I Love You Mr. Machmood dan Pupusnya Dialek Lokal

Oleh: Mula Harahap

Setiap Sabtu pagi, di Radio Delta FM–Jakarta, saya selalu mendengar ocehan Nuim Khaiyat tentang berbagai aspek kehidupan yang dituturkan dalam dialek Medan yang kental. Nuim Khaiyat adalah penyiar Radio Australia yang puluhan tahun bermukim di Melbourne. Jadi kalau acara ini diselenggarakan atas kerjasama dengan Radio Australia; maka alasannya yang
pertama–boleh jadi–karena memang Nuim Khayat adalah penyiar di sana. Tapi boleh jadi juga, karena memang Radio Australia lebih bisa mengapresiasi keberagaman Indonesia, dibanding orang Indonesia sendiri.

Acara canda yang selalu dimulai dengan salam pembuka “I Love You Mr. Machmood” itu, bagi saya, adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu; teman sarapan atau “golek-golek” di Sabtu pagi. Saya selalu tertawa dalam hati mendengar kata-kata seperti “jelebau”, “suntuk” dan “bedangkik”, atau ungkapan seperti “cem’mana pulak kau ini”, “ala mak jang” dan “preman lontong” keluar dari mulut Nuim Khaiyat yang telah lebih dari 30 tahun meninggalkan Gang Bengkok–Medan!

Tiba-tiba saya sadar bahwa saya pun pernah menjadi bagian dari kultur yang walau pun “norak” dan sedikit kasar; tapi lugas dan jujur ini.(Kata yang terakhir hanyalah tambahan dari saya!). Karena itu acara setiap Sabtu pagi di Delta FM–Jakarta ini seakan-akan menjadi “upara” penemuan kembali identitas diri yang hilang; sesuatu yang selama 30 tahun Orde Baru menjadi pupus oleh konsep “persatuan dan kesatuan”. Dan identitas diri yang pupus ini pulalah yang membuat banyak dari kita menjadi gelisah serta menderita neurosis!

Sabtu lalu–misalnya–Nuim Khaiyat berceloteh tentang generasinya yang membentuk rambut seperti Elvis Presley, dan bagaimana banyaknya minyak rambut yang harus dikorbankan untuk itu, dan bagaimana upaya untuk membuat krah baju agar tidak menjadi hitam…Saya jadi
tertawa. Walau pun berbeda generasi, tapi saya juga pernah hidup dalam “lagak Medan” yang “bimas” (biar mati asal stand/style) itu. Ketika masih remaja, kami biasa membeli minyak rambut (biasanya merek Tancho) yang diketeng seharga 5 rupiah di kios rokok. Lalu kami masih diberi “bonus” boleh meminjam cermin dan sisir “umum” yang tersedia di sana. Dan dengan tambahan beberapa batang “komfil” (Commodore filter) jadilah kita pemuda “tanliper” (tancho lima perak) yang dengan penuh kepercayaan diri pergi untuk “mengepek” (wakuncar)….

Tapi akhir-akhir ini, kalau saya kembali ke Medan, budaya lokal yang kental itu semakin pudar saja. Dan kalau secara iseng-iseng saya memutar-mutar tombol pencari gelombang di radio, saya sudah sukar untuk membedakan apakah siaran yang sedang dipancarkan itu
berasal dari sebuah stasiun di Petisah atau Simpang Limun, atau berasal dari Kayumanis, Cipinang Muara atau Kebayoran Baru.

Belum lama ini saya mengadakan perjalanan bermobil dari Bandung menuju Surabaya. Untuk membunuh sepi saya mencari-cari siaran radio dari setiap kota yang saya lintasi. Gaya dan suara penyiarnya nyaris sama. (Eee, kamu-kamu yang lagi disana…kita mau ikutan….kirim-kirim lagu, dong….) Dan itu terjadi mulai dari Priangan, Banyumas, Kedu, Yogyakarta sampai
Besuki. Ketika makan di warung pinggir jalan, maka pada layar TV 12 inci yang menyala di sana, yang muncul adalah Eko Patrio, Taufik Savalaz, Komeng atau Ulfa yang berbicara dalam logat metropolitan Jakarta, tentang “mall”, manusia dan peristiwa yang terjadi di Jakarta. (Dan kantor BKKBN atau terminal di setiap kota kabupaten itu–masyaallah–hampir semua beratap gaya rumah joglo!).

Saya tidak hendak mencari kambing hitam atas pupusnya budaya dan dialek lokal. Saya juga tidak hendak membahas konsep Kebudayaan Indonesia. (Hal itu biarlah menjadi urusan Sutan Takdir Alisyahbana, Umar Kayam, Parsudi Suparlan, Nirwan Dewanto atau para anggota MPR
yang terhormat). Saya hanya ingin mengutarakan kegelisahan saya akan sebuah Indonesia yang semakin seragam. Saya merindukan ratusan pentas bagi ratusan sub kultur yang ada di negeri ini untuk bisa mengekspresikan dirinya. Dan sebagai akibatnya–tentu saja–saya juga merindukan orang Indonesia yang bisa saling memahami, menerima dan menyelesaikan
konfliknya (dan konflik adalah saudara kandung keberagaman), tanpa harus menghunus golok atau menyiramkan bensin kepada kawan di hadapannya[.]

3 responses to “I Love You Mr. Machmood dan Pupusnya Dialek Lokal

  1. Wah, ini belum ada komennya? Kacian…! Mengepek? Ha ha ha….Baru aku ingat lagi… Bedangkik? Pelit, ‘kan…?

  2. Benar juga ya…memang apa salahnya beda. Kalo mau dengar Pak Nuim, bisa juga di LiteFM setiap Senin, 07.00 – 08.00 (Postcard from Melbourne).

    Ada yang punya email add.nya Pak Nuim ga…bagi-bagi dong. Trims.

  3. Gimana ya caranya bisa mendengarkan acara Bang Nuim Khayat lagi? Acara Samba (Sabtu Gembira) itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s