Pedagang Parsel Datangi KPK

Oleh: Mula Harahap

Dewasa ini, saya rasa, sudah tidak ada pejabat negara (rendah, menengah atau tinggi) yang bisa dibeli hanya dengan satu parsel yang isinya sekedar barang tetek-bengek (sirop, buah kaleng, perangkat minum dari keramik, sarung dsb) dan yang disusun secara meriah.

Para pejabat negara itu baru bisa “tergugah” kalau dari “kerjasama” yang ditawarkan itu mereka melihat keuntungan yang “buesaaar”. Jadi, sebuah parsel baru akan efektif menjadi sarana suap kalau ia berisi beberapa “gepokan” uang limapuluh ribuan dan seratus ribuan. (Tapi, saya rasa, hanya orang gila sajalah yang berani mengirim keranjang parsel berisi uang limapuluh atau seratus ribuan beberapa gepok).

Menurut hemat saya, parsel hanyalah sarana dari para calon penggarap proyek untuk mengatakan kepada para pejabat, “Saya masih hidup lho, Pak. Jangan lupakan saya. Besok-lusa saya akan datang menghadap Bapak….” Dan ketika menghadap itulah “deal” yang lebih besar serta konkrit dilakukan.

Kalau ditinjau dari fungsinya sebagai sarana untuk mengingatkan eksistensi si pemberi parsel kepada si penerima parsel (bahasa kerennya, sarana silaturahmi), maka sebenarnya budaya memberi parsel ini sih wajar-wajar saja. Sama wajarnya seperti memberi kartu nama, kartu ucapan, karangan bunga, atau gift yang sederhana tapi unik seperti yang menjadi budaya di masyarakat Jepang.

Tapi hal-hal yang di masyarakat lain dianggap sebagai sesuatu yang wajar, di masyarakat Indonesia yang feodal dan korup ini memang cenderung dibuat menjadi tidak wajar, berlebihan dan–acapkali– terkesan bodoh.

Kalau di masyarakat lain tinggi sebuah karangan bunga–dari dulu sampai sekarang–hanya 50 sentimeter, maka di masyarakat yang feodal dan korup ini ukuran tersebut semakin besar saja. Kini, alih-alih mengirim karangan bunga yang manis dan mungil, kita cenderung mengirim “panel bunga”. (Dan sebenarnya perkataan bunga sudah tidak relevan lagi disini, karena umumnya keseluruhan panel tersebut terbuat dari plastik dan lebih banyak berisi huruf).

“Panel bunga” tidak memiliki estetika apa pun. Yang mencolok di sana hanyalah nama si pemberi (“Mula Harahap”, misalnya), lalu di bawahnya ada kalimat dengan huruf yang jauh lebih kecil tentang maksud dan tujuan mengapa panel bunga itu dikirim (“Mengucapkan Selamat Atas Pernikahan Tuti dan Umar”, misalnya).

Saya pernah melintas di Jalan Imam Bonjol–Medan, di depan Tiara Convention Center. Dan bukan main terperangahnya saya, karena kedua sisi jalan di depan gedung tersebut, sepanjang 20 meter, dipenuhi oleh ratusan “panel bunga”.

Kalau di masyarakat lain sebuah parsel–dari dulu sampai sekarang–hanya berupa sebotol anggur, sebuah buku, sekaleng kaviar, atau sekotak cerutu, maka di masyarakat yang feodal dan korup ini wujud parsel semakin aneh dan lucu saja.

Ada parsel yang berisi sekotak tisyu, sebotol sirop merah, sekaleng biskuit, sekaleng cokelat dsb. Ada parsel yang berisi sandal, sarung, baju koko dsb. Ada parsel yang berisi seperei, sarung bantal, serbet dsb. Ada parsel yang berisi sendok, garpu, gelas dsb.

Saya pernah menerima parsel yang isinya seperti yang telah saya sebutkan terakhir tadi. Memang saya tidak akan mudah melupakan orang yang memberi parsel tersebut: Karena isi parsel itu tak sesuai dengan “taste” saya dan isteri saya, maka orang itu tetap saya ingat
sebagai orang yang norak dan tak mengerti saya.

Kalau di masyarakat lain mengantar (ke bandara) seorang pimpinan kantor pemerintah dilakukan dengan sederhana dan menggunakan satu mobil saja, maka di masyarakat yang feodal dan korup ini hal tersebut harus dilakukan oleh seisi kantor (plus isteri masing-masing)
sebagaimana layaknya kita mengantar jenazah ke pekuburan.

Seorang paman saya pernah bekerja di Pertamina–Plaju, Sumatera Selatan pada masa kepemimpinan Ibnu Sutowo. Dia bercerita, “Kalau Ibnu Sutowo pulang ke Jakarta kami semua pejabat yang ada di Plaju harus berdiri di apron. Lalu kami harus terus menatap ke langit
sampai pesawat terbang yang membawanya hilang dari pandangan mata. Seperti orang bodoh saja kami ini. Ha-ha-ha-ha….”

Saya sih setuju-setuju saja dengan upaya hukum yang dilakukan KPK dalam mengurangi kebiasaan memberi dan menerima parsel. Tapi, terus- terang saja, saya merasa pesimis akan keberhasilan upaya ini.

Kita berhadapan dengan sebuah masyarakat dan budaya yang feodal, dimana atasan senang dijilat pantatnya, dan dimana orang bangga dengan simbol-simbol yang terkesan wuah tapi tanpa makna.

Karena itu, menurut hemat saya, disamping upaya hukum, hal yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah perlawanan budaya. Tapi siapa yang berani dan mau melakukan hal itu?

Dahulu, semasa pemerintahan Rezim Suharto, di Sumatera Utara ada seorang gubernur “eksentrik” yang bernama E.W.P Tambunan. Dia selalu mengeluh melihat para Kepala Biro Pemda dan Bupati selalu mondar- mandir menjemput Menteri di bandara Polonia. Karena itu suatu waktu dia mengeluarkan ketentuan, “Para bupati digaji oleh negara untuk mengurusi pembangunan dan rakyat. Tak perlulah bupati membuang-buang waktu di bandara. Urusan menjemput dan mengantar menteri biarlah menjadi urusan staf protokol kantor gubernur…”

Jalan pikiran Gubernur Tambunan memang baik. Tapi–tentu saja–jalan pikiran seperti itu tak berkenan bagi para tuan-tuan yang datang dari Jakarta. Tambunan hanya menjabat sebagai gubernur untuk satu periode. Dan konon kabarnya salah satu penyebabnya ialah kejujuran dan
kelugasannya itu.

Bagi saya urusan parsel, urusan “bunga papan” (atau undangan perkawinan) yang nauzubillah besarnya, urusan pesta pernikahan yang miliaran rupiah, urusan rumah dinas bupati yang harganya 20 miliar, dan hal-hal bodoh lainnya itu; semua itu adalah urusan mengangkat perang terhadap budaya feodal yang merupakan lahan subur korupsi di negeri ini.

Dalam lingkup pekerjaan dan kehidupan pribadi, saya berusaha untuk terus memeranginya. Adakah yang mau ikut dalam peperangan besar, panjang dan terkesan “mustahil” ini?[.]

One response to “Pedagang Parsel Datangi KPK

  1. bukannya tak mau ikut, tetapi kan tak kebagian pula awak dari bisnis orang-2 yang uangnya datang seperti hantu dan sudah pasti perginya seperti setan. hehehehehe…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s