Tukang Ojek Setan

Diceritakan Kembali Oleh: Mula Harahap

Hari sudah larut malam. Hujan turun rintik-rintik. Sebuah mobil omprengan dari arah Kramat Jati memperlambat lajunya dan berhenti di perempatan Cikaret. Seorang perempuan usia tiga-puluhan turun dari mobil itu.

Tidak biasa perempuan itu pulang selarut ini. Tapi ada tugas di kantor yang tidak bisa ditundanya. Dan temannya–yang tinggal di arah Bogor–yang diharapkannya bisa dijadikan tumpangan, ternyata harus pergi ke arah lain untuk suatu urusan. Karena itu, pada malam gerimis seperti ini, tingallah ia seorang diri di perempatan yang sepi tersebut.

Dari perempatan Cikaret perempuan itu masih harus naik kendaraan lagi ke rumahnya yang terletak di dekat Taman Makam Pahlawan Cibinong. Tapi pada malam selarut ini tentu tidak ada lagi opelet yang menuju ke sana.

Dengan ragu-ragu ia berjalan menuju pangkalan ojek. Pangkalan ojek yang biasanya ramai itu pun kini telah sepi pula. Hanya ada seorang penarik ojek di sana. Tubuhnya ditutupi celana dan jaket berwarna hitam. Ia membuang pandangannya ke arah tertentu.

“Bang, ke dekat Taman Makam Pahlawan, ya?”

Penarik ojek itu tidak menjawab. Perempuan itu merasa sedikit tidak enak. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus segera tiba di rumah, dan hanya itulah ojek yang tersedia.

“Berapa, Bang?”

Kembali penarik ojek itu tidak menjawab. Perempuan itu memberanikan diri untuk menentukan sendiri ongkosnya.

“Lima ribu ya, Bang.”

Penarik ojek itu hanya menambah setelan gas motornya dan memasukkan persneling satu. Perempuan itu naik. Ojek itu langsung meluncur dengan cepatnya.

Udara dingin menusuk ke tulang. Warung-warung di sekitar Setu Cikaret yang biasanya ramai pun nyaris tutup pada malam itu. Perempuan itu semakin merasa tambah tak enak. Apalagi, tiba-tiba dia mencium bau wangi yang aneh. Di buangnya pikiran yang bukan-bukan dari kepalanya.

“Mungkin ini hanya bau minyak wangi si abang ojek,” katanya dalam hati sambil menggigil.

Ojek terus meluncur dengan cepatnya menembus kegelapan malam. Tak berapa lama kemudian gang masuk ke rumahnya mulai kelihatan.

“Di dekat pohon pinang itu, berhenti ya, Bang,” katanya.

Penarik ojek memperlambat laju motornya dan berhenti di dekat pohon pinang yang ditunjuk. Perempuan itu turun. Penarik ojek terus melihat ke arah yang lain dan tanpa sekalipun memperlihatkan wajahnya kepada perempuan itu

“Maaf, saya tak punya uang kecil. Kembali ya, Bang?” kata perempuan itu sambil menyodorkan selembar uang limapuluh ribu. Penarik ojek itu mengulurkan tangannya lambat-lambat mengambil lembaran uang yang disodorkan itu.

Tapi tiba-tiba–tap!–ia merampas uang itu dengan cepat, menekan gas motornya dan melejit maju. Greng! Greng! Greeeeng….!

Perempuan itu berteriak, “Setan, lu! Tukang ojek setan, lu! Dasar, lu! Pencuri, lu!”

Dan “tukang ojek setan” itu menghilang di kegelapan malam[.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s