APBD Untuk Klub Sepak Bola. Perlukah?

Oleh: Mula Harahap

Sepengetahuan saya PSMS, Persija, Persebaya, PSM, Persib dsb. itu adalah “bond”. Dia adalah kumpulan dari klub-klub amatir di sebuah kota.

Ketika saya masih anak-anak maka–misalnya–di Medan saya mengenal klub-klub amatir anggota PSMA seperti Bintang Utara, Medan Putra, Sahata dsb. Atau di Jakarta saya mengenal klub-klub amatir anggota Persija seperti Indonesia Muda, UMS, Maesa, Maluku dsb.

Setiap tahun klub-klub amatir itu mengadakan kompetisi. Di Medan ia disebut sebagai Kompetisi PSMS dan di Jakarta ia disebut sebagai Kompetisi Persija.

Kemudian sekali dalam dua tahun “bond-bond” (PSMS, Persija Persebaya dsb) mengadakan pula kejuaraan–yang dikenal dengan kejuaraan PSSI.

Dari mana PSMS, Persija, Persebaya dsb itu memperoleh pemain? Mereka merekrutnya dari pemain-pemain terbaik di masing-masing klub amatir anggotanya, yang diamatinya selama kompetisi. Dan pada gilirannya dari hasil kompetisi antara “bond” itulah PSSI mengambil pemainnya.

Kemudian di tahun 80-an, disamping sepakbola amatir, PPSI mulai pula menerapkan sepakbola profesional. Berdirilah klub-klub profesional seperti Jayakarta, Warna Agung, Cahaya Kita, Pardedetex, Arema dsb.

Pada saat itu kita mengenal 2 kompetisi atau kejuaraan. Satu kejuaraan amatir yang diikuti oleh “bond-bond” (PSMS, Persija, Persebaya dsb). Dan satu lagi kompetisi profesional yang diikuti oleh klub-klub seperti Jayakarta, Warna Agung, Cahaya Kita dsb.

Kompetisi klub-klub profesional itu tidak berumur panjang. Ternyata sebagian besar pemili klub profesional itu hanya memakai klubnya untuk sarana berjudi. Tak heran kalau kompetisi selalu diwarnai dengan skandal suap dan kericuhan. Kompetisi klub profesional mulai kehilangan penonton.

Sementara itu kompetisi atau kejuaraan amatir (yang diikuti oleh PSMS, Persija, Persebaya dsb itu), walau pun mutu pertandingannya tidaklah terlalu tinggi, tapi tak pernah sepi dari penonton. Sebenarnya salah satu alasan yang membuat kompetisi amatir ramai penonton adalah fanatisme kedaerahan yang erat melekat pada “bond-bond” pesertanya.

Kemudian untuk menyelamatkan sistem sepakbola profesional yang digagasnya itu, Pengurus PSSI yang bego itu membuat sebuah keputusan yang aneh. Kompetisi amatir dan kompetesi profesional disatukan dalam sebuah sistem yang banci. PSMS, Persija, Persebaya kini sama-
sama berlaga dengan Arema, Pupuk Kaltim, Warna Agung dsb.

Dan perlahan-lahan, “bond-bond” amatir seperti PSMS, Persija, Persebaya dsb itu terpaksa bermetamorfose menjadi klub profesional. Kalau dahulu keuangan mereka masih didukung oleh klub-klub amatir anggotanya, maka kini mereka sepenuhnya hidup dari APBD. Kita pun
tak pernah lagi mendengar kompetisi yang digelar secara teratur oleh PSMS, Persija dsb. Dan klub-klub amatir seperti Medan Putra, Bintang Utara, Maesa, Maluku, Indonesia Muda yang dahulu menjadi persemaian pemain-pemain seperti Iswadi Idris, Nobon, Sucipto Suntoro sudah
raib entah kemana.

Kini untuk mendapatkan pemainnya, PSMS, Persija Persebaya dsb lebih banyak membeli orang-orang dari Kamerun, Chile, Brazil dsb. Sementara itu pemain-pemain pribumi entah dari mana pula dicomotnya.

Kalau saya ditanya apakah pantas APBD dipakai untuk memelihara klub seperti PSMS, Persija, Persebaya dsb itu? Maka jawab saya adalah, tidak.

Penggunaan APBD untuk membiayai klub pseudo profesional itu hanya mematikan inisiatif masyarakat. Dahulu, tanpa APBD, PSMS, Persija, Persebaya dsb pernah berjaya. Lalu mengapa pula sekarang ia harus didanai oleh APBD? Dan hasilnya tokh tak juga hebat-hebat amat.

Penggunaan APBD untuk membiayai klub sepakbola hanyalah sebuah sumber korupsi.

Bagi saya akan jauh lebih bermanfaat kalau APBD dipergunakan untuk merawat fasilitas lapangan-lapangan bola yang ada di masing-masing kota/kabupaten tersebut, agar klub-klub amatir bisa kembali bertumbuh dan roda kompetisi (klub-klub amatir itu) kembali diputar
secara teratur.

Akh, membicarakan sepakbola Indonesia dan memikirkan Pengurus PSSI yang bego itu hanya membuat hati sakit dan tekanan darah naik[.]

5 responses to “APBD Untuk Klub Sepak Bola. Perlukah?

  1. wirmandi sugriat

    Setuju sekali, malah yang ada semua klub perserikatan ini jadi kendaraan propaganda politik para pejabat pemerintah daerah untuk terpilih kembali…🙂

  2. Saya sangat setuju dan mendukung opini anda. masyarakat telah tertipu. Klub yang didukung APBD tidak ada pertanggungjawaban (SPJ). pengurus tidak pernah membuat laporan keuangan tentang pendapatan klub dan untuk apa uang itu dibelanjakan. dana APBD untuk klub sifatnya hibah dan ini sangat mungkin disalah-gunakan. tidak ada audit terhadap manajemen klub. dan yang sangat fatal adalah KPK belum pernah memeriksa keuang klub yang didukung APBD. APBD itu uang rakyat tapi rakyat tidak pernah menikmatgi hasilnya. APBD habis tapi prestasi nol.

  3. Bangsa Indonesia itu bisa main sepak bola ? Akh, masa iya ?!

  4. Sadarkah kita bahwa Stadion Senayan dibangun pada waktu jaman Sukarno–presiden pertama indonesia? Sesudah Senayan tidak ada yang lebih baik. Ironis bukan? Afrika Selatan dalam menyambut Piala Dunia telah membangun beberapa stadion yang begitu megah dan wah, tidak lebih dari selama 4 tahun….

  5. Betul yang Bapak sampaikan, sejak jaman kakek saya main bola, Persib juga melakukan pembinaan melalui pertandingan antarklub. Beberapa nama klub yang sayaingat adalah UNI, Sidolig, dan PSAD. Bahkan berita kompetisi antarklub ini ada di koran PR. Jadi, semuanya dibangun dari akar rumput. Kita menonton ‘teman’ atau ‘tetangga’ kita bermain sepak bola, bukan menonton orang asing main di kampung halaman kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s