Tentang 13 Buku Sejarah Yang Dilarang Kejagung

Oleh: Mula Harahap

Di Undang-undang Kejaksaan memang ada pasal yang memberi hak kepada Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran sebuah buku. Ditinjau dari aspek tertentu, hak ini sebenarnya sah-sah saja. (Sebuah bukti atas dugaan pelanggaran terhadap sebuah tindak pidana, memang boleh ditahan, dilarang atau ditarik dari peredaran).

Tapi apa dasar Kejaksaan Agung untuk menyatakan buku tertentu merupakan pelanggaran terhadap tindak pidana, dan karenanya berhak untuk ditahan, dilarang atau ditarik dari peredaran? Dengan kata lain, tindak pidana mana yang dilanggar oleh sebuah buku sehingga
ia harus dilarang beredar?

Karena itu, menurut hemat saya, pasal ini masih dipelihara dalam semangat Undang-undang Anti Subsersif jaman baheula.

Dahulu pernah ada mahasiswa yang dipidana dan dijatuhi hukuman oleh hakim pengadilan karena menyimpan atau mengedarkan buku “terlarang”. Dan dalam kasus buku tersebut maka yang menyatakan “terlarang” adalah Kejaksaan Agung. Sungguh merupakan suatu kekonyolan.
Hakim menjatuhkan hukuman bukan berdasarkan apa kata undang-undang; tapi apa kata Kejaksaan Agung.

Saya berpendapat, kalau Kejaksaan Agung menyatakan sebuah buku sebagai “terlarang” maka itu bukanlah sebagai sesuatu yang final. Fihak yang merasa dirugikan karena bukunya dinyatakan terlarang (oleh Kejaksaan Agung) seharusnya memperkarakannya di pengadilan. Hanya keputusan pengadilan-lah (setelah mendengarkan berbagai pertimbangan) yang berhak
menyatakan apakah sebuah buku “terlarang atau “tidak terlarang”.

Dalam kasus pelarangan 13 judul buku sejarah oleh Kejaksaan Agung ini, maka saya menganjurkan agar fihak-fihak yang dirugikan melakukan langkah hukum berikut: Memperkarakan Jaksa Agung ke Pengadilan. Atas dasar apa ia menyatakan ke-13 buku tersebut sebagai terlarang? Dan biarlah hakim yang memutuskan apakah buku itu memang terlarang atau tidak terlarang.

Tapi saya pesimis bahwa langkah tersebut di atas bisa berjalan. Ujung-ujungnya pengadilan kita yang amburadul itu akan mengatakan bahwa hak untuk melarang (entah apa pun dasarnya) memang sudah menjadi hak Kejaksaan Agung, dan diatur oleh Undang-undang
Kejaksaan.

Karena itu langkah yang paling baik adalah: Mengadu kepada Mahkamah Konstitusi dan meminta agar pasal dalam UU Kejaksaan yang memberi hak kepada Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran sebuah buku dicabut, karena tidak sesuai dengan UUD 45 yang telah
diamandemen.

Daripada sibuk membuat petisi, saya menganjurkan para fihak yang dirugikan itu untuk bersatu, menunjuk seorang pengacara dan mengajukan gugatan ke Mahkamah
Konstitusi[.]

One response to “Tentang 13 Buku Sejarah Yang Dilarang Kejagung

  1. Singal Sihombing

    Bah!, saya terlambat pak (Amang) Mula, karena artikel ini kira-kira 8 bulan lalu dan saya luput pula dari berita radio atau surat kabar., dan eh eh, blog ini baru saya kunjungi dua minggu lalu, dan menjadi tempat mampir tiap hari, karena saya dapat ilmu baru dan prei eh gratis lagi, terimakasih Amang.
    Buku sejarah apa itu Amang. Secara pribadi saya terkesiap membacanya dan tiba-tiba teringat pada salah satu judul pidato Sukarno (bung Karno) presiden Republik Indonesia pertama. “JAS MERAH” Jangan sekalikali melupakan sejarah. (Saya juga jadi ingat, ketika saya masih SD. Kalau presiden Sukarno pidato semua orang dikampung saya, berkumpul mengelilingi radio yang berdenging termasuk anjing duduk menjulur-julurkan lidahnya sabar menunggu tuannya solah-olah ia mengerti he he he.
    Ngomong ngomong, saya memang orang kampung dimana yang punya radiopun ketika itu masih hitungan jari, saat ini saya sangat bangga sebagai orang kampung).
    Kembali ke topik, apakah Kejagung akan “MERAH”? alias melupakan sejarah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s