Kantong Kolekte

Oleh: Mula Harahap

Saya selalu terkagum-kagum melihat hubungan anak-anak Barat dengan orangtuanya. Apa saja–tuhan, seksualitas, adopsi, cinta–bisa mereka diskusikan dengan kepala dingin dan terbuka dengan orangtuanya. Akibatnya–sejak usia dini–mereka sudah bisa mengambil berbagai keputusan penting bagi dirinya sendiri, tanpa harus “dicekoki” lagi oleh orangtua.
Karena itu ketika anak-anak masih kecil saya sangat keranjingan membaca berbagai buku teori mendidik anak; terutama yang liberal. Saya rasa ini adalah solusi untuk membuat anak-anak tidak “gagap” dalam memasuki era yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta kebebasan informasi ini.

Begitulah, ketika usia puteri saya menjelang tiga tahun, saya memutuskan untuk membiasakan diri mandi bersamanya. Kata buku-buku yang saya baca tersebut, ini adalah sarana untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan seksualitas yang benar di dalam diri anak.

Sebagai seorang ayah Batak, yang dibesarkan dalam masyarakat yang dipenuhi oleh berbagai tabu dan larangan, mandi bersama dengan puteri sendiri–walau masih kecil sekali pun–adalah sebuah tindakan yang sangat “revolusioner”. Harus saya akui, saya sendiri pun tidak terlalu “happy” untuk melakukannya. Tapi karena keinginan yang meluap-luap untuk menumbuhkan “anak yang bisa menjawab tantangan jaman” maka saya lakukan jugalah hal tersebut.

Ternyata selama acara mandi bersama tersebut tidak terlalu banyak hal “kontroversial” yang ditanyakan oleh puteri saya. Ia lebih tertarik mengapungkan bebek-bebekannya di ember, meniup gelembung sabun atau menciprat-cipratkan air kemana-mana.

Puteri saya ternyata tidak terlalu “curious”. Ia tidak seperti anak-anak perempuan yang menjadi ilustrasi dalam buku pendidikan tersebut. Dan kenyataan ini membuat saya sedikit berkecil hati. “Apakah kecerdasannya memang lebih rendah dari anak-anak Barat itu?” tanya saya dalam hati. Karena itu, seraya menunggu sampai timbul pertanyaan–yang notabene
adalah kesempatan bagi saya untuk mengajarkan dasar-dasar pendidikan seksualitas–acara mandibersama tetap berlanjut, sampai pada suatu malam saya mendapat laporan dari isteri saya:

“Saya rasa metode pendidikan dengan mandi bersama itu lebih baik tidak dilanjutkan lagi,” kata isteri saya.

“Lha, apa yang salah dengan itu?” tanya saya terheran-heran. Dalam banyak kesempatan, sebenarnya isteri saya sendiri juga acapkali ikut dalam acara mandi bersama tersebut.

“Tadi siang guru-guru di ‘play-group’ puterimu tertawa cekikan menyambut kedatangan saya…” kata isteri saya menjelaskan. Perlu diketahui, saya menyekolahkan putera dan puteri saya di sebuah ‘play-group’ Kristen di bilangan Rawamangun.

“Hah?! Mengapa mereka tertawa cekikan?”

“Puterimu telah bergosip-ria dengan guru-gurunya. Katanya, ‘Ibu Guru, Ibu Guru tahu nggak?! Titit bapak Adek seperti kantong kolekte, deh…”

Mendengar penjelasan tersebut saya merasa lantai tempat saya duduk seperti terbelah. Bukan main terkejutnya saya.

“Akh, forget-lah teori-teori liberal dalam mendidik anak itu,” kata saya kepada diri sendiri. Dan malam itu juga kami mengambil keputusan untuk mengakhiri metode pendidikan lewat acara mandi bersama.

Begitulah, akhirnya diperlukan waktu yang cukup lama bagi saya dan isteri saya, untuk tidak tertawa cekikikan, manakala pada saat pemberian persembahan di gereja, bapak atau ibu penatua datang menyodorkan kantong kolekte kepada kami[]

3 responses to “Kantong Kolekte

  1. saya baru kali ini buka blog pak Mula. terus terang saya menyesal kenapa baru sekarang tahu blog ini. isinya sungguh mencerahkan dan inspiratif untuk belajar menyusun gagasan dan merangkainya dalam kata-kata hingga menjelma jadi sebuah tulisan/cerita yang berbobot.

  2. Amang Harahap, anda begitu luar biasa… membaca semua artikel di blog ini membuat saya menjadi kerdil tidak memiliki apa apa dibanding “luar biasanya” amang… sungguh banyak pencerahan yang saya dapat….. saya sering membaca buku Seri Selamat, jangan jangan amang adalah muridnya pak Andar Ismail… Syalom… Horas..

  3. Bang Mula, mohon penjelasan kantong kolekte itu apa ya? Saya belum bisa ketawa kalau belum tahu arti kolekte. Ha ha ha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s