Oleh: Mula Harahap
Saya masuk TK Immanuel tahun 1959. Ketika saya masuk, kelas sudah berjalan selama beberapa bulan. Saya ingat benar akan hal ini, karena teman-teman saya sudah bisa menghafal beberapa nyanyian dan sudah terampil menempel-nempel kertas.
Ketika itu, tahun 1959, seluruh Perguruan Immanuel masih berlokasi di kompleks gereja GPIB, di Jalan Diponegoro. Hanya ada satu SD, yang terdiri dari enam kelas dan enam lokal, serta satu TK. Ruangan TK berada di ujung utara dekat Jalan Cut Meutia. Setahun kemudian, ketika murid-murid kelas enam SD tamat, barulah Immanuel membuka SMP-nya. Dan TK terpaksa dipindahkan ke kompleks asrama Bala Keselamatan di Jalan H. Samanhudi.
Keep reading →
Categories: Kehidupan Diri Sendiri
Tagged: kenangan masa kecil, kisah keluarga, memoar
Oleh: Mula Harahap
Ompung mempunyai seorang putera (saya memanggilnya tulang) yang setelah menamatkan MULO di Medan (sebelum kedatangan Jepang) melanjutkan pendidikannya di AMS Yogyakarta. Selama masa pengungsian di Laguboti, yaitu pada masa Penjahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan, kontak antara Ompung dan puteranya terputus. Karena itu bukan main senangnya Ompung ketika selesai Penyerahan Kedaulatan ia menerima surat dari Tulang yang mengabarkan keadaan dirinya baik-baik saja. Dan di dalam suratnya bahkan Tulang mengabarkan bahwa dia telah menikah, bekerja dan menetap di Jakarta. Tulang mengundang Ompung untuk meninggalkan Laguboti dan menetap saja di Jakarta.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Ompung Lelaki jatuh sakit, meninggal dan dikebumikan di Laguboti. Sementara itu dua puteri Ompung telah pula menikah dan tinggal di kota lain. Karena itu dengan berbagai pertimbangan, terutama masa depan bagi 3 puterinya yang masih remaja (salah satu di antaranya adalah ibu saya), Ompung pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta.
Keep reading →
Categories: Kehidupan Diri Sendiri
Tagged: kisah keluarga, memoar, pengalaman masa kecil
Oleh: Mula Harahap
Ketika saya masih kanak-kanak, di rumah kami di Medan, tepatnya di kamar tidur Ibu ada sebuah peti berukuran 1 x 0,5 x 0,5 meter yang terbuat dari kayu jati. Kami selalu dilarang oleh Ibu untuk membuka peti tersebut. Sebenarnya kami dilarang untuk membukanya bukan karena
peti itu berisi uang atau rahasia penting, tapi lebih disebabkan karena Ibu tidak ingin kalau peti itu diacak-acak dan isinya berceceran kemana-mana.
Kami menyebut peti tua itu sebagai “poti parpadanan”, terinspirasi dari istilah “peti perjanjian” yang disakralkan dan diusung-usung oleh orang Israel dalam eksodusnya keluar dari Mesir menuju ke Kanaan. Peti itu tadinya lama teronggok di sopo Ompung Perempuan di Laguboti, tapi di kemudian hari oleh Ibu diselamatkan dan dibawa ke Medan. Isinya sebenarnya barang tetek bengek: foto, sketsa, buku tulis, buku bacaan dalam bahasa Belanda, kamera jaman baheula yang sudah tidak berfungsi dsb. Sebagian besar barang-barang itu adalah milik Ompung (ayah ibu) dan adiknya (amangudanya ibu) Hutabarat, yang selama masa Penjajahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan ikut mengungsi di Laguboti, kampung iserinya.Tapi bagi Ibu semua barang tetek-bengek itu tentu saja sangat berharga.
Keep reading →
Categories: Kehidupan Diri Sendiri
Tagged: kisah keluarga, memoar, pengalaman masa kecil
Oleh: Mula Harahap
Sampai saya duduk di bangku kelas 2 SMP, saya masih sempat mengenal ompung boru saya dari fihak ibu, yang kami panggil dengan sebutan “Ompung Boru Hutajulu”. Walau pun sejak awal tahun 50-an Ompung–yang telah menjanda itu–telah menetap di Jakarta, tapi sesekali ia pulang ke Laguboti. Dan dalam perjalanan pulang-pergi ke Laguboti itu tentu saja ia akan
tinggal di rumah kami di Medan. Sebagai seseorang yang telah lama menetap di Jakarta tentu saja Ompung sangat fasih berbahasa Indonesia. Karena itu saya sangat senang bercakap-cakap dengan Ompung dan bertanya tentang berbagai hal, terutama tentu tentang masa kecilnya di Laguboti.
Ompung adalah cucu dari Raja Ihutan bermarga Hutapea yang tinggal di Lumban Balian. Ibunya adalah Boru Hutapea, sedangkan ayahnya adalah Hutajulu yang berasal dari Lumban Bagasan. Ada pun ibunya Ompung, yaitu isteri dari Raja Ihutan, adalah Boru Hutahaean. Sejak kecil Ompung telah ditinggal mati oleh ibunya. Karena ayahnya menikah lagi, maka ia pun diasuh oleh
kakek dan neneknya, yaitu Raja Ihutan dan isterinya Boru Hutahaean.
Keep reading →
Categories: Kehidupan Diri Sendiri
Tagged: kenangan masa kecil, kisah keluarga, memoar
Oleh: Mula Harahap
Penemu BBM murah berbasis air, Djoko Suprapto (48 tahun) mendadak jatuh pingsan di rumahnya, Dusun Turi, Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, Nganjuk, Sabtu (24 Mei 2008 siang). Penemu blue energy itu pingsan saat hendak menjelaskan penemuannya kepada wartawan.
Saat duduk di sofa didampingi istrinya, Winda Mira, Djoko berusaha menjelaskan proses
penemuan mutakhirnya. Belum tuntas penjelasannya, tiba-tiba tangan Djoko gemetar. Kepalanya merunduk pelan kemudian lemas hingga menyentuh lengan kiri.
Wajahnya pucat. Dalam hitungan detik, kepala Djoko jatuh menimpa tangan kirinya yang disandarkan di pinggir sofa. Tidak hanya Winda Mira, lima orang dekat Djoko yang ada di ruang tamu utama itu kaget. Beberapa saat kemudian Djoko siuman. Winda Mira langsung membukakan segelas air mineral dan diminumkan ke suaminya.
“Maaf ya, bapak kondisinya sedang tidak fit. Tolong beri kesempatan suami saya istriahat dulu. Lain kali diwawancarai lagi,” pinta Winda kepada wartawan.. Kemudian, orang-orang kepercayaan Djoko meraih kedua tangannya untuk dipapah masuk ke ruang dalam.
(Berita di http://www.kompas.com Minggu, 25 Mei 2008))
Kisah tentang Djoko Suprapto yang mengaku telah menemukan bahan bakar dari air di sebuah laboratorium yang lokasinya sangat dirahasiakannya itu tadinya saya anggap saja sebagai sebuah guyonan di saat hati jengkel mendengar pengumuman kenaikan harga jual BBM. Saya tak mengerti dasar ilmu fisika atau teknologi mana yang dipakainya (sebagaimana yang diuraikan lebih jauh dalam berita kompas.com tersebut), Saya juga tak pernah membaca atau mendengar langkah-langkah awal penemuannya ini di jurnal atau publikasi yang punya bobot ilmiah.
Keep reading →
Categories: Peristiwa Sosial
Tagged: blue energy, modus penipuan, skandal