Musim Gugur Kembali di Connecticut, Sastra Kita dan RUU APP

Oleh: Mula Harahap

“Tangan Tono masih di perut istrinya. Leher istrinya diciumnya lagi. Dibisikkannya beberapa kalimat di telinga istrinya. Istrinya tersenyum. Sambil bangkit dari pangkuan Tono, istrinya menyeretnya masuk ke balik tirai. Mereka mulai menanggalkan baju. Kemudian suara dua badan yang dihempaskan di tempat tidur terdengar bersama keriutnya besi-besi ranjang….”

“Tono merapatkan badan ke badan istrinya. Sesaat sentuhan kulit menggetarkan seluruh syaraf Tono. Dirabanya seluruh tubuh istrinya. Dicumnya istrinya dengan penuh keberahian. Oh, alangkah nikmatnya kebebasan, pikir Tono. Alangkah tahu terimakasih penderitaan itu. Dan waktu istrinya menanggapi dengan panasnya berahi yang sama, seonggok gelombang nafsu menggulung kedua tubuh itu….”

“Jam berdentang satu kali di kamar makan. Tono tersentak bangun. Istrinya masih tidur di sampingnya. Tubuhnya yang telanjang dan tergeletak dengan tenang itu mengingatkan Tono pada salah satu lukisan Gauguin…”

“Tono mengangkat jaketnya. Seperti biasa dia cium dulu lengan-lengan jaketnya. Hidungnya menyengir sebentar. Bau mani kering menusuk hidungnya. Dia tersenyum. Istrinya tersenyum…”

Kalimat-kalimat di atas saya ambil dari cerpen “Musim Gugur Kembali di Connecticut” karya Umar Kayam. Dia bukan saya ambil dari sebuah “buku stensilan” konsumsi anak remaja.

Siapa pun yang telah membaca cerpen ini pasti akan setuju bahwa di dalam berkarya tidak ada maksud dari Umar Kayam–sastrawan besar itu–untuk memancing selera rendah pembacanya. Kalimat-kalimat itu dipakainya sebagai simbol gairah seorang manusia terhadap kehidupan; manakala nalurinya telah mencium bau kematian. “Musim Gugur Kembali di Connecticut” bercerita tentang tragedi seorang intelektual bernama Tono yang dituduh terlibat PKI, dan yang kemudian digiring oleh sekelompok tentara ke sebuah kebun karet.

Simbolisasi terhadap suatu hal, yang dilakukan lewat penggambaran aktivitas seksual, tentu saja akan kita temukan di banyak karya sastra. Dia ada di novel Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, Somerset Maugham, Yukio Mishima, Fira Basuki, Guy de Maupassant, Ayu Utami dan lain sebagainya. Dia juga ada di filem-filem karya sutradara seperti Woody Allen, Bellini, Akira Kurosawa, Ingmar Bergman dsb.

Lalu bagaimana kita harus “mendamaikan” penggambaran aktivitas seksual dalam karya sastra–sebagaimana yang telah diuraikan di atas–dengan kalimat-kalimat di bawah ini?

“Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis….”

“Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi media….”

“Setiap orang dilarang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau menempelkan tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang yang
berciuman bibir melalui media massa cetak, media massa elektronik dan/atau alat komunikasi medio….”

“Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan karya seni yang mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media massa elektronik, atau alat komunikasi medio, dan yang berada di tempat-tempat umum yang bukan dimaksudkan sebagai tempat pertunjukan karya seni….”

Kalimat-kalimat yang saya kutip kemudian ini adalah bunyi pasal-pasal–ada 11 bab dan 93 pasal banyaknya–dari RUU Antipornografi dan Pornoaksi yang sedang digodok di DPR.

Para pembela RUU mungkin akan menuduh saya terlalu mengada-ada. “Undang-undang tidak akan mengatur sampai sedemikian jauh,” mungkin begitulah kata mereka.

Tapi saya rasa, undang-undang tidak bisa bersifat “permissive” dan “main kecuali-kecualian”. Begitu ia diundangkan, ia harus dijalankan dengan tegas dan tak boleh di-“multi-tafsirkan”. (Atau–kalau tidak–pasal-pasal yang menyeramkan atau bisa di-“multi-tafsirkan” itu lebih baik dibuang).

Kalau ia dibiarkan mengambang; maka ia akan membuka peluang bagi para “law-enforcer” dan preman-preman untuk melakukan pemerasan.

Atau, para pembela RUU Pornografi itu mungkin akan berkata, “Kalau tidak mau didakwa sebagai melanggar undang-undang, yah gampang saja, buang saja semua kalimat, aliena atau adegan yang bisa dikategorikan porno itu dari sastra….”

Tapi sebagai peminat sastra, saya tidak bisa membayangkan kenyataan ini kalau harus terjadi. Tidak gampang untuk menggunting atau mem-“black-out” hal-hal yang menggambarkan aktivitas seksual itu dari sastra. Seperti yang saya katakan, hal-hal itu adalah simbolisasi dari tema besar yang sedang diusung oleh sang pengarang. Atau, ia juga bisa merupakan “kepingan-kepingan mosaik” yang utuh dan menyeluruh dari sebuah sajak, cerpen, novel, esai atau filem yang kreatif.

Memotong atau mem-“black-out” simbolisasi dalam bentuk aktivitas seksual dari sebuah novel atau filem sastra sama saja halnya dengan menggunting buntut dan telinga seekor kelinci.

Atau, haruskah kita membuang dan membakar saja semua sastra yang ditengarai mengandung “pornografi” itu? Lalu, apa yang akan tersisa bagi kita? Akh, tidak bisa saya bayangkan betapa sepinya kehidupan ini.

Sebenarnya saya malu kalau kekhawatiran saya ini diketahui oleh seniman-seniman besar seperti Rhoma Irama, Inneke Koesherwati dan yang lainnya itu.

Saya takut kalau oleh mereka saya dicap sebagai “pembela pornografi yang berlindung di balik alasan kreativitas pengarang”. Saya juga tidak mau kalau sampai dituduh sebagai “orang yang mengorbankan moral dan akhlak bangsa demi kebebasan berkreasi”.

Tidak ada maksud saya untuk membela pornografi dan menghancurkan moral serta akhlak bangsa. Bukan. Bukan itu maksud saya.

Tapi saya memang sungguh tak bisa membayangkan sebuah kehidupan tanpa sastra. Dan bagi saya, kehidupan tanpa sastra adalah juga kehidupan yang tak kalah amoral dan bejatnya dengan kehidupan yang bergelimang pornografi.

Karena itu dengan menahan rasa malu dan memohon maaf kepada para kampiun akhlak dan moral, saya beranikan mengangkat fakta ini. Mudah-mudahan fakta ini menjadi perhatian para “drafter” undang-undang. Saya rasa mereka cukup tahu bagaimana menjaga keseimbangan antara kepastian hukum dan kelangsungan hidup kebudayaan[.]

One response to “Musim Gugur Kembali di Connecticut, Sastra Kita dan RUU APP

  1. Pingback: Old Books Reviews (Best of The Best)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s