Honda Bebek Pak Ustad

Diceritakan Kembali Oleh: Mula Harahap

Di sebuah perkampungan yang padat dan relatif kumuh di sebuah kota metropolitan Indonesia, hiduplah bertetangga seorang pendeta dengan seorang ustad. Sedemikian baiknya hubungan mereka, sehingga apapun yang dimiliki oleh yang satu pasti akan dibaginya kepada yang lain.

Begitulah, suatu hari Pak Pendeta mendadak mendapat tugas untuk melayani penguburan seorang anggota jemaatnya. Karena tempat yang hendak dituju relatif jauh dan tidak terjangkau oleh angkutan umum, maka Pak Pendeta datang menjumpai Pak Ustad untuk meminjam sepeda motornya.

“Pak Ustad, bolehkah saya meminjam honda bebeknya barang satu-dua jam?” tanya Pak Pendeta.

“Oh, silakan, slakan, Pak Pendeta….” kata Pak Ustad dengan ramahnya sambil memberikan kunci kontak sepeda motor yang dimaksud. Dan pergilah Pak Pendeta membawa sepeda motor itu ke tempat tugasnya.

Dua jam kemudian, Pak Pendeta pun telah kembali. Ketika itu musim penghujan, karena itu sepeda motor yang tadinya bersih kini telah berlepotan lumpur.

Dalam semangat hidup bertetangga yang baik, maka Pak Pendeta berniat untuk lebih dahulu membersihkan sepeda motor itu sebelum dikembalikan ke pemiliknya.

Sebagaimana layaknya kehidupan di perkampungan kumuh, maka air adalah barang yang sangat langka. Karena itu, untuk menghemat air, Pak Pendeta hanya memercik-mercikkan air di seantero sepeda motor itu dan mengelapnya. Cilakanya, tingkah-laku Pak Pendeta terlihat oleh Pak Ustad.

“Astaga! Sudah dibaptisnya pula honda bebekku menjadi satu agama dengan dia…” gerutu Pak Ustad di dalam hati.

Sementara itu, selesai membersihkan, Pak Pendeta pun mendorong sepeda motor itu ke rumah Pak Ustad. “Ini hondanya…Terimakasih ya, Pak Ustad?!”

“Hmm, hmm… Letakkan sajalah di situ, Pak Pendeta,” kata Pak Ustad dengan nada dingin. Ia menjadi begitu kecewa dan tidak berani lagi menyentuh sepeda motornya.

“Aduh, apakah yang harus saya lakukan sekarang?” pikir Pak Ustad dengan masygulnya. “Tadi pagi motor ini masih satu agama dengan saya, tapi kini di tangan Si Pendeta brengsek itu ia telah berubah agama…” Pak Ustad berpikir keras untuk kembali “memenangkan” honda
bebeknya.

“Oh, ada akal!” Tiba-tiba Pak Ustad mendapat sebuah gagasan yang cemerlang. Ia pergi ke gudang, mencari peti tempat menyimpan alat- alat bertukang dan mengambil sebuah gergaji besi.

Mulailah Pak Ustad berjongkok di belakang sepeda motor itu. Srek..srek..srek…Ia menggergaji ujung knalpot “honda bebek” tersebut. Tak lama kemudian, tentu saja, putuslah ujung knalpot
tersebut. Pak Ustad tersenyum lebar. “Nah, kini honda bebek saya sudah kembali menjadi satu agama dengan saya…” [.]

One response to “Honda Bebek Pak Ustad

  1. he.. he… lucu sekali….. begitu ya caranya jadi muslim…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s