Selamat Taon Baru! Mi-Re-Mi-Re-Do….

Oleh: Mula Harahap

Secara tidak sengaja saya membaca iklan untuk melewatkan malam pergantian tahun (orang Batak mengatakannya “malam tutup taon”) dari sebuah hotel berbintang lima di bilangan Jakarta Selatan:

VIP Tables Rp. 3.795.000,-/person including Gala Dinner. De-Luxe Tables Rp. 3.415.000, /person including Gala Dinner.

Wow! Fantasi saya menjadi liar dan pikiran saya berjalan kemana-mana. Kalau ada uang, barangkali enak juga merayakan “malam tutup taon” di hotel seperti tersebut di atas. Soalnya, sedari kecil sampai umur seperti yang sekarang ini, hanya ada satu skenario “malam tutup taon” yang saya kenal. Dan begitu kenalnya saya akan skenario itu sehingga saya bisa
membeberkannya secara ditil seperti berikut ini:

Kita berkumpul di rumah Ompung, Amangtua atau Tulang. Sementara menunggu jam 24.00, para bapak mengobrol kesana-kemari. Biasanya obrolan berkisar mengenai pengalaman masing-masing ketika mengikuti kebaktian beberapa jam sebelumnya di gereja. (“Akh, keterlaluan do garejanta on. Nunga binoto malam tutup taon, tarhona dope dibahen lima koor….” Atau, “Akh, leleng nai nangkin Amanta Bendahara manjaha laporan keuangan i, bah!”).

Ibu-ibu, dengan dandanan rambut yang masih belum dilepas, biasanya akan saling memuji kelebihan temannya. (“Pakek apa Eda bikin rendang ini? Koq enak kalilah baunya…” Atau, “Eh-eh-eh, dimana Kakak beli bunga ini? Koq cantik-cantik kali….”).

Sementara itu terdengar suara sepeda motor memasuki halaman. Si Purnama yang menikah dengan guru SMP itu datang dengan ketiga anaknya. Semua berbalut jaket tebal seperti baru datang dari Antartika. (“Hee, nunga ro be par Bekasi. Jalo jo na diboanna i..”).

Anak-anak–ada segudang banyaknya–berteriak-teriak dan berlarian di halaman. Tiba-tiba terdengar seseorang menangis. (“Hei, kenapa nangis? Kenapa nangis?” teriak salah seorang bapak. “Tangannya dicolok Si Togar, Uda, pakek bunga api yang lagi menyala…” jawab salah seorang dari anak-anak yang riuh-rendah itu. “Mana Si Togar? Mana Si Togar? Togaaar…” teriak Si Bapak. Dan anak yang dipanggil tentu saja tak akan menyahut karena sedang asyik
membujuk sepupunya agar menghabiskan bunga api “Cap Kucing” yang ada di genggaman tangannya).

Menjelang jam 24.00, biasanya “klan” atau keluarga besar sudah berkumpul di ruang tengah. Televisi sedang menyiarkan acara pergantian tahun di wilayah Indonesia Tengah bersama Grup Bagito, Srimulat atau apa pun namanya. Semua tertawa terpingkal-pingkal. Tapi tak lama kemudian akan ada seseorang yang mengambil inisiatif untuk memulai acara. (“Hei, pamate hamu televisi i….”).

Amangboru, Amangtua, Lae atau siapa pun yang berbakat untuk menjadi “sintua” mulai membuka “Buku Ende”. (“Marende ma hita sian lagu nomor onompuluopat Naung Moru Do Muse Sataon…”). Maka menyanyilah seluruh klan dengan nadanya masing-masing. Setelah
menyanyikan “Naung Moru Do Muse Sataon” seluruh ayat, biasanya dilanjutkan dengan menyanyikan “Debata Baen Donganmi”, dan seterusnya).

Sementara menyanyi, akan ada saja satu–dua orang anggota klan yang menangis; teringat akan kesalahan atau kemalangan yang menimpanya sepanjang tahun yang segera berlalu ini.

Selesai menyanyi beberapa lagu dilanjutkan dengan pembacaan dan renungan ayat-ayat tertentu dari Alkitab. (“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami…Mazmur 90”, “Tuhan adalah Gembalaku…Mazmur 23” atau cerita tentang pergumulan Yakub dengan Tuhan ketika hendak menyeberangi Sungai Yordan).

Renungan dilanjutkan dengan doa syafaat. Sebanyak mungkin orang “ditembak” untuk berdoa. Dan seperti biasa, akan ada saja yang menolak. (“Ai ndang malo ahu martangiang…”). Dan berdoalah seluruh klan; tentang penyertaan Tuhan Yesus Kristus dalam menjalani ketidak-pastian hidup di negeri yang sedang dirundung multi-krisis ini. Pendidikan, pekerjaan, keamanan, jodoh, penyelenggaraan negara dan apa saja. Semua tak luput didoakan.

Sementara berdoa, terdengarlah bunyi klakson mobil, terompet kertas atau petasan sebagai tanda pergantian tahun di wilayah Indonesia Barat. Tapi semua pura-pura tidak memperdulikannya; apalagi yang sedang berdiri di depan sana membawakan doa adalah Amangtua–The Godfather.

Setengah jam lewat tahun baru, barulah doa syafaat berakhir. Sebagian anggota klan tergagap-gagap bangun dan mengucek-ngucek mata. Semua saling “umma” dan berangkul-rangkulan. (“Selamat tahun baru, ya?! Baik-baik kau belajar….” Atau, “Apalagi yang kau tunggu-tunggu, Amang? Tahun depan kau sudah musti kawin, ya?!”).

Makanan–tak jelas apakah ini “late dinner” atau “early breakfast”–kembali dihidangkan. Beberapa orang telah mulai menggosok-gosok tengkuknya dengan minyak angin. (“Hei, Omak Ni Adu, bahen jo muse ketupat i…” Atau, “Amangbao mau minum apa?”). Begitulah, ada yang
makan ketupat, makan saksang, minum kopi, minum bir atau minum air putih. (“Awas lo, Pi, asam uratnya kambuh…”).

Percakapan masih dilanjutkan, dengan tingkat kesadaran yang sudah tinggal lima puluh prosen, tentang situasi politik, kehidupan berjemaat atau prospek ekonomi di tahun yang terbentang di depan. (“Ndang huboto be manang partai dia do pilithon hu di Pemilu na ro on….” Atau, “Ima da, ngeri nai keadaan on. Ai hubege Si Monang pe ndang manarik be. Ai ndang adong be bis na hasea di PPD…” Atau, “Nina rohamuna, boi dope tarpilit Si George Bush di taon na ro on?”).

Menjelang jam 02.00 barulah ada anggota klan yang mengambil inisiatif untuk undur diri. (“Parjolo ma johami ate, Lae. Dao hutanami….” Atau, “Ayok, ayok, kita pergi dulu menyalam Tulang di Marindal…” Atau, “Kalian lewat mana, Angkang? Kami numpanglah…” Terdengar jawaban, “Ba, beta, beta….”).

Majelis “malam tutup taon” itu pun bubarlah. (“Hei, abing jo borum on….” Atau, “Awas, awas, pegang adikmu, sudah mengantuk dia….”).

Ompung, Amangtua, Tulang atau siapa pun kepala klan yang menjadi tuan rumah, akan mengantar tamu-tamunya sampai ke pinggir jalan. (“Tole ma da, selamat jalan ma….” Atau, “Manat-manat hamu, Lae…” Atau, “Dadah Tulang, dadah Uda…..”).

Selepas tamu-tamu pergi, tuan rumah akan berkatakepada isterinya dan para pembantunya,”Marsogot ma muse ulahon hamu i….” Pintu rumah pun ditutup. Lampu
pohon terang dibiarkan menyala berkelap-kelip. Dan di layar teve ada pertunjukan wayang kulit dengan lakon yang tak seorang Batak pun ambil perduli….

Itulah satu-satunya skenario malam pergantian tahun yang saya kenal sejak kecil. Karena itu,
kadang-kadang, saya jadi tergoda juga untuk mencoba skenario yang lain.

Tidak ada Tulang, Amangboru, Bere, Parumaen, Inangbao, Ompung atau Pariban yang “recok-recok” (“selalu mencampurin urusan gue”). Tidak ada nyanyian dari “Buku Ende”. Tidak ada doa syafaat yang panjang-lebar. Tidak ada ketupat, saksang, sup kaki babi atau kacang tojin. Tidak ada “sowan” ke rumah “hula-hula” jam tiga dinihari…

Tapi ada ballroom hotel yang sejuk. Ada MC yang “semokai”. Ada band dan penyanyi yang seronok. Ada topi dan terompet kertas yang lucu serta segelas minuman komplimen dari hotel. Ada dansa dan joget. Dan ada undian “door prize” dengan hadiah tiket p.p ke Perth atau Guangzhou.

Tapi untuk mimpi yang terakhir ini diperlukan uang. Dan uang adalah komoditas yang paling tak saya miliki di zaman krisis ekonomi seperti sekarang ini. Karena itu, rasa-rasanya, skenario yang sama akan tetap saya lakoni. Apa boleh-buat?! Selamat Taon Baru! Mi-Re-Mi-Re-Do…[.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s