Bakso Tikus dan Media Massa Kita

Oleh: Mula Harahap

Saya harus mengakui bahwa saya tidak menonton tayangan tentang bakso tikus yang disiarkan oleh Trans TV tersebut. Tapi dari cerita teman-teman yang menontonnya, saya langsung meragukan etika dan profesionalitas jurnalisme media massa yang membuat tayangan itu:

Kalau ada seseorang mengaku bahwa ia sering mencampurkan daging tikus sebagai bahan pembuatan baksonya, lalu di depan sorotan lampu dan kamera, secara sadar ia memperagakan
bagaimana mengolah daging tikus tersebut, apakah filem seperti ini masih bisa dianggap murni sebagai investigative report?

Kalau ketika sedang menangkap dan mengolah daging tikus tersebut orang itu disorot kamera secara candid, saya masih bisa menerimanya sebagai sebuah fakta.

Tapi kalau orang itu–sekali pun dalam kenyataannya ia memang berprofesi sebagai penangkap dan pemotong tikus untuk campuran bakso–memperagakannya secara sadar dan atas arahan sang reporter, pengarah acara atau sutradara, maka–bagaimana pun–berita itu sudah berbau fiksi. Saya rasa ia tidak layak lagi dianggap sebagai investigative report. Atau, kalau pun masih ada yang ingin menganggapnya sebagai investigative report, maka ia hanyalah investigative report “kelas kambing”.

Hal lain yang membuat saya apriori meragukan etika dan profesionalitas jurnalisme tayangan tentang bakso tikus itu ialah: Bahwa akhir-akhir ini gaya pemberitaan seperti ini memang telah menjadi mode media massa kita–terutama televisi.

Di dalam berita-berita kriminal televisi acapkali kita menemukan adegan—misalnya pembunuhan–yang merupakan hasil rekonstruksi. Dan acapkali pula adegan rekonstruksi
itu bukan didasarkan atas hasil pemeriksaan polisi atau pengadilan; tapi melulu atas hasil fantasi media massa itu sendiri.

Memang di bawah adegan itu selalu diterakan kalimat “para pelaku kejadian diperankan oleh orang-orang lain”. Tapi pencampur-adukan berita dengan fiksi seperti ini jelas sangat
mengganggu. Dan cilakanya, karena sifat filem sebagai “gambar hidup”, warga masyarakat biasa cenderung mempercayai saja segala fiksi yang dipertontonkan media massa tersebut.

Di lain fihak, ada pula berita yang dari segi penayangan sebenarnya sudah memenuhi persyaratan sebagai investigative report, tapi ia juga tetap tidak bisa memenuhi kriteria profesionalitas dan etika jurnalisme, karena ia sangat sarat dengan opini si penyampai berita.

Saya pernah menonton berita tentang orientasi seksual yang tak lazim (homo seksual) dari beberapa selebriti lelaki. Gambarnya diambil secara candid. Tapi cilakanya, alih-alih menyajikan berita, sang reporter sibuk memberi kuliah tentang moralitas agama.

Kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua yang terlihat secara kasat mata adalah fakta. Dan media massa kita–entah karena alasan apa–terlalu malas untuk mengorek fakta yang sejati di balik fakta yang terlihat secara kasat mata itu.

Kita tentu masih ingat berita yang menghebohkan pada saat kerusuhan Ambon, yaitu tentang seseorang yang ditembak di masjid ketika sedang sholat subuh. Sebuah penyelidikan memperlihatkan–bukunya diterbitkan oleh Institut Studi Arus Informasi–bahwa ternyata si
korban ditembak di luar masjid, dan dalam keadaan tewas serta berdarah-darah–entah untuk tujuan apa–oleh sekelompok orang dimasukkan ke dalam masjid. Begitu mengerikannya dampak berita yang disiarkan secara sumir dan tergopoh-gopoh itu; sehingga reperkusinya terasa sampai di Jakarta.

Media massa kita yang malas dan kurang peka dalam memverifikasi fakta itu acapkali menjadi sasaran empuk lembaga PR (Public Relation) atau kontra-intelijen fihak-fihak tertentu
yang mempunyai agenda dan kepentingannya sendiri. Akibatnya, alih-alih menjadi solusi, media massa acapkali menjadi persoalan bagi kita, masyarakat yang sedang belajar untuk hidup secara demokratis, menjunjung tinggi hukum dan menghargai hak-hak asasi manusia ini.

Contoh lain dari betapa bahayanya media massa yang malas, kurang peka atau “pura-pura tak tahu” akan fakta sejati di balik yang terlihat secara kasat mata itu ialah: Kasus pemberitaan-pemberitaan ekonomi di masa Orde Baru. Waktu itu, nyaris tak ada media massa yang melihat dan mengungkap betapa keroposnya sebenarnya sendi-sendi perekonomian kita secara makro mau pun mikro. Bahkan ada dua majalah–Swa dan Eksekutif–yang selalu meliput kisah-kisah sukses para konglomerat, sehingga acapkali memberi kesan bahwa kita hidup di sebuah negeri yang menjanjikan keberhasilan bagi siapa saja yang mau bekerja keras.

Tapi begitu krisis ekonomi merebak maka terungkaplah bahwa semua konglomerasi yang besar dan terkesan tangguh itu ternyata hanya “kardus” dan tipuan belaka. Kalau pada waktu itu
media massa kita cukup peka, cerdas dan jeli dalam soal-soal ekonomi, mungkin kita tak perlu harus mengalami keterpurukan seperti sekarang ini.

Saya jadi teringat akan Gus Dur. Dulu, kalau didatangi oleh seorang wartawan yang mengajukan pertanyaan dangkal dan “aneh-aneh”, Gus Dur selalu jengkel dan berkata, “Kamu ini baca buku atau nggak sih, dan mengerti atau nggak sih, akan persoalan yang kamu tanya ini?”

Profesionalitas dan etika jurnalisme media massa juga sangat ditentukan oleh motivasinya dalam menyiarkan sebuah berita. Sebaik, sedalam dan seobjektif apa pun sebuah fakta diungkap, tapi kalau ia tidak memberikan sumbangsih bagi peri kehidupan yang lebih benar dan
lebih baik dalam bermasyarakat–kecuali membuat heboh dan geger–maka menurut hemat saya ia tetap adalah berita “kelas kambing”.

Infotainment yang ditayangkan oleh televisi kita penuh dengan berita seperti itu. Ia
memang–kadang-kadang–memberi peliputan yang berimbang dan mengorek jauh ke lapisan bawah dari fakta yang terlihat secara kasat mata. Tapi kita tidak tahu apa manfaat atau “juntrungan” berita tersebut; kecuali merangsang selera rendahan sebagian besar anggota masyarakat.

Tindakan untuk menyembunyikan sumber berita dengan menyebutnya sebagai “sumber yang layak dipercaya”, atau menyembunyikan identitas para pelaku, sampai pada frekwensi dan tahapan tertentu, memang boleh dilakukan. Tapi kalau media massa terlalu sering menyembunyikan identitas sumber berita atau para pelaku; dan tujuannya dalam menyiarkan berita pun tak jelas (kecuali hanya membuat heboh dan menaikkan oplah/rating) maka adalah hal yang sah-sah saja kalau kita pun jadi meragukan etika dan profesionalitas jurnalismenya.

Berita yang identitas sumber atau identitas para pelakunya tertutup, sebaiknya diperlakukan sama seperti surat kaleng. Ia tidak boleh dipercayai sepenuhnya. Ia hanya boleh dianggap sebagai suatu gelagat atau indikasi. Ia baru boleh dianggap sepenuhnya benar, kalau di kemudian hari, fihak yang berwenang berhasil mengungkapkan apa yang diindikasikan itu.

Di AS yang etika dan profesionalitas jurnalisme media massanya sudah sedemikian tinggi pun, masih sering terjadi penipuan atau penyalahgunaan; apatah lagi di Indonesia. Tapi di AS
cukup banyak lembaga atau institusi swasta independen, yang mengawasi dan mengontrol jurnalisme media massa. Kita tentu masih ingat kasus seorang wartawan yang memenangkan Pulitzer Prize atas pemberitaannya tentang seorang ibu kecanduan narkoba yang memaksa anak-anaknya untuk juga memakai narkoba. Ternyata berita itu hanya sebuah fiksi. Tidak ada
ampun bagi si wartawan. Ia harus mengembalikan Pulitzer Prize yang sempat diterimanya, dan dunia jurnalistik menjadi tertutup baginya untuk selama-lamanya.

Tugas dan tanggung-jawab media massa adalah menyiarkan berita yang baik, benar dan pantas untuk mengembangkan peri kehidupan masyarakat yang lebih berkwalitas. Kalau Trans TV merasa yakin bahwa pemberitaannya tentang bakso tikus itu memang benar dan pantas, maka ia wajib mempertahankannya dari gugatan para pedagang bakso yang merasa keberatan, sampai ke ujung dunia mana pun.

Tapi kalau berita itu tidak benar, maka Trans TV wajib pula meluruskannya. Adalah hal yang lucu, kalau terhadap berita tentang bakso tikus (yang membuat sebagian besar pedagang bakso menjadi berang), maka Trans TV berencana menurunkan berita lain (yang tak ada
urusannya dengan bakso tikus) hanya demi menjaga keseimbangan dan menetralisir kemarahan para pedagang bakso. Urusan “counter- mengcounter” berita adalah urusan lembaga PR (Public Relation); bukan urusan media massa.

Saya tidak tahu apakah ada sebuah badan/institusi independen yang mengawasi etika dan profesionalitas jurnalisme media massa; terutama jurnalisme teve di Indonesia. Seharusnya badan seperti itu diadakan. Dan kalau badan itu ada, maka para pedagang bakso yang merasa
dirugikan oleh pemberitaan Trans TV sebaiknya mengadu kepadanya. Biarlah badan itu yang memeriksa dan mengadili Trans TV. Dan Trans TV tidak berhak untuk terus menyembunyikan identitas sumber atau para pelaku beritanya di depan badan seperti itu.

Tapi kalau badan itu tidak ada, maka menurut hemat saya para pedagang bakso yang merasa dirugikan itu sebaiknya mengadukan Trans TV secara pidana dan perdata. Dan biarlah pengadilan (pidana dan perdata) yang memeriksa sejauh mana kebenaran dan kepantasan berita tersebut. Kalau berita itu ternyata hanya fiksi belaka, maka Trans TV layak dihukum seberat-beratnya.

Kita perlu mengontrol politisi. Kita perlu mengontrol birokrasi, tentara, polisi, jaksa dan hakim. Tapi tak kalah penting, kita juga perlu mengontrol media massa. Mereka bukan malaikat. Dan dalam banyak kasus mereka terbukti tidak lebih baik dari para politisi, birokrat, polisi, jaksa dan hakim yang sering menjadi sasaran pemberitaannya itu.

Akhirnya jangan kita lupa, bahwa sebagian besar dari media massa kita masih tetap dimiliki oleh kelompok kepentingan yang sama seperti pada masa Orde Baru. Bagaimana baik dan
profesionalnya pun para jurnalis yang mengelolanya, tapi mereka tetap hanyalah orang gajian yang harus tunduk kepada kepentingan para “tauke” dan pemodal, yang menjadi besar bukan dari bisnis media, dan yang menumpuk kekayaannya lewat penyalahgunaan kekuasaan[.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s