Saya dan Lagu Dangdut

Oleh: Mula Harahap

Saya rasa, ada beberapa faktor yang membuat saya menyenangi sebuah lagu populer seperti dangdut. Faktor yang pertama adalah melodi. Melodinya tentu harus enak terdengar di telinga. Dan karena saya adalah orang kebanyakan, maka melodi itu tak perlu selalu harus berkaitan dengan kaidah seni.

Ukuran “enak” itu memang sukar untuk dirumuskan. Tapi–paling-tidak– melodi itu janganlah rumit-rumit amat, seperti lagu seriosa. Cukuplah ada empat atau lima baris rangkaian nada yang bisa saya nyanyikan sebagai “batang tubuh” lagu tersebut. Lalu empat atau lima
baris rangkaian nada lagi sebagai refrein. Bagaimana pun, saya menyanyi hanya untuk menghibur diri; bukan untuk mendapat nilai tinggi agar lulus ujian, atau mendapat pujian dari kritikus musik.

Begitulah, saya dan jutaan orang Indonesia lainnya tahu, mana lagu dangdut yang melodinya enak. “Bergadang jangan bergadang…”: enak. “Pernah aku melihat musik di Taman Ria….”: enak. “Wahai kau burung dalam sangkar…”; enak. “Hujan di malam minggu…”: enak. “Sebelum aku tahu apa artinya cinta….”: enak. Akh, masih banyak lagi lagu dangdut yang enak-enak. Lagu-lagu yang melodinya tak enak, tentu saja tak saya masukkan ke kepala.

Faktor yang kedua, yang membuat saya menyenangi sebuah lagu, tentu saja adalah syairnya. Sama halnya seperti melodi, syair lagu juga hendaklah jangan terlalu panjang dan rumit. Kalau pun syair itu tak logis atau “tak masuk di akal”; itu bukan persoalan. Yang penting, akhir dari syair itu “jatuhnya” pas dengan hentakan lagunya. Sampai sekarang saya tak pernah bisa memahami apa kaitannya “mengejar laki-laki lain” dengan “benang biru yang disulam menjadi kelambu”. Atau apa hubungannya “buah semangka berdaun sirih” dengan “engkau disana aku disini”. Tapi siapa perduli? Saya menyanyi tokh untuk “happy-happy”.

Saya juga menyenangi syair lagu karena saya bisa mengidentifikasikannya dengan perasaan hati saya, harapan saya, mimpi saya atau fantasi saya. Dari yang paling rendah sampai yang
paling tinggi. Dari yang paling jinak sampai yang paling liar.

Sebagai seorang lelaki yang sudah menikah relatif lama, memang tidak pada tempatnyalah kalau saya mengidentifikasikan perasaan saya dengan “burung dalam sangkar yang menahan siksa dari kekejaman dunia”. (Laki-laki apa pula saya ini?!).

Tapi sebagai seorang manusia, saya rasa adalah hal yang wajar-wajar saja, kalau sesekali muncul naluri rendah di dalam hati saya dan ingin “terbang” entah kemana. Lalu, ketika saya menemukan kenyataan bahwa saya sudah tak mungkin “terbang” lagi–mau cari perkara, apa?!–maka saya pun merasa diri seperti burung dalam sangkar.

Saya juga belum pernah mencintai seorang perempuan kaya, mengalami penolakan karena saya “orang tak punya”, lalu menangis ber-“hu-hu-hu- hu” seperti yang biasa dilakukan Meggy Z dalam lagu-lagunya. Tapi ketika saya mengajukan permohonan kredit tanpa agunan ke sebuah bank dan mengalami penolakan, saya mengidentifikasikan diri dengan Meggy Z.

Seperti yang saya uraikan terdahulu, adakalanya saya menyenangi sebuah syair karena bisa mengidentifikasikannya dengan perasaan dan fantasi saya. Sepanjang saya bisa menyimpan perasaan dan fantasi itu di dalam hati dan kepala, serta menjaganya agar tidak “meluber” kemana-mana, saya rasa itu sah-sah saja. Saya rasa itu jugalah yang menyebabkan mengapa saya menyenangi syair “Basah-basah-basah sekujur tubuhku…akh-akh-akh…mandi mandu..” atau “Hujan di malam minggu….akh-akh-akh…aku tak datang padamu…”

Adakalanya–dan inilah yang sering terjadi–fantasi saya tidak liar-liar amat. Karena itu, saya juga menyenangi syair-syair yang biasa, yang menyerupai sajak sastera. Syair seperti itu misalnya saya temukan dalam lagu “Di Ambang Sore”. Di sana ada kalimat yang berbunyi, “Simpang tiga pertemuan….rumpun bambu penantian….” Alamaaak!

Ada juga syair yang membuat saya senang karena ia terkesan “lucu”. Entah mengapa, saya selalu tersenyum kalau mendengar lagu “Hidup di Bui”. Saya senang membanding-bandingkan napi yang “masuk gemuk pulang tinggal tulang” di dalam lagu tersebut, dengan “Bang Napi” di
RCTI yang selama beberapa tahun ini tetap saja gemuk dan selalu bersemangat meneriakkan, “Waspadalah…!Waspadalah…!”

Begitulah, syair lagu harus bisa menghibur. Dan syair lagu yang penuh dengan petuah–apalagi petuah-petuah agama–menurut hemat saya tidaklah menghibur.

Di muka bumi ini hanya ada dua orang yang petuahnya layak saya camkan di dalam hati; ibu saya dan isteri saya. Bagi saya, penyanyi–apalagi yang praktek hidupnya tak sejalan dengan apa yang diucapkannya–adalah salah seorang yang petuahnya paling tak layak
untuk didengar. Lagipula, kalau saya mau mendekatkan diri kepada Tuhan, maka saya akan pergi ke tempat ibadah atau mengurung diri di dalam kamar. Pantai Ancol, Taman Ria, Arena Jakarta Fair atau Parkir Timur Senayan bukanlah tempat yang baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Apalagi kalau ritus itu dilakukan sambil berjoget-joget dan–karena teriknya matahari–harus di bawah semprotan air mobil pemadam kebakaran….

Faktor yang ketiga, yang membuat saya menyenangi sebuah lagu dangdut ialah penyanyinya. Menurut hemat saya karakter dan gaya si penyanyi haruslah mendukung tema syair yang dinyanyikannya.

Saya menyenangi lagu-lagu Meggy Z, karena menurut hemat saya, tampang dan karakternya pas benar dengan tema lelaki miskin dan nestapa yang selalu dinyanyikannya. Alasan yang sama jugalah–saya rasa–yang membuat saya menyenangi lagu-lagu dangdut Sam “The Lloyd” atau Charles Hutagalung.

Koes Plus memang menyanyikan beberapa lagu dangdut. Tapi tak satu pun lagu dangdut mereka yang saya senangi. Menurut hemat saya, tampang dan karakter Koes Ploes kurang pas untuk lagu dangdut. Saya bahkan mendapat kesan, Koes Ploes sedikit main-main dan “ngenyek” ketika menyanyikan lagu dangdut.

Saya menyenangi beberapa lagu Rhoma Irama yang tidak berisi petuah agama. Tapi karena saya sudah memiliki kesan yang tersendiri tentang Rhoma Irama, yaitu sebagai juru dakwah, maka saya tidak senang kalau lagu-lagu lama itu dinyanyikan oleh Rhoma Irama. Menurut hemat saya, lagu-lagu itu lebih enak kalau dinyanyikan oleh orang lain. Terutama kalau dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi perempuan yang punya nama bagus-bagus itu; Ita Puspita, Ira Asmara atau Ice Juice…..

Saya cenderung lebih menyenangi penyanyi dangdut lelaki yang tampangnya “biasa-biasa saja” atau bahkan jauh dari “lumayan”. Entah mengapa, kalau menonton penyanyi dangdut yang berwajah ganteng–seperti Thomas Jorghie atau Krisnamurti–yang melenggang-lenggok di panggung, timbul perasaan risih dan tak nyaman di hati saya.

Sebaliknya, saya menyenangi penyanyi dangdut wanita yang cantik-cantik. Dan yang hebatnya ialah, bahwa nyaris tidak ada penyanyi dangdut wanita yang tidak cantik. Saya pernah bertanya kepada anak lelaki saya, “Mengapa, ya, kalau dibandingkan dengan penyanyi pop lainnya, penyanyi dangdut perempuan jauh lebih cantik-cantik?” Anak saya menjawab, “Nggak tahu, akh. Tanya saja kepada diri sendiri…”

Di kemudian hari, setelah lama berpikir-pikir–saya rasa–saya tahu jawabannya. Lagu dangdut memang acapkali diasosiasikan dengan fantasi seksual lelaki, dari mulai yang paling jinak sampai yang paling liar. Jadi, wajar saja kalau tak ada penyanyi dangdut yang
memiliki tampang seperti Tessy “Sri Mulat”.

Tapi seperti yang saya uraikan terdahulu, sampai pada batas tertentu, fantasi seksual ini adalah sesuatu yang wajar-wajar dan sah-sah saja. Di Majalah Kebudayaan Basis saya pernah melihat foto penyanyi dangdut perempuan yang menyanyi di sebuah pasar malam. Di bawah panggung–setengah meter dari kaki mulus perempuan itu–ada puluhan mata lelaki yang menatap penuh dahaga ke atas. Saya sih tak sampai begitu. Kalau menonton dangdut di teve saya hanya mengangkat kepala sesekali, lalu kembali meneruskan membaca koran atau majalah yang ada di tangan saya….

Faktor yang keempat, yang membuat saya menyenangi lagu dangdut ialah “mood” atau “suasana hati”. Kalau kita tidak hidup di pasar, di terminal atau di perkampungan-perkampungan kumuh–dimana karena faktor kemiskinan orang harus bergumul untuk memelihara semangat, harapan, mimpi dan fantasinya–maka sukar bagi kita untuk setiap
kali “jatuh cinta” kepada lagu dangdut. Karena itu juga, lagu dangdut baru akan terasa enak di telinga, bila kita sedang berada di tengah suasana itu.

Beberapa lagu dangdut yang sampai sekarang masih melekat di benak saya, dahulu saya dapatkan ketika–semasa masih lajang–saya sedang menunggu perahu bertolak–untuk memancing ikan–di muara Sungai Blanakan–Subang, atau ketika saya menunggu opelet meninggalkan terminal Rajabasa–Bandar Lampung, atau ketika berbelanja di sebuah
pasar tradisional di Pekanbaru. Isteri saya selalu terkagum-kagum dengan masa lalu saya yang “colorfull”.

Kalau saya mendengar lagu dangdut yang saya senangi itu, kadang-kadang “filem kehidupan” yang pernah saya lalui akan tergambar jelas di mata. Dan hal ini tentu saja akan membuat lagu tersebut terasa semakin hidup.

Begitulah! Bagi saya, lagu dangdut adalah perasaan, harapan, mimpi dan fantasi saya sebagai warga masyarakat kebanyakan. Lagu dangdut adalah hiburan populer. Dan sebagai sebuah hiburan populer tak perlulah kepadanya diberlakukan ukuran atau teori yang tinggi-tinggi. Ini hanyalah soal selera. Karena itu, ukurannya cukuplah hanya suka atau tidak suka, dan apakah ia bisa menjawab kebutuhan batin saya–orang-orang sederhana yang tak punya apa-apa ini–yang kadang-kadang memang terkesan vulgar dan murahan–tapi jujur dan polos[.]

One response to “Saya dan Lagu Dangdut

  1. Wah… ternyata menyenangi lagu-lagu dangdut, Mas? ‘Gak kampungan juga ‘kan? Saya juga fans banget tuh sama lagu-lagu dangdut,……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s