Kolor Bupati

Oleh: Mula Harahap

Orang Medan memang selalu memiliki visi yang brilian. Kalau kesadaran akan pentingnya meletakkan kekuasaan penyelenggaraan negara ke daerah tingkat dua, baru ramai dibicarakan pada era reformasi ini, maka hal yang sama telah diantisipasi oleh orang Medan sejak 30 tahun lalu!

Ya, setidak-tidaknya, pada masa saya duduk di bangku SMP, saya telah mengenal istilah “kolor bupati”. Walau pun terminolgi ini samasekali tidak ada kaitannya
dengan politik; tapi dari sini sebenarnya telah tersirat, betapa pentingnya peranan kepala daerah tingkat dua yang disebut “bupati” itu.

Adapun barang yang disebut “kolor bupati” sebenarnya hanyalah sepotong celana dalam pria yang terbuat dari kain katun atau blacu, memakai tali sebagai penahan di pinggang dan kakinya relatif panjang.

Kalau “kolor bupati” telah pensiun sebagai celana dalam, maka biasanya ia akan melanjutkan tugasnya sebagai kain pel atau pembungkus buah nangka. Untuk menjaga serangan hama dan agar dapat matang secara sempurna, maka buah nangka di pohon perlu diberi penutup. Karena itulah, kadang-kadang “kolor bupati” disebut juga sebagai “kolor nangka”.

Sebagaimana halnya anak-anak lelaki normal lainnya pada masa tahun 60-an, maka setelah tamat SD tibalah juga saatnya bagi saya untuk memakai sebuah celana lain yang bersentuhan langsung ke kulit, disamping celana pendek biru seragam sekolah itu.

Motivasi seorang anak lelaki untuk memakai celana dalam sebenarnya bukan sekedar masalah tradisi dan etika; tapi juga keamanan. Kalau kita sedang jongkok menonton permainan adu karet atau guli, maka akan ada saja teman yang iseng, yang menjepretkan karet atau menjentikkan guli itu ke bawah celana yang menganga itu.

Pada tahun 60-an toko-toko di Jalan Semarang atau Jalan Zainul Arifin–Medan sebenarnya sudah menjual celana dalam nilon buatan pabrik. Mereknya “Hings” atau “Frog”. Celana dalam merek “Hings” biasanya berwarna putih dan “Frog” berwarna “psychedellic”.

Saya lebih menyenangi celana bermerek “Hings”. Alasan saya untuk menyenangi “Hings” sebenarnya sederhana saja: Sukar saya menerima gagasan bahwa ada celana dalam lelaki yang bermerek “kodok”.

Ketika, kepada Ibu, saya mengutarakan keinginan untuk memakai celana dalam, sebenarnya saya berharap ia membelikan saya beberapa celana merek “Hings”. Tapi alih-alih membeli celana, Ibu mengambil persediaan kain belacunya dari lemari dan menjahitkannya sendiri
untuk saya. Enam sekaligus!

Saya merasa kecewa. “Mak, mengapa aku tidak boleh memakai celana seperti yang dipakai oleh teman-teman lain?” tanya saya dengan sedikit bernada protes.

“Akh, inilah celana yang betul!” sahut Ibu. “Yang dipakai kawan-kawanmu itu tak sehat, terbuat dari nilon…”

Mungkin Ibu benar. Celana berbahan katun mungkin lebih “sehat” daripada yang berbahan nilon. Tapi saya rasa, alasan utama di balik kegigihannya untuk menjahit sendiri celana itu adalah alasan ekonomi. Karena itu saya diam dan tidak protes lagi.

Begitulah, saya “merayakan” proses masuk ke dunia lelaki remaja dengan “kolor bupati”. Dan babak kehidupan yang baru ini harus saya jalani dengan penuh pergumulan: Saya berusaha menjaga agar jangan sampai ada teman yang mengetahui rahasia besar ini.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, saya harus lebih dahulu memastikan agar kedut-kedut celana yang menyerupai ujung bantal guling itu benar-benar masuk di bawah celana sekolah. Waktu itu saya belum mengenal budaya memakai singlet. Karena itu, kalau kedut-kedut itu tidak diselipkan jauh-jauh ke dalam, maka kalau saya membungkuk bisa-bisa ia akan terlihat oleh orang ain. Cilakalah saya.

Jam pelajaran olahraga juga menjadi beban yang tersendiri bagi saya. Saya tak pernah mau menukar celana olahraga secara serampangan di kelas. Saya selalu menunggu untuk menukar celana setelah semua semua teman selesai menukar celananya.

Penderitaan saya menjadi sedikit berkurang, ketika pada suatu hari, ternyata ada teman yang tertangkap basah karena memakai model celana sama seperti yang saya pakai. “Hoi, hoi, kolor bupati…” teriak seisi kelas kepada anak yang malang itu. Tentu saja saya hanya cengar-cengir dan tidak ikut berteriak.

Bila perbincangan di antara kami, anak lelaki, sudah mengarah ke masalah celana, maka biasanya saya hanya diam dan undur perlahan. “Kolor bupati” benar-benar merupakan siksaan batin bagi saya.

Ketika, satu atau dua tahun kemudian, saya menerima honorarium mengarang dari Si Kuncung, maka hal pertama yang saya lakukan ialah membeli satu-dua celana dalam merek “Hings”, yang bagian depannya berlapis-lapis dan dijahit secara “sophisticated” itu. Bukan main bangganya saya dengan celana baru tersebut.

Dunia kembali menjadi normal di mata saya. Kini saya tak perlu lagi bersusah payah untuk membenamkan kedut-kedut yang menyerupai kepala bantal guling itu. Kini saya juga tak perlu lagi malu-malu untuk bertukar celana di dalam kelas, sebelum jam pelajaran olahraga.

Saya juga tidak tahu apa yang kemudian terjadi dengan “kolor bupati” itu. Tapi yang jelas, ia tidak menjadi “kolor nangka”. Tubuh saya relatif krempeng pada waktu itu.

Nah, begitulah, beberapa waktu yang lalu, ketika anak lelaki saya kembali dari belanja di “mall”, ia membawa sebuah kotak yang ditutup dengan selopan dan di dalamnya ada enam barang warna-warni.

“Apa itu, Bang?” tanya saya kepada anak saya.
“Celana dalam gue…”
“Oh, Bapak sangka dodol garut.”
“Bapak ini sudah gila, apa?!”

Dunia memang telah sedemikian maju. Di Sogo, Metro, Takashimaya, Robinson atau Mark & Spencer, departemen pakaian dalam lelaki tak kalah seronoknya dengan departemen “lingerie”.

Saya tidak tahu, apakah saya harus cemburu atau kasihan kepada generasi anak saya. Tapi, kalau saya pikir-pikir lebih jauh, selayaknya saya kasihan. Bagaimana pun saya pernah mengalami punya pakaian dalam hasil jahitan “mamak” sendiri. Hanya segelintir orang yang memiliki privilese seperti itu.

Begitulah, suatu hari, secara bergurau, saya berkata kepada Ibu yang telah berusia 75 tahun itu, “Mak, coba jahitkan lagi untuk aku celana dalam seperti yang Mamak jahit dahulu. Sudah mulai tak sehat kurasa celana dalam buatan pabrik ini…”

“Akh, suruh istermu yang menjahitkannya untukmu…” sahut Ibu saya dengan nada serius. Tentu saja gagasan untuk menjahit “kolor bupati” adalah suatu hal yang absurd bagi isteri saya.

Begitulah, beberapa waktu yang lalu saya pergi ke Yogyakarta. Di Jalan Malioboro saya melihat banyak orang menjajakan “kolor bupati” seperti buatan ibu dahulu. Mereknya bermacam-macam. “Bogasari”, “tepung terigu” dan “cap segitiga biru”. Saya seolah-olah menemukan kembali masa kecil dahulu. Dengan serta-merta, celana yang eksotis itu saya beli
sepotong.

Kini, kalau malam hari saya tidak bisa tidur, dan merasa dunia ini telah semakin sumpeg serta semakin panas, maka saya kenakan “kolor bupati” itu. Saya duduk minum kopi dan merokok di teras…[]

8 responses to “Kolor Bupati

  1. Bang, saya tidak habis-habis tertawa membaca tulisan ini. Dulu waktu kecil, saya juga sering dibuatkan celana kolor oleh Ibu saya karena beliau bekerja di sebuah modiste kampung. Bahannya dari sisa-sisa kain, warnanya campur baur. Saya menyebutnya “kathok sembagi”. Saya tidak tahu, istilah itu saya dapat dari mana. Yang jelas, itulah celana-celana paling nyaman yangg pernah saya pakai.

  2. Yang komentar ama yang nulis naskah sama lucunya. Kadang saya suka lihat cowok pakai kathok kolor. Nggak ngebayangin kalau sudah bapak-bapak ke kantor pakai kathok kolor. Salam buat Mas Eko

  3. threshutasoit

    Saya tidak tahu yang lucu kisahnya, cara berceritanya, atau kolornya. Yang pasti saya bacanya sambil ketawa-ketawa terus kaya orang gila🙂 .

  4. JanPieter Siahaan

    Ha..ha..ha… Kayaknya saya ingat istilah ini, tapi ingat-ingat lupa… kolor bupati… yah .. celana pendek yang selutut kali, yah….?

  5. Hehehehe, kolor bupati. Betul! Saya ingat itu. Jaman-sekarang disebut celana apek-apek. Haiyaaa! Mungkin Amang sempat tau juga tentang baju kodok, ya? Kekekekek ….

  6. Horas Amang, Salam kenal ya.Saya ketawa-ketawa sendiri, Amang, membaca ceritanya. Kisah dan cara bercerita Amang lucu dan menarik.

    Saya jadi teringat waktu kecil , kami juga pake CD made in “umak”. Full colour dan full symbol, ada yang dari kain korpri, sisa spanduk kain Golkar dll. Kadang-kadang bahannya sangat licin, klu dipakai waduh… panas. Sekarang klu kita ngumpul dengan saudara-saudara suka teringat dan nostalgia sambil ketawa/i mengingat ” Kolor Korpri” itu.

  7. Salam kenal amang. Ternyata kita punya pengalaman yang sama. Saya juga ikutan pake ‘kolor korpri’ itu. Karena bahannnya dari kain yg tidak ngaret, hasilnya ukuran XXL. Apalagi buat umak kami, itu ukuran apalagi, ya?

  8. Pingback: terpikir manfaat dan mudarat « [menulis apa yang terpikir]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s