SBY “Sang Manajer”

Oleh: Mula Harahap

Tadinya saya berharap bahwa Presiden SBY bisa menunda keputusannya untuk menaikkan harga BBM. Sebagai rakyat yang rajin mengikuti berbagai pemberitaan di media massa, saya merasa bahwa masih banyak data dan fakta dalam kaitan dengan minyak bumi dan APBN (yang menjadi dasar Presiden untuk tiba pada keputusan menaikkan harga BBM), yang belum diungkap sehingga bisa diperdebatkan oleh publik.

Menurut hemat saya, dengan melalui perdebatan publik yang cerdas dan intensif (dimana semua semua data dan fakta diungkap, serta argumen diadu habis-habisan) maka kalau pun Presiden tiba pada keputusan bahwa harga BBM memang harus dinaikkan, maka keputusan
tersebut–walau pun sakit–akan diterima dengan lapang dada oleh sebagian besar rakyat.

Tapi apa mau dikata? Presiden yang mendapat legitimasi suara 60% dalam pemilu yang paling langsung, paling bersih dan paling aman dalam sejarah negara ini, ternyata tidak tahu bagaimana harus melakukan komunikasi politik dengan rakyatnya (terutama dengan para pemilihnya) di era demokrasi dan keterbukaan ini.

Tadinya saya berharap bahwa presiden yang terkesan cerdas, yang konon kabarnya lahap membaca buku, dan yang ketika masih menjabat menteri rajin mencatat berbagai hal di buku agendanya ini, akan mau melayani debat publik sebelum tiba pada keputusannya.

Saya berharap bahwa Presiden–dan tentu saja dengan dibantu oleh menteri-menterinya–mau membeberkan berbagai data dan fakta, serta mau berargumentasi habis-habisan tentang alasan mengapa keputusan yang berat ini harus diambil. Saya berharap bahwa Presiden
rajin mendatangi berbagai kelompok masyarakat; baik yang menentang dan yang mendukung rencananya.

Tapi presiden yang mempunyai artikulasi suara dan cara yang baik dalam menguraikan jalan pikirannya ini tidak melakukannya. Sayang sekali! Ia lebih banyak mendelegasikan tugas yang maha penting ini kepada wakilnya, para menterinya dan juru bicaranya.

Dalam melakukan komunikasi politik, ternyata SBY tidak seberani dan sepiawai Sukarno, Suharto, Abdurrahman Wahid, bahkan Habibie sekali pun. Ia hanya lebih tinggi “satu strip” di atas Megawati yang “membisu” itu.

Kita tentu masih ingat bagaimana Sukarno yang tak terbantahkan dan mendapat legitimasi sebagai Bapak Bangsa itu masih juga merasa perlu untuk memanfaatkan setiap kesempatan kongres partai dan ormas untuk dijadikan panggung menjelaskan visinya.

Suharto, yang mendapat dukungan luarbiasa dari TNI dan “mesin politik”-nya Golkar itu pun, masih juga merasa perlu untuk memakai peternakannya di Tapos dan acara temu muka dengan petani/peternak/nelayan/komandan kodim/konglomerat dan sebagainya, sebagai sarana untuk menguraikan mimpinya tentang Indonesia. Padahal “mimpi” itu sebenarnya sudah dikemas dan distempel dengan “GBHN” dan disebar-luaskan ke mana-mana.

Abdurrahman Wahid yang kursi kepresidenannya tidak “kokoh-kokoh amat” itu, apalagi. Walau pun yang diomongkannya seringkali terkesan seperti ocehan orang mabuk, tapi setiap hari Jumat pagi, di hati rakyat selalu muncul pertanyaan, “Hari ini dia mau sholat Jumat di masjid mana? Dan apalagi yang mau diocehkannya?”

Habibie pun demikian halnya. Walau pun lidahnya terkesan “celat” dan bahasa Indonesianya “tidak bagus-bagus amat”; tapi ia selalu punya keberanian untuk berbicara menguraikan kebijaksanannya di “kandang macan”. Kita tentu masih ingat bagaimana ia disoraki dan dilecehkan oleh para mahasiswa ketika berbicara di Universitas Andalas, Padang. Tapi ia tak perduli.

Sistem ketata-negaraan kita dewasa ini memang tidak lagi mengenal GBHN. Arah dan tujuan perjalanan negara dan bangsa lebih banyak tergantung pada Presiden yang terpilih. Bagaimana korupsi ditekan, investasi ditingkatkan, pengangguran dikurangi, pendidikan
dijalankan, energi dimanfaatkan; semua itu tergantung pada rencana Presiden.

Memang pada kampanye yang lalu, secara sayup-sayup kita mendengar rencana SBY sebagai calon presiden. Tapi rencana itu hanya garis-garis besar dan cenderung hilang oleh hiruk-pikuknya suasana kampanye. Seyogyanya rencana itu terus dijabarkan, dipertajam dan dikomunikasikan selama masa jabatan Presiden. Dan semua itu menjadi semakin penting di saat kita tidak memiliki lagi GBHN sebagai rencana negara/bangsa.

Saya tidak tahu apa visi SBY dan bagaimana ia hendak membawa negara dan bangsa ini mencapai visi tersebut. Saya berharap SBY mempunyai visi. Tapi kalau visi dan strategi yang “genuine” untuk mencapainya tidak dikomunikasikan dan diperdebatkan; bagaimana kita bisa mengetahui dan mengikutinya? Apalagi, jangan kita lupa, berbagai persoalan baru selalu saja muncul setiap hari di tengah negara dan bangsa ini. Kalau kita tidak memahami visi dan strategi Presiden; maka kita akan mendapat kesan ia tak lebih dari seorang penjaga gawang sepakbola yang tak henti-hentinya tunggang-langgang karena terjadi “scrimmage” di depan
gawang.

Harus saya akui, bahwa pada pemilihan presiden tahun lalu saya tidak memilih SBY. (Dan juga tidak memilih Megawati). Memang, sebagaimana yang dilihat oleh sebagian besar rakyat (dan yang ternyata membuatnya terpilih menjadi presiden), dalam banyak aspek SBY lebih baik dari calon yang lain. Ia santun, tidak punya cacat hukum atau moral, cerdas, punya artikulasi
yang baik, postur yang menarik dsb. Tapi saya meragukan kwalitas kepemimpinan di dalam dirinya.

Saya mendapat kesan bahwa SBY hanyalah seorang manajer yang baik. Tapi ia bukan seorang pemimpin. Padahal, dalam situasi Indonesia yang amburadul seperti yang kita alami sekarang; maka yang kita butuhkan adalah pemimpin; seseorang yang mempunyai visi dan mampu mengkomunikasikan visi tersebut sedemikian rupa, sehingga rakyat yang dipimpinnya dengan sukarela ikut ambil-bagian dalam mencapai visi tersebut.

Selama satu tahun menjabat sebagai Presiden semakin yakinlah saya bahwa SBY memang hanya seorang manajer. Ia rajin sekali mengadakan rapat dengan para pembantu-pembantunya. Ia mampu mendelegasikan berbagai tugas dan tanggung jawab kepada bawahannya. Tapi negeri yang sedang amburadul ini tentu saja membutuhkan lebih dari sekedar manajer. Ada hal-hal dan situasi, yang walau pun merupakan porsi seorang
menteri–tapi karena sifat dan urgensinya yang darurat–perlu ditangani langsung oleh presiden agar solidaritas rakyat tetap terjaga.

Kita tentu masih ingat apa yang dilakukan oleh SBY ketika Aceh dilanda oleh tsunami. Selama beberapa hari pasca bencana, ia hanya memberi petunjuk “sana-sini” dari kejauhan. Tidak heran kalau panggung kepemimpinan “disambar” oleh Surya Paloh, Yusuf Kalla dan yang
lainnya.

Kontroversi tentang telekonferensi berbiaya mahal yang dilakukan oleh SBY dari AS dengan para menterinya itu adalah sebuah bukti lain bahwa ia memang hanya seorang manajer. Mengetahui detik per detik situasi di dalam negeri dan memimpin langung sebuah sidang kabinet dari jarak jauh adalah hal yang sah-sah saja. Bahwa dengan berbuat begitu SBY sekaligus ingin memperlihatkan kepada rakyat bahwa ialah “chief executive officer”,
juga adalah hal yang sah-sah saja. Tapi pemimpin yang sejati perlu melakukan lebih dari itu. Ia justeru diharapkan untuk lebih sering melakukan “telekonferensi” dengan rakyat; ketimbang dengan menteri.

Mayoritas rakyat telah memilih SBY sebagai orang yang mereka harapkan bisa membawa bangsa dan negara ini keluar dari krisis menuju ke kehidupan yang lebih baik. Karena itu–sebagai pencinta kehidupan demokrasi–tapi bukan pemilih SBY, dalam kontroversi kenaikan harga BBM ini saya juga tidak ingin kalau SBY jatuh. Mahal sekali biaya yang harus dikeluarkan oleh bangsa dan negara ini untuk menggonta-ganti presiden.

Sebagai rakyat yang baik dan bertanggung-jawab saya hanya ingin agar SBY senantiasa memperbaiki kwalitas kepemimpinannya. Karena itu, jauh-jauh hari saya sebenarnya berharap, bahwa kalau pun harga BBM jadi dinaikkan maka yang mengumumkan kenaikan tersebut seyogyanyalah SBY pribadi.

Saya berharap, SBY mau berbicara langsung kepada rakyat tentang hal-hal besar yang harus kita capai sebagai bangsa dan negara, tentang mengapa keputusan yang berat (menaikkan harga BBM) ini harus diambil, dan tentang komitmennya untuk tetap solider bersama
rakyat melewati semua penderitaan ini.

Kalau saja SBY mau dan berani berbicara langsung, maka masih banyak patriot di negeri ini yang rela ikut bekerja dalam barisan yang dipimpinnya untuk membawa bangsa dan negara ini keluar dari keterpurukan. Masih banyak orang yang berpikir jauh ke depan, dan tidak
sekedar berpikir tentang keuntungan materi sesaat; asal saja SBY mempunyai visi yang baik dan mau membagi visi tersebut kepada rakyat

Tapi sekali lagi terbukti, SBY memang hanya seorang manajer: Tadi malam ia memilih untuk tidur dan mendelegasikan tugas mahapenting untuk mengumumkan “pil pahit” yang harus ditelan rakyat bagi penyembuhan ekonomi negeri ini kepada para pembantu-pembantunya.

Sebagai warganegara yang baik dan bertanggung-jawab, harapan agar SBY mau sedikit memperbaiki gaya dan substansi kepemimpinannya ini, sebenarnya sudah saya “sms” ke Nomor 9949. Tapi yang membuat saya terkejut ialah, bahwa setengah detik (sekali lagi: setengah detik) setelah “sms” dilayangkan, dari seberang sana sudah tiba jawaban, “Terimakasih atas partisipasi Anda dan pesan Anda telah kami terima. Ttd Presiden Republik Indonesia.” SBY memang seorang manajer yang baik. Dan “answering machine” di kantornya juga berfungsi dengan baik[].

2 responses to “SBY “Sang Manajer”

  1. Salam hormat, Pak. Saya Ishak H. Pardosi, S.S. Mantan mahasiswa FS.UKI–Jakarta, Pernah mengunjungi kantor penerbit Bapak Beberapa tahun lalu. Sekarang saya bekerja sebagai penulis di PT. Penebar Swadaya–Depok. Salam hangat!

  2. Saya juga adalah sebagian orang yang kecewa dengan penelenggaraan negara ini karena pemerintah yang berkuasa tidak sensitif dengan penderitaan rakyat yang semakin susah sehingga tidak tahu kemana harus mengadu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s