Tag Archives: pengalaman masa kecil

Kehilangan Guru

Oleh: Sal Hutahaean

Ibu Santun adalah guru saya ketika SD, empat puluh tahun lalu. Orangnya kecil, mungil, dengan wajah yang selalu tampak ceria. Wajahnya mirip Sherina cilik, dengan jidat yang selalu mengerinyut manis. Sosok Ibu Santun sebenarnya bisa disebut ringkih, karena selain bertubuh kecil, ia pun pendek, dan agak kurusan pula. Akan tetapi, keceriaan yang selalu tampil di wajahnya menghilangkan kesan tubuh yang ringkih itu, yang ada adalah sosok guru yang lincah dan menyenangkan.

Ibu Santun seorang guru yang baik. Seingatku, beliau tidak pernah marah. Ia termasuk berperilaku sabar untuk seorang guru muda yang usianya saat itu belum mencapai tigapuluh tahun. Ia membimbing murid-muridnya dengan kesabaran seorang ibu. Dia memang telah menjadi seorang ibu kala itu. Kewajiban mengajar murid sekolah dan kewajiban mengasuh bayinya dikerjakannya bersamaan.
Continue reading

Kenangan Semasa Masih Bersekolah di SR PSKD Kwitang VII

Oleh: Mula Harahap

Saya bersekolah di PSKD VII (Jl. Sam Ratulangi) antara tahun 1963-1964. Saya dan adik-adik mengikuti ayah dan ibu. Ayah saya berencana untuk mencari pekerjaan baru di Jakarta. Tapi entah mengapa, setelah delapan bulan di Jakarta, ia mengurungkan rencananya dan kami semua kembali ke Medan.

Selama beberapa bulan di Jakarta kami tinggal di rumah Ompung (ibu dari ibu saya) yang terletak di Jalan Timor 19 Pavilun. Ada pun rumah induknya ditempati oleh Keluarga Hasan Basri, yang dikemudian hari pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia. Rumah itu terletak di penggalan Jalan Timor yang dekat ke Jalan Sunda dan berada dalam satu barisan dengan rumah bintang filem Baby Huwae yang dikemudian hari dikenal sebagai Lokita Purnamasari.
Continue reading

Eksperimen Anak-anak

Oleh: Mula Harahap

Ketika masih kecil Henry Ford–penemu produksi mobil dengan sistem ban berjalan itu–pernah membendung selokan yang mengalir di dekat rumahnya sehingga menimbulkan banjir besar. Entah apa yang ada di kepala Henry Ford waktu itu. Mungkin dia hanya sekedari ingin tahu apa akibatnya kalau selokan dibendung.

James Watt penemu mesin uap itu pernah merebus air di dalam ketel tanah liat dan menutup semua lubang pada ketel tersebut juga dengan tanah liat. Akibatnya tentu bisa dibayangkan: ketel itu meledak dan memporak-porandakan dapur ibunya..

Thomas Alva Edison pernah duduk mengerami sejumlah telur ayam. Tentu saja telur ayam itu tidak sempat menetas karena Thomas Alva Edison sudah keburu dianggap gila oleh ibu dan tetangganya

Continue reading

Oom Salahnama

Oleh: Mula Harahap

Saya tidak ingat apakah cerita tentang tetangga kami yang satu ini sudah pernah
diceritakan oleh adik saya Daniel Harahap dalam buku memoarnya “Anak Penyu Menggapai Laut”, atau belum. Tapi seandainya pun sudah, izinkanlah saya membaginya kembali:

Ketika masih kanak-kanak, kami tinggal di sebuah rumah besar warisan Belanda di kompleks perumahan pegawai dari sebuah balai penelitian perkebunan di Kampung Baru–Medan. Rumah besar berlantai dua itu dihuni oleh tiga keluarga. Di atas ada Keluarga Harahap, dan di bawah ada Keluarga Susilo dan satu keluarga lagi yang terdiri dari seorang lelaki tua keturunan Yahudi-Belanda dengan beberapa anak asuhnya.

Continue reading

Panjang Umurnya, Panjang Umurnya

Oleh: Mula Harahap

Pada masa saya masih duduk di Sekolah Dasar–tepatnya di SD Kristen Immanuel, Jalan Diponegoro, Medan–hari ulang tahun anak belumlah dirayakan semeriah sekarang. Dulu belum ada tradisi untuk membagi-bagikan paket yang berisi aneka macam makanan bagi teman-teman sekelas, dan juga belum ada tradisi untuk mengadakan pesta eksklusif di McDonald atau Pizza Hut.

Anak-anak yang berulang tahun biasanya hanya membawa sekaleng “bonbon” ke kelas. Pada jam pelajaran selepas keluar main pertama, ibu atau bapak guru akan memanggil anak yang berulang tahun ke depan kelas, Lalu ibu atau bapak guru akan memimpin seisi kelas menyanyikan, “Panjang Umurnya”, “Selamat Ulang Tahun” atau “Pada Yang Tambah Umurnya”.

Continue reading

Sebuah Pavilun di Jalan Timor

Oleh: Mula Harahap

Ompung mempunyai seorang putera (saya memanggilnya tulang) yang setelah menamatkan MULO di Medan (sebelum kedatangan Jepang) melanjutkan pendidikannya di AMS Yogyakarta. Selama masa pengungsian di Laguboti, yaitu pada masa Penjahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan, kontak antara Ompung dan puteranya terputus. Karena itu bukan main senangnya Ompung ketika selesai Penyerahan Kedaulatan ia menerima surat dari Tulang yang mengabarkan keadaan dirinya baik-baik saja. Dan di dalam suratnya bahkan Tulang mengabarkan bahwa dia telah menikah, bekerja dan menetap di Jakarta. Tulang mengundang Ompung untuk meninggalkan Laguboti dan menetap saja di Jakarta.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Ompung Lelaki jatuh sakit, meninggal dan dikebumikan di Laguboti. Sementara itu dua puteri Ompung telah pula menikah dan tinggal di kota lain. Karena itu dengan berbagai pertimbangan, terutama masa depan bagi 3 puterinya yang masih remaja (salah satu di antaranya adalah ibu saya), Ompung pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta.

Continue reading

Poti Parpadanan

Oleh: Mula Harahap

Ketika saya masih kanak-kanak, di rumah kami di Medan, tepatnya di kamar tidur Ibu ada sebuah peti berukuran 1 x 0,5 x 0,5 meter yang terbuat dari kayu jati. Kami selalu dilarang oleh Ibu untuk membuka peti tersebut. Sebenarnya kami dilarang untuk membukanya bukan karena
peti itu berisi uang atau rahasia penting, tapi lebih disebabkan karena Ibu tidak ingin kalau peti itu diacak-acak dan isinya berceceran kemana-mana.

Kami menyebut peti tua itu sebagai “poti parpadanan”, terinspirasi dari istilah “peti perjanjian” yang disakralkan dan diusung-usung oleh orang Israel dalam eksodusnya keluar dari Mesir menuju ke Kanaan. Peti itu tadinya lama teronggok di sopo Ompung Perempuan di Laguboti, tapi di kemudian hari oleh Ibu diselamatkan dan dibawa ke Medan. Isinya sebenarnya barang tetek bengek: foto, sketsa, buku tulis, buku bacaan dalam bahasa Belanda, kamera jaman baheula yang sudah tidak berfungsi dsb. Sebagian besar barang-barang itu adalah milik Ompung (ayah ibu) dan adiknya (amangudanya ibu) Hutabarat, yang selama masa Penjajahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan ikut mengungsi di Laguboti, kampung iserinya.Tapi bagi Ibu semua barang tetek-bengek itu tentu saja sangat berharga.

Continue reading