Carrefour dan Fenomena Keanekaragaman Ajaran/Aliran Agama

Oleh: Mula Harahap

Di kamar mandi rumah kami, ketika saya masih kecil, hanya ada satu sabun “Lux”. Sabun itu ditaruh di dalam rantang yang diletakkan di pinggir bak. Kemudian, bersama-sama dengan sabun itu ada satu pasta gigi “Pepsodent”. Lalu–tentu saja–ada delapan sikat gigi
untuk satu bapak, satu ibu dan enam anak.

Memang kadang-kadang–terutama pada akhir bulan–di dalam rantang itu ada sepotong sabun “Sunlight”. Tapi “sabun cap tangan” tersebut–demikianlah ia lebih dikenal orang pada masa itu–hanyalah substitusi dari sabun “Lux”. Ia bukan tambahan atau pelengkap.

Tapi di kamar mandi rumah saya sekarang–yang dihuni oleh satu bapak, satu ibu dan dua anak–ada empat merek sabun, ada empat merek shampoo (plus “conditioner’-nya masing-masing) dan tiga merek pasta gigi. Lalu ada lagi Listerin, Dettol, sebuah kontainer plastik besar berisi cairan menyerupai susu (entah untuk apa itu), dan pernak-pernik “upacara
membersihkan badan” yang lainnya. Disamping itu, di kamar mandi masih ada lagi bubuk pembersih “Vim Aroma Jeruk Nipis” dan cairan pembersih “Forstek”. (Sementara, di kamar mandi rumah ketika saya masih kecil dahulu, hanya ada sikat ijuk dan beberapa buah batu apung).

Sudah lama saya berpikir-pikir tentang “revolusi” yang terjadi dalam urusan membersihkan badan ini. Dan pikiran itu timbul–terutama–setiap kali saya mengibaskan handuk dan membuat barang-barang itu berjatuhan ke lantai: “Adakah pengaruh semua pernak-pernik ini terhadap kebersihan dan kecantikan tubuh?”

Tapi saya baru berpikir lebih mendalam lagi, dan menyadari betapa memusingkannya konsumerisme itu, ketika tadi siang isteri saya menyuruh saya belanja ke “Carrefour”:

Dengan mendorong kereta dan memegang sebuah daftar belanja yang panjang saya masuk ke departemen “sabun dan pasta gigi”.

Mula-mula saya harus mencari “Lifebuoy” untuk isteri saya yang “gila kebersihan” itu. Ternyata ada “Lifebuoy Merah”, “Lifebuoy Biru” dan “Lifebuoy Hijau”. Mana yang harus saya pilih? Untunglah isteri saya sudah memberi petunjuk yang lebih terperinci: Saya harus memilih “Lifebuoy Hijau”.

Anak perempuan saya memakai sabun “Cushon”. (Dan barulah saya tahu bahwa “Cushon” tempatnya bukan di departemen “sabun dan pasta gigi”, tapi di departemen “perlengkapan bayi”).

Ada “Cushon Kecil” dan ada “Cushon Besar”. Ada yang dikemas dalam satuan satu, satuan dua dan satuan enam. Di dalam daftar disebutkan “Cushon: 2”. Tapi apa maksudnya? Dua–satu, dua–dua atau dua–enam? Yang besar atau yang kecil? (Gara-gara takut salah
menafsirkan perintah seperti ini, banyak pembantu rumah tangga yang harus kembali dulu bertanya ke nyonya rumah).

Urusan membeli pasta gigi pun sama “cilakanya”. Saya baru tahu bahwa ternyata ada “Pepsodent” yang mengandung flour, tidak mengandung flour, rasa garam dan sebagainya. Daftar saya hanya mengatakan “Pepsodent Biasa”. Lalu, yang mana “Pepsodent Biasa” itu?

Di depan rak shampoo saya lama tertegun. Ternyata untuk membersihkan rambut (yang umumnya berwarna hitam itu) ada ratusan merek dengan berbagai varian. Ada “Sunsilk Lidah Buaya”, “Sunsilk Orang-aring”, “Sunsilk Jeruk Nipis” dan sebagainya. Ada “Pantene Biru”, ada
“Pantene Hijau”. Ada “shampoo”, ada “conditioner”. Ada yang dijual terpisah, ada yang “two-in-one”. Dahulu ibu saya membersihkan rambutnya dengan jeruk purut. Tapi sekarang ada “Sunsilk Jeruk Purut” atau “Pantene Jeruk Purut”.(“Oh, Tuangallah!” kata orang Ambon).

Dari departemen “shampoo” saya pergi ke departemen “susu”. Ada tiga merek (atau varian) susu yang harus dibeli. Kepala saya bertambah sakit karena harus mencari-cari ketiganya di antara ratusan merek dan varian yang memenuhi dua rak besar dan panjang itu.

Ada “Dancow Instant”, “Dancow Full Cream”, “Dancow Untuk Orang Keropos Tulang” dan “Dancow Untuk Anak Bayi”. (Saya tidak sempat meneliti apakah ada ada “Dancow Untuk Orang Kristen Liberal”, “Dancow Untuk Orang Kristen Fundamentalis” atau “Dancow Untuk Orang Islam Liberal”).

Disamping “Dancow”, tentu saja masih ada “Cap Bendera”, “Cap Nona”, “Cap Beruang”, “Indomilk” dan lain sebagainya. Ada yang dikemas dalam kaleng, dalam
karton atau dalam plastik. Ada yang besar, ada yang sedang dan ada yang kecil.

Dari departemen “susu” saya pergi ke “departemen mie instant”. Astaganaganaga! Saya baru tahu bahwa dua baris rak, yang masing-masing panjang sepuluh meter dan tinggi dua meter itu, penuh dengan berbagai merek dan rasa mie instant. Ada “Supermie”, “Indomie”, “Alhami”, “Mie Sedap” dan lain sebagainya. Ada yang
rasa “kari ayam” (Palembang–Banjarmasin–dsb). Ada yang rasa “soto ayam” (Betawi–Madura–dsb).

Mana yang harus saya beli? (Saya jadi teringat akan masa kampanye Pemilihan Umum tahun 1999 yang lalu, ketika kita memiliki 48 partai politik).

Saya tahu benar, setiap orang di rumah mempunyai kegemarannya masing-masing. Tapi untunglah dalam urusan membeli mie instant isteri saya tidak memberi “petunjhok” yang terlalu menditil. Di dalam daftar ia hanya menulis: “Supermi (mie instant) secukupnya. Dari
bermacam-macam rasa”.

Tugas saya menjadi agak ringan. Saya tinggal mendorong kereta dari ujung sini ke ujung sana, lalu mencomot masing-masing dua bungkus. Semua orang akan puas karena memperoleh apa yang diinginkannya.

Begitulah, seraya menunggu giliran untuk membayar di depan kasir, saya terus dirasuki pikiran tentang fenomena keaneka-ragaman merek dan varian dari berbagai produk yang dijajakan di “Carrefour” itu:

Keadaan fisik, karakter, latar belakang kehidupan, pergaulan, tingkat pendidikan dan minat orang berbeda-beda. Karena itu setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda pula tentang dirinya dan lingkungannya. Demikian pula, setiap orang memiliki harapan yang berbeda-beda.

Perbedaan inilah yang coba dijawab oleh para produsen “consumer products” itu dengan meluncurkan berbagai merek dan varian barang.

Bahan baku utama shampoo itu sebenarnya sama (sebab, kalau terlalu berbeda, ia bukan lagi shampoo, tapi oli mesin atau obat pencahar). Fungsinya juga sama, yaitu untuk membersihkan rambut. Tapi karena setiap orang merasa (perasaan ini bisa saja sesuatu yang real; tapi
bisa juga akibat dari manipulasi iklan) rambutnya berbeda dari yang lainnya, maka hadirlah berbagai merek dan variasi shampoo tersebut.

Bahan baku utama mie instant juga sebenarnya sama (tepung terigu, minyak nabati dan garam). Tapi untuk memenuhi selera orang yang berbeda-beda itu maka atas bahan yang sama itu ditambahkanlah “rasa” soto, kari, sup dan sebagainya.

Bahkan dalam urusan air murni (pure water) pun ternyata manusia masih ingin memilih. Air yang diambil dari kaki Gunung Salak itu pun masih harus diberi rasa. Kini disamping Aqua yang tak berasa (“rasa air”), ada pula “Aqua” rasa strawberry.

Saya pikir-pikir lebih jauh, fenomena keaneka-ragaman teologi dan denominasi yang kami hadapi dalam gereja, mirip dengan fenomena yang terjadi di “Carrefour”.

Karena perbedaan latar belakang budaya, pendidikan, karakter, minat, dan sebagainya, maka terjadilah perbedaan dalam membaca dan memahami Alkitab yang sama. Sebagai akibatnya, lahirlah teologi/aliran/denominasi yang berbeda-beda. Dan pada gilirannya, teologi yang berbeda-beda ini, kembali ikut menentukan seseorang dalam membaca dan memahami
Alkitab.

Sama halnya seperti dari tepung-terigu–telur–garam muncul “Supermie”, “Indomie”, “Alhami” dan “Mie Sedap”; maka dari Alkitab yang sama juga muncul teologi/aliran/denominasi Lutheran, Calvinis, Mennonit, Baptis dan sebagainya.

Dan sama halnya seperti dari “Indomie” lahir “Indomie Rasa Kari Ayam Palembang”, “Indomie Rasa Baso Sapi”, “Indomie Rasa Ayam Bawang”; maka dari aliran Calvin yang sama muncul ratusan aliran atau denominasi.

Seperti halnya di departemen sabun dan pasta gigi “Carrefour”, maka di Indonesia pun kami memiliki puluhan organisasi yang bisa dikategorikan sebagai Calvinis. Ada GPIB, GKI, GRII, Gereja Presbyterian Injili Indonesia. Ada yang liberal, ada yang fundamentalis.

Kalau “ingredient”-nya sama (dalam hal mie instant: tepung-terigu–minyak-nabati–telor, dan dalam hal gereja: Alkitab), dan kalau tujuannya sama (dalam hal mie instant: perut kenyang, dalam hal shampoo: membuat rambut bersih dan sehat, dan dalam hal gereja:
keselamatan dunia-akhirat), maka rasanya tidaklah relevan lagi mempersoalkan manakah mie instant atau shampoo yang paling asli, dan manakah gereja yang paling “aliktabiah”.

Bagaimana sebuah ajaran/aliran berhasil membuat seseorang percaya bahwa ia akan selamat di dunia dan akhirat, dan bagaimana atas kepercayannya itu ia bisa menjadi lebih “pe-de” serta memberikan sumbangsih besar terhadap kemanusiaan; saya rasa itulah yang lebih relevan untuk dipersoalkan.

Kalau ada anggota jemaat berpindah dari GKI, ke HKBP, ke Baptis, lalu ke GRII; maka–saya rasa–halnya sama saja seperti saya berpindah dari “Brisk”, ke “Nature”, ke “Sunsilk Orang-aring” dan ke “Pantene”. Pada akhirnya kita mencari teologi/ajaran yang paling “pas” dengan diri kita.

Kalau di dalam “Indomie” yang “rasa soto ayam” saja masih ada varian, yaitu “rasa soto ayam Palembang”, “soto ayam Banjarmasin” dan “soto ayam Betawi”; maka saya pun bisa memahami (mohon jangan diartikan sebagai menerima) kalau di dalam sebuah organisasi gereja yang
sama pun terdapat kelompok jemaat “yang tidak suka bernyanyi sambil bertepuk”, “yang suka bernyanyi sambil bertepuk”, “yang tidak menerima baptis selam” atau “yang menerima baptis selam”.

Dahulu, karena faktor ekonomi, dan karena industri “consumer products” memang belum begitu
“sophisticated”, maka saya tidak memiliki banyak pilihan: Hanya ada satu sabun “Lux” pada awal bulan; dan sabun “cap tangan” pada akhir bulan.

Tapi kini zaman sudah berubah. Anak-anak saya memiliki sabun kegemarannya masing-masing. Bahkan atas sabun atau pasta gigi dari merek yang sama pun, anak-anak masakini masih memiliki pilihan.

Begitulah, atas pasta gigi (baca: agama Kristen atau organisasi gereja) yang sama, boleh jadi ada jemaat yang memilih “Pepsodent Yang Mengandung Flour”, ada yang memilih “Pepsodent Yang Tak Mengandung Flour” dan ada yang memilih “Pepsodent Rasa Garam”. Ada juga jemaat yang memilih untuk mengganti “Pepsodent” dengan “Colgate”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s