Kwetiau Polos

Oleh: Mula Harahap

Saya pernah makan kwetiau di Kelapa Gading. Saya pernah makan kwetiau di Pluit. Saya pernah makan kwetiau di Muara Karang, Mangga Besar, Kedoya dan dimana saja. Tapi saya rasa tidak ada yang mengalahkan kelezatan kwetiau polos yang dijual di “pajak” dekat rumah dan yang menjadi sarapan setiap pagi, ketika kita masih kecil dahulu.

Nefo Ginting mengatakan bahwa kwetiau polos yang paling lezat sedunia adalah yang dijual di “pajak” Sukaramai. Arnold Harahap mengatakan yang paling lezat adalah yang dijual di “pajak” Kebun Sayur. Rumondang Pasaribu mengatakan yang paling lezat adalah yang
dijual di “pajak” Kampung Keling. Dan tentu saja saya mengatakan bahwa yang paling lezat adalah yang dijual di “pajak” Kampung Baru.

Semua memiliki kwetiau polosnya masing-masing. Dan karena itu pulalah, maka ketika suatu hari di pagi buta, Rumondang Pasaribu mengajak kami naik becak dari Hotel Tiara ke Kampung Keling, maka tidak ada yang antusias dengan gagasannya. Terpaksalah ia pergi sendiri menemui kwetiau polosnya.

Saya sering terkenang akan kelezatan kwetiau polos yang kami beli dari “pajak” Kampung Baru dahulu.

Saya tak habis pikir, “magic” apa yang ditaburkan oleh Si Aseng penjajanya itu sehingga membuat saya–dan siapa pun yang sarapannya dahulu adalah kwetiau polos–menjadi begitu tergila-gila.

Seperti yang dikesankan oleh namanya, maka sebenarnya kwetiau ini tidak memiliki apa pun. Ia hanya kwetiau yang digoreng dengan minyak, diberi bawang merah, bawang putih, sawi
dan sambal. Jangan harap ada daging kepiting, potongan sosis atau telur bebek di dalamnya. Dan seperti juga yang dikesankan oleh namanya, maka inilah kwetiau yang paling murah sedunia…

Disamping roti manis dan pulut (“with or without pisang goreng”), maka inilah sarapan kami–enam bersaudara–selama “berabad-abad”. Dan anehnya, kami tak pernah bosan.

Saya masih ingat, setiap pagi adalah tugas adik saya Ronitua–sebagai anak nomor tengah, untuk pergi ke pajak membeli sarapan.

Dan setiap pagi pula berlangsung “upacara” yang sama, sebelum memulai sarapan. Enam kwetiau dijajar di meja dan daun pisang pembungkusnya dibuka lebar-lebar. Lalu semua sibuk memelototi apakah takaran isinya sudah sama. (“Itu koq banyak…” Lalu bungkusan yang
dianggap banyak mulai dikurangi. “Bah, koq jadi itu yang banyak….” Kembali isi bungkusan yang kedua dikurangi dan dimasukkan ke bungkusan yang ketiga. Diskusi soal keadilan kwetiau bisa berlangsung selama beberapa menit dan berujung pada pertengkaran).

Ada kalanya pula, hanya lima kwetiau yang diletakkan di meja untuk diamati. Anak yang diberi tugas belanja, menyembunyikan jatah kwetiaunya. (“Hei, kau punya mana? Letakkan dan buka juga di sini…” Atas desakan “masyarakat” terpaksalah ia meletakkan kwetiaunya di meja. “Koq kau punya pakai telor?”–“Kau korupsi, ya?!”–“Kau ambil telor dari lemari, ya?!”–“Aku pakai duit sendiri!”–“Akh, jangan banyak cakap kau!”–“Sudah, mulai besok aku tidak mau lagi beli untuk kalian!”).

Proses memasukkan kwetiau ke mulut hanya membutuhkan waktu dua atau tiga menit; tapi diskusi dan pertengkaran yang mendahuluinya selalu lebih lama. Ada kalanya pula–dan ini sering terjadi–pertengkaran berujung pada tangisan. Terpaksa dibutuhkan waktu lebih lama lagi untuk melakukan “gencatan senjata”.

Selesai bertengkar dan makan kwetiau barulah semua tergerak untuk mandi. Dan cilakanya, untuk enam anak dan satu bapak yang hendak bersiap setiap pagi, hanya ada satu kamar mandi. (“Hoi, cepat sedikit!”–“Sabaaaar!”–“Aku sudah tak tahan lagi!”–“Buar! Buar!” Suara pintu digedor–“Pakai pispot itu!”–“Diam kau!”).

Ketika sebulan lalu saya berkunjung ke Medan dan bermalam di Kampung Baru, maka saya tergerak untuk mencicipi kwetiau polos yang dahulu membuat kami gegap-gempita itu.

Aneh! Tiba-tiba kwetiau polos yang selalu saya banggakan itu, terasa hambar di lidah.
Kemudian sadarlah saya, bahwa ternyata kwetiau polos itu terasa lezat karena diberi “bumbu” suasana; pertengkaran kakak-beradik di pagi hari, dari sebuah keluarga yang secara ekonomi sangat bersahaja…[]

One response to “Kwetiau Polos

  1. Pingback: tentang manfaat dan mudarat « [menulis apa yang terpikir]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s