Tentang Civil Society

Oleh: Mula Harahap

I.

Selama lima tahun terakhir ini, menjelang dan setelah kejatuhan rezim Orde Baru, ada satu kata yang sering diucapkan orang, yaitu “civil society”. Tapi penerjemahan (dan sekaligus pemahaman) akan kata tersebut masih berbeda-beda. Ada yang memahaminya sebagai “masyarakat sipil”. Dalam hal ini maka “civil society” dianggap sebagai lawan kata “militerisme”.

Ada yang memahaminya sebagai “masyarakat yang demokratis”. Dan ada pula yang memahaminya dan menerjemahkannya sebagai “masyarakat madani”. Dalam hal yang terakhir ini maka “civil society” dipahami sebagai “masyarakat yang demokratis dan toleran” sebagaimana halnya masyarakat di kota Madinnah pada masa Nabi Muhammad dahulu.

II.

Gagasan “civil society” sebenarnya berawal dari pemikir-pemikir sosialis seperti Hegel, Karl Marx dan–terutama–Antonio Gramsci. Di negara-negara totaliter komunis, dimana dominasi negara begitu kuat dan merasuk ke semua sendi kehidupan masyarakat, maka mereka melihat
ternyata masih ada “ranah” lain yang bukan negara. Ranah itu misalnya adalah kumpulan orang-orang satu profesi, kumpulan orang-orang satu agama, kumpulan orang-orang satu hobi, dan berbagai organisasi lain yang relatif bebas dari campur tangan negara. (Tentu saja, dalam pemikiran komunis, “civil society” adalah sesuatu yang cepat atau lambat harus dikuasai dan ditaklukkan, demi tercapainya cita-cita komunisme).

Gagasan tentang “civil society” mulai dilirik orang ketika rezim totaliter komunis tumbang. Mulai timbul kesadaran baru bahwa ternyata “civil society” adalah sarana dalam membangun sebuah masyarakat yang bebas dan demokratis.

Kemudian, oleh para pemikir sosial, mulai pula dilihat pentingnya kehadiran “civil society” di negara-negara liberal, demokratis dan yang menganut sistem ekonomi pasar bebas.

Disadari bahwa ternyata sistem liberal, demokratis dan pasar bebas itu belumlah merupakan jaminan untuk tercapainya sebuah keadilan sosial. Negara dan pelaku-pelaku bisnis menjadi begitu dominan. Karena itu perlu dikembangkan sebuah ranah lain untuk mengimbanginya. Ranah itu adalah organisasi-organisasi sosial nirlaba seperti gereja, persatuan orangtua murid–guru, sukarelawan barisan pemadam kebakaran, klub pembaca buku, dan organisasi apa saja yang hidupnya tidak tergantung dari negara (pajak) atau dari bisnis (profit).

Begitulah, “civil society” menjadi sebuah kebutuhan akan kelangsungan masyarakat yang demokratis, adil dan sejahtera. Dan ini berlaku, baik di negara-negara yang liberal mau pun di negara-negara yang totaliter.

III.

“Civil society” adalah berbagai paguyuban warga, yang bebas dari campur tangan negara dan para pelaku bisnis raksasa. “Civil society” juga adalah sebuah kesadaran warga untuk memperkuat dirinya (sebagai imbangan terhadap dominasi negara) dalam mengembangkan sebuah masyarakat yang demokratis, bebas, adil dan sejahtera.

Kini–terutama di negara-negara liberal–tingkat kemajuan demokrasi tidak lagi hanya cukup diukur dengan kebebasan pers dan efektivitas partai-partai dalam menggalang aspirasi politik rakyat. Tapi “building block democracy” juga diukur dari seberapa besar dan banyak
organisasi sosial nirlaba yang dibentuk dan dimiliki oleh masyarakat. Dan seberapa jauh pengaruhnya terhadap kemajuan masyarakat itu sendiri.

IV.

Selama 35 tahun berkuasa rezim totaliter Orde Baru berhasil merusak dan membungkam kesadaran “civil society” di Indonesia. Nyaris tidak ada organisasi kemasyarakatan yang bebas dari kooptasi negara. Prestasi rezim Orde Baru ini boleh dikatakan jauh melebihi prestasi
rezim totaliter komunis.

Begitu dominannya peranan negara pada masa Orde Baru. Dalam acara “dari desa ke desa”, pak tani tak pernah lupa berterimakasih kepada pemerintah/negara; karena ikan mas, padi, jagung atau apa saja yang ditanamnya, bisa berhasil berkat bantuan pemerintah/negara.

IV.

Kini kita telah memasuki sebuah sistem sosial-politik yang lebih liberal dan demokratis. Nyaris sudah tidak terjadi lagi pembredelan terhadap pers. Partai-partai politik bermunculan dan tak perlu lagi mengalami “pembinaan”. Bahkan kita sudah menerapkan pemilihan presiden secara terbuka dan langsung oleh rakyat.

Tapi proses untuk membangun sebuah masyarakat yang adil dan sejahtera itu tidak bisa semata-mata diletakkan hanya ke pundak negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif).

Negara masih terlalu lemah untuk bisa melakukan semua pekerjaan. Dan disamping itu, masih saja mengintai bahaya akan kemungkinan bersekongkolnya para elit negara dalam mendahulukan kepentingannya.

Di sinilah pentingnya kehadiran “civil society”, yang melakukan tugasnya mendampingi negara (tapi tidak menjadi bagian dari negara) dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.

Organisasi seperti NU, Muhamaddiyah atau HKBP adalah “civil society” yang sangat diharapkan untuk melakukan banyak peranan dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera. Karena itu, kita sangat gembira, ketika–misalnya–2 @ 3 bulan yang lalu NU dan Muhamaddiyah menandatangani kesepakatan untuk melakukan perang terhadap praktek
korupsi. Tapi kesepakatan itu ternyata hanya terbatas pada kata-kata saja. Dalam waktu yang tidak begitu lama, kedua organisasi tersebut sudah tergoda untuk ikut bermain dalam kekuasaan negara.

Hiruk-pikuk yang terjadi di NU dalam menjagokan tokoh-tokohnya menjadi calon presiden atau wakil presiden adalah contoh, betapa “civil society” masih belum percaya diri dan yakin akan
peranannya sebagai alternatif negara dalam melakukan perubahan di masyarakat dan bangsa.

Tergiurnya banyak pendeta/penginjil untuk ikut menjadi politisi/anggota legislatif juga adalah contoh lain yang sangat memprihatinkan betapa peranan “civil society” masih jauh dari yang
kita harapkan.

Partai politik bukan representasi dari “civil society”. Ia lebih cenderung merupakan representasi negara[.]

One response to “Tentang Civil Society

  1. hesti r wonk cibek

    Thankk banget,,, ne mrpakan sbuah pngetahuan, dan membantu tugas saya tentunya,,, hahaha. Thank yua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s