Mama Sudah Meninggal Ditembak Papa

Oleh: Mula Harahap

“Mama sudah meninggal. Ditembak Papa,” itulah kata-kata dari salah seorang anak Aipda Saudin Debataraja, yang dikutip oleh wartawan, dan saya baca di sebuah harian ibukota.

Bulu kuduk saya meremang. Saya tak bisa membayangkan trauma yang dialami oleh anak-anak Aipda Saudin Debataraja. Bagaimana mereka harus hidup dan menghadapi ayahnya sampai mereka besar nanti?

Dan kalau Aipda Saudin Debataraja bisa selamat, saya juga tak bisa membayangkan perasaannya. Bagaimana pula ia harus menghadapi anak-anaknya nanti?

Banyak perasaan–bukan hanya badan–yang terluka dalam peristiwa ini. Bagaimana harus menyembuhkan luka itu? Dan siapa pula yang mau memikul tugas dan tanggung-jawab untuk melakukannya?

Akh, di sebuah jaman dan di sebuah masyarakat dimana orang sudah sangat sibuk memikirkan urusannya sendiri, saya sungguh tak bisa menemukan jawaban atas kegalauan saya.

Kalau saja instansi kepolisian cukup peka, peristiwa yang memilukan itu sebenarnya tak perlu terjadi. Beberapa waktu yang lalu Aipda Saudin Debataraja sudah pernah dirawat di rumah sakit karena menderita gangguan kejiwaan. Lalu, bagaimana mungkin seseorang yang pernah menderita gangguan kejiwaan masih diizinkan memegang senjata api?

Menurut keterangan Ketua RW, pasangan itu sebenarnya juga sudah kerap kali bergaduh. Bahkan orang pernah melihat Aipda Saudin Debataraja mengancam isterinya dengan golok. Lalu, mengapa pula selama ini tidak ada yang menaruh perhatian lebih khusus terhadap Aipda
Saudin Debataraja?

Dimana perhatian famili serta sahabat Aipda Saudin Debataraja dan isterinya Kapten Adiana Siringoringo? Dimana pula perhatian jiran sesama etnis Batak, dan–ini yang lebih penting–perhatian gereja?

Tapi yah siapa pula yang mau perduli memikirkan seorang polisi sinting yang cemburu karena pangkat isterinya lebih tinggi? (Itulah penyebab pembunuhan itu, kata media massa).

Urusan kita sendiri tokh sudah cukup banyak. Kita sudah cukup pontang-panting mencari biaya untuk renovasi rumah, cicilan mobil, atau membeli baju seragam untuk pesta pernikahan seorang kerabat nanti. Kita sudah kehabisan waktu untuk latihan koor, rapat majelis, dan menyelenggarakan seminar di gereja. Oh, ya kita juga sudah ngos-ngosan untuk menghadiri pesta perkawinan keponakan, arisan semarga, dan rapat pembangunan tugu di kampung halaman.

Jadi begitulah, dalam pandangan saya, sekali lagi, Keluarga Aipda Saudin Debataraja hanyalah korban dari sebuah masyarakat dan gereja yang sedang sakit[.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s