Sang Pemimpi

Resensi Buku Oleh: Mula Harahap

Sang Pemimpi
Andrea Hirata
Penerbit Bentang, Yogyakarta 2006
ISBN: 979-3062-92-4
X + 290 halaman

V.S. Naipaul–pengarang berdarah India, kelahiran Trinidad,dan berkebangsaan Ingeris pemenang hadiah Nobel Kesustraan itu, pernah ditanyai orang mengapa akhir-akhir ini ia lebih banyak menulis kisah-kisah perjalanan ketimbang novel.

Pengarang tersebut menjawab kira-kira begini, “Saya tidak merasakan adanya perbedaan yang berarti antara menulis novel dan menulis kisah perjalanan. Saya hanya mau bercerita dan menulis apa yang saya pikirkan serta rasakan. Dahulu, karena keterbatasan mobilitas, para pengarang seperti Charles Dickens mungkin terpaksa harus memakai bentuk novel sebagai media bercerita. Tapi berbeda dengan Charles Dickens, saya beruntung karena bisa bepergian kemana-mana, dan melihat serta mengalami apa saja. Apa yang saya lihat dan alami itu sudah merupakan cerita yang menarik, dan sudah sama dengan novel….”

Pernyataan V.S. Naipaul di atas kembali terngiang di telinga saya ketika membaca buku “Sang Pemimpi”–dan buku yang terdahulu “Laskar Pelangi”–karangan Andrea Hirata .

Saya tidak tahu—dan saya tidak terlalu memperdulikan—apakah kedua buku ini adalah novel, otobiografi, atau memoar. Tapi yang jelas saya ketahui adalah bahwa melalui kedua buku ini Andrea Hirata sudah menyajikan sebuah cerita yang menarik tentang manusia beserta harapan, kekecewaan, mimpi, kenyataan, keberanian, ketakutan, sukacita dan kesedihannya.

“Sang Pemimpi” bercerita tentang sekelompok remaja yang hidup di sebuah desa kecil bernama Magai di pelosok Pulau Belitung. Ada tiga tokoh utama yang menjadi pusat cerita. Tokoh yang pertama ialah Ikal , sang narator yang tampaknya juga merupakan personifikasi sang pengarang. Tokoh yang kedua ialah Arai, saudara sepupu jauh Ikal, anak yang sebatang kara itu. Tokoh yang ketiga ialah Jimbron, juga anak sebatang kara yang selalu bermimpi tentang kuda..

Buku ini terbagi dalam delapan belas episode yang selalu melibatkan ketiga tokoh utamanya. Dan setiap epiode sebenarnya merupakan sebuah cerita yang utuh.

Ada episode tentang Mustar M. Djai’din BA, Wakil Kepala Sekolah yang naik pitam karena diejek oleh anak-anak. Ada episode bagaimana Arai yang ditinggal mati oleh kedua orangtuanya harus bergabung dengan keluarga Ikal. Ada episode tentang baju safari ayah Ikal yang hanya dipakai pada hari-hari khusus. Ada episode tentang Jimbron yang gila kuda. Ada episode tentang bagaimana tiga sekawan itu mengendap- endap hendak menonton bioskop—suatu hal yang sangat tabu untuk dikerjakan oleh murid sekolah di desa yang nuansa adat dan agamanya sangat kental itu.

Kedelapan-belas episode seperti tersebut di atas berputar di sekitar desa Magai yang terletak di bagian timur Pulau Belitung yang “udik” itu. Dan tentu saja di dalam setiap episode saya brkesempatan pula untuk berkenalan dengan tokoh-tokoh lain seperti Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum gadis yang ditaksir setengah mati oleh Arai, dengan Bang Zaitun lelaki bergigi emas pemimpin Orkes Melayu “Pasar Ikan Belok Kiri”, dengan Ayah yang bekerja sebagai tukang sekop di instalasi pencucian timah, dengan A Put–Cina Khek yang pandai mengobati sakit gigi tanpa harus menyentuh gigi tersebut, dan dengan tokoh serta karakter lainnya..

Cerita-cerita dalam delapan belas epsidoe yang dituturkan oleh Andrea Hirata ini menjadi menarik karena ia diletakkan dalam setting Magai yang terpencil itu, dimana budaya Melayu berinteraksi dengan budaya Cina Khek, dimana ekonomi nelayan berinteraksi dengan ekonomi perusahaan tambang timah, dan dimana nilai moral Islami berinteraksi dengan nilai modern yang dekaden.

Dalam menceritakan kenangan masa kecilnya setiap pengarang memakai pendekatan yang berbeda-beda. Laura Ingalls Wilder—misalnya—mencoba membawa dirinya sepenuhnya kembali ke setting dimana cerita terjadi. Tapi Andrea Hirata memakai pendekatan yang lain lagi: Ia keluar-masuk setting dimana cerita itu terjadi. Acapkali ia melihat dan mengulas kehidupan anak-anak Melayu di ujung Pulau Belitung yang “udik” itu dari perspektif kehidupan masakini. Karena itu kita acapkali melihat kehidupan kampung yang terpencil itu ditulis dengan kata-kata dan gagasan yang besar. Dari sisi tertentu pendekatan ini boleh jadi akan dirasakan pembaca sebagai suatu hal yang mengada-ada atau “overacting”. Tapi dari sisi lain ia menjadi terasa ironis. Dan justeru disitulah daya tarik buku ini: Andrea Hirata yang telah mengenal budaya dan kehidupan kontemporer mencoba melakukan “napak tilas” ke kehidupannya di masa kecil. Saya menjadi terpingkal- pingkal ketika teman-teman Arai menyebut nama-nama pemikir besar dunia sebagai tokoh idolanya, maka dengan penuh percaya diri Arai menyebut Rhoma Irama sebagai tokoh idolanya.

“Sang Pemimpi–dan “Laskar Pelangi” yang mendahuluinya–mengingatkan saya akan “The Human Comedy” dan “My Name Is Aram” karangan William Saroyan. Sebagaimana halnya saya dibuat tersenyum dan menangis ketika membaca kisah anak imigran Armenia yang lugu itu di tengah budaya Amerika, maka saya pun dibuat tersenyum dan menangis ketika membaca kisah anak Melayu yang lugu itu di tengah budaya desa Magai yang sedang mengalami perubahan.

Dan akhirnya bukanlah sesuatu yang berlebihan, kalau dengan terbitnya “Sang Pemimpi” (buku kedua dari tetralogi “Laskar Pelangi”) saya mengatakan, “Selamat datang, William Saroyan Indonesia!”[.]

One response to “Sang Pemimpi

  1. Saya juga telah membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Ketiga buku itu adalah bagian dari tetraloginya Andrea Hirata. Satu lagi bukunya yang berjudul Maryamah Karpov belum terbit (setahu saya belum terbit). Kapan ya terbitnya…? Sudah tidak sabar menunggu ….

    Menurut saya karya Andrea Hirata itu bisa begitu menarik karena bercerita dengan jujur tetang perjuangan yang nyata dialami oleh penulisnya. Setahu saya Andrea awalnya tidak bermaksud mengkomersilkan cerita tersebut. Awalnya dia hanya ingin menuliskan kisah yang pernah dia alami dan menghadiahkan tulisan itu kepada gurunya Ibu Muslimah.

    Jujur saya akui bahwa kisah yang dialami Andrea adalah kisah yang luar biasa, tetapi saya percaya pasti ada kisah-kisah orang lain yang luar biasa juga, atau mungkin lebih luar biasa, hanya saja kisah-kisah itu tidak ditulis, jadi kita tidak tau, atau ada juga kisah yang ditulis, tetapi karena penulisannya kurang bagus, jadi tidak menarik.

    Salut buat Andrea Hirata yang memiliki kisah perjuangan hidup yang luar biasa dan dapat menuliskannya dengan bahasa sastra yang sangat menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s