Jurnalisme Infotainment

Oleh: Mula Harahap

Kini media massa, terutama berbagai stasiun teve kita itu, menyiarkan berita dengan pertimbangan mengejar “rating”. Karena itu kebijakan mereka dalam menyiarkan berita sama saja dengan kebijakan menyiarkan filem-filem tahkyul yang berbungkus dakwah, talk-show
porno yang berbungkus pendidikan seks, laporan investigasi yang sarat dengan cerita fiktif dsb. Mereka menganggap bahwa baru sampai tahap inilah citarasa dan daya nalar orang Indonesia. Inilah yang disebut sebagai “jurnalisme infotainment”.

Ketika pada tanggal 2 Januari 2007 lalu merebak berita (yang ternyata bohong) bahwa bangkai pesawat Adam Air telah ditemukan di sebuah pegunungan di Sulawesi Barat, maka ada seorang reporter yang dengan gagahnya memberikan laporan dalam siaran beritanya dengan berkata, “Pemirsa, saya sekarang berada 90 meter dari lokasi jatuhnya pesawat…” Reporter itu berdiri dengan latar belakang kerumunan orang-orang yang sedang berusaha menaiki punggung sebuah bukit. Ketika menonton siaran itu dalam hati saya berkata, “Lha, kalau jarak jatuhnya pesawat hanya 90 meter dari tempatmu berdiri, pergilah dulu kau ke sana. Lihat dan rekam apa yang terjadi. Jangan nyerocos dulu panjang-lebar…”

Kelucuan yang sama juga saya saksikan ketika mendengar berita di sebuah stasiun televisi tentang ditemukannya KTP atas nama seseorang bermarga Sinaga di pantai Pare-pare.

Si penyaji berita yang berwajah cantik tapi tak paham kaidah jurnalisme itu sibuk dengan fantasinya sendiri. Dia berusaha mengait-ngaitkan penemuan KTP tersebut dengan kecelakaan pesawat Adam Air. Padahal di ujung sana secara “live” ada seseorang yang mengaku bahwa dialah pemilik KTP yang sudah kadaluwarsa tersebut. Kata orang itu ketika ia mendapat KTP baru, maka KTP yang lama itu sudah diserahkannya ke kantor kecamatan. Ia pun tak mengerti bagaimana KTP tersebut terdampar di pantai Pare-pare. Orang itu juga mengaku bahwa baik dirinya maupun sanak saudaranya tidak ada yang terkait dengan pesawat Adam Air yang nahas itu.

“Mungkin Bapak menyerahkan KTP tersebut kepada seseorang untuk membeli tiket Adam Air?” tanya si penyaji berita dengan pertanyaan yang samasekali “tak nyambung” dengan keterangan yang sudah lebih dulu diberikan oleh orang itu.

“Tidak,” kata suara di ujung sana. “Seperti saya katakan tadi, KTP itu sudah saya serahkan ke kantor kecamatan pada tahun 2002…”

“Oh, jadi KTP itu bukan KTP Bapak?” tanya si penyaji berita berwajah cantik yang merasa diri seperti Christina Amanpour–reporter CNN yang cerdas itu.

“Itu KTP saya. Identitas yang terpampang di layar itu adalah identitas saya. Tapi saya tak ada urusan dengan Adam Air…” jawab suara di ujung sana dengan jengkel.

Kebodohan yang sama juga dilakukan seorang penyaji berita ketika melakukan tanya-jawab per telepon dengan seseorang yang mengaku mengenali mayat perempuan yang terdampar di pelabuhan Pare-pare bersamaan dengan ditemukannya KTP itu. Dengan polos suara di ujung
telepon sana mengatakan bahwa untuk lebih memastikan ia sedang menyuruh adiknya pergi menghubungi keluarga dekat dari orang yang diduganya telah menjadi mayat itu. Tapi cilakanya si penyaji berita, yang sudah dirasuki dengan fantasi segera ditemukannya bangkai
pesawat Adam Air, sibuk untuk mencantel-cantelkan fakta penemuan mayat itu dengan Adam Air. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaannya menjadi kelihatan bodoh dan menjengkelkan.

Cerita-cerita tentang kekurangajaran dan kebodohan media massa seperti diuraikan di atas kita temukan dimana-mana. Kita tentu masih ingat bagaimana, ketika bom baru satu jam meledak (Bom Bali II), maka sudah ada stasiun televisi yang tanpa risih menyiarkan teori
konspirasi dan melakukan tanya-jawab jarak jauh dengan para “pengamat intelijen” yang lucu-lucu itu.

Kekurangjaran dan kebodohan media massa ditambah dengan ketidakpedulian dan kegagapan instansi-instansi yang berwenang dalam memberikan informasi yang benar, akibatnya menimbulkan ketidak- percayaan dan kebingungan di masyarakat. Dan pada gilirannya hal ini
bisa menimbulkan anarki dan hancurnya sendi-sendi kehidupan bernegara.

Salah satu contoh bagaimana kesimpang-siuran pemberitaan bisa mengakibatkan kekacauan dan anarki adalah apa yang sedang terjadi di Poso. Entah bagaimana pun cara kepolisian meyakinkan masyarakat bahwa sejumlah orang yang masuk dalam DPO itu adalah tersangka
pengeboman dan pemenggalan kepala tiga gadis SMA, tapi masyarakat tak pernah bisa percaya. Bahkan masyarakat cenderung menganggap orang-orang yang berada dalam DPO itu adalah para pahlawan yang wajib dibela.

Contoh yang lain lagi adalah dalam kasus kematian Alda. Polisi terlalu gegabah dan lambat dalam menangani informasi. Sementara itu media massa sudah “merambah” kemana-mana dan cenderung memberi cap pembunuh kepada Ferry. Dan bisakah kita bayangkan kebingungan apa lagi yang akan timbul di masyarakat seandainya nanti terbukti Ferry hanya melakukan kelalaian sehingga ia mendapat hukuman yang ringan?

Kesehatan mental masyarakat memang sudah lama digerogoti oleh media massa–terutama radio dan televisi–yang hanya sibuk memikirkan “rating”, tayangan iklan dan laba.

Dan saya tak pernah bisa mengerti bagaimana “democracy” bisa ditegakkan dalam masyarakat dan media massa yang “crazy” seperti ini.[]

One response to “Jurnalisme Infotainment

  1. Semua itu benar, Pak. Ternyata ‘gak semua rakyat Indonesia bodoh, TV Indonesia sudah beritanya fiktif dan gak mutu, iklannya aujubilenya banyaknya. Saya kesal, karena di tengah acara anak-anak ada iklan orang dewasa (sinetron hantu, orang berantem, dll). Padahal iklannya sudah 50% dari jam tayang. I think to let my children watch only DVD in Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s