu dengan sepatu tidak terlalu besar.</p>
<p>Teman yang lainnya lagi semasa di TK ialah Dharma Bakti Sitepu. Ayahnya pernah menjabat sebagai gubernur Sumatera Utara. Ketika di SD, kami sering diajaknya ke rumahnya di kediaman gubernur.</p>
<p>Dharma adalah teman saya dalam membicarakan berbagai hal di luar pelajaran sekolah.Pengetahuan umumnya luas. Karena itu kami bisa asyik membicarakan peristiwa yang kami baca di koran selama jam &#8220;keluar main&#8221;.</p>
<p>Sejak tamat SMA kami sudah tidak pernah lagi saling kontak. Terakhir, di tahun 1973, ia mengirim kartu pos ucapan selamat natal kepada saya dengan alamat di Bandung.</p>
<p>Sumihar Siahaan adalah teman semasa TK yang juga tidak mudah saya lupakan. Ia selalu mengganggu saya, karena gigi depan saya berlapis. Karena itu saya selalu menghindar dari Sumihar. Kalau saja saya bisa bertemu kembali dengan Sumihar, akan saya perlihatkan kepadanya bahwa gigi depan saya sudah tidak berlapis lagi.</p>
<p>Masih ada beberapa teman semasa TK yang masih saya ingat namanya dan saya kenang tingkahnya. Ada Reinhart Sihombing. Kami menyebutnya &#8220;Si Gareng&#8221;. Ayahnya seorang pegawai DLLAJR, atau &#8220;polisi timbangan&#8221; kata orang dahulu. Ada Evita Napitupulu. Ia mempunyai beberapa saudara di SD dan SMP. Ada Johnny Siregar atau yang kami panggil dengan &#8220;Si Ompung&#8221;. Ayahnya seorang tokoh PNI Sumatera Utara. Johnnya mengajar saya menyanyikan lagu mars PNI, &#8220;Marhaen Indonesia&#8221;. Suatu kali, ketika jam pelajaran seni suara, kami berduet dan menyanyikan lagu tersebut dengan lantangnya di depan kelas. Tentu saja ibu guru bingung<br />
mendengar lagu yang sungguh sangat tidak biasa dinyanyikan anak sekolah itu! [.]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/mulaharahap.wordpress.com/243/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/mulaharahap.wordpress.com/243/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&blog=962871&post=243&subd=mulaharahap&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2008/06/03/forrest-gump-dan-teman-teman-lain-sejak-masa-tk/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mulaharahap-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>