Berame-rame Berobat ke Singapura

Oleh: Mula Harahap

Isteri seorang teman saya mengeluhkan gangguan di kepalanya. Ia membawa isterinya menjalani pemeriksaan di sebuah rumah sakit di bilangan Senen–Jakarta. Setelah menjalani berbagai pemeriksaan dan perawatan yang cukup lama, penyebab gangguan itu tak kunjung
ditemukan. Sementara itu, teman saya telah menghabiskan biaya 120 juta rupiah.

Seseorang menasehati teman saya agar mencoba membawa isterinya ke Singapura. Ia menuruti nasehat tersebut. Di sana ia menghabiskan biaya sekitar 100 juta rupiah lagi (termasuk biaya menyewa apartemen sementara menjalani pemeriksaan bolak-balik ke rumah sakit). Tapi dalam beberapa hari saja para dokter langsung menemukan penyebab penyakitnya.

Pengalaman saya lain lagi. Anak saya mengalami kecelakaan lalulintas dan mengeluarkan darah dari telinga. Dokter yang menanganinya di Ruang Gawat Darurat RS Islam Cempaka Putih–Jakarta menganjurkan agar anak itu dirawat di ruang ICU. Sayangnya pada saat itu tempat tidur di ruang ICU RS Islam sedang penuh. Saya dianjurkan untuk menghubungi rumah sakit lain. Atas permintaan saya, petugas di RS Islam mencoba menyambungkan saya dengan sebuah rumah sakit terdekat di bilangan Salemba Tengah.

Setelah berbicara sejenak dengan petugas di ujung sana, petugas di RS Islam menyerahkan gagang telepon kepada saya.

“Ya, Pak. Kami masih punya tempat di ruang ICU,” kata suara di ujung sana. “Tapi Bapak tahu ‘kan syaratnya?”

“Apa syaratnya?” tanya saya.

“Bapak harus menyerahkan deposit 25 juta rupiah ketika masuk.”

Saya langsung naik-pitam. Dari mana saya harus mencari 25 juta rupiah pada jam satu dinihari? Tapi dengan tenang saya mencoba untuk bertanya lebih jauh, “Lho, mengapa sebanyak itu?”

“Sebagian untuk deposit tindakan operasi yang harus dilakukan besok pagi,” katanya.

“Kamu siapa?” tanya saya terheran-heran. “Pasiennya saja belum kamu lihat, koq kamu sudah berani menentukan akan ada tindakan operasi?” tanya saya lagi.

“Dari penjelasan petugas RS Islam tadi, saya berkesimpulan anak bapak memang harus menjalani operasi,” katanya lagi dengan tenangnya.

“Akh monyet kau!” kata saya sambil membanting gagang telepon.

Cerita-cerita seperti tersebut di atas banyak sekali dialami oleh keluarga pasien di Indonesia. Dan saya rasa hal-hal seperti inilah yang membuat orang beramai-ramai untuk memilih menjalani pengobatan di Singapura.

Saya mendapat kabar, di Sumatera Utara, keadaannya lebih parah lagi. Hanya orang-orang miskin sajalah yang masih mau berobat di rumah sakit dalam negeri. Orang berduit akan berbondong-bondong lari ke Malaysia atau Singapura.

Tidak ada profesionalisme dari para penanggung-jawab rumah sakit di Indonesia. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana memeras keluarga pasien yang sedang panik dan kepepet itu. Dan kalau diagnosa atau tindakan yang mereka ambil gagal, tak sedikit pun mereka merasa bersalah. (Oh, cerita tentang pasien yang harus gonta-ganti obat atau diperiksa dengan mesin-mesin serba canggih yang biayanya selangit itu, tak kurang pula banyaknya).

Kawan saya, seorang dokter di sebuah rumah sakit kanker di bilangan Slipi juga mengeluh tentang keserakahan koleganya. “Di luar negeri tindakan operasi pada malam hari itu hanya untuk kasus-kasus yang darurat. Tapi di negeri ini kasus-kasus biasa pun acapkali dioperasi
malam hari. Kau tahu mengapa? Karena itulah waktu yang masih tersisa bagi sang dokter. Saking serakahnya dia tak mau membagi pekerjaan mengoperasi itu kepada koleganya. Bisa kau bayangkan betapa besarnya risiko kesalahan yang terjadi bila seorang dokter mengoperasi pada malam hari, setelah lelah bekerja sepanjang hari…”

Saya rasa bisnis rumah sakit dan kesehatan adalah bisnis yang paling enak di Indonesia. Di bisnis bengkel mobil atau komputer, kalau barang yang kita perbaiki masih belum memuaskan pelanggan, maka berlakulah sistem garansi dan kita wajib memperbaiki kembali mobil atau komputer itu dengan cuma-cuma. Tapi bisnis rumah sakit dan kesehatan tak mengenal sistem garansi. Kalau mesin yang bernama manusia, yang kita reparasi itu, masih belum benar jalannya atau mungkin “berhenti” samasekali, maka kita tak dituntut untuk mengembalikan biaya.

Di dalam bisnis rumah sakit dan kesehatan, bila seorang pasien meninggal dunia, maka disamping harus membayar seluruh biaya perawatan yang begitu besar (dan biasanya tak mungkin dihindari), maka keluarga si pasien masih pula harus membayar berbagai biaya yang
berkaitan dengan jenazah.

Dengan membandingkan bengkel mobil dengan rumah sakit, bukan maksud saya agar kita menciptakan sebuah sistem garansi. Tapi kepada para pengelola rumah sakit saya hanya ingin mengatakan: Janganlah mencari uang secara berlebihan dan tak bertanggung-jawab dari orang yang sedang susah dan kepepet[.]

3 responses to “Berame-rame Berobat ke Singapura

  1. Menurut rekan kita yang dokter, itu tergantung apakah si pasien kenal atau tidak dengan dokter. Syukur kalau masih punya hubungan darah. Jadi masalahnya, tak kenal maka tak sayang. Begitu kata rekan kita yang dokter spesialis top di RS top. Hehehehe…….gimana gitu lho.

  2. Andri Hutagalung

    Menjadi semakin mengkawatirkan manakala perlindungan Hukum kepada pasien terhadap kemungkinan Mal Praktek masih jauh dari yang kita harapkan. Sejumlah kasus di beberapa media telah menunjukan betapa rentannya pihak penderita dalam memperoleh jaminan/kepastian perlindungan Hukum terhadap Praktek Tenaga Paramedik… Menyikapi hal ini sudah saatnya Pemerintah cq Legislatif harus bertanggungjawab untuk memberikan kepastian Hukum di dalam Praktek Kedokteran agar Wajah Paramedik di Negara ini tdk menjadi momok yg menjengkelkan …( “Akh monyet kau!” kata saya sambil membanting gagang telepon )… Juga hal tsb diperlukan untuk ‘memagari’ paramedik supaya dapat lebih profesional dan bertanggungjawab (dunia-akhirat) dalam menjalankan profesinya yg saya percaya kemampuan & potensinya tersebut tdklah kalah dengan paramedik negara2 tetangga…

  3. Ada cerita lucu dan ironis: Akibat hubungan keluarga antara istri pasien dan dokternya, sang istri menjadi stres dan terintimdasi dengan suara suara miring dari rekan rekan. Alhasil dibawalah sang suami ke Singapura atas dorongan rekan rekan.

    Ternyata di Singapura, pengobatan yang dilakukan adalah sama dan dengan biaya 1 milyar mendapat bonus tambahan infeksi. Dan selama 7 minggu suaminya belum juga membaik. dia semakin tersadar bahwa suara-suara yang dia dengar selama ini adalah salah. Dan saran-saran dari Oom-nyalah (dokter bedah syaraf) yang benar.

    Maafkan kebodohan isterimu, ya suamiku.Tapi semua penuh keindahan bersama suami apa pun kondisinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s