Presiden Bentuk Lagi Tim Nasional

Oleh: Mula Harahap

Beberapa hari yang lalu, secara bergurau saya berkata kepada isteri saya, “Kau berani bertaruh dengan saya? Sebentar lagi, untuk urusan Adam Air ini Presiden SBY pasti akan membentuk tim lagi…” Karena itu saya jadi tertawa terbahak-bahak ketika membaca berita seperti termaktub di bawah ini.

Presiden SBY memang terlalu gemar membentuk badan/komisi/tim atas berbagai persoalan yang timbul di masyarakat, bangsa dan negara ini. Flu burung merebak, bentuk tim. Lumpur di Porong muncrat dan tak bisa disumpal, bentuk tim. Katering untuk jemaah haji amburadul, bentuk tim. Terjadi musibah beruntun dalam transportasi publik, bentuk tim.

Dasar dari pembentukan tim-tim tersebut hampir sama. Menyelidiki masalah dan memberi saran perbaikan kepada Presiden.

Saya jadi bertanya-tanya, kalau sebuah tim telah memberikan analisis persoalan dan saran perbaikan, lalu apa yang hendak dilakukan oleh Presiden? Apakah dia akan memperbaiki sendiri setiap masalah yang ada, atau membentuk tim lagi untuk melaksanakan perbaikan
tersebut, atau mengembalikannya kepada menteri yang terkait?

Kalau pada akhirnya tokh dia harus mengembalikannya kepada menteri yang terkait, mengapa pula sejak dari awal tidak diperintahkannya saja menteri itu untuk melakukan analisis dan memberikan saran-saran perbaikan?

Lebih jauh lagi saya berpikir: Apa perlunya Presiden untuk mengetahui secara dititil duduk perkara dan saran-saran teknis perbaikan dari sebuah persoalan? (Karena memang hanya analisis yang menditil dan saran teknis-lah yang diharapkan dari sebuah tim).

Waktu dan tenaga presiden terlalu mahal kalau hanya dijejali dengan berbagai persoalan tetek-bengek. Cukuplah seorang presiden memahami garis-garis besar persoalan dan implikasi politik yang ditimbulkannya.

Tentang “mengapa katering tak bisa dibagi pada waktunya di Padang Arafah” atau “mengapa pesawat tua sewaan itu rawan kecelakaan”, itu biarlah menjadi urusan Menteri, Dirjen atau Direktur di masing-masing departemen.

Lagipula, para menteri yang katanya adalah pembantu Presiden itu “ngapain” saja, kalau bukan melakukan tugas-tugas seperti yang diuraikan di atas?

Alangkah enaknya seorang menteri dan alangkah malangnya rakyat Indonesia, di bawah kepemimpinan presiden yang “indecisive” seperti SBY ini.

Saya letih melihat seorang presiden yang terlalu gemar memakai bahasa “orang sekolahan”. Saya rasa sudah saatnya Presiden berbicara lebih sebagai “orang pasar” kepada menteri-menterinya. (“Hei, Hatta Rajasa, kau bisa bereskan urusan transportasi ini, atau kau yang
kubereskan?! Hei, Miftah Basyuni, kau bisa bereskan urusan penyelenggaraan haji ini, atau kau yang akan kubereskan?! Hei Rahmat Witular dan Aburizal Bakri, kalian bisa bereskan lumpur Lapindo itu, atau kalian yang kubereskan?!”).

Kalau partai-partai (yang penuh dengan preman itu) pada ribut, karena orang-orangnya yang menjadi menteri di-“bereskan”, maka saya ingin Presiden juga bisa berbicara dengan gaya preman kepada mereka. (“Hei, diam kowe semua! Yang memilih aku adalah rakyat, bukan
kowe….”).

Akhirnya, meminjam teriakan kondektur Metromini jurusan Senen–Semper, izinkan saya berkata: “Hayoooh, SBY! Ada yang m’rapat di belakang. Tancaaap! Libaaas!”[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s