Libur Nasional Berkepanjangan Adalah Cerminan Kemalasan Nasional

Oleh: Mula Harahap

Seperti tahun-tahun sebelumnya, maka tahun 2006 ini seluruh kantor negara dan sebagian besar kantor swasta kembali akan menerapkan libur nasional berkepanjangan pada tanggal-tanggal: 30/3, 31/3, 1/4, 2/4, kemudian 25/5, 26/5, 27/5, 28/5, kemudian 17/8, 18/8, 19/8,
20/8, 21/8, kemudian 20/10, 21/10, 22/10, 23/10, 24/10, 25/10. Gila benar!

Ada beberapa alasan yang dipakai oleh Pemerintah untuk membuat keputusan tersebut, yaitu mendorong dunia pariwisata, mempererat tali silaturahmi warga dengan kerabat, dan meningkatkan produktivitas kerja. Omongkosong!

Menurut hemat saya keputusan membuat hari libur nasional yang berkepanjangan ini hanyalah gambaran dari kemalasan kita sebagai bangsa.

Tidak ada negara lain di dunia ini yang menjalani libur berkepanjangan seperti Indonesia. Dan konyolnya lagi kita adalah salah satu negara di dunia ini yang paling miskin dan paling banyak diterpa oleh krisis. (Isarel yang wilayahnya terhitung sempit dan yang kesigapan pasukannya bisa diandalkan pun masih bisa kocar-kacir ketika mereka menjalani libur Yom Kipur
selama 2 hari dan mendapat serangan tiba-tiba dari Mesir pada tahun 1973).

Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Indonesia bila kita tiba-tiba diserang oleh negara tetangga atau mendapat bencana alam yang sedemikian dahsyat seperti tsunami pada tahun 2004 lalu. Saya rasa kita akan mati di tempat dan akan berantakan sebagai bangsa dan negara. Amit-amit!

Keputusan membuat libur nasional yang berkepanjangan ini juga adalah bukti bahwa para pemimpin kita masih melihat dan mengukur Indonesia dari kacamata Jakarta.

Bagi sekelompok elit Jakarta (yang hidup makmur dari ketidakadilan negeri ini), libur nasional boleh jadi memang merupakan kesempatan untuk beristirahat dan membuang-buang uang ke berbagai tempat wisata yang eksotis itu.

Tapi bagi supir bus, penarik ojek, pedagang makanan di Jalan Thamrin–Jakarta, dan jutaan orang lainnya yang bergerak di sektor informal dan hanya bisa hidup pas-pasan, libur nasional hanyalah malapetaka.

Demikian juga halnya bagi pegawai rendahan–terutama yang berada di wilayah-wilayah yang jauh dari Jakarta: Libur nasional yang berkepanjangan hanya mengolok-olok mereka.

Ada jutaan guru, kerani, buruh pabrik dan orang-orang kecil lainnya yang hanya bisa luntang-lantung di dalam rumah untuk menghabiskan libur nasional. Jangankan pergi ke Puncak atau ke Bali, membeli jajanan tambahan pada hari libur nasional pun mereka sudah tak sanggup.
(Apalagi, gara-gara libur nasional, kesempatan untuk mencari tambahan penghasilan pun jadi tertutup).

Bagi para pemilik pabrik, yang kelangsungan usahanya sangat tergantung pada ritme kerja yang konstan dan teratur, kebijakan libur nasional juga adalah malapetaka. (Hanya di Indonesia-lah bisa terjadi bahwa truk kontainer yang membawa bahan baku atau hasil olahan pabrik dilarang untuk berjalan keluar-masuk pelabuhan, demi memberi kesempatan bagi orang-orang berpunya untuk mondar-mandir menikmati hari libur nasional).

Saya berpendapat kebijakan menetapkan libur nasional yang berkepanjangan adalah cerminan dari sebuah pemerintah yang bodoh, tidak punya “sense of crisis” dan tak mengenal rakyatnya.

Saya menentang kebijakan libur nasional. Dan saya semakin meragukan kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam membawa negeri ini keluar dari krisis[.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s