<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ETSA</title>
	<atom:link href="http://mulaharahap.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mulaharahap.wordpress.com</link>
	<description>Kumpulan Esai dan Tulisan Kreatif Lainnya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Jul 2010 19:29:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mulaharahap.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/98bfe6b323b30e4d895c8055bc8d4321?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ETSA</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mulaharahap.wordpress.com/osd.xml" title="ETSA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mulaharahap.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anggaran Belanja Negara, Daya Stimulusnya  dan Pemerataan serta Keadilan bagi Rakyat</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/07/24/anggaran-belanja-negara-daya-stimulusnya-dan-pemerataan-serta-keadilan-bagi-rakyat-2/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/07/24/anggaran-belanja-negara-daya-stimulusnya-dan-pemerataan-serta-keadilan-bagi-rakyat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 19:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[arah kebijakan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi kerakyatan]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[pemerataan pembangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap Bahwa belanja pemerintah melalui APBN bisa menjadi stimulus bagi kegiatan dan pertumbuhan ekonomi negara, itu saya setuju. Dengan kata lain, uang yang dibayarkan Pemerintah kepada seorang kontraktor gedung sekolah, akan dipakai oleh kontraktor itu untuk membayar tukangnya, &#8230; <a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2010/07/24/anggaran-belanja-negara-daya-stimulusnya-dan-pemerataan-serta-keadilan-bagi-rakyat-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=639&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Bahwa belanja pemerintah melalui APBN bisa menjadi stimulus bagi kegiatan dan pertumbuhan ekonomi negara, itu saya setuju. Dengan kata lain, uang yang dibayarkan Pemerintah kepada seorang kontraktor gedung sekolah, akan dipakai oleh kontraktor itu untuk membayar tukangnya, dan uang yang diperoleh tukang itu akan dipakainya untuk membayar baju seragam anaknya kepada seorang pedagang di pasar, dan uang yang diperoleh pedagang di pasar itu akan dipakainya untuk mencicil pembelian rumahnya kepada seorang pengembang, dan uang yang diperoleh pengembang itu akan dipakainya untuk makan ayam goreng, dst. dst.</p>
<p>Tapi saya pikir daya stimulus itu baru bisa berjalan dengan baik kalau dalam pembangunan ada asas keadilan dan pemerataan. Kalau kontraktor yang membangun gedung sekolah itu hanya terpusat di satu atau sedikit kelompok konglomerasi (misalnya hanya Keluarga Bakrie, Keluarga Eka Cipta Wijaya, Keluarga James Ryadi<br />
dsb) dan toko baju seragam dan warung ayam goreng itu juga hanya terpusat di satu atau sedikit konglomerasi (atau yang lebih parah lagi, konglomerasi yang sama dengan yang membangun gedung sekolah itu), maka uang itu hanya menggumpal di sedikit tempat, tidak mengalir kemana-mana, dan&#8211;ibarat oli&#8211;tidak memutar seluruh sistem.</p>
<p><span id="more-639"></span><br />
Kemudian, saya pikir lagi, daya stimulus itu juga bisa dimaksimalkan kalau Pemerintah memang perduli benar dengan kwalitas dari apa yang sedang dibangunnya itu. Acapkali terjadi bahwa Pemerintah mengklaim bahwa dia sudah mengeluarkan uang ratusan triliun untuk pendidikan. Tapi kalau diteliti uang itu sebenarnya lebih banyak dipakai untuk membangun kantor-kantor Departemen Pendidikan, ketimbang membayar upah guru (elemen paling penting dalam pendidkan) secara lebih layak.</p>
<p>Bahkan sebagai orang yang lama berkecimpung dalam usaha penerbitan buku, saya berani mengatakan bawa hanya dengan mengeluarkan uang yang tidak terlalu banyak (membayar gaji pegawa), tapi membuat keputusan yang tepat, Pemerintah bisa merangsang penerbit swasta untuk menciptakan buku murah dan sekaligus memutar roda industri penerbitan buku. Dan itu artinya Pemerintah tak perlu harus mengeluarkan bertriliun-triliun uang setiap tahunnya untuk menyediakan buku bagi seluruh anak sekolah (sesuatu yang mustahil dilakukan di Indonesia saking besarnya jumlah penduduk), yang dampaknya justeru mematikan swasta, dan yang tidak pula meningkatkan kwalitas pendidikan. (Rencana membangun Gedung DPR yang<br />
baru dengan nilai 20 triliun rupiah itu adalah contoh yang lain. Kecuali menggelontorkan uang sebesar 10 triliun untuk diputar-putar di antara kontraktor, pekerja, toko bahan bangunan dsb, maka apa daya stimulus lain<br />
yang lebih besar yang bisa didapat bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kwalitas hidup rakyat dengan melengkapi fasilitas super mewah bagi para anggota DPR-nya?).</p>
<p>Kemudian, di atas segalanya, daya stimulus yang maksimal hanya bisa dicapai kalau angka tindak korupsi bisa ditekan dalam seluruh jajaran penyelenggara negara.</p>
<p>Oleh karena itulah, kalau Pemerintah selalu membangga-banggakan diri bahwa pertumbuhan ekonomi bisa mencapai hampir 5% dari GDP, maka saya suka bingung dan bertanya-tanya, &#8220;Sebenarnya yang menikmati pertumbuhan ini, siapa?&#8221;</p>
<p>Kemarin anak buah saya yang menunggui kantor saya di Jalan Howitzer menelepon. Katanya petugas PLN sudah hendak menyegel instalasi listrik kami karena tunggakan 2 bulan belum juga dibayar. Tapi dari mana saya harus mencari duit 1 juta pada saat sekarang ini? Oleh karena itu, kepada anak buah itu saya katakan,<br />
&#8220;Kasihlah 20 ribu kepada petugas itu. Dan ngomonglah baik-baik, bahwa tunggakan akan kita selesaikan&#8230;.&#8221;</p>
<p>Kemarin seorang saudara sepupu saya menelepon dan minta tolong. Dia sudah bingung. Pasar tempatnya selama ini berjualan di Kawasan Berikat Nusantara di Cakung akan ditutup. Dia tak tahu lagi bagaimana harus &#8220;mengumpani&#8221; anak isterinya.</p>
<p>Kemarin adik saya Jonathan Harahap melapor. Saudara sepupu saya (ibu kami kakak-beradik) sudah terserang stroke dan tidak bisa lagi berjalan. Hal yang paling menyedihkan ialah, bahwa saudara sepupu ini tidak menikah. Oleh karena itu terpaksalah dia dibawa ke rumah abangnya yang secara ekonomi hidupnya juga<br />
sangat pas-pasan dan juga baru terkena &#8220;stroke ringan&#8221;. Kata adik saya, &#8220;Terpaksalah Kakak Boru Pakpahan yang mengurusi semua itu. Ngeri sekali. Saya harap saja kakak itu tidak ambruk&#8230;.&#8221; (Dan Ibu saya yang sedang terbujur sakit dan menguping pembicaraan kami berkata, &#8220;Aduh, sudahlah itu. Sakit hatiku mendengar semua itu&#8230;&#8221;).</p>
<p>Kemarin saya mengobrol dengan seorang teman yang adalah juga bekas anak buah saya. Saya bertanya tentang kabar lae-nya yang juga saya kenal. Kata teman saya itu laenya sedang menganggur, kakaknya (itonya) sudah tidak bisa berjalan karena kena diabetes, puteranya terpaksa putus sekolah, bekerja di bengkel dan hanya bisa hidup untuk dirinya sendiri. Keluarga itu terpaksa menggantungkan hidupnya pada puterinya yang bekerja hanya sebagai guru bantu di sebuah sekolah swasta.</p>
<p>Kemarin inanguda saya bertelepon. Minggu ini dia akan membaptis dua cucunya yang sudah menjelang remaja. (Bapak anak itu, adik sepupu saya, hanya bekerja sebagai supir taksi dan tak pernah perduli dengan kehidupan keluarganya). Inanguda saya memang tahu keadaan ekonomi saya yang sedang susah. Tapi karena sudah &#8220;mentok&#8221; kemana-mana dicobanya juga untuk mengadu kepada saya; kalau-kalau saya bisa membelikan dua potong baju baru kepada boru saya itu.</p>
<p>Kemarin isteri seorang sahabat saya yang sudah almarhum mengadu kepada saya. Dia sudah tidak bisa menebus beberapa potong perhiasannya di pegadaian dan yang ditaruhnya di sana demi untuk memperoleh uang untuk biaya hidup sehari-hari. Dan kemarin adalah hari terakhir baginya untuk melunasi hutang. Kalau tidak, perhiasan itu akan dilelang murah oleh Pegadaian.</p>
<p>Tadinya, saya pikir, mungkin hanya keluarga dan kenalan-kenalan saya saja yang bernasib malang di republik ini. Tapi kalau saya melihat pemberitaan di teve, ada jutaan keluarga yang seperti itu, dan yang bahkan sampai putus-asa dan nekad berbuat yang aneh-aneh: meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di rumah,<br />
menggorok leher anak-anaknya, mencuri susu di supermarket menjual ganja, menenggak racun, dsb.</p>
<p>Oleh karena itu, setiap kali melihat para petinggi negara bernyanyi-nyanyi dengan pakaian bagus dan badan sehat di gedung yang mewah itu, ingin rasanya saya melempar muka-muka itu dengan sepatu. (Tapi kalau<br />
sepatu saya sampai hilang, dari mana lagi saya harus mencari duit untuk membeli sepatu yang sama?).</p>
<p>Dan saya semakin geram saja setiap kali mendengar bahwa ada perwira tinggi polisi yang memiliki rekening 100 milyar, Gayus Tambunan yang memiliki aset sampai 100 milyar, dan Hadi Purnomo mantan Dirjen Pajak&#8211;yang saking kayanya&#8211;sampai hari ini kekayaannya belum selesai dihitung dan ditaksir oleh KPK</p>
<p>Kini&#8211;saking bingung dan putus asanya&#8211;saya selalu berdoa tentang datangnya sebuah revolusi sosial. Dan kalau revolusi itu datang saya pikir saya sudah tahu leher siapa yang harus saya gorok pertama-tama [.]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulaharahap.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulaharahap.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulaharahap.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulaharahap.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/639/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=639&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/07/24/anggaran-belanja-negara-daya-stimulusnya-dan-pemerataan-serta-keadilan-bagi-rakyat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f8cbbd628f2ab914d326138f92bdd97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Ibu Guru, bapak saya hebat, lho&#8230;.&#8221;</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/07/24/ibu-guru-bapak-saya-hebat-lho/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/07/24/ibu-guru-bapak-saya-hebat-lho/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 19:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Diri Sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan anak dan orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi ayah]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan di keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap Buku-buku psikologi perkembangan anak sering mengatakan tentang petingnya seorang bapak menanamkan citra dirinya sebagai sosok yang kuat dan melindungi di mata anak lelakinya. Saya sadar sekali tentang hal tersebut dan selalu berusaha untuk menjadi demikian. Tapi&#8211;mungkin disebabkan &#8230; <a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2010/07/24/ibu-guru-bapak-saya-hebat-lho/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=642&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Buku-buku psikologi perkembangan anak sering mengatakan tentang petingnya seorang bapak menanamkan citra dirinya sebagai sosok yang kuat dan melindungi di mata anak lelakinya. Saya sadar sekali tentang hal tersebut dan selalu berusaha untuk menjadi demikian. Tapi&#8211;mungkin disebabkan karena terlalu sering menonton filem-filem kekerasan di teve&#8211;entah apa pun yang saya lakukan, anak lelaki saya itu selalu lebih memuji bapak orang lain. Dia terutama sangat kagum dengan tetangga kami yang disapanya sebagai &#8220;Oom Nas&#8221;. Kawan itu memang memiliki postur tubuh yang jauh lebih berisi daripada saya, dan dadanya ditumbuhi banyak bulu &#8220;pulak&#8221;.<br />
<span id="more-642"></span></p>
<p>&#8220;Bapak kalau berantam sama Oom Nas, menang siapa, ya?&#8221; tanyanya pada suatu ketika. Atas pertanyaan seperti itu tentu saja kepadanya saya mencoba menjelaskan bahwa orang dewasa tidak mengenal budaya &#8220;berantam&#8221;. Kalau ada persoalan sebaiknya diselesaikan dengan bicara baik-baik. Tapi saya tahu, anak saya pasti tidak puas mendengar jawaban seperti itu. Karena itu kepadanya saya katakan juga, &#8220;Tapi kalau memang harus berantam, yah Bapak karate saja dia. Ciat&#8230;ciat&#8230; ciat!&#8221; Sayapun berusaha memperagakan semacam jurus karate. Anak saya diam. Saya tak tahu apakah dia memang bisa menerima penjelasan saya, atau hanya menganggap saya berkhayal.</p>
<p>Pada kesempatan yang lain lagi, anak saya berkata, &#8220;Yah, kalau ada orang jahat masuk ke rumah ini, saya panggil saja Oom Nas&#8230;&#8221; Sebagai bapaknya tentu saja saya merasa &#8220;sakit hati&#8221;. Anak saya lebih mengandalkan bapak orang ain ketimbang bapaknya sendiri dalam berurusan dengan orang jahat.</p>
<p>Begitulah, sepanjang waktu anak saya hanya sibuk membanding-bandingkan bapaknya dengan lelaki lain dalam urusan-urusan fisik, sampai kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang &#8220;menaikkan&#8221; citra saya dan membuat anak saya terkagum-kagum dengan saya:</p>
<p>Anak saya dulu bersekolah di TK Penabur Jalan Gunung Sahari. Setiap pagi adalah tugas saya unuk mengantarnya ke sekolah. Dan nanti pulangnya barulah dia diantar dengan mobil antar-jemput. (Sebenarnya anak itu juga bisa diantar ke sekolah dengan mobil antar-jemput. Tapi, ya itu tadi, demi mengikuti anjuran buku-buku psikologi perkembangan anak, saya berusaha untuk mengantarnya dan memakai waktu sepanjang perjalanan ke sekolah itu untuk bercakap-cakap tentang segala hal).</p>
<p>Hari itu kebetulan adalah hari HUT ABRI (TNI). Di markas Komando Armada Barat yang terletak di Jalan Gunung Sahari itu sedang berlangsung upacara. Karena itu Jalan Gunung Sahari ditutup, dan Provost sudah menahan atau membelokkan kendaraan dari berbagai arah agar jangan masuk ke Jalan Gunung Sahari. Saya turun dari mobil dan berbicara kepada Provost tersebut. Saya mengatakan bahwa saya harus mengantar anak kecil ini ke sekolahnya di Penabur, dan tak mungkin dia saya turunkan di mulut Jalan Gunung Sahari III dengan Jalan Bungur Raya ini lalu saya biarkan berjalan sendiri ke sekolah. Tentu saja atas argumen itu mobil saya diperbolehkan lewat.</p>
<p>Tapi rupanya di mata anak saya, tindakan saya itu sangatlah heroik. Begitu masuk ke kelas, dengan mata berbinar-binar, dia langsung bercerita kepada Ibu Gurunya: &#8220;Ibu Guru tahu, nggak? Bapak saya hebat, lho. Tadi bapak saya ngomong sama tentara. Tentaranya punya pestol lho, Ibu Guru. Terus mobil kami dikasih lewat. Nggak ada mobil orang lain yang dikasih lewat&#8230;&#8221; (Cerita ini saya dengar di kemudian hari dari Ibu Guru). Tapi di rumah pun dia begitu. Begitu turun dari mobil antar jemput, dia langsung berteriak kepada ibunya, &#8220;Mama, Bapak hebat, lho&#8230;.&#8221;</p>
<p>Kini anak saya itu sudah dewasa. Dia tidak memerlukan lagi citra seorang bapak yang hebat bagi pertumbuhan jiwanya.Dalam banyak kesempatan dia justeru sering merasa sudah lebih bisa dan lebih hebat dari saya. Sebagai seorang bapak tentu saja saya bangga dengan perkembangan itu. Tapi sebagai seorang manusia, sesekali saya rindu juga untuk diakui dan dianggap hebat oleh anak lelaki saya.</p>
<p>Suatu kali, larut malam, anak saya pulang. Begitu masuk di rumah dia bercerita bahwa dia baru bertemu dengan seorang yang dikaguminya. Rupanya seniman itu juga mengenal saya. &#8220;Sepanjang percakapan kami tadi, dia banyak memuji-muji Bapak, lho,&#8221; kata anak saya. Hati saya mulai berbunga-bunga. &#8220;He-he-he,&#8221; kata saya menanggapi dan seperti pura-pura tidak terlalu perduli dengan omongannya.</p>
<p>&#8220;Kapan dan dimana kalian bertemu?&#8221; tanya saya lagi dengan penuh rasa ingin tahu.</p>
<p>&#8220;Tadi. Di sebuah bar di Jalan Jaksa&#8230;.&#8221; jawab anak saya. Dan saya langung menjadi lemas. &#8220;Akh, omongan orang-orang mabuknya rupanya yang kudengar,&#8221; kata saya dalam hati seraya berjalan masuk ke kamar <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulaharahap.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulaharahap.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulaharahap.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulaharahap.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=642&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/07/24/ibu-guru-bapak-saya-hebat-lho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f8cbbd628f2ab914d326138f92bdd97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Ompung Mula Menunggui Gisella di Sekolah Minggu</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/28/ketika-ompung-mula-menunggui-gisella-di-sekolah-minggu/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/28/ketika-ompung-mula-menunggui-gisella-di-sekolah-minggu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 15:27:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi kristen]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan sekolah minggu]]></category>
		<category><![CDATA[proses menjadi beriman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=628</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap Sudah sejak beberapa bulan ini cucu saya Gisella (23 bulan) mengikuti sekolah minggu untuk kelas anak di bawah usia 3 tahun. Saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan ibunya ketika mengikutkan anak yang masih sekecil itu dalam &#8230; <a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/28/ketika-ompung-mula-menunggui-gisella-di-sekolah-minggu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=628&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Sudah sejak beberapa bulan ini cucu saya Gisella (23 bulan) mengikuti sekolah minggu untuk kelas anak di bawah usia 3 tahun. Saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan ibunya ketika mengikutkan anak yang masih sekecil itu dalam kelas sekolah minggu. Boleh jadi ibunya memang ingin agar sejak awal Gisella telah mendapatkan dasar-dasar kekristenan yang benar di dalam dirinya. Boleh jadi juga ibunya ingin agar Gisella mendapat kesempatan bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya, setelah dari Senin sampai Sabtu hanya bergaul dengan orang-orang dewasa di rumah. Boleh jadi juga ibunya&#8211;sama juga halnya seperti ibu-ibu lain di dunia ini&#8211;ingin memamerkan kebolehan anaknya. Dan apa pun alasan ibunya, saya pikir, semua itu adalah sah-sah saja.<br />
<span id="more-628"></span></p>
<p>Selama Gisella mengikuti sekolah minggu maka ia sudah 2 kali tampil bernyanyi dalam kebaktian di gereja: Belasan anak di bawah 3 tahun dengan berbagai tingkah polah (dan dengan disertai oleh sejumlah baby-sitter atau orangtua yang berjongkok-jongkok di belakang mereka) berdiri di altar menyanyikan sebuah lagu yang kata-katanya berbunyi &#8220;Ke-a-es-i-ha&#8230;.kasih. Kasih itu baik&#8230;., dan sebuah lagu berbahasa Inggris yang saya lupa kata-katanya. Dan sebagai ompung, saya juga tentu wajib untuk hadir (dan duduk di baris paling depan) dalam 2 kebaktian &#8220;istimewa&#8221; itu.</p>
<p>Gisela juga sudah pandai menyanyikan beberapa lagu di rumah; antara lain &#8220;Bapa terimakasih&#8230;.&#8221; dan beberapa lagu lagi yang tak bisa saya ingat karena Gisella selalu menyanyikannya secepat kilat dan dengan pelafalan yang tak jelas.Gisella selalu pulang membawa gambar yang diwarnai atau ditempel, tapi yang warnanya atau tempelannya selalu keluar (atau tak pernah bisa memenuhi) bidang yang sudah dibatasi dengan garis tersebut. Gisella juga selalu bangga membawa pulang buku kehadiran dan aktivitas yang bentuk penilaiannya adalah tempelan satu gambar bunga atau kupu-kupu. Gisella juga sudah pandai berdoa. Maksud saya dengan pandai berdoa adalah, Gisella sudah bisa duduk diam beberapa saat sambil mengatupkan tangan (walaupun matanya jelalatan ke sana-ke mari) sementara ibunya atau ompung borunya melafalkan kata-kata doa sebelum makan, sebelum tidur atau sehabis tidur itu, dan ketika ibunya atau ompungnya tiba pada bagian yang mengatakan, &#8220;Terimakasih, Tuhan Yesus&#8230;.&#8221; maka Gisella pun menyambarnya dengan mantap dan mengatakan, &#8220;Amin!&#8221;</p>
<p>Selama ini Gisella selalu ditemani di sekolah minggu oleh ibunya, ayahnya, Mbak Omah atau Mbak Nur, dan ompung borunya. Tapi kemarin, disebabkan oleh satu dan lain hal, Gisella ditemani oleh Ompung Mula. Jadi, begitulah, saya ikut duduk di bangku plastik yang sangat pendek itu, mendampingi Gisella. Di kiri kanan saya, ompung, ayah, ibu atau baby-sitter anak-anak lain juga melakukan hal yang sama: mendampingi, membesarkan hati dan mendorong buah hatinya masing-masing agar jangan takut dan untuk ambil bagian dalam apapun aktivitas yang diajarkan oleh Kakak Guru Sekolah Minggu.</p>
<p>Begitulah, selama menunggui Gisella bersekolah minggu, melihat tingkah-polah anak-anak kecil yang masih berusia di bawah 3 tahun itu, dan meresapi kelas yang &#8220;chaos&#8221; itu, berbagai pikiran muncul di kepala saya:</p>
<p>1. Tuhan itu adalah Tuhan yang mahakuasa. Kalau Dia mau, sebenarnya Dia bisa saja masuk ke dalam hati anak-anak yang berusia di bawah 3 tahun itu, memperkenalkan diri-Nya, kemudian&#8211;sebagai balasannya&#8211;anak-anak itu jadi mengenal-Nya, mengasihi-Nya dan percaya (beriman) kepada-Nya. Dengan cara demikian maka banyak sekali hal yang sebenarnya bisa dihemat: gereja tak perlu pontang-panting mengurusi departemen sekolah minggu, anak-anak muda gereja itu tak perlu bersusah-payah bangun pagi dan mengejar bus untuk bisa datang mengajar tepat waktu, dan ompung seperti saya tak perlu sakit punggung karena duduk di bangku plastik yang sangat kecil dan rendah.</p>
<p>2. Tapi rupanya untuk mengenal dan dikenal oleh Tuhan bukan begitu caranya. Anak-anak itulah yang harus lebih dulu mengenal dan &#8220;menjulurkan tangan&#8221; kepada Tuhan, dan barulah kemudian Tuhan balas menjulurkan tangan-Nya kepada mereka. Setelah itu barulah terjadi persahabatan, anak-anak itu menjadi percaya kepada Tuhan. Dan selama perkembangan anak-anak itu, dari kecil menuju dewasa, maka proses pengenalan, jatuh cinta dan percaya kepada Tuhan itu akan mengalami perkembangan pula.</p>
<p>3. Saya jadi teringat, bahwa ketika Gisella dibaptis maka salah satu pesan pendeta kepada orangtuanya ialah untuk mendidik Gisella agar mengenal Tuhan, mengasihi Tuhan, dan kemudian tiba pada waktunya menjadi percaya dan menyatakan kepercayaannya itu.</p>
<p>4. Proses Gisella mengenal Tuhan, mencintai Tuhan dan untuk kemudian menjadi percaya (beriman) kepada Tuhan ternyata adalah proses yang melibatkan pikiran dan perasaan. Dan apa yang sering dikatakan orang, yaitu bahwa iman tidak membutuhkan upaya pikiran dan perasaan, ternyata salah. Isi cerita, nyanyian, dan berbagai aktivitas yang diajarkan oleh Kakak Guru Sekolah minggu itu tentang apa, siapa dan mengapa Tuhan ternyata juga adalah hal-hal yang harus bisa dicerna oleh pikiran dan perasaan Gisella. Kakak Guru Sekolah minggu tidak pernah menceritakan hal-hal yang di luar jangkauan anak-anak kecil itu, dan ketika anak-anak itu bertanya lalu menjawab, &#8220;Itu adalah misteri Tuhan. Percaya saja, dan jangan pakai pikiran dan perasaanmu&#8230;.&#8221;<br />
Pikir saya, dus orang menjadi percaya (beriman) memang karena menggunakan pikiran dan perasaannya.</p>
<p>5. Doa-doa yang diajarkan oleh Kakak Guru Sekolah Minggu kepada Gisella juga bukanlah doa-doa meditasi dimana Gisella dan kawan-kawannya secara &#8220;mistis&#8221; bisa mengenali Tuhan. Doa-doa itu adalah doa-doa yang untuk mengertinya Gisella harus memakai pikiran dan perasaannya.</p>
<p>6. Saya tidak bisa menyelami pikiran dan perasaan Gisella. Saya tidak tahu sejauh mana kepercayaan (imannya) kepada Tuhan. Tapi yang bisa saya katakan ialah, kalau Gisella menemukan masalah-masalah dalam kehidupannya (kakinya tertusuk duri, mainannya diambil oleh anak yang lebih besar, dia ditinggal ibunya selama beberapa malam, perutnya lapar dsb) maka dia lebih banyak memanggil Mama Riri, Papa David, Mbak Omah atau Mbak Nur, dan Ompung Rieka atau Ompung Mula. Gisella belum pernah saya dengar mengatakan, &#8220;Oh, Tuhan alangkah sepinya hidup ini&#8230;..&#8221; (Tapi saya rasa itulah yang sehat. Kalau Gisella yang berumur 23 bulan itu sudah bisa memanggil Tuhan untuk mengatasi  persoalan yang abstrak dari hidupnya, maka saya pasti akan menyuruh ibunya agar membawanya ke psikolog). Atau, kalaupun Gisella memanggil nama Tuhan untuk menjawab masalah-masalah dalam kehidupannya (kakinya tertusuk duri, mainannya diambil oleh anak yang lebih besar, dia ditinggal ibunya selama beberapa malam, perutnya lapar dsb) maka Tuhan yang ada dalam imajinasinya itu tidaklah lebih seperti orang-orang yang dikenalnya, yaitu Mama Riri, Papa David, Mbak Omah atau Mbak Nur, dan Ompung Rieka atau Ompung Mula</p>
<p>7. Saya pun tak tahu sudah sejauh mana Gisella mengenal Tuhan (Tuhan Yesus). Tapi saya pikir, pengenalan anak itu akan Tuhan pun masih sebatas hal-hal yang fisikal dan kasat mata. (Tentang wajah lelaki berambut gondrong, berjanggut dan berkumis yang ada di kertas kerja yang harus diwarnai dengan krayon itu dia selalu berkata, &#8220;Ini Ompung Mula&#8230;..&#8221;).</p>
<p>8. Sampai nanti Gisella sidi (umur 16 atau 17 tahun) proses mengenal, mencintai dan menjadi percaya (beriman) kepada Tuhan, tentu masih akan tetap didominasi oleh proses yang mengandalkan pikiran dan perasaan. Tapi saya pikir itu adalah hal yang wajar dan normal; apalagi kalau Gisella belum pernah bersentuhan dengan misteri-misteri seperti kelahiran, kematian, diperlakukan tidak adil oleh alam semesta, atau diperlakukan tidak adil oleh kehidupan.Dan saya pikir lebih jauh lagi, adalah hal yang normal juga bila dalam masa pertumbuhan itu Gisella (sama seperti ibunya dan tulangnya dulu, atau ompungnya dulu) bertanya berbagai hal yang mengganggu pikiran dan peraaannya: Siapa isteri anak Si Adam? Apakah dinosaurus juga ikut dalam bahtera Nuh? Kalau Yesus adalah benar Tuhan, mengapa Dia tidak loncat saja dari kayu salib itu dan membunuh semua orang yang jahat padanya? Dan saya pikir adalah tugas ayah-ibunya, tugas ompungnya (kalau kami masih hidup), tugas guru sekolah minggu, dan tugas pendeta untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu dengan baik sehingga dia bisa mengenal, mencintai dan mempercayai Tuhan yang tak bisa lagi &#8220;dikutak-katik&#8221; oleh pikiran dan perasaannya.</p>
<p>9. Sejalan dengan pertambahan usia dan pengalaman hidupnya, Gisella juga tentu akan mengalami hal-hal yang tak bisa lagi dijelaskan oleh pikiran dan perasaannya sekeras apapun dia menggunakannya: Mengapa orang harus mati? Kemana kita sesudah mati? Mengapa orang baik harus menderita? Nah, pada saat itulah dia harus &#8220;meraba&#8221; Tuhan dengan cara lain: melalui meditasi, saat teduh, ibadah yang hening tapi khusuk dsb dan mendapat pemahaman bahwa Tuhan yang &#8220;dirabanya&#8221; dengan olah batin itu adalah juga Tuhan yang dirabanya dengan olah intelektual: Tuhan yang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Suci dan (ini yang lebih penting lagi) Maha Kasih.</p>
<p>10. Proses seperti yang diuraikan pada butir 7 itu biasanya kurang diperhatikan oleh gereja-gereja mainstream dan tadisional itu. Pada saat-saat seperti itu selalu ada bahaya bahwa Gisella akan bergabung dengan sekte-sekte Kristen yang &#8220;aneh-aneh&#8221; atau latihan-latihan spiritual berbayar di hotel-hotel oleh kelompok yang tak jelas aliran agamanya dan acapkali bermotifkan komersil. Dan demi untuk bisa &#8220;meraba&#8221; Tuhan yang diperkenalkan oleh kelompok-kelompok itu, acapkali pula Gisella harus mengingkari pikiran dan perasaan baik yang selama ini telah dibangunnya. (Nah, pada saat itu Ompung Mula pasti sudah tidak ada lagi di dunia ini). Oleh karena itu Gisella perlu membutuhkan bimbingan yang benar dari gereja mainstream dan tradisional itu agar ia mengenali, memahami, mencintai dan mempercayai (beriman) kepada Tuhan secara seimbang: intelektual, emosional dan spiritual.</p>
<p>Itulah pikiran saya sementara menunggui Gisella di sekolah minggu kemarin. Pikiran itu menjadi terputus ketika Kakak Guru Sekolah Minggu mengajak anak-anak berdiri serta menyanyikan lagu penutup. Lalu&#8212; bersama-sama dengan banyak ibu-ibu dan mbak-mbak lainnya&#8211;saya pun meninggalkan kelas sekolah minggu &#8220;batita&#8221; itu sambil menuntun Gisella berjalan menggendong sebuah &#8220;goody bag&#8221;, bingkisan dari seorang temannya yang sedang merayakan ulang tahun, dan bingkisan mana sering juga disebut oleh Kakak Guru Sekolah Minggu sebagai hadiah dari Tuhan [.]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulaharahap.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulaharahap.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulaharahap.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulaharahap.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/628/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=628&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/28/ketika-ompung-mula-menunggui-gisella-di-sekolah-minggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f8cbbd628f2ab914d326138f92bdd97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Editing Naskah Buku Umum Non-Fiksi</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/26/editing-naskah-buku-umum-non-fiksi/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/26/editing-naskah-buku-umum-non-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 02:15:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerbitan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[editor]]></category>
		<category><![CDATA[industri penerbitan buku]]></category>
		<category><![CDATA[ketrampilan editor]]></category>
		<category><![CDATA[penerbitan buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap Topik pelatihan yang diberikan kepada saya adalah “Editing Naskah Buku Umum Non-Fiksi”. Tapi di dalam kerangka acuan penyelenggaraan pelatihan ini tujuan yang diharapkan dari pelatihan dinyatakan: “Untuk meningkatkan kemampuan meracik naskah yang baik dan benar dari mulai &#8230; <a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/26/editing-naskah-buku-umum-non-fiksi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=605&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p>Topik pelatihan yang diberikan kepada saya adalah “Editing Naskah Buku Umum Non-Fiksi”. Tapi di dalam kerangka acuan penyelenggaraan pelatihan ini tujuan yang diharapkan dari pelatihan dinyatakan: “Untuk meningkatkan kemampuan meracik naskah yang baik  dan benar dari mulai ide/gagasan sampai siap cetak, termasuk menggagas buku sesuai target pembaca.”  </p>
<p>Oleh karena itu saya ingin judul pelatihan ini dibaca sebagai: “Editing Buku Umum Non-Fiksi&#8221;. Saya pikir editing—terutama pada masa sekarang—memang tidak lagi bermula setelah naskah selesai ditulis oleh pengarang. Editing bahkan telah dimulai jauh sebelum gagasan tentang penulisan sebuah buku itu ada benak pengarang.<br />
<span id="more-605"></span></p>
<p>Berdasarkan pemahaman editing sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka saya ingin memulai pembahasan ini dengan menguraikan bermacam-macam fungsi atau pekerjaan di dalam perusahaan penerbitan buku yang perlu diljalankan oleh seorang editor demi untuk menghadirkan buku yang baik mutunya, mememenuhi kebutuhan kelompok pembaca yang menjadi sasarannya, terbit tepat waktu, diproduksi dengan seefisien mungkin, dan—akhirnya—memberi keuntungan finansil bagi perusahaan.</p>
<p>Fungsi-fungsi tersebut mungkin sudah kita ketahui, atau sudah sering kita dengar diperbincangkan dalam berbagai pelatihan editor. Tapi untuk pembahasan topik pelatihan ini, yaitu “Editing Buku Umum-Non Fiksi”, baiklah kita mengulangi kembali fungsi-fungsi tersebut seraya meninjaunya dari aspek penerbitan buku umum non-fiksi terutama dalam konteks perbukuan Indonesia.</p>
<p><strong>Menetapkan strategi terbitan</strong></p>
<p>Menurut perkiraan setiap tahunnya kini para penerbit Indonesia mengeluarkan kira-kira 12 ribu judul buku baru dalam setahun. Memang jumlah ini masih jauh bila dibandingkan dengan para penerbit di AS yang mengeluarkan 100 ribu judul buku baru dalam setahun, atau para penerbit di Jepang yang mengeluarkan 60 ribu judul buku baru dalam setahun. Tapi bila dikaitkan dengan faktor daya beli yang masih rendah, minat masyarakat terhadap buku yang masih rendah, jumlah toko pengecer yang rendah, dan jumlah penerbit yang sangat tinggi, maka angka ini sudah relatif tinggi. </p>
<p>Kini setiap penerbit harus memutar otak untuk bisa berhasil meloloskan bukunya sampai ke toko pengecer, mengusahakan agar buku itu bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama di rak toko pengecer, dan merayu pengunjung toko agar mau menyentuh dan membeli buku tersebut</p>
<p>Di dalam suasana persaingan seperti tersebut di atas maka sangat sulit bagi penerbit untuk bisa berhasil menerbitkan buku apa saja. Apalagi kalau penerbit itu menggarap semua bidang terbitan. Hal ini juga semakin dipersulit oleh mahalnya biaya promosi. Kini buku lebih banyak mengandalkan “nasib”-nya untuk dilirik orang di rak toko. Oleh karena itu perlu bagi penerbit untuk memiliki spesialisasi bidang terbitan. Atau kalau penerbit itu adalah sebuah penerbit besar, ia perlu membangun berbagai lini produk—yang juga didasarkan atas bidang terbitan&#8211;untuk membuat calon pembeli lebih mudah mengingat siapa menerbitkan apa. </p>
<p>Lini produk juga sangat berguna untuk mengasah spesialisasi para editor yang mengasuh lini produk tersebut, dan untuk memberikan arah kepada calon pengarang tentang penerbit mana yang harus ditujunya seandainya ia mempunyai naskah.</p>
<p>Tugas untuk menetapkan strategi terbitan, membangun lini produk, dan mengontrol para editor yang mengasuh lini produk tersebut, dilakukan oleh chief editor. </p>
<p>Tentu saja strategi terbitan tidak semata-mata diputuskan sendiri oleh chief editor. Strategi tersebut diputuskannya setelah mendengar saran-saran kepala bagian promosi, kepala bagian pemasaran, dan para editor senior.</p>
<p><strong>Mencari Naskah </strong></p>
<p>Setelah strategi terbitan, lini produk, dan editor yang bertanggung jawab atas setiap lini produk itu ditetapkan maka naskah harus dicari.</p>
<p>Dahulu ketika jumlah penerbit masih relatif sedikit, maka penerbit masih sering mendapat naskah yang baik, yang sesuai dengan strategi terbitannya, dan yang tidak membutuhkan lagi terlalu banyak perbaikan dari para pengarang.</p>
<p>Tapi kini jumlah penerbit sudah sangat banyak, dan keharusan setiap penerbit untuk sebanyak mungkin menerbitkan buku baru sudah semakin tinggi. Oleh karena itu kemungkinan sebuah naskah yang baik untuk datang sendiri ke penerbit sudah semakin kecil. </p>
<p>Kini penerbit harus mencari naskah. Dan ada berbagai cara untuk mendapatkan naskah. Penerbit bisa menelepon atau menyurati seseorang yang dianggap memiliki potensi agar mau menulis buku sebagaimana yang diinginkan oleh penerbit. Tapi sekedar undangan tidaklah akan serta merta membuat seseorang mau menulis. Atau kalau pun dia mau menulis, maka naskah yang diberikannya itu belum tentu sesuai benar dengan keinginan penerbit.</p>
<p>Kemudian dalam kaitan dengan buku non-fiksi, maka kita juga perlu mengingat bahwa tidak terlalu banyak orang yang menguasai sebuah bidang kehidupan yang mampu menulis dengan baik. Oleh karena itu penerbit masakini harus juga membantu mendiskusikan sebuah gagasan dengan penulis, membicarakan bagaimana gagasan itu disajikan, dan mendorong serta mengawasi penulis dalam proses penulisan.</p>
<p>Tugas mengundang, memotivasi, mendorong dan membimbing penulis dalam menyelesaikan sebuah naskah dilakukan oleh editor senior  atau yang dikenal juga sebagai acquisition editor.</p>
<p>Tentu saja disamping upaya-upaya seperti yang telah diuraikan di atas, maka naskah juga bisa dicari lewat penerjemahan, atau dengan melihat-lihat buku terbitan lama yang sudah out of print.</p>
<p>Kadang-kadang—disebabkan oleh satu dan lain hal—ada saja buku yang tidak mengalami sukses ketika diterbitkan pada suatu masa. Tapi kemudian ketika buku itu diterbitkan kembali oleh penerbit yang lain—dan setelah mendapat sentuhan desain, penempatan dalam lini produk yang sesuai, promosi yang tepat dsb—dia mengalami keberhasilan. Di Indonesia hal ini, yaitu menerbitkan ulang buku-buku lama, memang belum menjadi sebuah tradisi. Tapi mengingat pendeknya usia buku di pemasaran, dan cepatnya berganti generasi pembaca, maka upaya untuk menerbitkan buku-buku lama perlu juga menjadi perhatian para editor senior atau acquisition editor.</p>
<p>Dalam kaitan dengan merangsang seseorang untuk menulis, maka saya ingin juga memperkenalkan beberapa bentuk penyajian buku. </p>
<p>Buku—terutama buku umum non fiksi&#8211;tidak selalu harus ditulis dengan cara yang runut dan linier, yaitu dengan pembagian bab, sub bab dst. Banyak buku yang ditulis sebagai kumpulan ulasan dari topik-topik yang satu sama lainnya tidak saling berkaitan, kecuali hanya diikat oleh sebuah benang merah yang menjadi topik utama atau judul buku tersebut. Dan bentuk penyajiannya pun bermacam-macam. Dia bisa merupakan uraian, surat, catatan harian, tanya-jawab dsb.</p>
<p>Kita banyak menemukan buku-buku seperti tersebut di atas dalam penerbitan di AS dan Eropa. Demikianlah, maka ada buku yang berjudul “100 Gagasan PR bagi Perusahaan Anda”, “101 Kiat Pemasaran”, “Tanya Jawab Lengkap tentang Kehamilan”, “Surat-surat Ilona”, “Catatan Harian Soe Hok Gie”, dsb.</p>
<p><strong>Mengedit Naskah Secara Garis Besar</strong></p>
<p>Naskah yang datang dengan sendirinya dari penulis, atau naskah yang ditulis oleh penulis dengan bimbingan editor, acapkali masih “kasar”. Naskah itu mungkin masih memiliki banyak pengulangan, mungkin ada uraian yang letaknya kurang tepat, atau mungkin ada aline-aline yang musti ditambahkan. Oleh karena itu naskah tersebut masih perlu dikoreksi secara garis besar. Dan inilah pekerjaan “manuscript editor”.</p>
<p>Sebaiknya perbaikan itu dilakukan sendiri oleh penulis. Editor cukuplah hanya memberi tanda dan catatan. Tapi kita bisa memaklumi bahwa acapkali hal tersebut menjadi tidak praktis. Alih-alih memperoleh perbaikan sebagaimana yang diinginkan, penerbit acapkali memperoleh perbaikan yang lebih “parah”. Oleh karena itu editor cenderung melakukan perbaikan sendiri. Tapi apapun yang terjadi, hendaklah perbaikan itu disetujui oleh penulis.</p>
<p>Adakalanya juga penulisan sebuah naskah sedemikian “parahnya” sehingga memerlukan perbaikan yang sangat banyak. Dalam banyak kasus hal ini sering diserahkan menjadi tanggung jawab copy editor. Tapi saya berpendapat ini bukanlah pekerjaan copy editor. Ini adalah sebuah penulisan ulang. Oleh karena itu—kalau anggaran memang mengizinkan dan demi efisiensi—sebaiknya naskah ini diberikan kepada orang luar untuk mengalami penulisan ulang.</p>
<p><strong>Melakukan copy editing</strong></p>
<p>Naskah yang telah mengalami perbaikan secara garis besar itu tentu masih perlu mengalami perbaikan yang lebih menditil. Tata bahasa dan penulisan kata-katanya harus disesuaikan dengan kaidah yang berlaku.. Fakta dan data harus dijaga konsistensinya. Inilah yang dilakukan oleh copy editor.</p>
<p><strong>Mengkoordinasi Pekerjaan Copy Editing, Setting, Desain Isi serta Sampul dan Pencetakan.</strong></p>
<p>Setelah naskah mengalami copy editing maka dia masih harus didesain, disetting, diberi ilustrasi (bilamana perlu), dibuatkan desain sampulnya dsb. Ini adalah sebuah pekerjaan yang rumit dan memerlukan perhatian khusus. Apalagi pekerjaan ini acapkali harus melibatkan tenaga luar. Di beberapa perusahaan penerbitan ada orang yang khusus diberi tugas untuk hal tersebut. Inilah yang disebut sebagai managing editor atau editor produksi. </p>
<p><strong>Catatan Tambahan:</strong></p>
<p>1, Persaingan dalam penerbitan buku umum non-fiksi dewasa ini sedemikian tingginya. Setiap topik—terutama yang popular—akan selalu diserbu oleh begitu banyak buku. Oleh karena itu para editor haruslah selalu rajin mengamati buku—baik terbitan Indonesia maupun asing&#8211;yang beredar di pasar untuk mencari peluang topik yang lebih baru dan penyajian yang lebih baru pula.</p>
<p>2. Persoalan hidup manusia sebenarnya sangat beragam. Oleh karena itu kebutuhan akan buku juga sebenarnya sangat beragam. Dituntut kepekaan dan kreativitas yang tinggi dari para editor untuk bisa merumuskan kelompok masyarakat yang membutuhkan jenis buku tertentu itu. Kalau masyarakat terkesan tidak membeli buku, maka salah satu penyebabnya barangkali adalah bahwa mereka memang tidak menemukan buku yang dianggapnya sebagai jawaban atas persoalan kehidupannya.</p>
<p>3. Walaupun harus bertanggung jawab terhadap sebuah bidang terbitan non-fiksi yang sangat khusus, tapi editor tidaklah harus seorang yang ahli di dalam bidang tersebut. Editor buku (buku umum non-fiksi) manajemen tidak harus seorang ahli manajemen. Demikian pula, editor buku (buku umum non-fiksi) psikologi harus seorang ahli psikologi. Hal yang dituntut dari seorang editor hanyalah kemampuan untuk berpikir runut dan logis, memiliki pengetahuan umum yang luas, memiliki citarasa bahasa yang tinggi, dan memiliki kepekaan terhadap pikiran dan perasaan calon pembaca bukunya. Seandainya pun sebuah naskah membutuhkan penilaian atas topik bahasannya, maka editor bisa menanyakan pendapat seorang ahli.</p>
<p>4. Editor adalah orang yang bekerja di belakang layer. Dalam penerbitan sebuah buku bahkan berlaku tradisi untuk tidak mencantumkan nama editor. Bahkan kalau sebuah buku—yang notabene merupakan gagasan editor—mengalami keberhasilan, editor tidak ikut menikmati royalti sebagaimana yang dinikmati pengarang. Namun demikian editor adalah sebuah profesi yang menyenangkan. </p>
<p>5. Sering dikatakan orang, bahwa editor dalam penerbitan buku itu sama fungsinya dengan sutradara dalam pembuatan filem. Dialah dirigen yang mengorkestrasi berbagai pekerjaan—termasuk pekerjaan—di luar editing, yang dibutuhkan untuk keberhasilan penerbitan sebuah buku. Editor tidak boleh terpaku hanya pada urusan memperbaiki naskah.</p>
<p>6. Editor adalah penengah antara kepentingan penulis dan perusahaan penerbit tempatnya bekerja. Dia adalah seorang juru runding.</p>
<p><strong>Penutup:</strong></p>
<p>Setiap perusahaan penerbitan tentu membangun organisasinya berdasarkan ketersediaan tenaga yang ada, atau yang dalam waktu dekat diperkirakan akan ada,. Oleh karena itu fungsi-fungsi sebagaimana yang tersebut di atas ada yang memang ditangani oleh orang-orang yang khusus, tapi ada juga yang dirangkap oleh satu orang. Tapi apa pun pengaturan yang terjadi, hendaklah itu dilakukan demi untuk menghasilkan buku yang baik mutunya, mememenuhi kebutuhan kelompok pembaca yang menjadi sasarannya, terbit tepat waktu, diproduksi dengan seefisien mungkin, dan—akhirnya—memberi keuntungan finansil bagi perusahaan [.]</p>
<p><em>Catatan:<br />
Tulisan ini tadinya adalag pengantar untuk pelatihan editor yang diselenggarakan oleh IKAPI DKI Jakarta pada haru Sabtu, 15 Mei 2010, di Jakarta</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulaharahap.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulaharahap.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulaharahap.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulaharahap.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/605/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/605/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/605/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=605&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/26/editing-naskah-buku-umum-non-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f8cbbd628f2ab914d326138f92bdd97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemelut dalam Indusri Penerbitan Buku Sekolah dan Bagaimana Penerbit Mengatasinya</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/26/622/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/26/622/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 01:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Penerbitan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[buku sekolah elektronik]]></category>
		<category><![CDATA[buku teks pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[industri penerbitan buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap (Notulis) Pada hari Jumat 4 Juni 2010, bertempat di kantor IKAPI DKI Jakara telah berlangsung sebuah diskusi “round table” yang membicarakan permasalahan di seputar industri penerbitan buku sekolah. Diskusi yang diselenggarakan oleh Pengurus IKAPI DKI Jakarta, dan &#8230; <a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/26/622/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=622&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Mula Harahap (Notulis)</p>
<p><em>Pada hari Jumat 4 Juni 2010, bertempat di kantor IKAPI DKI Jakara telah berlangsung sebuah diskusi “round table” yang membicarakan permasalahan di seputar industri penerbitan buku sekolah. </p>
<p>Diskusi yang diselenggarakan oleh Pengurus IKAPI DKI Jakarta, dan yang dihadiri oleh sejumlah pengamat industri penerbitan buku dan praktisi industri penerbitan buku sekolah ini, adalah diskusi pertama dari serangkaian diskusi untuk memetakan permasalahan yang dihadapi oleh industri penerbitan buku Indonesia, serta mencari pikiran-pikiran bagaimana mengatasi permasalahan tersebut.</p>
<p>Berikut ini adalah rangkuman dari diskusi tersebut. Mudah-mudahan dari rangkuman diskusi awal ini para penerbit anggota IKAPI bisa memahami persoalan secara lebih baik dan bisa memuncukan gagasan dan pikiran untuk perbaikan di masa mendatang.<br />
<span id="more-622"></span></p>
<p></em><br />
<strong>“Scheme” Buku “BSE” dan Larangan Menjual Buku Lain di Sekolah</strong></p>
<p>Kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional untuk membeli hak cipta buku-buku teks pelajaran (pada awalnya “scheme” ini dimaksudkan untuk menyediakan buku yang bisa diunduh melalui jaringan internet dan karenanya dikenal sebagai Buku Sekolah Elektronik atau BSE) dan membebaskan siapa saja untuk menggandakan buku-buku tersebut sepanjang harga jualnya tidak melebihi harga yang telah dipatok oleh Pemerintah, serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang melarang sekolah untuk membeli buku apapun dari penerbit kecuali buku teks pelajaran yang hak ciptanya telah dipegang oleh Pemerintah itu, tentu merupakan pukulan besar bagi para penerbit.</p>
<p>Pasar bagi buku-buku teks pelajaran biasa menjadi tertutup. Oleh karena itu banyak penerbit buku sekolah yang terpaksa mengurangi kegiatannya, dan pada gilirannya mengurangi karyawannya. Memang beberapa penerbit buku sekolah masih bisa “bertahan” dengan “main kucing-kucingan” menggiatkan penjualan buku-bukunya di sekolah swasta yang sampai saat ini masih banyak yang tidak terlalu memperdulikan ketentuan tersebut. Kemudian para penerbit juga masih bisa—kembali dengan “main kucing-kucingan&#8211;memanfaatkan peluang untuk menjual buku teks pelajarannya, baik di sekolah negeri maupun swasta, yang edisi “BSE” atau edisi murahnya belum tersedia di pasar. </p>
<p><strong>Penerbit Menjadi “Packager”</strong></p>
<p>Tapi kebijakan populis menyediakan buku “BSE” atau buku murah yang hak ciptanya dipegang oleh Pemerintah ini disinyalir tidak akan bisa dibendung lagi. Dalam waktu  yang tidak terlalu lama lagi semua mata pelajaran (SD, SMP dan SMA) akan memliki edisi murahnya. Dan setiap mata pelajaran bukan saja akan memiliki satu judul buku; tapi beberapa judul buku.</p>
<p>Oleh karena itu upaya lain yang bisa dilakukan oleh penerbit buku sekolah untuk bisa bertahan adalah ikut menciptakan buku teks pelajaran untuk ditawarkan agar hak ciptanya dibeli oleh Pemerintah dan buku tersebut masuk dalam “scheme” buku “BSE”. </p>
<p>Tapi oleh para penerbit upaya ini dirasakan bukanlah sebagai sebuah solusi yang langgeng. Ini hanyalah tindakan darurat untuk bertahan hidup. Harga pembelian&#8211;atau lebih tepatnya penyewaan hak cipta untuk jangka waktu 15 tahun—itu tidaklah terlalu besar. Dahulu Pemerintah memang masih bersedia membeli hak cipta sebuah edisi dengan harga Rp. 150 juta. </p>
<p>Tapi dari tahun ke tahun harga tersebut cenderung menurun terus. Bahkan karena banyaknya fihak (penerbit maupun pengarang) yang menawarkan hak cipta buku pelajarannya agar dibeli oleh Pemerintah, maka Pemerintah berada dalam posisi tawar yang kuat. Menurut kabar bahwa kini ada buku yang hak ciptanya bisa dibeli Pemerintah hanya dengan harga Rp. 25 juta. Bila dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh penerbit jika ia memproduksi dan menjual bukunya secara biasa di pasar, maka pendapatan yang diperoleh penerbit dari menjual hak cipta bukunya, tentu saja sangat kecil.</p>
<p><strong>Penerbit Yang Hanya Menjadi Pencetak</strong></p>
<p>Sebenarnya penerbit bisa juga ikut “bermain” dengan menerbitkan buku-buku yang hak ciptanya telah dibeli oleh Pemerintah itu. Apalagi, sebagaimana telah diuraikan di atas, hak cipta tersebut bebas dimanfaakan oleh siapa pun (penerbit, percetakan, distributor dsb) untuk ikut menerbitkan buku edisi murah tersebut). </p>
<p>Tapi disebabkan semua pihak bisa menerbitkan buku “BSE” yang sama asalkan harga jualnya tidak melebii yang telah dipatok oleh emerintah, maka pasar untuk buku tersebut menjadi sangat sempit. Dan pasar yang sempit tersebut atau oplah yang kecil pada gilirannya menyebabkan penerbit sukar untuk mengikuti harga yang telah dipatok oleh Pemerintah tersebut. Atau, kalau pun penerbit tetap juga menerbitkannya, maka keuntungan yang akan diperolehnya sangat jauh dari memadai. Oleh karena itulah maka kini hanya ada satu atau dua perusahaan besar non-penerbit buku, yang memiliki modal besar dan jaringan distribusi luas, yang mampu menerbitkan buku edisi murah tersebut. Dan bila ditinjau dari asas pemertaaan dan keadilan, maka kenyataan ini tentu sudah tidak sehat.</p>
<p>Hal lain yang bisa dilakukan oleh penerbit buku sekolah pada masa kirisis ini ialah mencoba tetap menerbitkan buku teks pelajaran, buku pelengkap dsb dan menjualnya melalui saluran toko buku. (Perlu diingat bahwa tidak ada larangan bagi sekolah untuk merekomendasikan sebuah buku kepada orangtua dan untuk dibeli di toko buku). Tapi mengingat bahwa buku murah atau buku “BSE” itu bebas atau tidak dilarang untuk dijual di sekolah, maka tentu saja akan kecil sekali kemungkinan ada murid atau orangtua yang membeli buku biasa terbitan para penerbit itu di toko buku. Apatah lagi dewasa ini banyak sekali dana-dana proyek Pemerintah (APBN atau APBD) yang dipergunakan untuk membeli buku-buku murah tersebut. (Bahkan dalam banyak kasus, sekolah acapkali menerima buku “BSE” yang judul maupun eksemplarnya melebihi kebutuhan.</p>
<p><strong>Pergeseran Paradigma dalam Industri Penerbitan Buku</strong></p>
<p>Kebijakan Pemerintah untuk melarang penjualan buku oleh penerbit di sekolah (kecuali buku murah atau buku “BSE”), kebijakan penyediaan buku murah atau buku “BSE” melalui pembelian hak cipta oleh Pemerintah, dan kebijakan membebaskan semua fihak untuk menerbitkan buku yang sama dengan harga yang telah dipatok oleh Pemerintah tentu saja adalah kebijakan-kebijakan yang didasari oleh niat baik, yaitu untuk membuat proses penyelenggaraan pendidikan yang berbiaya murah. Tapi dalam prakteknya kebijakan tersebut telah melemahkan industri penerbitan buku sekolah sebagaimana yang beberapa aspeknya telah diuraikan di atas. </p>
<p>Sebagai dampak dari kebijakan Pemreintah ini, paradigma penerbitan buku sekolah pun telah mengalami pergeseran. Kini semua fihak (penerbit, pencetak, distributor, atau siapa pun) bebas untuk menerbitkan versi buku murah atau buku “BSE” tersebut. Tapi disebabkan oleh alasan-alasan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, tidak banyak penerbit buku sekolah yang tertarik dengan “scheme” ini dan mau mencetak serta menerbitkab buku murah atau buku “BSE” tersebut. Akibatnya “scheme” ini diambil oleh pihak-pihak lain yang tidak memiliki tradisi sebagai penerbit buku sekolah, tapi yang memiliki modal besar serta jaringan distribusi cukup luas. Merekalah yang mampu menerbitkan buku murah atau buku “BSE” tersebut dengan oplah yang sangat besar dan karena itu masih mampu juga meraih keuntungan dari harga jual yang relatif rendah dan yang telah dipatok oleh Pemerintah tersebut.</p>
<p>Dari sisi pihak pengguna, terutama Pemerintah dan peserta didik serta orangtuanya, kebijakan ini tentu sangat menggembirakan. Tapi kebiakan ini melemahkan atau bahkan bisa mematikan para penerbit yang telah memiliki tradisi dan keahlian sebagai penerbit buku sekolah. Dan kalau penerbit buku sekolah sudah tidak ada, maka siapa lagi yang bisa melakukan inovasi, yaitu mendorong dan membimbing para guru untuk menulis dan menerbitkan buku yang baik? </p>
<p>Jangan kita lupa, bahwa industri penerbitan buku adalah sebuah industri yang faktor idelismenya jauh lebih besar dari faktor komersilnya. Para usahawan besar yang tidak memiliki tradisi dan keahlian sebagai penerbit itu belum tentu mau dan bisa melakukan inovasi sebagaimana yang selama ini telah dilakukan oleh penerbit buku sekolah. Mereka hanya mau menjadi penerbit ketika secara ekonomi “scheme” buku murah atau buku “BSE” tersebut memang menjanjikan keuntungan yang sepadan dengan modal yang telah dikeluarkannya; apalagi dewasa ini dana pemerintah yang disediakan untuk membeli buku murah atau buku “BSE” berlimpah.</p>
<p><strong>Toko Buku Tetap Terpinggirkan</strong></p>
<p>Pada awalnya, ketika “scheme” buku murah atau buku”BSE” ini diluncurkan, Pemerintah juga berharap bahwa “scheme” ini akan menghidupkan toko buku sebagai mata rantai dalam sistem industri penerbitan buku. Tapi kebijakan yang menganak-emaskan buku murah atau buku “BSE” untuk bebas dijual di sekolah, dan yang sekaligus menganak-tirikan buku teks pelajaran dan buku pelengkap biasa yang hanya boleh diual di toko, ternyata tidak mencapai sasaran. Para produsen buku murah atau buku “BSE” tersebut—dan yang notabene bisa siapa saja&#8211;tetap saja mem-“by-pass” toko buku. Oleh karena itu toko buku tak ikut mencicipi keuntungan dari scheme “tersebut”. </p>
<p>Sementara itu pada pihak lain—karena buku murah atau buku “BSE” begitu mudahnya diperoleh di sekolah—maka konsumen tak tertarik lagi untuk membeli buku teks pelajaran atau buku pelengkap yang diproduksi oleh penerbit buku sekolah tradisinal dan yang hanya boleh dijual di toko buku.</p>
<p>Penerbit buku sekolah juga merasakan ketidak-adilan kebijakan dalam hal toleransi terhadap standar buku teks sekolah. Selama ini BSNP (Badan Standarisasi Nasional Pendidikan) telah mengeluarkan sejumlah standar—terutama standar fisik&#8211;yang harus dipatuhi oleh penerbit dalam menerbitkan buku teks pelajaran. Tapi dalam hal penerbitan buku murah atau buku “BSE” standar tersebut ternyata tak berlaku. Demi untuk mempertahankan harga jual yang relaif rendah sebagaimana yang dipatok oleh Pemerintah, maka para “penerbit”(dan itu bisa berarti penerbit, pencetak, distributor, atau siapa saja) acapkali mengabaikan standar fisik tersebut. Dan bagi penerbit buku sekolah yang biasa atau tradisional hal ini juga tentu dirasakan sebagai suatu ketidak-adilan.</p>
<p><strong>Ketika IKAPI Tidak Didengar dan Penerbit Tidak Disiplin</strong></p>
<p>Munculnya “scheme” buku “BSE” dengan segala akibat yang ditimbulkannya sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari hubungan para penerbit buku sekolah—terutama dalam kebersamaan mereka di IKAPI—dengan Pemerintah. IKAPI tidak berhasil untuk sedikit pun memberikan sumbangan pikirannya bagi sebuah kebijakan yang sama-sama menguntungkan, yaitu tetap tumbuhnya industri penerbitan buku sekolah yang sehat, dan tercapainya penyelenggaraan pendidikan yang berbiaya murah.</p>
<p>Kebijakan Pemerintah untuk membuat “scheme” buku “BSE” itu adalah sebuah kebijakan politik yang populis dan terutama sebagai perwujudan janji Presiden SBY ketika ia berkampanye di tahun 2004 untuk membuat pendidikan yang berbiaya murah. Tapi ketika Pemerintah masih dalam tahap awal rencanya untuk membuat buku “BSE”, maka alih-alih menyokong kebijakan tersebut seraya memberikan masukan yang menguntungkan industri penerbitan buku sekolah, maka IKAPI hanya sibuk “mentorpedo” rencana tersebut. Dan upaya itu bukan pula dilakukan dalam pertemuan-pertemuan tertutup, tapi justeru dilakukan dalam ruang terbuka melalui pernyataan di media massa. </p>
<p>Sementara itu, pada pihak lain, para penerbit buku sekolah yang tergabung dalam IKAPI juga ternyata tidak cukup berdisplin. Secara diam-diam cukup banyak penerbit buku sekolah yang melakukan perundingan dengan Pemerintah untuk menyokong kebijakan tersebut dan bersedia hanya untuk menjadi “packager” dalam memasok naskah ke Pemerintah, dan kemudian menjadi pencetak (karena memang itulah hakekat yang dilakukan dalam menerbitkan buku “BSE”) dari buku yang hak ciptanya sudah dibeli oleh Pemerintah tersebut. </p>
<p>Kekakuan IKAPI ini tentu saja dimanfaatkan oleh kelompok usaha besar yang bukan penerbit buku sekolah. Dengan serta=merta mereka menyatakan diri untuk siap melaksanakan “scheme” tersebut sebagaimana yang diinginkan oleh Pemerintah. Dan Pemerintah yang memang sedang membutuhkan dukungan untuk kebijakan populisnya tentu saja menyambut tawaran tersebut dengan sukarela. Dan pada fihak lain, ketidak-disilinan anggota IKAPI itu semakin dimanfaatkan oleh Pemerintah untuk menggencarkan “scheme” pembelian hak cipta.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Belajar dari kasus “scheme” buku “BSE” dengan segala dampaknya sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka di masa mendatang pola kerja para penerbit yang tergabung dalam IKAPI dalam berurusan dengan Pemerintah perlu diubah.</p>
<p>IKAPI perlu lebih sering dan lebih rajin memantau rencana berbagai kebijakan Pemerintah (terutama perbukuan) dari jenjang paling bawah birokrasi. Segala kritik, usulan atau masukan dari IKAPI sebaiknyalah dilakukan dalam suasana saling percaya dan kemitraan yang sejajar. Kemudian segala rencana kebijakan itu hendaknya selalu diinformasikan secara luas  dan didiskusikan secara intensif oleh para penerbit. Dan dalam memperjuangkan setiap kebijakan, hendaklah IKAPI selalu ingat bahwa dia adalah institusi yang memperjuangkan kepentingan seluruh penerbit atau industri penerbitan buku nasional, dan bukan kepentingan satu atau dua penerbit besar, Pada fihak lain, IKAPI juga tidak boleh segan menindak anggotanya yang tidak berdisiplin dan mengganggu kepentingan bersama.</p>
<p>“Scheme” buku murah atau buku “BSE” ini tampaknya tidak mungkin untuk dibatalkan begitu saja. Oleh karena itu yang bisa dilakukan oleh IKAPI hanyalah bagaimana memberi usulan kepada Pemerintah agar mau berpikir lebih panjang ke depan, melakukan modifikasi dan membuat kebijakan-kebiakan baru yang lebih adil demi kelangsungan industri penerbitan buku nasional yang notabene juga adalah demi kepentingan pendidikan nasional.</p>
<p>Beberapa hal yang sempat terpikir antara lain—misalnya—adalah bagaimana  membuat kebijakan yang adil dalam masalah penjualan buku di sekolah. Misalnya membolehkan semua buku untuk dijual di sekolah, atau samasekali tidak membolehkan buku apa pun dijual di sekolah. Kemudian bagaimana membuat kebijakan standarisasi (fisik) yang harus dipatuhi oleh buku apa pun itu. Kemudian juga bagaimana membuat kebijkan agar dana negara tidak hanya dipakai untuk membeli buku-buku murah atau “BSE” dan yang seringkali menjadi mubazir, tapi juga membeli buku-buku lain. Kemudian juga bagaimana membuat kebijakan agar “kue” buku “BSE” itu tidak hanya dinikmati oleh mereka yang menjadi penerbit secara amatir dan temporer, tapi juga terutama dinikmati oleh para penerbit yang secara tradisi dan keahlian memang berkcimpung dalam penerbitan buku sekolah.</p>
<p>Akhirnya, apa pun kebijakan yang diusulkan oleh para penerbit dalam kebersamaan mereka di IKAPI, maka perlu tetap diingat bahwa hal itu selalu membutuhkan dikusi yang intensif, matang dan argumennya “masuk akal” Pemerintah [.].</p>
<p>  . </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulaharahap.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulaharahap.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulaharahap.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulaharahap.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/622/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=622&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/26/622/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f8cbbd628f2ab914d326138f92bdd97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Video Itu, Saya, Keluarga dan Masyarakat</title>
		<link>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/19/video-itu-saya-keluarga-dan-masyarakat/</link>
		<comments>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/19/video-itu-saya-keluarga-dan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jun 2010 10:29:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mula Harahap</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Diri Sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan bermasyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[media massa]]></category>
		<category><![CDATA[video mirip Ariel Peterpan dan Luna Maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mulaharahap.wordpress.com/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mula Harahap Fenomena beredarnya video &#8220;mirip&#8221; Ariel Pieterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari tiba-tiba menyadarkan saya betapa ukuran-ukuran moral sudah sangat berubah&#8211;di dalam diri saya dan di sekitar saya&#8211;sebagai akibat perubahan teknologi informasi dan komunikasi: Kabar mengenai beredarnya &#8230; <a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/19/video-itu-saya-keluarga-dan-masyarakat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=617&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Mula Harahap</p>
<p><em>Fenomena beredarnya video &#8220;mirip&#8221; Ariel Pieterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari tiba-tiba menyadarkan saya betapa ukuran-ukuran moral sudah sangat berubah&#8211;di dalam diri saya dan di sekitar saya&#8211;sebagai akibat perubahan teknologi informasi dan komunikasi:</em> </p>
<p>Kabar mengenai beredarnya video ini mula-mula saya ketahui ketika membaca beberapa situs berita di internet. Di dalam situs-situs tersebut ditamplkan pula &#8220;photo still&#8221; dari Luna Maya yang sedang berbaring sehingga membuat saya jadi sedikit &#8220;penasaran&#8221;. Tapi karena sejak lama saya sudah membangun sikap untuk tidak mau menonton orang yang memang tidak ingin ditonton, maka rasa penasaran itu bisa saya tekan.<br />
<span id="more-617"></span></p>
<p>Dulu ketika video &#8220;Bandung Lautan Asmara&#8221; dan &#8220;Yahya Zaini dan Maria Eva&#8221; beredar, sikap itu jugalah yang saya anut. Walaupun saya sudah tinggal &#8220;sejengkal&#8221; untuk bisa melihat video tersebut (baca: video itu sudah ada di ponsel kawan yang duduk di sebelah saya) tapi saya tetap tak mau melihatnya. Saya pikir-pikir, disamping alasan &#8220;fairness&#8221;, maka hal lain yang menyebabkan saya tak suka menonton video itu mungkin juga disebabkan karena saya tak suka kalau hal yang sama terjadi pada diri saya. (Dan &#8220;kayaknya&#8221; di Matius 7:12 ada ayat yang senada tentang itu). Dan begitulah urusan video Luna Maya menjadi terlupakan sepanjang sisa hari itu.</p>
<p>Tapi malamnya ketika saya sedang berbaring-baring membaca koran di kursi panjang, anak lelaki saya yang sedang membuka-buka internet di seberang saya nyeletuk, &#8220;Bapak, sudah nonton video Luna Maya, belum&#8230;.?&#8221; Jawab saya kepada anak saya, &#8220;Belum&#8230;..&#8221; Lalu saya jelaskan pula kepadanya sikap moral saya untuk tidak suka mengintip atau menonton orang tanpa sepengetahuan dan seizin yang bersangkutan.</p>
<p>&#8220;Bapak,&#8221; kata anak lelaki saya itu pula, &#8220;Tapi Si Ariel ini memang suka untuk ditonton orang koq&#8230;.&#8221; Lalu anak bercerita panjang-lebar tentang betapa&#8211;menurut informasi yang diperolehnya dari temannya sekantor&#8211;Ariel ini memang punya kebiasaan untuk merekam semua hubungan seksual yang dilakukannya dengan perempuan, lalu kemudian memutarnya di depan kawan-kawannya sambil tertawa-tawa.</p>
<p>Mendengar penjelasan anak saya itu, maka seraya bangkit menuju ke komputer saya pun berkata, &#8220;Kalau dia memang ingin untuk ditonton, yah sebagai orang yang menjunjung tinggi sopan-santun, tentu kita harus menontonnya&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Tapi ketika saya melongok monitor komputer, ternyata yang saya lihat adalah sebuah situs penggemar fotografi. Karena itu saya bertanya, &#8220;Lha, mana&#8230;.?&#8221; Kata anak saya, &#8220;Ada di USB saya, tapi ketinggalan di kantor. Kalau harus di-down-load di sini, lama sekali. Bapak cari sajalah link-nya di Google, dan down-load sendiri&#8230;&#8221;</p>
<p>Saya pun kembali meneruskan membaca koran sambil meperlihatkan sikap &#8220;nggak butuh-butuh amat&#8221;. Tapi ketika anak lelaki saya itu telah masuk ke kamarnya, tentu saja hal pertama yang saya lakukan adalah mencari link video tersebut di Google. Tapi karena saya adalah orang yang tidak terlalu paham dengan teknologi komputer, maka saya tak tahu bagaimana cara men-down-load video tersebut. Akhirnya saya sibuk membuka-buka Facebook.</p>
<p>Besok paginya&#8211;hari Sabtu&#8211;ketika anak lelaki saya keluar dari kamar, saya berkata padanya dengan&#8211;pura-pura&#8211;secara sambil lalu: &#8220;Bapak tak bisa men-down-load-nya tadi malam. Tolong bantu dulu&#8230;&#8230;&#8221; Kata anak saya, &#8220;Ya, ntar deh&#8230;..&#8221;</p>
<p>Tapi sepanjang hari Sabtu itu anak saya pergi entah kemana. Dan dia belum sempat men-down-load video tersebut. Oleh karena itu, malam harinya, ketika sedang bermain Facebook, secara iseng-iseng saya menulis status: &#8220;Tadi pagi saya suruh anak saya men-down-load video itu. Katanya &#8220;ntar&#8221;. Tapi entah dimana dia sekarang. Memang anak jaman sekarang tak hormat pada orang tua&#8230;.&#8221;</p>
<p>Karena isyu video sedang hangat dibicarakan dimana-mana, maka tentu saja atas status yang demikian saya mendapat banyak tanggapan. Ada yang bercanda, dan ada pula yang serius mengajari saya bagaimana cara men-down-load, dan ada pula yang mau menawarkan rekamannya kepada saya, asal saja saya mau mengambilnya di rumahnya. Tapi hal yang membuat saya terkesan ialah bahwa banyak sekali dari yang menanggapi status itu adalah warga gereja dan yang masih terhitung sebagai &#8220;ito&#8221;, &#8220;boru&#8221; atau &#8220;inangbao&#8221; saya. &#8220;Bah, sudah maju sekali jaman ini,&#8221; kata saya dalam hati.</p>
<p>Besoknya&#8211;hari Minggu pagi&#8211;ketika saya hendak pergi ke gereja, saya melihat anak saya sedang duduk di depan komputer. Sambil mengikat tali sepatu&#8211;dan mengesankan sikap yang &#8220;tak butuh-butuh amat&#8221;&#8211;saya kembali berkata kepada anak saya, &#8220;Eee, nanti jangan lupa, kau down-load-kan dulu video itu&#8230;.&#8221; Dan siangnya, selesai kebaktian, ketika saya kembali menyalakan ponsel, saya menerima pesan SMS dari anak lelaki saya itu, &#8220;Sudah saya down-load. Nama filenya Luna Maya. Selamat menikmati&#8230;.&#8221; Dan ketika video itu saya tonton, tentu saja di mata saya (lelaki yang berumur 56 tahun ini) tak ada hal yang terlalu istimewa lagi di sana. Dan urusan video selesai sampai di situ.</p>
<p>Besoknya&#8211;hari Senin pagi&#8211;ketika tiba di kantor dan menyalakan komputer, maka di layar monitor langsung muncul pesan chatting dari anak lelaki saya, &#8220;Bapak, sekarang ada seri video yang lebih baru lagi. Ariel dan Cut Tari. Ha-ha-ha-ha! Ini link-nya&#8230;&#8230;..&#8221;</p>
<p>Ketika link tersebut saya buka, kembali saya mendapat kesulitan untuk men-down-load. Tapi kepada siapa saya harus minta tolong? Karena di kantor ini saya adalah orang yang terhitung pimpinan dan salah satu yang dituakan, terpaksalah saya diam-diam saja. Tapi siangnya, ketika saya berjalan ke kantin, saya melihat di berbagai meja di kantor yang besar ini para karyawan&#8211;lelaki maupun perempuan, tua maupun muda, dan yang saleh maupun yang kurang saleh&#8211;sibuk menonton, tertawa-tawa, tersenyum-senyum dan menelengkan kepala. &#8220;Ada apa sih?&#8221; tanya saya kepada suatu kumpulan orang dan ikut bergabung menonton.</p>
<p>Dan siangnya, saya memanggil seorang anak buah yang terkesan &#8220;paling porno&#8221;. Kata saya kepada anak buah itu, &#8220;Tolong dulu kau down-loadkan video itu ke komputer ini&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sorenya, salah seorang adik saya berkirim SMS kepada saya, &#8220;Bang Mula punya video itu, nggak? Kalau punya, tolonglah bagi kepada saya&#8230;.&#8221; Sebenarnya abang yang paling langsung dari adik saya itu adalah Daniel Harahap. Tapi entah kenapa, dari dulu, kalau ada urusan yang &#8220;aneh-aneh&#8221; dia tidak pernah berhubungan dengan abang yang masih sepantarannya itu. Dia selalu mem-by-pass hierarki dan langsung berhubungan dengan saya, anak yang paling tua ini.</p>
<p>Disebabkan tak mau mengecewakan adik sendiri, dan juga disebabkan selalu ingin menjaga citra sebagai abang yang bisa diandalkan untuk segala hal, maka tentu saja&#8211;dengan berbagai cara&#8211;permintaan adik tersebut harus saya penuhi. Besok sorenya (Selasa) saya mampir di kantor Yakoma-PGI (Pelayanan Komunikasi untuk Masyarakat dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Kepada seorang staf yang sehari-harinya bekerja mengurusi produksi audio visual, saya berkata, &#8220;Tolong dulu cari disc kosong, dan kau pindahkan dulu ini ke disc tersebut&#8230;&#8221; Lalu sementara dia membawa komputer laptop saya ke dalam, saya duduk minum kopi di dapur.</p>
<p>Karena terlalu lama menunggu proses pemindahan rekaman dari komputer laptop ke disc, maka saya pun masuk ke kantor Yakoma. Ternyata semua karyawan (lelaki maupun perempuan, yang liberal maupun yang fundamental) sedang mengerubung di depan layar komputer. Dengan gaya &#8220;jaim&#8221; saya pun berkata, &#8220;Bagus. Bagus. Sebagai lembaga yang mengurusi media dan komunikasi, kita memang harus selalu tahu apa yang sedang terjadi di masyarakat&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bermacam-macam komentar karyawan yang menonton video tersebut. Seorang perempuan yang terkenal sebagai &#8220;pejuang feminist&#8221; menyeletuk, &#8220;Wuah, wuah, ini tidak bisa. Ini namanya kekerasan terhadap perempuan&#8230;.&#8221; Lalu kawannya yang lain&#8211;seorang lelaki&#8211;menyeletuk, &#8220;Yah, memang musti keras. Kalau tak keras bagaimana hubungan bisa terjadi&#8230;.&#8221; Lalu semua tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>Malamnya di rumah, isteri menyeletuk entah kepada siapa, &#8220;Seperti apa sih video itu? Koq dimana-mana orang heboh sekali dbuatnya&#8230;&#8221; Rupanya dia &#8220;termakan&#8221; juga dengan pemberitaan di berbagai acara infotainment.</p>
<p>Mendengar celetukan isteri saya, tentu saja saya pura-pura berkata, &#8220;Saya pun tak tahu. Tanya sajalah anakmu&#8230;&#8230;&#8221; Lalu isteri saya pun berkata kepada anak saya yang sedang asyik menonton teve, &#8220;Ya, Bang, seperti apa sih video itu? Kasih lihat dulu sama Mama&#8230;.&#8221;</p>
<p>Anak saya&#8211;yang rupanya sedang sibuk menonton&#8211;tanpa banyak berkata-kata langsung beranjak mengambil komputer laptop saya dan menyalakannya. Kata anak saya, &#8220;Nih, sebenarnya ada di laptop suamimu. Nonton, deh&#8230;..&#8221; Setelah gambar itu muncul, dia pergi menjauh dan meneruskan menonton teve. Tinggallah saya bersama iseri saya.</p>
<p>Sepanjang menonton video tersebut, isteri saya yang lugu dan polos itu hanya sibuk berkata, &#8220;Ck-ck-ck-ck&#8230;.&#8221; Tapi kemudian pada suatu kesempatan dia bertanya entah kepada siapa, &#8220;Lalu kapan mereka orgasme?&#8221; Kata saya kepadanya, &#8220;Yah, jangan tanya kepada saya. Mana saya tahu? Tanyalah kepada Luna Maya atau Cut Tari&#8230;&#8230;&#8221; Kemudian lagi, pada kesempatan lain dia menyeletuk sendiri, &#8220;Akh, nggak hebat-hebat &#8216;kali pun saya lihat punya Si Ariel itu&#8230;..&#8221; Lalu kata saya kepadanya, &#8220;Ya. Tapi yang jelas dia bisa mendapat Luna Maya dan Cut Tari, sementara saya cuma bisa mendapat kau&#8230;..&#8221; Kata isteri saya lagi menimpali, &#8220;Kubunuh kau&#8230;.&#8221;</p>
<p>Setelah selesai menonton, isteri saya kembali duduk di depan teve, disamping anak lelaki kami. Tiba-tiba dengan nada sangat serius dia berkata kepada anak itu, &#8220;Hei, jangan sekali-kali kau bikin video yang begitu, ya Bang? Kalau sampai ada videommu yang seperti itu dan beredar pula, Mama bisa mati berdiri&#8230;..&#8221; Kata anak lelaki saya pula dengan bercanda, &#8220;Wuah, nasehat Mama sudah terlambat. Saya sekarang justeru sedang kejar tayang&#8230;..&#8221; Isteri saya memekik, &#8220;Heh?!&#8221; Lalu kata saya kepada isteri saya, &#8220;Akh, jangan kau dengar ocehannya itu. Anak orang gila itu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sementara kami sedang mengobrol-ngobrol di depan teve, tiba-tiba ponsel saya berdering. Di ujung sana terdengar suara adik saya Daniel Harahap. Dia seorang pendeta. Rupanya fenomena beredarnya video ini membuat dia juga bingung dan terpikir-pikir. Itu bisa saya mengerti. Apalagi, dia masih mempunyai anak-anak yang duduk di bangku SD, yang masing-masing punya ponsel, dan yang masing-masing memiliki akses ke internet. &#8220;Bagaimana ya untuk menghadapi fenomena yang seperti ini?&#8221; tanyanya. Lalu kata saya kepadanya, &#8220;Wuah, saya nggak tahu. Anak-anak saya sudah dewasa. Justeru merekalah sekarang yang pusing, bagaimana menjaga bapaknya dari bahaya fenomena yang seperti ini&#8230;..&#8221; [.]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mulaharahap.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mulaharahap.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mulaharahap.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mulaharahap.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mulaharahap.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mulaharahap.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mulaharahap.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mulaharahap.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mulaharahap.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mulaharahap.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mulaharahap.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mulaharahap.wordpress.com/617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mulaharahap.wordpress.com/617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mulaharahap.wordpress.com/617/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mulaharahap.wordpress.com&amp;blog=962871&amp;post=617&amp;subd=mulaharahap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mulaharahap.wordpress.com/2010/06/19/video-itu-saya-keluarga-dan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3f8cbbd628f2ab914d326138f92bdd97?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Mula</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
