SMS Selamat Natal

Oleh: Mula Harahap

Bagi rumah kami, yang tak pernah mengenal tradisi memasang pohon Natal, maka tempelan kartu-kartu ucapan selamat di dinding ruang makan adalah satu-satunya sarana yang bisa menunjukkan kepada “dunia” bahwa kami juga merayakan Natal.

Tapi dari tahun ke tahun jumlah kartu yang kami terima semakin berkurang saja. Tahun ini kami hanya menerima empat kartu. (“Techincally” sebenarnya kami hanya menerima dua kartu).

Satu kartu dikirim oleh sebuah perusahaan asuransi jiwa dimana saya terdaftar sebagai nasbah. (Perusahaan asuransi jiwa memang selalu setia mendoakan panjang umur di saat saya berulang tahun, dan mengucapkan damai-sejahtera di saat saya merayakan Natal…).

Tiga kartu lain–yang seragam bentuknya–dikirim oleh tiga divisi yang berbeda dari sebuah konglomerasi yang bergerak di bidang media dan komunikasi. Kartu-kartu dengan ucapan standar yang telah tercetak, plus stempel perusahaan, plus paraf atau tandatangan. Tanpa
nama jelas. Tidak ada yang personal dan hangat di dalamnya.

Karena itu, walau pun cuping kartu itu berkibar-kibar ditiup angin, dan warna emas atau perak yang ada di atasnya berpendar-pendar, tapi keempat kartu itu tetap saja tak bisa mengangkat suasana.

“Sepi sekali Natal ini,” kata isteri saya.

Kami memang hanya menerima empat kartu. Tapi dari empat pesawat telepon seluler yang dimiliki oleh satu ayah, satu ibu dan dua anak di rumah ini, mungkin ada ratusan ucapan selamat Natal yang masuk.

Karena itu saya berkata, “Kau hanya merasa sepi. Pedagang benda-benda pos di Pasar Baru sana merasakan hal yang lebih buruk dari itu. Mereka tak makan…”

Masa transisi yang diakibatkan oleh perubahan teknologi memang selalu mengorbankan sekelompok orang dan menguntungkan sekelompok lainnya.

Tiba-tiba puteri saya datang dengan sebuah gagasan. “Hei….” katanya. “Bagaimana kalau semua es-em-es yang masuk kita ‘print-out’ dan tempel saja di dinding ini?” Sebagaimana lazimnya anak perempuan yang telah dewasa, ia selalu perduli dengan hal tetek-bengek
merapihkan dan menghias rumah.

“Aha! Boleh juga itu…,” kata abangnya. “Tapi lu yang ngetik dan yang nge-‘print’, ya?! Nih, gue kasih ha-pe gue.”

Saya terkesiap. Mem-“print-out” SMS selamat Natal dan menempelnya di dinding, menurut hemat saya, bukanlah sebuah gagasan yang elok. Setiap media komunikasi memiliki karakteristik pesan yang tersendiri.

Karakteristik pesan yang masuk melalui telepon seluler cenderung lebih personal. Di luar kemauan kita, akan ada saja pengirim dan pesan yang masuk, yang tidak akan “lucu” kalau ditempel di dinding dan menjadi bacaan semua orang.

Karena itu, sementara isteri dan kedua anak saya sibuk membuka telepon seluler masing-masing, membanding-bandingkan ucapan selamat Natal yang mereka terima, diam-diam saya beringsut ke ruang tamu. Adalah hal yang bijaksana kalau nama-nama dan pesan yang
masuk lebih dahulu saya edit sebelum dipermaklumkan kepada publik.

Tahun ini ada 89 SMS selamat Natal yang saya terima. Bagi seseorang yang tak pernah mempunyai sopan-santun mengirim kartu atau SMS ucapan selamat, maka ini adalah sebuah prestasi yang luarbiasa. Saya mulai membuka SMS itu satu-persatu dan menelitinya kembali:

Beberapa pesan–atau tepatnya, lebih dari setengah–dikirim tanpa menerakan nama di akhir
pesannya. Dan karena di pesawat telepon seluler saya data si pengirim juga tak ada, yang muncul di layar hanyalah sederet angka. “087654321….Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Natal!”

Pesawat telepon seluler saya hanyalah sebuah “Siemens C 35”. Ia hanya bisa menampung 100 nama di pesawat dan 100 nama lagi di SIM Card. Karena tempat yang sangat terbatas, maka secara periodik saya selalu harus membuang nama yang cukup lama tidak melakukan
interaksi dengan saya. Sebagian dari nama-nama itu saya catat di sebuah notes. Akh, berarti kapan-kapan saya harus memelototi notes saya dan mencari tahu siapa “Si 087654321” dan kawan-kawannya yang sejenis ini.

Beberapa pesan muncul dalam bentuk “$$$$$$$$$…..”. Tadinya saya pikir pengirimnya adalah handai-taulan George Soros atau Bill Gates. Tapi kata puteri saya, itu adalah gambar lonceng atau pohon Natal. Karena pesawat telepon seluler saya tidak “compatible” dengan pesawat si pengirim maka jadilah pesan yang kacau-balau dan membingungkan. Kata puteri saya kepada
saya, “Mangkanyaaa…Jadi orang itu harus canggih sedikit!”

SMS yang penuh dengan deretan simbol dolar tak karu-karuan, tentu tak ada gunanya ditempel di dinding.

Beberapa pesan dikirim oleh kawan-kawan perempuan semasa sekolah di SD, SMP atau SMA dahulu. Sylvana mengirim pesan yang bunyinya demikian, “Hai, ‘pariban’-ku sayang. Semoga damai Yesus Kristus menyertaimu selalu…”

Dahulu–karena saya selalu membuat onar di kelas–maka guru menghukum saya untuk duduk sebangku dengan Sylvana Hutabarat. Kata guru, “Kau duduk dengan ‘pariban’-mu saja…” Dan dari kelas satu sampai kelas enam SD saya selalu sebangku dengan Sylvana.

Ibu saya memang “boru” Hutabarat. Tapi Sylvana bukan puteri “tulang” saya kandung. Tapi gara-gara ulah guru, jadilah kami ber-“pariban”. Dan dalam acara reuni sekolah, di usia yang sudah lanjut seperti sekarang, kami masih selalu bercanda dan menyapa “pariban” satu sama lain.

Walau pun isteri saya tahu cerita masa kanak-kanak saya, dan walau pun SMS itu mendoakan saya agar selalu disertai oleh damai Yesus Kristus, tapi saya tak yakin bahwa rumah kami akan diliputi oleh kedamaian kalau SMS seperti itu di-“print-out” dan ditempel di dinding. SMS seperti itu–tentu saja–harus di-“delete”.

Ada SMS yang berbunyi, “Yang, Gw mo ngucapin Selamat Natal…” Nama pengirim tidak muncul di layar. Mula-mula saya sempat “ge-er” juga karena masih ada yang mau memanggil “sayang” kepada seorang lelaki bangkrut dan sakit-sakitan ini. Tapi setelah saya
pikir-pikir lebih jauh, maka saya rasa SMS ini salah alamat. Mungkin ia ditujukan kepada puteri saya, yang sering meminjam pesawat telepon seluler saya.

Menyadari bahwa yang menyebut “sayang” kepada saya itu adalah seorang lelaki, saya jadi bergidik. SMS seperti itu–tentu saja–harus di-“delete”.

Ada SMS–tanpa nama pengirim–yang berbunyi, “Selamat Tahun Baru mi-re-mi-re-do…Hulehon sada kado tahi lombu do….” Tapi rasanya saya tahu siapa yang mengirim SMS ini. Dia kawan perempuan semasa SMA. Suatu hari di tahun baru, saya “minum” terlalu banyak
dan mengoceh atau melafalkan lagu tak karuan seperti itu. Untuk beberapa waktu lagu tersebut menjadi bahan olok-olokan teman kepada saya.

SMS tanpa nama–walau pun penuh kenangan–ini, lucu. Karena itu ia pantas untuk di-“save” dan ditempel di dinding.

Banyak kawan-kawan perempuan dari masa lalu, yang pada akhir pesannya yang biasa-biasa itu, selalu menambahkan, “Salam untuk isteri dan anak-anak…”

Ha-ha-ha-ha! Setelah melewati perjalanan waktu manusia menjadi semakin bijaksana: Pandai membawa diri dan menjaga jarak. SMS seperti ini tentu tak ada salahnya untuk dipermaklumkan.

Banyak SMS yang memakai kata-kata standar seperti yang terdapat di kartu ucapan, “May the blessing….dst…dst”

SMS seperti ini–walau pun sedikit “dull”–tak ada salahnya untuk di-“save”, disalin di komputer dan di-“print-out”.

Hal yang cukup mengharukan ialah, bahwa disamping kata-kata standar, maka tak kurang pula banyaknya SMS yang memakai kata-kata orisinal atau “taylor made”.

“Tuhan yang turun menjadi manusia? Wow! Dahsyat sekali. Makanya kau jangan lagi macam-macam, Mula…,” kata sebuah SMS. Pesannya pendek. Tapi sering lebih mengena di hati ketimbang khotbah Bapak Pendeta. Ketika si pengirim SMS hendak menuliskan pesannya,
ia membayangkan wajah dan karakter kita.

SMS seperti ini–entah bagaimana buruk pun bahasanya–pantas untuk dipermaklumkan dan
dibanggakan. Ia bukan sekedar basa-basi yang mekanis: Menulis sebuah pesan, mengumpulkan sejumlah alamat,dan–“jeglek”–pesan yang sama berterbangan ke segenap
penjuru.

SMS yang dikirim oleh kawan-kawan Muslim pun tak kalah banyak. Ini juga adalah suatu hal yang mengharukan. Pernah ada masa ketika saya nyaris tak pernah menerima kartu ucapan Selamat Natal dari kawan-kawan Muslim.

Saya sempat merada sedih dan berkecil hati, karena sebagian dari mereka adalah sahabat yang biasa berbagai suka dan duka dengan saya. Entah mengapa, hanya ada satu-dua orang saja yang mengucapkan “Selamat Tahun Baru” atau “Seasons Greeting”….

Tapi tahun ini, disamping pesan standar seperti yang saya uraikan di atas, maka banyak pula pesan-pesan orisinal atau “taylor made” yang dikirim oleh teman-teman Muslim.

Terimakasih, Tuhan! Ada upaya dari semua fihak untuk mencoba memahami makna hari raya yang membuat temannya bersukacita, dan yang untuk itu ucapan selamat pantas dilayangkan.

Saya rasa ini baik. Saya pun tak pernah suka mengirim pesan yang hanya berbunyi, “Selamat Hari Raya Idul Fitri. Maaf lahir-batin…”. Selalu ada keinginan untuk memahami lebih jauh apa makna kemenangan yang dirasakan oleh teman-teman Muslim saya, setelah melakukan puasa sebulan penuh, dan yang untuk itu ia pantas diberi ucapan selamat.

Pada Idul Fitri yang baru lalu, Mona Lubis–seorang teman Muslim saya–meminta saya menerjemahkan pesan selamat Idul Fitri hasil kreasinya ke dalam bahasa Batak. (Astaga! Barulah disitu saya menyadari bahwa ternyata bahasa Batak tidak mengenal kosakata yang
khusus untuk “maaf”).

Teknologi telepon seluler memang cenderung membuat kita menjadi lebih personal, lebih hangat dan lebih kreatif. Pesan yang kita kirim cenderung menjadi lebih dekat dengan suara hati kita.

Kadang-kadang teologi yang disampaikan memang kurang pas. Tapi sepanjang kita mengenal karakter si pengirim, dan ia mengenal karakter kita, semua akan terasa baik dan indah saja.

Seorang sahabat saya–keturunan Arab–mengirim SMS yang berbunyi, “Yesus Kristus dan Hasan Baswedan (bukan nama sebenarnya–MH) mengucapkan Selamat Natal kepada Mula Harahap dan Keluarga…”

Saya tertawa terbahak-bahak. Pesan seperti ini tentu saja pantas di-“print out” dengan huruf besar-besar dan ditempel di dinding. Ia sangat indah karena menunjukkan sebuah Indonesia yang toleran dan penuh humor.

Akhirulkalam, boleh jadi–setelah di-“print-out”–semua SMS itu belum bisa memenuhi seantero dinding kami. Tapi tak mengapalah. Di dalam hati, kami semua sama-sama merasakan, bahwa Natal ini ternyata tidaklah sesepi yang terlihat oleh mata[].

4 responses to “SMS Selamat Natal

  1. aku sering bingung dan bimbang apa yang harus aku lakukan, terkadang aku membuat kesalahan walau yang aku perbuat itu salah tetapi aku nggak bisa melawan hasrad itu, aku mencoba bertahan tetapi dihatiku selelu nggak bisa, tolong ajarkan aku agar bisa menjadi orang yang sabar dan taat

  2. Selamat Natal dan Tahun Baru 2009

  3. Saya juga merindukan ucapan dari x’mas card. Tradisi mengirimkan kartu mempunyai kesan tersendiri.

  4. Ada manusia yang berasal dari Nazaret, yang dilahirkan di kandang domba, dan dilahirkan oleh Maria. Siapakah itu? Manusia itu adalah Yesus. Selamat Natal dan Tahun Baru. God Bless You.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s