Tentang Memakai “Senjata Yang Satu Itu”

Oleh: Mula Harahap

Dari sejarah kita belajar bahwa untuk bisa menaklukkan sebuah masyarakat, etnis atau bangsa secara efektif, maka disamping memakai tombak, pedang, pistol atau peluru kendali yang biasa; maka kita juga perlu memakai (tergantung dari bentuknya) tombak, pedang,
pistol atau peluru kendali yang “satu itu”.

Orang-orang Spanyol tahu benar akan hal itu. Ketika pada abad ke-15 atau 16 mereka menaklukkan Amerika Tengah dan Selatan, maka “senjata yang satu itu”-lah sebenarnya yang lebih banyak menyalak. Hasilnya kita sama-sama tahu: Sebuah Amerika Tengah dan Selatan yang berbudaya Spanyol, yang selama berabad-abad “pasrah bongkokan” kepada Raja dan Ratu Spanyol, dan yang lelaki serta perempuannya ganteng-ganteng dan cantik-cantik seperti yang banyak terlihat di telenovella itu.

Al Saud, juga melakukan hal yang sama. Tadinya ia hanyalah seorang kepala dari sebuah wilayah kecil atau suku di sebelah timur Jazirah Arab. Tapi melalui peperangan dan perkawinan dengan para perempuan dari suku-suku setempat , dalam waktu singkat ia bisa meringsek ke barat, dan mempersatukan seluruh suku yang terpecah-pecah itu dalam sebuah kerajaan yang diberinya nama–sesuai dengan namanya–Saudi Arabia.

Memang sebagai akibat kebijakan ekspansionis dengan menggunakan “senjata yang satu itu” kini ada hampir sepuluh ribuan pangeran di Saudia Arabia, yang merasa sama-sama keturunan Al Saud, merasa sama-sama berhak atas kekayaan minyak, dan karenanya selalu membuat Raja Abdullah–sebagai kepala “geng”–sakit kepala. Tapi, yah sudahlah, itu adalah masalah lain. Tokh kekayaan minyak Arab Saudi tak akan ada habisnya untuk difoya-foyakan oleh ribuan pangeran.

Kebijakan ekspansionis dengan menggunakan “senjata yang satu itu” bisa dilakukan dengan cara kawin baik-baik, dan bisa juga dilakukan dengan pemerkosaan massal. Ketika orang-orang Serbia menghajar Bosnia maka “kebijakan” pemerkosaan massal inilah yang diterapkan. Hal yang sama juga terjadi ketika orang-orang Hutu menghajar orang-orang Tutsi. Atau–seperti yang sekarang sedang berlangsung di Darfour, Sudan–ketika orang-orang Arab menghajar orang-orang Afrika.

Adakalanya kebijakan ekspansionis dengan menggunakan “senjata yang satu itu” terjadi tanpa terencana (baca: kepepet). Para serdadu yang sudah berbulan-bulan meninggalkan rumah itu tentu saja akan menjadi “hijau” matanya ketika melihat perempuan bertebaran di wilayah yang didudukinya. Terjadilah pemerkosaan massal dimana-mana.

Amerika Serikat boleh-boleh saja bangga dengan kapal induknya yang berbobot jutaan ton, pesawat pembom “Stealth” yang buruk rupa, pesawat tempur “Raptor” yang tiada tandingan, atau berbagai peluru kendali yang maha destruktif dan bisa dipandu dari satelit itu. Tapi dalam hal “persenjataan yang satu itu” Amerika Serikat tak ada apa-apanya. Karena itu juga, mereka bukanlah tentara penakluk yang efektif dan efisien.

Kalau saja dahulu–semasa perang Vietnam–Pentagon tidak terlalu memanjakan serdadunya (baca: tidak membuka akses untuk senantiasa bisa berhubungan dengan para isteri dan kekasih di tanah air, tidak memberi cuti periodik , dan tidak memberi uang saku yang berlebihan sehingga mereka bisa berhura-hura di kelab-kelab malam Bangkok atau Hongkong), mungkin jalan sejarah akan menjadi lain. Serdadu-serdadu itu tentu akan beramai-ramai “memangsa” perempuan-perempuan Vietnam setempat.

Bila seratus ribu serdadu menyalakkan “senjatanya yang satu itu” kepada perempuan perempuan setempat, maka bisa dibayangkan, dalam perang yang berlangsung selama 10 tahun itu ada berapa juta anak Amerika-Vietnam yang lahir. Dan dengan jutaan “amerikanam” yang lahir, maka besar kemungkinan Vietnam (Utara dan Selatan) kini telah menjadi negara bagian Amerika Serikat yang ke-51.

Kalau saja George W. Bush mau belajar dari sejarah maka akan mudah sekali baginya untuk memenangkan perang di Afganistan atau Irak. Orang-orang Arab bisa menaklukkan Anak Benua India, menaklukkan Afrika Utara, dan menaklukkan tempat-tempat lain–termasuk Kecamatan Tugu di Jawa Barat–hanya dengan “senjata yang satu itu”.

Dari sejarah kita belajar bahwa Majapahit pernah mempersatukan (baca: menguasai) Nusantara. Tapi kekuasaan Majapahit tidak berlangsung lama. Dan menurut hemat saya salah satu penyebabnya ialah bahwa orang-orang yang kerajaannya berpusat di Pulau Jawa
itu tidak terlalu meng-“endorse” serdadunya untuk menggunakan “senjata yang satu
itu”. Kalau kita melihat fisik beberapa suku bangsa yang mendiami Nusantara ini sekarang, nyaris tak ada “bekas-bekas” serdadu Majapahit yang berambut lurus itu. Suku-suku bangsa itu tetap saja berambut keriting, seperti yang dimiliki nenek-moyangnya sejak ribuan tahun yang lalu.

Orang-orang Portugis, yang jumlahnya sedikit dan menguasai Nusantara hanya dalam waktu yang relatif singkat, ternyata jauh lebih efektif dan efisien. Di Lamno–Aceh, misalnya, sampai sekarang kita masih bisa melihat orang-orang yang berkulit putih dan bermata biru.

Seperti yang telah diuraikan di atas, acapkali kebijakan ekspansionis dengan memakai “senjata
yang satu itu” terjadi tanpa disengaja dan karena faktor kepepet. Orang-orang Cina yang mendarat di kepulauan Nusantara ini ratusan tahun lalu, sebenarnya datang bukan untuk menguasai masyarakat dan kebudayaan setempat. Mereka hanya ingin mencari kehidupan yang lebih layak, dibandingkan dengan yang dijalaninya di negeri asalnya. Tapi karena mereka
datang sebagai bujangan (karena, isteri mana pula yang mau dibawa naik jung ribuan kilometer, menyabung nyawa, menuju sebuah kehidupan yang belum pasti) maka terpaksalah mereka mengawini perempuan setempat untuk beberapa saat. Akibatnya, kita memiliki sebuah
masyarakat peranakan yang bertebaran di pesisir Nusantara, yang cantik-cantik dan “colorfull”.

Begitulah, kebijakan ekspansionis dengan memakai “senjata yang satu itu” memang sudah lama saya gadang-gadang untuk terus dikembangkan. Dan “emosi” saya semakin meluap-luap manakala mendengar hiruk-pikuk pemberitaan tentang poligami yang dilakukan oleh beberapa selebriti kita akhir-akhir ini. Tapi cilakanya (atau untungnya, terserah dari sudut mana saya memandang) disebabkan oleh krisis yang berkepanjangan di negeri ini, keadaan finansial saya sangat morat-marit. “Punya isteri lebih dari satu? Mau cari perkara, apa?!” Itulah selalu kata akal sehat saya kepada syahwat saya[.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s