Tentang “Par”

Oleh: Mula Harahap

Saya bukan ahli linguistik. Saya tidak tahu apakah “par”, yang kita kenal dalam bahasa Batak itu, adalah sebuah kata sandang, kata penghubung atau kata apa. Tapi yang jelas “par” banyak dipakai mendahului kata-kata yang menerangkan tempat, pekerjaan, kebiasaan dan hal-hal lainnya, sehingga membentuk sebuah julukan, panggilan atau identitas diri.

Ketika saya masih kanak-kanak, maka ada seorang “ompung” yang kami kenal dengan “Par Paret Busuk”. Nama “ompung” itu sebenarnya adalah Koradin Siregar. Tapi memanggil nama seseorang–apalagi yang telah menikah–di kalangan orang Batak adalah sesuatu yang tabu. Karena itu orang yang telah menikah akan dipanggil sesuai dengan nama anaknya, nama cucu pertamanya, profesinya atau tempat tinggalnya. Semestinya Ompung Koradin Siregar dipanggil dengan “Ama Ni Si Ros”. Tapi entah mengapa, semua keluarga lebih senang memanggilnya dengan sebutan yang berkaitan dengan tempat tinggalnya.

Ompung Koradin tinggal di wilayah sekitar Gang Sado–Medan dimana terdapat sebuah kali yang mati dan berbau tak sedap. Oleh orang-orang di seantero Medan, wilayah itu dikenal sebagai “parit busuk”. Begitulah, Ompung Koradin Siregar pun dipanggil sebagai “Par Paret Busuk”.

Sepanjang yang saya ingat, hanya ayah sayalah yang tak pernah memanggil “ompung” tersebut dengan julukan “Par Paret Busuk”. Hal ini bisa saya maklumi. Ompung Koradin adalah “tulang” ayah saya. Hanya kemenakan yang durhaka sajalah yang tega memanggil pamannya dengan “parit busuk”. Karena itu ayah saya selalu menyebut “tulang”-nya, yang usianya nyaris sebaya dengannya itu, sebagai “Par Jalan Istana”. Dahulu, sebelum pindah ke wilayah Paret Busuk, Ompung Koradin memang tinggal di sebuah asrama tentara di depan Istana Maimoon—-Medan. Dan jalan yang melintasi Istana Maimooon itu, sebelum menjadi Jalan Brigjen Katamso, dikenal sebagai Jalan Istana. Sebagaimana layaknya seorang kemenakan yang baik, maka–walau pun sebutan yang digunakannya sudah tidak relevan lagi–wajar saja kalau ayah tetap memanggil “tulang”-nya dengan “Par Jalan Istana”.

Nama jalan atau wilayah dimana seseorang bermukim sering dipakai menjadi sebutan atau julukan bagi yang bersangkutan. Dahulu, ketika kami bermukim di Kampung Baru–Medan, maka kami disebut orang sebagai “Par Kampung Baru”. Tentu saja yang bermukim di Kampung Baru tidak hanya keluarga Harahap. Di sana ada keluarga Panjaitan, Napitupulu, Sihombing, Simorangkir dan sebagainya. Dan saya percaya, di tengah keluarga masing-masing, mereka juga akan disebut sebagai “Par Kampung Baru”.

Persoalan akan timbul bila di dalam sebuah kumpulan ada sanak famili Harahap dan ada sanak-famili Panjaitan, atau Napitupulu dsb. Maka untuk memperjelas siapa “Par Kampung Baru” yang sedang dibicarakan, perlu ditambah embel-embel lain. (“Oh, Si Harahap Par Kampung Baru-kah yang kau maksud?!”).

Semua orang tentu senang kalau sanak-familinya tinggal di sebuah jalan atau wilayah yang bergengsi. Karena itu, dalam sebuah percakapan, kita selalu akan menekankan kata “Par Pondok Indah”, “Par Simprug” atau “Par Permata Hijau” dengan suara yang lebih keras.

Acapkali kali pula, “tulang”, “amangboru” atau “amangtua” yang kita kasihi itu tinggal di Pasar Rumput (wilayah perbatasan dengan Menteng), atau Rawa Kerbau (wilayah perbatasan dengan Taman Solo). Tapi dengan mantap kita tetap akan menyebut “tulang”, “amangboru” atau “amangtua” itu dengan “Par Menteng” atau “Par Taman Solo”.

Hal yang lebih membahagiakan lagi adalah kalau “tulang”, “amangboru” atau “amangtua” itu menetap di sebuah jalan yang memang tersohor sebagai tempat pemukiman masyarakat kelas atas Jakarta. (“Par Jalan Imam Bonjol”, “Par Jalan Sutan Sahrir” atau “Par Jalan Cokroaminoto”). Walau pun jalan-jalan tersebut berada di wilayah Menteng; tapi–alih-alih menyebut mereka sebagai “Par Menteng”–rasanya akan lebih enak menyebut mereka sebagai “Par Jalan Imam Bonjol” Wow!

Besar kemungkinan hanya “tulang”, “amangboru” atau “amangtua” itulah satu-satunya orang Batak yang bermukim di sepanjang jalan tersebut. Karena itu kita tak perlu lagi repot-repot mengklarifikasi lebih jauh dengan–misalnya–Simanjuntak Par Jalan Imam Bonjol atau Panjaitan Par Jalan Imam Bonjol.

Harus kita akui pula, kadang-kadang ada nama jalan yang tidak sedap terasa di telinga; misalnya Jalan Haji Kontong di bilangan Pasar Minggu–Jakarta. Dalam hal ini tentu akan lebih bijaksana menyebut “tulang”, “amangboru” atau “amangtua” itu sebagai “Par Pasar Minggu”; alih-alih menyebutnya sebagai “Par Haji Kontong”.

Semua kami yang bermukim di Jakarta akan dirujuk sebagai “Par Jakarta” oleh sanak-famili yang bermukim di Sipirok. Sebaliknya, semua sanak-famili yang bermukim di Sipirok akan dirujuk sebagai “Par Sipirok” oleh kami yang bermukim di Jakarta. (“Apakah kabar itu telah sampai ke Par Sipirok?”).

Dan begitulah, beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah metromini melaju dengan cepat di bilangan Cempaka Putih–Jakarta. Di kaca jendela bagian belakang dari metromini tersebut ada tulisan dengan huruf besar-besar: “Par Bariba Ni Tao”. (Sampai sekarang saya masih belum bisa menebak dimana wilayah yang disebut sebagai “sebelah sononya Danau Toba” itu….).

Saya pikir-pikir, “par” itu bisa diterjemahkan sebagai “sesuatu yang bersangkut paut dengan….” atau “something to do with….”. Karena itu, dalam banyak kasus, “par” juga bisa mendahului keterangan tentang pekerjaan seseorang.

Kami memiliki seorang “tulang” yang pernah berdinas di Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Nasional). Wajar saja kalau “tulang” tersebut disebut sebagai “Par Bakin”. Tapi disamping “Par Bakin” maka kami masih memiliki sederetan “tulang” lagi, yaitu “Par Pe-eL-eN”, “Par Motor Tangki” dsb. “Tulang” yang disebut terakhir ini–tentu saja–bukan “tauke” dari beberapa mobil tangki. Ia adalah supir dari sebuah mobil tangki dan bermukim di Tanjung Morawa–Sumatera Utara.

Tugas-tugas pelayanan di gereja juga sering dipakai sebagai julukan. Amanguda saya Pasaribu–yang kini sudah meninggalkan dunia ini–karena pelayanannya di HKBP Pulomas–Jakarta, dahulu dikenal sebagai “Par Poti Marende” atau “Par Peti Menyanyi”.

Seseorang yang rajin membaca Alkitab dan yang tak pernah menolak ketika didaulat untuk berdoa atau membawakan firman Tuhan akan disebut sebagai “Par Hata Ni Debata” atau “Par Firman Tuhan”. (“Biarlah beliau yang membawakan doa untuk kita. ‘Kan beliau Parhata Ni Debata …” Lalu mendengar julukan yang demikian, maka kita “Par Ganja-ganja” dan “Par Bola Sodok” ini pun jadi tertunduk malu……..).

Tapi pekerjaan, profesi atau pangkat seseorang tidak selalu pula harus dikaitkan dengan “par”. Adakalanya—apalagi kalau pekerjaan atau pangkat tersebut terkesan hormat–ia cukup dikaitkan dengan “si”. Begitulah, maka kami memiliki “tulang” yang dipanggil dengan “Si Tekab”; karena beliau pernah berdinas sebagai reserse atau anggota “tim khusus anti banditisme”.

Seorang adik saya, yang berprofesi sebagai pendeta, tak pernah disebut orang sebagai “Par Bekasi” sebagaimana layaknya daerah tempat dia bermukim. Entah mengapa, orang lebih senang menyebutnya sebagai “Si Pandita”.

Pada jaman dahulu ketika kepangkatan di TNI/Polri belum mengalami “inflasi” seperti jaman sekarang maka komisaris besar adalah pangkat yang sungguh “wah”. Hanya ada beberapa orang Batak yang disebut sebagai “Si Kombes”. Tapi kini sebutan “Si Kombes” sudah jarang terdengar. Ini bisa dimaklumi karena di setiap Polda ada puluhan “kombes” orang Batak. (“Si Kombes manakah yang kau maksud?”). Karena itu, kini yang sering terdengar adalah “Si Jenderal”. Walau pun dari Brigadir Jenderal hingga ke Jenderal terdapat empat jenjang kepangkatan, tapi belum terlalu banyak orang Batak yang mengemban pangkat-pangkat tersebut. Sebutan “Si Jenderal” masih tidak merepotkan dan memerlukan klarifikasi lebih jauh. Hanya ada beberapa rumpun keluarga yang “dianugerahi” jenderal. (Baik yang masih aktif maupun yang telah pensiun) .

Begitulah, disamping “Si Tekab”, “Si Kombes” atau “Si Jenderal”, setiap rumpun keluarga Batak akan memiliki “Si Syahbandar”, “Si Kapiten” (Nakhoda), “Si Kapala Negeri”, “Si Manteri Garam” dan “Si Toke”-nya masing-masing.

“Par”, “sesuatu yang bersangkut-paut dengan” atau “something to do with” juga acapkali dikaitkan dengan karakter atau ciri fisik seseorang.

Dahulu ayah saya mempunyai seorang bibi atau “namboru” (saya memanggilnya “ito”) yang dikenal sebagai “Par Logu Lima”. Sebenarnya “ito” saya ini–Maryam boru Harahap–bisa saja dipanggil dengan “Omak Ni Si Mulia” atau “Ompung Ni Si Norma”. Tapi rupanya orang lebih suka memanggilnya berdasarkan kelainan atau kekurangannya dalam hal tarik suara. Kalau ada acara menyanyi di tengah kumpulan keluarga, “ito” saya selalu menyanyi dengan suara yang “entah ke mana” dan membuat orang geleng-geleng kepala atau tersenyum mesem-mesem. Jadilah ia “Par Logu Lima”….

Sama halnya seperti “Par Logu Lima”, maka kami juga memiliki “ompung” yang dikenal dengan “Par Atap Seng”. Dahulu saya menyangka bahwa “ompung” tersebut mendapat julukan demikian karena rumahnya memakai atap seng. Ternyata “ompung” tersebut dijuluki “Par Atap Seng” karena sejak mudanya ia sudah memiliki kepala yang penuh uban.

Greg Norman, Jack Nicklaus atau Tiger Woods—kalau saja mereka orang Batak—tentu mereka akan dipanggil sebagai “Par Golof”. Atau, karena kehebatan mereka dalam bermain–sehingga selalu berhasil memasukkan bola beberapa point di bawah jumlah pukulan standar yang maksimal–maka mereka pasti akan disebut sebagai “Par Dua Di Bawah Par”. He-he-he.

Ada pun saya sendiri, ketika saya masih tinggal di rumah instansi di bilangan Cempaka Putih Timur, kadang-kadang–ehem–oleh “amangboru” saya (yang selalu bangga dan hormat pada saya) selalu dipanggil sebagai “Par Taman Solo”. Dan oleh teman-teman “arisan batak’ di Cempaka Putih Timur saya dipanggil sebagai “Par Be-Pe-Ka”; singkatan dari BPK Gunung Mulia–perusahaan dimana saya bekerja.

Tapi cilakanya, setelah berhenti dari BPK Gunung Mulia dan tidak lagi tinggal di Taman Solo, saya tak pernah lagi mendengar sebutan yang “sedap” dan “manis” di telinga itu. Karena itu, di dalam hati saya selalu berkata kepada diri sendiri, “Par….rah kali-lah hidup ini…” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s