Berita di Media TV Nasional

Oleh: Mula Harahap

Memang sekarang sudah tidak jamannya lagi bagi para penyaji berita (“news presenter” atau “news anchor”) itu untuk sekedar membaca berita dari teleprompter, seperti yang dahulu dilakukan TVRI pada zaman Tatik Tito, Anita Rahman, Sam Amir dsb.

Karena sifat acaranya yang informatif sekaligus menghibur, maka dewasa ini dari para penyaji berita itu juga dituntut komentar, tanya-jawab dengan reporter di lapangan, dan tanya-jawab dengan nara sumber di studio, agar acara siaran berita itu menjadi lebih hidup dan enak ditonton. Dan saya rasa inilah yang dilakukan oleh para pembawa berita di CNN, CBS, ABC dsb.

Tapi apa yang dilakukan oleh para penyaji berita yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng di televisi swasta kita itu memang sudah keterlaluan. Disamping bertugas sebagai penyaji berita mereka juga acapkali bertindak sebagai reporter, yang mewawancarai langsung sumber berita di lapangan. Dan ini mengganggu.

Pertama, mereka bukan jurnalis. Mereka hanyalah seorang pembawa acara, dan yang kriteria utamanya untuk bisa tampl di teve tentu karena wajahnya menarik dan suaranya bagus. Dan karena bukan jurnalis, maka pertanyaan mereka sering terkesan bodoh.

Kedua, karena wawancaranya dilakukan secara “live” dan dalam waktu singkat, maka selalu timbul kesan terburu-buru, salah tangkap, “tidak nyambung”, “out of context” atau bahkan kasar. Dalam berita-berita besar dan hangat seperti kecelakaan pesawat terbang Adam Air dan Garuda kita bisa melihat dengan jelas bagaimana kekonyolan yang terjadi kalau seorang pembawa berita sekaligus difungsikan sebagai reporter:

Suatu hari dalam kasus jatuhnya pesawat terbang Adam Air di Selat Makassar, kita mendengar berita di sebuah stasiun televisi tentang ditemukannya KTP atas nama seseorang bermarga Sinaga di pantai Pare-pare.

Si penyaji berita yang berwajah cantik tapi tak paham kaidah jurnalistik itu sibuk dengan fantasinya sendiri. Dia berusaha mengait-ngaitkan penemuan KTP tersebut dengan kecelakaan pesawat Adam Air. Padahal di ujung sana secara “live” ada seseorang yang mengaku bahwa dialah pemilik KTP yang sudah kadaluwarsa tersebut. Kata orang itu ketika ia mendapat KTP baru, maka KTP yang lama itu sudah diserahkannya ke kantor kecamatan. Ia pun tak mengerti bagaimana KTP tersebut terdampar di pantai Pare-pare. Orang itu juga mengaku bahwa baik dirinya maupun sanak saudaranya tidak ada yang terkait dengan pesawat Adam Air yang nahas itu.

“Mungkin Bapak menyerahkan KTP tersebut kepada seseorang untuk membeli tiket Adam Air?” tanya si penyaji berita dengan pertanyaan yang samasekali “tak nyambung” dengan keterangan yang sudah lebih dulu diberikan oleh orang itu.

“Tidak,” kata suara di ujung sana. “Seperti saya katakan tadi, KTP itu sudah saya serahkan ke kantor kecamatan pada tahun 2002…”

“Oh, jadi KTP itu bukan KTP Bapak?” tanya si penyaji berita berwajah cantik yang merasa diri seperti Christina Amanpour–reporter CNN yang cerdas itu.

“Itu KTP saya. Identitas yang terpampang di layar itu adalah identitas saya. Tapi saya tak ada urusan dengan Adam Air…” jawab suara di ujung sana dengan jengkel.

Kebodohan yang sama juga dilakukan seorang penyaji berita ketika melakukan tanya-jawab per telepon dengan seseorang yang mengaku mengenali mayat perempuan yang terdampar di pelabuhan Pare-pare bersamaan dengan ditemukannya KTP itu. Dengan polos suara di ujung
telepon sana mengatakan bahwa untuk lebih memastikan ia sedang menyuruh adiknya pergi menghubungi keluarga dekat dari orang yang diduganya telah menjadi mayat itu. Tapi cilakanya si penyaji berita, yang sudah dirasuki dengan fantasi segera ditemukannya bangkai
pesawat Adam Air, sibuk untuk mencantel-cantelkan fakta penemuan mayat itu dengan Adam Air. Akibatnya, pertanyaan-pertanyaannya menjadi kelihatan bodoh dan menjengkelkan.

Kekonyolan yang lainnya lagi kita saksikan dalam kasus kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta. Dengan diselang-seling gambar pesawat Garuda yang masih berkobar api di bandara Adisucipto, si penyaji berita melakukan tanya jawab dengan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. Alih-alih mengajukan pertanyaan di seputar tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan penumpang atau mengatasi kekacauan di bandara Adisucipto, maka si penyaji berita yang berpretensi menjadi reporter itu, dan yang mungkin sudah kehabisan
bahan untuk ditanya, mengajukan pertanyaan: “Kapan Anda mundur sebagai Menteri Perhubungan?” Sungguh sebuah pertanyaan yang kasar dan di luar konteks.

Seharusnya para penyaji berita kita itu bisa menahan diri. Di CNN atau Al-Jazeera para penyaji berita tidak pernah berpretensi menjadi reporter. Mereka akan mempersilakan reporternya yang memang terkenal hebat itu–misalnya Christina Amanpour–untuk tampil menyampaikan berita atau melakukan tanya jawab dengan sumber berita. Si penyaji berita hanya akan memberi satu-dua komentar saja.

Saya sudah lama “sebel” dengan gaya penyajian berita di televisi kita. Apalagi dengan gaya para penyaji berita di acara “infotainment” itu. Huih! Saya sukar untuk membedakan apakah
yang mereka ocehkan itu adalah berita, dongeng, khotbah, nasehat, atau apa[.]

One response to “Berita di Media TV Nasional

  1. haha.. mantap kali tulisannya. mari kita sama-sama merenung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s