Monthly Archives: April 2007

Selamat Pagi Tuhan dan Budaya Verbalisme

Oleh: Mula Harahap

I.
“Selamat” atau “salam” berasal dari kata bahasa Arab yang artinya “damai sejahtera”. Ia mirip dengan kata bahasa Ibrani “syaloom”.
Kalau kita memakai kata “selamat” sebagai awal dalam menyapa seseorang, maka di dalamnya terkandung pengertian “semoga kau berada dalam keadaan damai sejahtera”. Dan di dalam “selamat pagi” terkandung pengertian “semoga kau berada dalam keadaan damai sejahtera pagi ini”.

Saya memang sering mendengar orang mengatakan “Selamat pagi, Tuhan Yesus”. Dalam beberapa peristiwa bahkan saya pernah ikut berdoa bersama sekelompok orang, dimana si pembawa doa memulai doanya dengan mengatakan, “Selamat pagi, Tuhan Yesus.”

Continue reading

Tentang Teologi

Oleh: Mula Harahap

Menurut hemat saya, teologi itu adalah refleksi seseorang, yang bisa terterima akal orang lain, tentang Tuhan yang diimaninya dan yang membuatnya “bergetar”.

Saya tidak menafikan, bahwa ada cara lain untuk membuat saya bisa memahami dan mengimani Tuhan, serta menjadi “bergetar” karena pemahaman tersebut. Proses itu namanya “mistik”. Ada agama-agama (atau aliran-aliran agama) tertentu yang memandang proses berteologi itu bukan sebagai sesuatu yang penting. Dengan melakukan gerak fisik tertentu (memejamkan mata, mengatur nafas, mengulang-ulang mantera dsb) mereka merasa sudah bisa memahami dan merasakan Tuhan. Untuk apa
lagi berteologi?

Continue reading

Tentang Konflik

Oleh: Mula Harahap

I.
Dalam mensikapi berbagai tindak kekerasan (pembunuhan, penganiayaan, perkelahian antar kelompok dan pengrusakan harta-benda) yang melibatkan simbol dan sentimen keagamaan, sebagaimana yang marak terjadi akhir-akhir ini, banyak pemimpin dan tokoh masyarakat yang enggan untuk mengatakan tindak kekerasan tersebut sebagai konflik agama.

Continue reading

Manortor di Depan Jenazah

Oleh: Mula Harahap

Ito yang baik,

Saya bukan seorang ahli teologia, ahli kebudayaan atau pejabat gerejawi. Tapi izinkanlah saya ikut menjawab pertanyaan yang kau ajukan. Topik yang berkaitan dengan pertanyaan tersebut, yaitu perjumpaan adat dengan Injil, juga adalah topik yang selalu menggelitik perasaan dan keingin-tahuan saya sejak dahulu.

Uraian saya ini biarlah saya mulai dengan sebuah kisah yang sering saya dengar. Saya tidak tahu apakah kisah ini adalah sebuah kisah nyata atau alegori; tapi saya selalu senang mengingatnya. Di dalamnya tersirat sebuah esensi pergumulan, yang rasanya juga adalah pergumulan “gereja-gereja suku” di Indonesia. Kisahnya seperti ini:

Continue reading

Permainan di Masa Kanak-kanak

Oleh: Mula Harahap

Permainan adalah hal lain yang mendominasi kehidupan anak-anak. Tapi kalau saya melihat beban belajar anak-anak masa sekarang, maka saya merasa sedih. Sejak TK, anak-anak sekarang telah dijejali dengan berbagai “PR”. Tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk bermain; tidak saja di sekolah, tapi juga di rumah. Padahal masa sekolah adalah juga masa bermain. Dan saya percaya bahwa permainan, yang diciptakan sendiri oleh anak-anak, merupakan bagian dari proses belajar, yang membantu mereka mengembangkan kemampuan motorik, intelijen dan emosinya.

Continue reading

Lagu Rohani Populer Masakini dan Pemahaman Tentang Kekristenan

Surat Seorang Ayah Kepada Puterinya

Oleh: Mula Harahap

Boruku yang manis,

Tadi pagi–secara tak sengaja–saya menonton acara musik di sebuah stasiun televisi. Di panggung yang gemerlapan itu ada sebuah kelompok band, serombongan penyanyi latar dan seorang vokalis pria yang bernyanyi-berteriak-teriak seraya berjalan
kesana-kemari.

Mula-mula saya menyangka pertunjukan musik itu adalah pertunjukan musik sebagaimana yang biasa kau tonton di MTV, dan yang selalu membuat kita bertengkar memperebutkan “remote control”, karena saya lebih memilih untuk menonton filem tentang ular anakonda di Amerika Selatan atau “killer whale” di Laut Artik.

Continue reading

Oh, Pendidikan Seks

Diceritakan Kembali Oleh: Mula Harahap

Peristiwa berikut ini adalah kisah nyata yang saya alami dengan anak lelaki saya, ketika ia masih duduk di bangku kelas empat SD, limabelas belas tahun yang lalu.

Sebagai seorang bapak muda, ketika itu saya sangat bersemangat untuk menerapkan berbagai teori pendidikan “modern” yang saya baca di buku-buku kepada kedua anak saya. Terutama, saya sangat ingin menerapkan pendidikan seks secara benar kepada mereka.

Begitulah, pada suatu malam minggu, hanya ada saya dan anak lelaki saya di rumah. Isteri dan anak perempuan saya sedang pergi ke sebuah tempat.

Continue reading